
...Ardi POV...
Karena tidur terlalu larut setelah pulang dari tempat Anita aku jadi terlambat bangun. Aku buru-buru mandi dan bersiap untuk perjalanan ku pagi itu. Aku senang bisa mengenal keluarganya. Apa lagi ternyata Suami dari Kakak sepupunya berasal dari kota yang sama denganku. Setelah di perjalanan aku coba menghubunginya untuk memberikan kabar bahwa aku sudah dalam perjalanan. Ku tanya apa yang dia inginkan jika aku kembali nanti, tapi jawabannya sungguh dia luar dugaan. Dia hanya ingin agar aku secepatnya kembali. Aku hampir tidak percaya ketika dia mengucapkan kata sayang untuk ku. Gadis jutek ku dengan wajah imut itu ternyata juga bisa bersikap manis.
...Ardi POV END...
Untungnya Kak Laras ada bersamaku saat ini. Tidak bisa ku bayangkan jika aku hanya sendiri di rumah, sementara Kak Ardi pergi ke kota asalnya.
Kak Agil sudah mandi dan sarapan. Ia tampak rapi dan bersiap pergi untuk suatu urusan mengenai pekerjaannya.
"An, Kakak mau pergi dulu. Titip Kak Laras, ya?" Pesan Kak Agil padaku.
Lalu ku jawab dengan anggukan saja.
"Aku bukan anak kecil yang harus di titipkan," kata Kak Laras yang baru keluar dari kamarnya dan ikut duduk bersamaku di sofa ruang tengah.
"Iyain aja Kak, biar Kak Agil pergi dengan tenang," kataku menimpali.
"Eh, mulut mu itu di jaga. Pake bilang pergi dengan tenang segala," protes Kak Agil.
"Ehm." Aku berdehem ketika Kak Agil memberikan kecupan di kening Kak Laras.
"Kalau udah muhrim, bebas..., yang bahaya status masih pacaran tapi pegang-pegangan," ucap Kak Agil yang aku tau persis arah pembicaraan Kak Agil sebenarnya.
"Ishh..., apaan!?" Aku memanyunkan bibirku. Aku tidak bisa membalas, karena jelas aku sudah kalah dengan telak.
Kak Laras tertawa melihat keributan kami berdua.
Aku dan Kak Laras mengobrol seperti biasa yang kami lakukan saat bersama.
"An, kita bikin kue, yuk," ajak Kak Laras kemudian.
Aku mengangguk menyetujui ajakan Kak Laras. Aku membantu menyiapkan bahan-bahan seperti telur, tepung, gula, dan bahan-bahan lainnya yang aku juga tidak tau apa namanya.
Kak Laras mulai membuat kue setelah semua bahan sudah siap. Melihat mesin pengaduk kue yang berputar-putar, membuat mataku tiba-tiba sangat mengantuk. Aku melipat kedua lenganku di atas meja lalu membaringkan kepalaku di sana.
Terdengar suara Kak Laras memanggilku di setengah kesadaranku. Aku langsung membuka mataku dan merasakan kepalaku pening dan penglihatanku seperti berputar.
"Tolong kamu ambilkan loyang yang ada di sana lalu olesi dengan mentega," titah Kak Laras sambil menunjuk loyang kue.
__ADS_1
Dengan langkah berat aku beranjak lalu melakukan apa yang Kak Laras suruh.
"Sudah, Kak," kataku sambil meletakkan loyang yang sudah ku olesi mentega di atas meja.
"Kamu tidur aja dulu sana, nanti kalau kuenya udah siap Kakak akan membangunkan kamu."
Tanpa berkata apa-apa lagi aku langsung pergi ke kamarku dan menjatuhkan tubuhku di tempat tidur.
Aku terbangun sebelum Kak Laras membangunkan ku. Mataku langsung tertuju pada jam dinding yang menggantung di dinding kamarku.
Apa Kak Ardi sudah sampai?
Aku beranjak untuk mengambil air wudhu karena sudah waktunya sholat dhuhur. Setelah selesai sholat aku pergi ke dapur. Aku mencium aroma wangi yang pasti berasal dari kue yang Kak Laras buat.
