
Aku dan Kak Ardi sudah duduk di bangku teras. Aku tertunduk diam tidak tau harus bicara apa. Aku masih sangat malu jika teringat kejadian sore tadi saat aku dengan berani mencium pipi Kak Ardi.
"Anita..., kenapa diam aja dari tadi? Katanya mau jelasin kejadian tadi sore," kata Kak Ardi memecah kesunyian di antara kami.
"Eh, i iya. Maaf, aku tadi hanya reflek aja, dan aku merasa senang karena Kakak sudah kembali," ucapku menoleh sebentar pada Kak Ardi lalu kembali tertunduk.
"Maksud kamu apa? Aku mau dengar penjelasan tentang bagaimana bisa kamu pergi bersama orang yang kamu bilang Guru Biologi itu. Bukan masalah yang kamu menciumku tadi sore, kalau itu aku sudah mengikhlaskan nya."
Astaga 😵😵
Aku kaget dan juga sangat malu tentunya. Ada apa dengan diriku? Kenapa aku tidak fokus?
Padahal aku sendiri yang berjanji untuk menjelaskan masalah itu pada Kak Ardi, tapi kenapa aku yang lupa dan malah membahas kejadian yang mempermalukan diriku sendiri. Akhirnya aku langsung menjelaskan saja bagaimana awal aku dan Pak Adji bisa datang ke tempat itu. Dan aku tetap meminta maaf tentang kejadian sore itu pada Kak Ardi.
"Maaf untuk apa? Aku sudah bilang kalau aku sudah mengikhlaskan nya. Meski pipiku akhirnya udah nggak perjaka lagi," kata Kak Ardi.
"Apa!? Nggak perjaka? Bisa aja kan pipi Kakak emang udah nggak perjaka lagi waktu aku menciumnya!" Aku bersungut-sungut tidak terima di anggap sudah menghilangkan keperjakaan pipi Kak Ardi.
"Oh, jadi karena kamu menganggap pipiku udah nggak perjaka sehingga kamu bisa dengan bebas menciumnya?"
"Kak! Nggak lucu, ya!" Aku mulai kesal pada Kak Ardi.
"Haha..., bercanda. Emang nggak boleh bercanda sama pacar sendiri." Kak Ardi memamerkan senyumnya yang begitu menggoda padaku.
Uhh..., aku selalu menjadi lemah setiap melihat senyuman itu.
"Aku ada sesuatu buat kamu."
Aku menoleh pada Kak Ardi. "Apa?"
Kak Ardi mengambil sebuah paper bag yang sejak tadi ia letakan di atas meja teras yang membatasi kedua kursi yang kami duduki.
"Apa ini?" Tanyaku sambil menerima paper bag tersebut.
"Lihat aja sendiri," ucap Kak Ardi.
Aku pun mengeluarkan isi di dalam paper bag tersebut. Ternyata sebuah kaos dengan motif yang sangat unik.
__ADS_1
"Ini buat aku, Kak?" Aku tersenyum ketika melihat nama ku dan nama Kak Ardi ada tertulis di bagian depan kaos itu.
"Iya, nanti kalau kita keluar bersama kita pakenya barengan, ya. Aku akan memakai kaos yang sama juga."
"He'm...," aku mengangguk senang.
-
-
-
Masa libur sudah berakhir, waktunya kembali ke sekolah. Hubungan ku dengan Kak Ardi pun lancar tanpa hambatan. Tidak ada pengganggu dalam hubungan kami. Kak Ardi juga bukan buaya seperti yang teman-temannya katakan.
Meski Kak Ardi sangat sibuk dengan tugas-tugas sekolahnya, tapi ia selalu memberikan kabar padaku. Kami juga masih bisa pergi bersama, dan tempat yang paling sering kami kunjungi adalah cafe dengan pemandangan laut. Aku benar-benar jatuh cinta dengan tempat itu dan membuatku betah untuk berlama-lama di sana. Kami selalu memilih waktu di sore hari untuk pergi ke sana dan sudah pasti tujuannya agar bisa melihat keindahan matahari terbenam.
Kami sudah menempati salah satu meja di cafe tersebut. Bahkan pelayan cafe di sana sudah sangat hafal dengan makanan yang kami pesan.
"Anita, sebentar lagi aku akan menghadapi ujian kelulusan. Setelah itu aku akan kembali ke kota asalku untuk melanjutkan pendidikanku di sana."
