
Malamnya Om Wandy datang ke rumahku. Om Wandy juga membawakan makanan kesukaanku. Aku langsung membuka kotak-kotak makanan itu lalu mencoba satu persatu.
"Bagaimana hari ini, An?" Tanya Om Wandy di sela makanku.
"Hmm, sepertinya Om nggak perlu nyiapin hadiah. Anita cuma bisa meraih peringkat tiga di kelas," jawabku.
Tidak ada jawaban apa pun lagi dari Om Wandy. Ku lihat ia tengah menelpon seseorang dari HPnya. Aku juga sudah tidak menganggap penting perjanjian itu, lagian aku sudah tidak butuh gitar, dan HP ku juga masih bagus. Setidaknya aku masih bisa berhubungan dengan Kak Ardi.
Setelah selesai berbicara melalui ponselnya, kemudian Om Wandy beranjak dari tempat duduknya. Tidak lama ia kembali.
"Ini hadiah untuk gadis yang sudah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Sambil Om Wandy menyodorkan sebuah paper bag di hadapanku.
Dengan mulut yang masih penuh dengan makanan, aku memandang pada Om Wandy. Lalu aku buru-buru mengunyah dan segera menelan makanan yang ada di mulutku.
"Apa ini?" Tanyaku.
"Lihat saja," jawab Om Wandy seraya melangkah menuju sofa lalu menyalakan rokoknya di sana.
Aku menengok ke dalam paper bag tersebut. Aku langsung buru-buru pergi ke dapur untuk mencuci tanganku lalu kembali menghampiri paper bag yang di dalamnya berisi sebuah handphone model terbaru.
"Terimakasih, Om...!" Teriak ku sambil menyalakan HP baruku.
Om Wandy hanya mengangguk sambil tersenyum.
Ketika aku sedang asik mencoba HP baruku, Om Wandy memanggilku dan mengatakan kalau ada tamu yang datang. Dengan berat hati aku meninggalkan tempat duduk ku dan menuju ke pintu, di mana Om Wandy terdengar seperti sedang berbicara dengan tamu tersebut.
Aku sedikit terkejut saat melihat siapa tamu yang di maksud Om Wandy.
"Eh, Kak Ardi. Ada apa?" Tanyaku.
"Ya, malah di tanya ada apa. Kamu pikir dia kesini buat apa, coba?" Om Wandy berucap sambil mengucek rambutku, membuat rambutku jadi sedikit berantakan.
Om Wandy masuk ke dalam.Kemudian aku mendekati kak Ardi yang masih berdiri di depan pintu. "Kakak kenapa nggak mengabariku dulu kalau mau kesini?" Kataku, sambil merapikan rambutku.
"Sudah, tapi nomer kamu nggak aktif. Makanya aku langsung datang kesini. Aku pikir kamu ninggalin aku untuk berlibur ke kampung."
Aku lupa kalau nomerku tidak aktif karena aku sedang sibuk mencoba HP baru dari Om Wandy.
"Ya sudah, duduk dulu, Kak." Aku mengajak Kak Ardi duduk di bangku teras. Ku lihat penampilan Kak Ardi sangat rapi dan wangi juga. Jika di bandingkan dengan penampilanku, sangat tidak pantas rasanya aku berada di sampingnya. Ku lihat penampilanku yang hanya memakai kaos dan celana rumahan, dengan rambut yang di ikat asal.
"Kakak mau minum apa? Biar aku ambilkan," kataku menawari Kak Ardi.
__ADS_1
"Apa aja, An. Asal kamu yang membuatnya, pasti aku minum," jawab Kak Ardi.
Hahh!? Aku bahkan hanya bisa membuat teh. Itu pun aku lakukan jika tidak ada Ka**k Laras atau pun Bunda.
"Hm, i iya, Kak. Sebentar ya aku ambilin dulu." Lalu aku masuk ke dalam.
"Om, kalau cowok biasanya suka minum teh atau kopi?" Aku bertanya pada Om Wandy.
Om Wandy bukannya menjawab tapi malah senyum-senyum saja.
"Kenapa nggak tanya langsung aja?" Saran Om Wandy.
"Udah, tapi katanya...--" aku tidak melanjutkan ucapanku.
"Apa?"
