
...Happy reading...
Sikap Bang Fauzan mungkin bisa ku maklumi karena dari awal aku tau bahwa dia memang menyukaiku. Yang mengejutkan adalah ketika tiba-tiba Pak Erik datang ke rumah dan menyampaikan maksudnya ingin melamarku.
Aku kaget setengah mati dan di buat panas dingin saja. Kak Laras langsung menarik ku ke kamar dan menginterogasi ku untuk menanyakan ada hubungan apa antara aku dan atasanku itu sehingga ia berani melamarku. Aku bingung harus menjawab apa, karena hubungan ku dengan Pak Erik memang hanya sebatas Bos dan Karyawan saja. Kalau pun kami dekat tapi tidak ada perasaan apa pun bagiku.
Bukannya memberikan aku waktu untuk berpikir Oma Maryam malah seperti membuka peluang dengan mengatakan bahwa aku sudah cukup umur untuk menikah dan menyerahkan semua padaku. Padahal aku berharap agar Oma menolak mentah-mentah lamaran Pak Erik yang sudah berumur kepala empat itu. Ya meski Pak Erik masih terlihat keren dengan usianya itu, tapi aku juga tidak ingin menjadi bahan ledekan rekan-rekan ku di perusahaan. Bisa-bisa aku mati perlahan dengan menahan rasa malu karena nantinya bakal jadi bahan ledekan rekan sekantor. Apa lagi aku sering mengerjai Pak Erik dengan ide-ide gilaku. Apa kata dunia jika orang yang sering aku jadikan bahan lelucon malah jadi suamiku.
Ketika Kak Laras keluar dari kamarku aku langsung mengunci pintu dan mengemasi barang-barangku dan beberapa pakaian. Aku merasa seperti akan di nikahkan pada hari itu juga. Tangan dan kaki terasa dingin, tubuhku gemetar.
Bagaimana jika Oma dan Kak Laras menerima lamaran itu?
Yang aku tau jika ada orang yang di lamar, maka orang itu akan menikah. Sebab itulah aku berniat untuk melarikan diri saja.
Aku keluar lewat jendela kamarku dan mencari ojek untuk mengantarku ke bandara. Tujuan ku adalah pergi ke kota C di mana anak Oma Maryam tinggal di sana. Meski aku belum pernah menginjakkan kaki di kota itu, setidaknya aku bisa menghubungi Tante Yani dan memohon untuk merahasiakan keberadaanku. Selain Mamanya Kak Laras, Tante Yani juga termasuk salah satu keluarga yang peduli padaku, meski kami hanya berhubungan melalui telepon saja. Tapi ia selalu menyemangati ku dan nasehatnya pun selalu ku ingat.
Sebetulnya aku takut yang namanya naik pesawat. Tapi aku lebih takut lagi jika di nikahkan dengan Pak Erik. Akhirnya aku memberanikan diri untuk naik pesawat karena hanya dengan penerbangan saja aku bisa secepatnya mencapai kota tujuanku.
Di dalam pesawat aku tak henti-hentinya komat kamit membaca berbagai macam ayat yang aku hapal. Ini adalah penerbangan pertamaku yang mungkin akan terdengar konyol jika ada orang lain yang tau. Sebab itulah aku sebisa mungkin menutupi kegugupan ku agar terlihat biasa-biasa saja. Akhirnya aku kembali berdo'a di dalam hati saja sampai pesawat yang ku tumpangi lepas landas di kota tujuan ku.
Tiba di kota itu aku langsung mencari penginapan terdekat. Karena aku juga belum pernah menanyakan alamat rumah Tante Yani. Yang aku tau bahwa ia tinggal di kota itu.
Setelah mendapatkan penginapan aku langsung beristirahat melepas sejenak rasa lelah dan penat ku. Aku juga ingin menormalkan irama jantungku pasca di dalam pesawat tadi.
Setelah itu aku menuju kamar mandi untuk menyegarkan diriku. Setelah itu aku mencoba untuk menghubungi nomer Tante Yani.
"Halo?"
"Halo, apa Tante Yani ada?" Tanyaku karena yang menerima panggilan ku ternyata seorang anak lelaki. Mungkin anaknya Tante Yani karena ku dengar ia memiliki dua orang anak, yang satu laki-laki yang masih SMP dan seorang gadis yang kini duduk di bangku SMA.
