
Jam istirahat sudah usai aku pun masuk ke kelas. Ku lihat ada tumpukan buku di atas meja Guru. Kata salah satu temanku Itu adalah buku tugas Biologi yang sudah selesai di periksa.Ku hampiri lalu ku periksa buku-buku di sana namun tidak ku temukan buku ku. Hingga buku-buku tersebut sudah habis tak tersisa tapi dimanakah buku ku.
"Selamat siang anak-anak..., siapa di sini yang bernama Anita Azis? Tolong segera menemui Pak Adji di ruangannya," ucap Pak Samsul salah satu petugas di sekolahku.
Teman-temanku menatap bersamaan ke arahku. Mungkin mereka bertanya-tanya ada apa Pak Adji sampai memanggilku ke ruangannya.
"Apa Pak Adji memanggilku karena rangkaian kata-kataku tadi?" Batinku.
Sepanjang jalan menuju ke ruangan aku tak hentinya menduga-duga ada masalah apa sekiranya. Jika benar masalahnya adalah rangkaian kata-kataku tadi aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ku ketuk pintu setelah sampai di ruangan Pak Adji. Setelah di persilahkan masuk aku pun langsung menghampiri meja Pak Adji.
Pak Adji hanya menatapku sekilas lalu mempersilakan agar aku duduk di kursi kosong depan mejanya. Sepertinya kursi kosong itu memang sudah di persiapkan untuk mengadiliku.
"Kamu tau kenapa saya memanggil kamu ke ruangan saya?" Tanya Pak Adji menatap ke arahku. Tatapannya sangat sulit di artikan.Tapi dia tetap terlihat tampan😁
Aku hanya menggelengkan kepalaku. Karena memang aku belum tau pasti apakah masalahnya. Lalu Pak Adji menyodorkan buku tugasku dan memperlihatkan rangkaian kata yang aku tulis dengan Bahasa Inggris tersebut.
"Kamu yang menulis ini?" Tanya Pak Adji.
Ku jawab saja "Iya" karena memang aku yang menulisnya.
"Apa kata-kata ini buat saya?"
"Buat orang yang bisa membaca," jawabku karena hanya itu jawaban yang ada di kepalaku. Namun hatiku sudah pasti menjawab iya. Aku juga tidak tau perasaan apa itu, hanya saja aku merasa beban di hatiku sedikit berkurang setelah aku menulis kata-kata itu di buku tugasku.
"Apa tujuannya kamu menulis kata-kata seperti ini? Bukannya kamu tau kalau saya mengajar Biologi, bukannya pelajaran Bahasa Inggris?"
__ADS_1
"Iya, saya tau, Pak," jawabku.
"Lalu kenapa kamu memasukan pelajaran Bahasa Inggris di jam pelajaran saya?"
"Saya hanya iseng saja menulis karena waktu itu saya sudah selesai mengerjakan tugas, sementara yang lain belum dan saya bosan harus menunggu," tuturku.
"Tapi kenapa harus menulis kata-kata seperti ini hmm...?" Tanya Pak Adji. Kali ini ku lihat Pak Adji sedikit lebih santai. Ahh...ide baru bermunculan di kepalaku
"Kata-kata seperti apa yang bapak maksud?"
"Bukannya kamu yang menulisnya? Lantas kenapa bilang tidak mengerti?" Lalu Pak Adji mengambil dan membacakan tulisanku tersebut menterjemahkan nya ke Bahasa Indonesia.
"*Caramu berbicara, caramu menatap, dan setiap gerakanmu adalah nyawa bagiku,,
Aku tidak perlu tau isi hatimu, yang aku tau bahwa aku sangat menginginkankan mu*,,
"Bapak yakin nggak mau tau isi hati saya?" Tanyaku setelah Pak Adji selesai membacakan hasil tulisanku.
"Terimakasih..., Bapak orang pertama yang mengucapkan kata-kata seperti itu padaku," ucapku lagi. Entah kenapa aku terus saja mengikuti ide gila di kepalaku.
"Kamu itu masih Sekolah, tugas kamu belajar..., bukannya memikirkan hal-hal seperti ini," ucap Pak Adji seraya menyerahkan buku tugasku. "Kali ini saya maaf'kan tapi jika kamu mengulangi lagi maka saya tidak segan-segan untuk memanggil orangtua kamu."
