Luka Terdalam

Luka Terdalam
TURUT BAHAGIA UNTUK PAK ADJI


__ADS_3

...Happy reading...


Bel pintu berbunyi tidak lama setelah aku membereskan mukenaku usai melaksanakan sholat maghrib. Karena Kak Laras sudah pindah beberapa hari yang lalu akhirnya aku yang membuka pintu. Sebetulnya aku bukan malas atau ketergantungan padanya, tapi aku emang jarang bisa mendengar bel pintu apa lagi saat sedang tertidur. Kadang juga aku sedang mendengarkan musik dengan earphone ku. Jadi dia atau Kak Agil lah yang selalu membukakan pintu jika ada tamu.


“Pak Adji?” Aku terkejut mengetahui tamu tersebut.


“Bagaimana keadaan kamu?”


“Aku baik-baik aja,” jawabku. “Maksudnya udah agak mendingan.” Aku langsung meralat ucapan ku ketika sadar bahwa aku tadi berbohong padanya.


“Oh, syukurlah. Ini martabak kesukaan kamu.” seraya menyerahkan bungkusan berisi kotak martabak.


“Kenapa harus repot-repot seperti ini.” Aku jadi merasa tidak enak.


“Nggak repot, kok. Tadi kebetulan aja lewat dan liat penjual martabak.”


“Terimakasih ya, Pak. Silahkan duduk dulu.”


Lagi-lagi aku teringat kembali ketika dulu aku mengajak Kak Ardi duduk di bangku teras itu.


“Tunggu sebentar, saya ambil piring dulu. Oiya, Bapak mau minum apa?” Semoga air mineral saja. Do'a ku dalam hati.


“Air putih aja, sebab di rumah tadi udah minum kopi. Bahaya kalau kebanyakan minum yang manis-manis,” kata Pak Adji sembari tersenyum kecil.


Syukurlah....


“Baguslah kalau Bapak sadar akan kesehatan. Jadi hati-hati lho, jangan sering kesini,” kekeh ku seraya masuk ke dalam usai membalas ucapan Pak Adji.


Beberapa saat aku kembali dengan membawa piring dan air putih untuk Pak Adji. Aku menuang acar ke dalam piring lalu menusuk sepotong martabak dengan garpu.


“Oiya, kenapa Bapak nggak boleh sering-sering ke sini? Apa kamu sudah punya calon lagi?” Tanya Pak Adji melirik sekilas ke arah ku setelah meminum air putih yang tadi aku aku bawakan.


“Kata Bapak nggak baik kalau kebanyakan yang manis-manis. Kan, saya juga manis, Pak. Bisa-bisa nanti Bapak sakiti, lho.” Kali ini Pak Adji terkekeh dengan candaanku.


“Dari dulu kamu nggak pernah berubah, ya.”


“Emang Bapak maunya saya berubah menjadi apa?” Aku melirik sekilas seraya memasukan kembali potongan martabak ke mulutku.


“Kalau berubah menjadi Nyonya Nugraha, mau?”


“Uhukk! Ehm....”


Pak Adji buru-buru membukakan botol air mineral lalu memberikannya padaku.

__ADS_1


“Bagaimana?” Tanya Pak Adji.


“Udah nggak apa-apa,” jawabku seraya mengelap mulutku dengan tisu.


“Maksudnya apa kamu bersedia?”


Aku terdiam sembari mengalihkan pandanganku.


“Maaf, jika ini terlalu mendadak buat kamu. Tapi sebetulnya sudah sejak lama perasaan ini ada.”


“Sejak lama? Kapan? Tanyaku kembali memalingkan wajahku pada Pak Adji.


“Tidak tau kapan tepatnya, tapi yang jelas waktu itu kamu masih duduk di bangku SMP.”


Aku semakin merasa terkejut. Aku pikir Pak Adji menyukaiku ketika aku sedang menjalin hubungan dengan Kak Ardi.


