
Hujan kembali turun cukup deras hingga malam hari. Cuaca dingin membuatku untuk tetap berada di kamarku. Aku tidak terlalu pandai menyanyi, tapi hanya ada aku di kamar itu jadi ku lantunkan saja lagu sambil memetik gitar ku untuk sekedar mengusir rasa sepi.
**Genggam tanganku jangan bimbang...π΅πΆ
Tak usah lah lagi di kenang...
Nasib diri yang pernah datang...
Jadikan pelajaran sayang...πΆπ΅
Ku hentikan petikan gitar ku saat ku dengar lagu yang tiba-tiba muncul dari dalam perutku. Ku periksa lemari penyimpanan lalu ku ambil mi instan dari sana. Kata Bunda aku hanya makan mi instan jika dalam keadaan darurat saja. Tapi nyatanya aku sangat menyukai makanan berkalori dan berlemak tersebut. Hanya saja badanku menolak untuk gemuk. Padahal Ayah dan Bunda dulu sering memberiku vitamin agar badanku lebih berisi. Hingga bosan aku meminum vitamin tersebut namun badanku tetap saja tidak ada perubahan.
Setelah makan dan menggosok gigi aku kembali ke kamar. Ku tarik selimut hingga sebatas leher dan ku pejamkan mataku. Ahh...lagi-lagi wajah Pak Adji ada disana.
Ku buka mataku saat alarm berbunyi. Setelah aku mematikan alarm lalu ku pejamkan lagi mataku untuk tidur sebentar. Niatku hanya sebentar, tapi pada akhirnya aku kesiangan.
Karena khawatir akan terlambat akhirnya aku hanya mencuci muka dan menggosok gigi saja.
Saat aku buru-buru berjalan tiba-tiba ada motor yang berhenti di depanku. Saat ku lihat pengendara motor tersebut, "apakah ini yang di namakan jodoh," batinku.
"Ayo," ucap Pak Adji menyuruhku naik.
Tanpa pikir panjang aku langsung naik saja karena aku juga takut jika terlambat. Aku pernah mendengar kata-kata jika bangun kesiangan maka rezeki akan di patuk ayam. Tapi kali ini aku di jemput oleh pangeran karena bangun kesiangan. Haha...
Saat memasuki area sekolah, ada beberapa murid juga yang baru datang. Mereka melihat ke arahku dan Pak Adji yang sedang memboncengku di belakang. Aku acuh saja melihat tatapan mereka yang menurutku dengan berbagai macam dugaan.
"Terimakasih Pak," ucapku setelah turun dari motor Pak Adji. Lalu aku langsung buru-buru menuju ke kelas.
__ADS_1
"Ciee..., yang abis di boncengin," ucap Dina dan beberapa teman sekelasku yang lainnya.
Aku menuju kursi ku dan duduk disana. Tidak lama Guru yang mengajar di kelas kami pun masuk. Aku tidak fokus saat belajar karena perutku terus saja berbunyi sebab tadi aku tidak sempat sarapan.
Jam istirahat pun tiba, aku merapikan buku dan alat tulisku dan segera ingin pergi ke kantin. Tak ku hiraukan beberapa temanku yang menghampiriku untuk menanyakan perihal bagaimana Pak Adji sampai memboncengku ke sekolah.
Aku keluar dari kelas lalu mereka pun mengikutiku sambil berjalan beriringan kami menuju ke kantin.
Setelah mendapatkan makanan dan minuman dari penjaga kantin aku langsung makan saja. sementara Maghda masih setia menungguku untuk bicara.
Aku memang ingin menjelaskan pada mereka dan aku sudah berencana merekayasa kejadian tersebut untuk memanas-manasi mereka.
Belum lagi aku sempat membual ku dengar suara seseorang yang cukup familiar di telingaku. Itu adalah suara Pak Adji yang ternyata sedang mengobrol dengan para siswa yang ada di kantin itu juga. Ku lihat ia sangat akrab dan bahkan ia juga makan di meja yang sama. Aihh...,perasaan apa ini, lagi-lagi jantungku berdetak sangat cepat, tapi hanya jika ada Pak Adji saja.