"Sekali lagi terimakasih, tapi saya belum siap untuk di lamar," ucapku seraya pamit dan buru-buru pergi dari ruangan Pak Adji.
Aku tidak peduli saat Pak Adji langsung memelototiku ketika aku kembali mengerjainya. Karena jujur saja kata-kata ku yang terakhir, itu murni reflek meluncur dari mulutku tanpa di rencanakan samasekali.
Saat aku tiba di kelas pelajaran sedang berlangsung. Jam pelajaran Bu Maya Guru Ekonomi. Ku ketuk pintu kelas lalu setelah itu Bu Maya menyuruhku masuk. Aku langsung menuju mejaku dan menduduki kursiku.
__ADS_1
Dina dan Sari yang terlihat kepo saat kedatanganku di kelas. Lalu mereka menanyaiku sambil berbisik, kenapa Pak Adji sampai memanggilku ke ruangannya.
Lalu ku jawab, "Pak Adji hanya ingin menyerahkan langsung buku tugasku ini," sambil ku perlihatkan buku tugas yang aku bawa dari ruangan Pak Adji. "Biar lebih romantis," tambahku seraya mengerlingkan mata ke arah mereka.
"Dina, Sari! Kalian berdua maju ke depan!!" Terdengar suara Bu Maya berkumandang.
Bu Maya adalah salah satu Guru paling galak di sekolahku. Dia paling tidak suka jika ada murid yang berbicara sepatah kata pun di luar dari materi pelajarannya.
Satu setengah jam berlalu bagai satu setengah abad jika sudah jam pelajaran Bu Maya. Bahkan kadang meski sudah waktunya ganti jam pelajaran Bu Maya masih sempat-sempatnya memberi tugas atau sekedar menjelaskan materi pelajaran. Belum lagi aku harus menahan tawaku ketika melihat Dina dan Sari menjadi Asisten Bu Maya saat di depan kelas.
Jam pelajaran terakhir sudah usai, aku mengemasi buku-buku ku dan memasukkan nya ke dalam tas.
Saat akan melewati gerbang sekolah tiba-tiba hujan turun sangat deras hingga terpaksa aku berteduh dulu. Sudah lebih dari 20 menit tapi hujan belum juga reda dan aku pun mulai merasa kedinginan.
Setelah menunggu beberapa saat lagi hujan pun berhenti lalu aku buru-buru berjalan agar secepatnya sampai di rumah karena khawatir hujan susulan akan turun lagi. Ku dengar ada yang membunyikan klakson dari arah belakang. Ku coba menepi tapi klakson tersebut terus saja berbunyi. Akhirnya ku balikan badanku untuk melihat siapa disana.
Aaa..., hatiku berteriak sangat keras di dalam sana.
"Ayo naik, biar Bapak antar sekalian," ucap Pak Adji menawariku tumpangan.
"Terimakasih, tapi rumah saya dekat sebentar lagi sampai," aku berusaha menolak karena khawatir Pak Adji mendengar suara hatiku yang sedang meronta disana.
"Ayoo, sepertinya hujan akan kembali turun."
Ku lihat langit yang memang terlihat gelap angin pun mulai bertiup kencang. Udara dingin sudah terasa hingga ke paru-paru ku. Akhirnya aku terima saja bantuan Pak Adji untuk mengantarku pulang.
Pak Adji pun menjalankan motornya ketika aku sudah duduk di belakang. Terciumku aroma parfum Pak Adji karena hembusan angin yang cukup kencang. Aihhh...perasaan apa ini, jantungku berdetak sangat cepat, jangan sampai Pak Adji mendengarnya.
__ADS_1
Setelah sampai di depan rumah aku pun turun dari motor Pak Adji. "Terimakasih, Pak," ucapku.
Pak Adji hanya tersenyum saja lalu menjalankan motornya. Ku ambil kunci dari dalam tasku untuk membuka pintu. Setelah itu aku masuk lalu ku tutup kembali pintu dan aku bersandar disana. Ku rasakan jantungku sudah kembali normal.