“Tapi bukannya waktu itu...--”


“Iya, saya tau. Sebagai seorang Guru saya tidak ingin merusak nama baik sekolah dengan adanya berita seorang Guru memacari siswi SMP tempat dia mengajar. Waktu itu sebetulnya saya juga ingin menyatakan perasaan ini, tapi kamu --” Pak Adji berhenti seraya tersenyum ke arahku. Aku pun ikut tersenyum ketika ingat di mana waktu itu Kak Ardi menyusulku ke cafe dan melihatku bersama Pak Adji.


“Bapak tampan, baik, dan mapan. Semoga di berikan jodoh yang sepadan juga,” ucapku mencoba tersenyum dan berharap keputusan ku ini tidak membuat Pak Adji merasa tersakiti.


“Saya tidak perlu pasangan yang sepadan. Cukup bisa mendampingi saya si dalam situasi apa pun. Tapi tidak apa, yang penting saya sudah menyatakannya. Saya mengerti kondisi kamu saat ini. Jadi jangan terlalu di pikirkan.”


Beberapa bulan setelah itu aku mendapat undangan pernikahan dari Pak Adji. Ada senang dan juga haru akhirnya Pak Adji sudah menemukan wanita pilihannya. Tapi sayangnya aku tidak bisa hadir di acara bahagia itu. Karena aku jadwal chek up dan sudah beberapa hari aku menundanya karena terhalang pekerjaan.


Aku pergi sendiri dengan menyewa taksi karena Om Wandy sedang sibuk-sibuknya dengan beberapa usahanya yang memang saat ini sedang berkembang.


Ini adalah jadwal chek up terakhir ku. Setelah ini aku akan libur minum obat-obatan namun aku harus tetap menjaga pola makan dan menghindari makanan yang dapat mengganggu kesehatan lambungku.


Usai menjalani pemeriksaan dan Dokter Rio menjelaskan beberapa hal mengenai masalah kesehatan ku, aku pun berpamitan serta mengucapkan banyak terimakasih padanya karena sudah membantuku pulih meski itu memang sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang Dokter.


Ketika keluar dari ruangan tersebut aku merasa ada seseorang yang mengikuti ku dari belakang. Aku pikir mungkin itu hanya perawat atau orang yang kebetulan lewat dan menuju arah yang sama denganku. Namun aku tersentak kaget saat ada seseorang mencekal leganku kiriku.


Dengan rasa terkejut aku pun menoleh pada orang tersebut. “Kak Ardi!?”


“Kak, lepas!” Dengan setengah berteriak aku yang berusaha melepaskan cekalan tangannya. Namun tidak sedikit pun ia melonggarkan genggamannya tersebut. Ia membawaku ke salah satu ruangan yang masih bagian dari Rumah Sakit ini juga.


“Kak, apa-apaan ini!?” Geramku seraya mengusap lengan ku yang baru ia lepaskan. Tanpa menjawab ia menyentuh kedua bahuku lalu mengarahkan agar aku duduk pada salah satu kursi yang ada di sana. Kemudian ia mengambil kedua tanganku dan bersimpuh di pangkuanku.


Aku merasa takut dan was-was dengan situasi ini. Takut karena dia sudah memiliki seorang istri dan khawatir jika ada yang melihat lalu menimbulkan salah faham.


“An..., aku masih mencintaimu.”

__ADS_1


Degg!


Aku menegakkan posisi duduk ku yang tadi sempat tertunduk memperhatikan punggungnya yang terguncang. Namun sesaat kemudian rasa iba menggelayuti hatiku. Dia adalah orang pertama yang mengenalkan aku dengan yang namanya cinta. Untuk pertama kali aku bisa tersenyum dan tertawa lepas setelah himpitan dan tekanan batin yang ku alami atas luka yang di berikan oleh keluargaku sendiri.


Bila di bandingkan maka aku lah orang yang paling terluka atas semua keadaan ini. Tapi lagi-lagi pengalaman hidup dengan banyak luka telah mendewasakanku secara mental.