"Dia akan minum apa pun yang Anita buatkan," jawabku seraya memutar bola mataku. Karena aku yakin kata-kataku tadi pasti akan menjadi bahan ledekan Om Wandy.
Benar saja, Om Wandy langsung terkekeh. Tidak ada gunanya meminta saran dari Om Wandy. Akhirnya aku langsung ke dapur saja mengambil minuman kemasan dan beberapa cemilan.
"An, kenapa tamunya nggak di ajak masuk saja?" Kata Om Wandy saat aku melewatinya.
"Kak, ayo masuk. Kita ngobrol di dalam aja," kataku.
Kak Ardi pun mengikuti langkahku untuk menuju sofa ruang tamu.
"Maaf, hanya ada minuman seperti ini aja. semua bahan dapur habis. Aku lupa untuk membelinya," kataku beralasan.
"Nggak apa-apa, An...."
Tanpa sungkan Kak Ardi mengambil minuman kemasan tersebut lalu meminumnya.
Ku biarkan kak Ardi dan Om Wandy mengobrol. Sementara aku membereskan paper bag dan sisa makanku yang tadi. Ku lihat Kak Ardi sudah akrab saja dengan Om Wandy. Seperti orang yang sudah kenal lama saja. Entah apa yang mereka bicarakan, sesekali aku mendengar mereka tertawa.
Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukan pukul 21.30. Kak Ardi pamit pulang. Om Wandy pun juga pamit pulang ke rumah dinasnya.
Setelah Om Wandy dan Kak Ardi pamit pulang, aku pun langsung menuju kamarku untuk beristirahat.
Aku tidak mengaktifkan alarm ku, hari ini aku ingin tidur sepuasnya.
Aku membuka mataku ketika mendengar suara seseorang di luar kamarku. Kesadaranku langsung pulih kala itu juga. Khawatir ada seseorang yang mungkin akan berbuat jahat. Aku beranjak dari kasur menuju pintu kamar untuk mengintip siapa di sana.
__ADS_1
Sebelum aku membuka pintu kamarku, ku dengar suara yang memanggilku dari luar. Aku tau betul suara siapa itu. Buru-buru ku buka pintu kamarku.
"Bunda...!" Aku berteriak kegirangan. Ku peluk Bunda dengan erat. "Kangen, Bunda...."
"Tidak kangen sama Ayah?" Ku dengar suara Ayah berbicara.
Ku lepaskan pelukanku dari Bunda, lalu berpindah memeluk Ayah. Bukan hanya memeluk, aku bahkan bergelayutan di pundak Ayah, sehingga membuat Ayah terpaksa menahan tubuhku dengan posisi menggendong. Kemudian aku turun dari gendongan Ayah dan kembali menghampiri Bunda.
"Bunda pagi-pagi sekali datangnya. Emang jam berapa Bunda berangkat dari sana?" Tanyaku.
Bunda memandangku sambil menggelengkan kepalanya. "Ini sudah lebih dari jam 11, bukan pagi lagi."
"Apaa!?" Aku langsung melihat ke arah jam dinding.
"Anak gadis,kok bangunnya jam segini!" Mulai lah Bunda menceramahiku.
"Bagaimana hasil raport mu, Nak?" Ayah bertanya padaku.
"Sebentar," kataku, lalu masuk ke kamar untuk mengambil raport ku dan memperlihatkannya pada Ayah.
Ayah mengambil kacamatanya lalu memeriksa nilai-nilaiku. Aku pergi ke dapur mendekati Bunda yang tengah beres-beres. Bunda juga memeriksa isi dapurku, dari kulkas hingga lemari penyimpanan makanan.
"Tolong kamu hubungi Om Wandy, barangkali dia tidak terlalu sibuk. Sore nanti Bunda ingin berbelanja, dan banyak keperluan yang harus di beli," titah Bunda.
"Kenapa nggak naik taksi aja, Bun?" Tanyaku.
"Sekalian Bunda juga ada yang ingin di bicarakan dengan dia."
Tanpa membantah lagi aku pun langsung menghubungi Om Wandy dan menyampaikan amanah dari Bunda.
-
-
-
**Jangan lupa untuk memberikan dukungannya, ya...
Like, komen maupun hadiahnya bila berkenan. Jangan lupa klik ❤
Terimakasih 😘**
__ADS_1