Ternyata benar, sebuah kue bolu yang tampak montok tergeletak di atas meja.
"Kak...!" Aku memanggil Kak Laras.
Kak Laras pasti sedang sholat. Batinku.
Aku langsung mengambil pisau dan ingin memotong kue bolu yang begitu menggoda tersebut.
"Udah bangun ternyata," kata Kak Laras yang melihat ku sudah bersiap memotong kue.
"Hehe, iya."
Aku menyerahkan pisau yanga ada di tangan ku agar Kak Laras saja yang memotong kuenya.
Dengan lihai Kak Laras memotong-motong kue bolu tersebut dan aku langsung mengambil duluan karena sudah tidak sabar lagi.
Aku menatap layar handphone ku sambil terus mengunyah kue yang ada di mulutku. Tingkah ku tak luput dari perhatian Kak Laras.
"Kemungkinan nanti sore dia baru akan sampai." Kak Laras berkomentar.
Aku menatap pada Kak Laras sebentar. Kemudian beranjak mengambil air putih untuk membasahi tenggorokan ku yang seret karena sudah beberapa potong makan kue tapi belum minum samasekali.
"Liburan tahun depan kamu boleh ikut Kakak. Biar kamu juga bisa melihat kota asal Ardi," kata Kak Laras.
Aku diam sebentar mencermati ucapan Kak Laras. Kak Agil dan Kak Ardi, kan berasal dari kota yang sama. Itu artinya jika aku ikut bersama Kak Laras, aku tetap bisa ketemu Kak Ardi juga di sana. Aku baru kepikiran sekarang.
__ADS_1
"Iya, aku mau." Aku mengangguk senang.
Kak Laras menata makan siang di meja makan. Tidak lama Kak Agil datang.
"Udah sholat?" Tanya Kak Laras pada Kak Agil yang sudah menarik kursi untuknya.
"Sudah, tadi sholat berjama'ah di Mesjid," jawab Kak Agil.
Kak Agil terlihat lahap sekali makan nya. Ku bayangkan kelak aku dan Kak Ardi akan seperti ini. Ahh..., aku sudah berpikir terlalu jauh.
Selesai menyantap makan siang, Kak Agil mengambil sepotong kue bolu dan memakannya.
"Bang, liburan tahun depan nanti, Anita kita ajak ke rumah kita,ya?" Ucap Kak Laras.
"Boleh. Itu ide bagus, lumayan ada yang bantu-bantu nyuci dan memasak," jawab Kak Agil. Tentu di barengi dengan ledekan.
"Biar dia bisa tau bagaimana suasana kota tempat Ardi. Ya kali aja mereka bisa ketemu di sana dan berlibur bersama, dari pada mereka di sini nggak ada yang mengawasi," tutur Kak Laras.
Kak Agil mengambil air putih di hadapannya lalu meminumnya. "Tapi kamu harus tahan mental, An."
Aku memandang pada Kak Agil tidak mengerti.
"Cewek-cewek di sana bening-bening banget, lho. Udah gitu seksi lagi. Sementara Ardi itu kan ganteng banget dan cool. Apa kamu...-- "
Aku langsung cemberut sebelum Kak Agil menyelesaikan ucapannya yang membuat hatiku jadi panas saja. Aku menenggak habis air minum di hadapanku lalu pergi ke kamarku.
Aku mengambil handphone ku dan mengeceknya. Aku teringat ucapan Kak Laras yang mengatakan kemungkinan sore Kak Ardi baru sampai. Aku menjadi tidak sabar untuk menunggu hingga sore tiba.
Untuk mengusir rasa bosanku akhirnya aku mencari kesibukan dengan membongkar isi lemariku mengeluarkan pakaian yang sudah tidak aku pakai lagi. Namun pakaian tersebut masih layak di pakai. Bahkan ada yang baru beberapa kali aku kenakan. Ku simpan pakaian tersebut di dalam sebuah kardus. Setelah semua sudah terlihat rapi aku kembali melihat ponselku yang belum berbunyi juga dari tadi.
-
-
-
**Tbc
Jangan lupa untuk ❤
__ADS_1
Thanks all...😘😘**