Aku tidak terkejut samasekali mendengar ucapan Kak Ardi, karena sebelumnya aku sudah tau cepat atau lambat kami akan di pisahkan oleh sebuah jarak, karena orang tua Kak Ardi hanya kebetulan saja sedang di tugaskan di kota ini.
"Aku harus bilang apa? Jika aku bisa melakukan sesuatu untuk mencegah kepergian Kakak, maka akan ku lakukan." Aku mengalihkan pandanganku ke tengah laut di mana kapal-kapal besar yang terlihat kecil dari tempatku memandang.
"Apa kamu berpikir aku ingin jauh dari kamu? Tentu tidak, An. Aku juga hanya memenuhi keinginan Papaku agar aku bisa melanjutkan pendidikan di sebuah perguruan terbaik yang ada di kota asalku. Papa ingin aku jadi seorang Dokter juga."
Aku mengerti itu, kota ini tidak sebesar kota asal tempat Kak Ardi. Aku sempat mendengar cerita dari Kak Laras tempo hari.
"Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hubungan kita ini. Kamu dengar kan, An?" Kata Kak Ardi menggenggam tanganku.
"Tadinya aku sempat berpikir Kakak yang akan mengakhiri hubungan ini," balasku.
"Tidak akan. Setelah aku berhasil nanti aku akan mengajakmu menemui keluargaku," ucap Kak Ardi menatapku dengan bersungguh-sungguh.
Ku balas tatapan Kak Ardi yang sejak tadi memandang ke arahku. Aku tidak begitu bodoh untuk memahami ucapan Kak Ardi yang mengatakan ingin memperkenalkan aku pada keluarganya.
Aku pun mengangguk. "He'm."
__ADS_1
"Tapi bagaimana jika aku kangen kamu sama kamu, An? Kemarin aja baru beberapa hari aku sudah ingin sekali buru-buru pulang."
Aku malah merasa lucu melihat wajah frustasi Kak Ardi. "Nggak apa-apa, biar nanti aku yang akan ke sana. Kak Laras berjanji akan mengajak ku kesana jika sudah liburan," kataku sambil tersenyum."
"Benarkah?"
"Iya."
"Nanti aku akan mengajakmu berkeliling di sana," ucap Kak Ardi kembali bersemangat.
Tidak lama pelayan cafe datang menyajikan makanan yang tadi sudah kami pesan. Kami makan sambil menikmati hembusan angin dan pemandangan laut yang begitu indah. Kami juga tidak pernah melewatkan pemandangan senja dengan matahari yang terbenam. Kelak aku akan sangat merindukan saat-saat seperti ini bersama Kak Ardi.
Tidak terasa Kak Ardi sudah selesai dengan ujian kelulusannya.
Kami berdua duduk di bawah pohon yang ada di belakang sekolah.
"Setelah ini aku akan pergi, tapi aku nggak akan lama. Aku akan kembali setelah aku selesai mengurus pendaftaran kuliahku," tutur Kak Ardi.
Entah kenapa aku merasa jadi tidak rela di tinggal pergi oleh Kak Ardi. Padahal aku lah yang selalu terlihat tegar selama ini setelah Kak Ardi mengatakan ingin melanjutkan pendidikannya waktu itu.
"Kamu kenapa?" Tanya Kak Ardi karena aku hanya diam dari tadi.
"Nggak apa-apa," jawabku menggelengkan kepalaku.
Besok nya Kak Ardi pergi dan ia sempat menghubungi ku sebelum keberangkatan nya pagi itu.
"Kak..., hati-hati," pesanku. Ingin rasanya aku mengatakan hati-hati dengan hatimu. Tapi itu tidak mungkin, aku khawatir Kak Ardi malah menjadi tidak tenang nantinya. Jujur saja, ucapan Kak Agil waktu itu masih berputar-putar di otak ku.
Hari-hari ku juga di sibuk kan dengan berbagai kegiatan untuk menghadapi ujian kenaikan kelas. Dari les hingga jam pelajaran tambahan. Terlintas di benak ku untuk melanjutkan pendidikan ku juga ke kota tempat Kak Ardi kuliah.
-
-
-
...Tbc...
__ADS_1
Maaf jika ada typo yang bertebaran, karena Author juga sering galfok ðŸ¤