Tentu bukan aku saja yang memperhatikan keakraban Pak Adji dan para siswa-siswa tersebut. Maghda dan yang lainnya pun melihat itu.
Aku kembali melanjutkan makanku dengan suapan terakhir.
"Uhuukk, uhuukk...," aku tersedak saat ku dengar Pak Adji menyebut namaku untuk memanggilku ke ruangannya. Aku ingin segera minum untuk menghilangkan rasa perih di tenggorokanku, namun ku lihat air di gelasku sudah habis.
"Ini minum punyaku saja," ucap Sari sambil memberikan minuman nya padaku.
"Terimakasih...," ucapku setelah menghabiskan minuman milik Sari.
"Ada apa sih antara kamu sama si Pak Adji itu..., kemarin di panggil ke ruangannya, tadi pagi di boncengin, ehh ..., sekarang malah Pak Adji secara langsung nyuruh kamu ke ruangannya lagi. Nona Anita...tolong jangan buat kita di sini makin penasaran," terlihat Dina sudah semakin kesal padaku.
"Ahh..., jadi mereka nggak tau kalau kemarin aku juga di antarin pulang sama Pak Adji? Sayang sekali, harusnya mereka juga tau itu," batinku.
__ADS_1
"Udah dulu ya...,sepertinya aku udah di tungguin," ucapku seraya pergi meninggalkan teman-temanku setelah sebelumnya aku membayar makananku dengan penjaga kantin. Haha, tidak ku pedulikan wajah kesal mereka.
Aku berjalan menuju ke ruangan Pak Adji lalu ku ketuk pintu yang memang sudah terbuka itu. Pak Adji mempersilakan ku masuk lalu aku pun masuk dan menghampiri mejanya.
"Ada apa Pak?" Tanyaku langsung.
"Tolong kamu suruh anak-anak mengerjakan tugas yang ada di halaman ini dan ini," sambil Pak Adji menunjuk halaman pada buku yang ia perlihatkan padaku. "Jika sudah selesai tolong kamu kumpulkan dan letakkan di meja saya."
"Baik Pak," ucapku lalu aku pamit dari ruangan Pak Adji.
Setelah sampai di kelas aku langsung menyampaikan ke teman-temanku amanah dari Pak Adji. Ku lihat Sari, Dina, Maghda dan beberapa temanku yang lainnya cekikikan menertawaiku.
-
-
-
Ujian kelulusan sudah semakin dekat, sementara aku masih terlena dengan kegiatanku yang di luar dari jalur, dimana seharusnya aku belajar untuk menghadapi ujian.
Suatu malam aku berkumpul bersama teman-temanku di sebuah perempatan jalan tempat biasa aku dan beberapa temanku nongkrong sambil kami bergantian memainkan gitar. Aku sangat terkejut saat tiba-tiba Om Wandy datang dan membentak kami yang sedang berkumpul di tempat itu. Teman-temanku pun berlarian meninggalkan tempat itu.
Bunda dan Ayah mendengar hal itu langsung mengadiliku dan memutuskan setelah kelulusan nanti aku akan di masukan ke sebuah sekolah yang lebih banyak mempelajari tentang ilmu Agama. Itu artinya aku tidak akan masuk ke sekolah yang dulu pernah Ayah dan Bunda janjikan.
"Keputusan Ayah sudah bulat, kamu harus bersekolah di sana atau tidak samasekali! Ayah sangat kecewa dengan sikap kamu saat ini, semoga setelah bersekolah disana kamu bisa berubah."
Aku hanya tertunduk diam tidak berani menatap Ayah samasekali. Ini pertama kalinya Ayah marah seperti ini.
__ADS_1
"Ayah akan mengabulkan keinginan kamu jika kamu sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi," usai berkata seperti itu Ayah masuk ke kamar dan aku pun hanya menangis saja lalu ku dekati Bunda.
"Sama halnya seperti yang Ayah katakan..., Bunda juga sangat kecewa. Semoga kelak Anita benar-benar bisa berubah jadi wanita yang bisa membedakan mana yang baik dan buruk," ucap Bunda menasehatiku.