“Apa Kakak pernah berpikir, aku bahkan jauh lebih menderita dan jauh merasakan sakit saat mendengar kabar Kakak telah menikah. Ya, meski itu hanya karena perjodohan. Tapi aku berhasil melewati semuanya walau tidak mudah. Hingga...,” aku tak dapat lagi membendung air mataku mengingat kelanjutan kisah cintaku yang juga berakhir dengan penderitaan setelah aku baru sembuh dari luka yang sama.


“Maaf, seandainya waktu itu aku tidak terlalu gegabah untuk mengambil keputusan, mungkin kita akan kembali bersama.” Aku terdiam sejenak untuk mencerna apa yang di ucapkan Kak Ardi.


...Ardi POV...


Setelah pesan terakhir yang ku kirim padanya, dia tidak membalas mungkin aku pikir ia belum pulang ke kota. Dan beberapa waktu aku melihat ada panggilan masuk yang ternyata darinya tapi yang mengangkat adalah Zahwa wanita yang kini sudah menjadi istri ku. Aku sempat marah padanya karena sudah lancang menerima panggilan tersebut tanpa sepengetahuan ku. Ketika aku menghubungi kembali ternyata nomer ku sudah di blok. Aku benar-benar frustasi dan menumpahkan semua kemarahan ku pada Zahwa.


Beberapa waktu aku mendatangi kota tempat tinggalnya untuk menjelaskan semua yang terjadi secara langsung. Tapi keberuntungan tidak berpihak padaku. Aku hanya bertemu dengan Kakak sepupunya yaitu Kak Laras.


Aku memohon agar di berikan nomor Anita yang baru dan juga alamat tempat kerjanya tapi nihil. Akhirnya aku hanya menanyakan kabarnya melalui Kak Laras.


Hingga Papa meninggal dan berpesan padaku agar aku menjaga Zahwa dan berjanji untuk tidak meninggalkannya. Tapi keadaan tetap tidak berubah karena hanya ada nama Anita di hidupku.


Suatu hari Zahwa mengajak ku berbicara serius dan meminta aku untuk menceraikannya dan ingin aku kembali pada Anita. Aku merasa senang tapi juga merasa bersalah pada Zahwa. Tapi lagi-lagi ia menyatakan kalau dia baik-baik saja dan selama ini tidak sedikit pun aku menyentuhnya sejak kami menikah.


Aku sudah mengurus surat cerai kami dan juga beberapa surat kepemilikan termasuk surat rumah agar di alih namakan atas nama Zahwa sebagai tunjangan hidupnya. Karena aku yakin aku akan tetap bahagia tanpa itu semua itu jika ada Anita bersamaku.


Harapan itu pupus ketika mendengar kabar bahwa dia akan menikah dalam waktu dekat. Aku terduduk lemah dengan masih memegang surat cerai yang belum sempat di tanda tangani. Tadinya aku ingin memberikan itu pada Zahwa, tapi aku urungkan dan perlahan aku mencoba menerimanya meski nama Anita tetap bertahta di hatiku.


Suatu ketika aku melihat salah satu keluarga Anita berada di Rumah Sakit tempat ku bertugas. Karena penasaran akhirnya aku memeriksa identitas pasien yang baru masuk sore itu. Aku terkejut mendapati nama wanita yang masih aku cintai itu terdaftar sebagai pasien di sana. Aku menemui rekan ku yang bertugas menangani Anita dan menanyakan keadaannya. Ternyata keadaannya sangat memprihatinkan. Aku geram karena mengira laki-laki yang menjadi suaminya tidak menjaganya dengan baik.


Aku menemui Kak Laras dan memohon agar bicara mengenai keadaannya dan kenapa bisa sampai seperti ini. Walau dengan terpaksa akhirnya aku berhasil mendapatkan info tersebut.


Aku masih menginginkannya, aku masih sangat mencintainya dan ingin menjaganya. Saat pulang ke rumah aku di sambut dengan tes kehamilan yang di berikan oleh Zahwa yang menyatakan bahwa ia positif hamil.


Aku tidak tahu harus bagaimana menyikapi semua itu. Aku benar-benar di uji.


...**Ardi POV END...


...Tbc...


-


-


-

__ADS_1


Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya 👍**


__ADS_2