Tidak ada jawaban tapi ku dengar anak laki-laki itu sedang memanggil Mamanya.
__ADS_1
"Halo?"
"Halo, Tante. Apa kabar?" Tanyaku.
"Alhamdulillah, Tante baik. Anita bagaimana kabarnya? Udah lama nggak nelpon Tante, pasti sibuk sekali, ya?"
"Hehe, i iya Tante. Kebetulan aku lagi ada kerjaan di kota ini, tapi aku nggak tau alamat rumah Tante jadi aku nyari penginapan saja," bohongku.
"Oh, jadi kamu ada di kota ini juga? Udah, sini kasi tau alamat penginapan kamu, nanti biar Om Muklis yang jemput kamu."
"Tapi jangan kasi tau Oma dan Kak Laras, kalau aku ada di kota ini. Karena sebelumnya mereka tidak setuju jika aku menerima pekerjaan di luar kota. Biar nanti bicara sendiri pada mereka setelah pulang dari sini." Tangan dan kaki ku kembali terasa dingin karena teringat lamaran Pak Erik.
"Oh, iya. Tenang aja, Tante bisa tutup mulutku, kok."
Aku bersorak di dalam hati. "Aman, aman...."
Malamnya Om Muklis menjemputku di hotel tempatku menginap. Om Muklis adalah suami dari Tante Yani. Yang aku dengar, dulu mereka menikah karena di jodohkan. Tapi sampai saat ini rumah tangga mereka awet-awet saja. Kenapa Mama dan Papa yang dulu menikah atas dasar cinta malah hanya bertahan beberapa tahun saja. Itu pun sebelum perceraian terjadi mereka hampir setiap hari bertengkar.
Beberapa saat Om Muklis menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah bercat putih dengan halaman yang cukup luas. Sepertinya Tante Yani juga pecinta bunga. Bisa terlihat banyaknya jenis tanaman bunga yang ada di sana.
"Ayo masuk," ajak Om Muklis. Aku pun mengekor di belakang Om Muklis masuk ke rumah.
"Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumsalam...," sambut Tante Yani yang sudah menunggu kedatangan kami.
"Selamat malam, Tante," sapa ku.
"Waahh, ini yang namanya Anita. Kamu mirip sekali dengan Mama kamu," ucap Tante Yani sambil memperhatikan ku dari atas sampai ke bawah. "Tapi Anita jauh lebih cantik pastinya," tambah Tante Yani. Aku hanya tersenyum meski senyumku sangat berat rasanya karena Tante Yani kembali mengingatkan ku pada Mama yang keberadaannya kini entah di mana.
"Halo, Kak." Sapa seorang gadis yang aku yakini dia adalah anak pertama dari Tante Yani.
__ADS_1
"Kak Anita, kan?" Tanyanya padaku.
"Oh, iya. Kamu...
"Panggil Nisa saja, Kak."
"Ok, Nisa."
"Oiya, ini anak Tante yang nomer dua, namanya Andra." Sambil memperkenalkan seorang anak laki-laki yang duduk bersandar di sofa. Aku tersenyum padanya meski anak itu terlihat sangat cuek.
"Oiya, tadi Tante udah masak, kita makan dulu, ya?" Tante Yani menggandeng tangan ku hingga ke meja makan.
"Tante nggak tau kamu sukanya apa. Tapi semoga kamu suka dengan apa yang Tante masak." Tante Yani mengambilkan piring untuk ku yang sudah berisi nasi dan lauk di dalamnya. Aku menelan kasar ludah ku ketika melihat porsi di dalam piring itu.
"Jangan heran, Mama emang selalu seperti itu. Mama memiliki aturan yang mengharuskan tamunya kenyang saat berada di rumahnya," bisik Nisa yang duduk bersebelahan denganku.
"Tapi tidak harus menghabiskan nasi dan lauk sebanyak ini juga.'' Aku membatin.
Karena merasa tidak enak akhirnya aku berusaha untuk memakan semua yang ada di dalam piring ku meski akhirnya aku menyerah sebelum bisa menghabiskan semuanya.
...**Tbc...
-
-
-
Jangan lupa like,komen dan klik ❤
Apa pun bentuk dukungan kalian sangat berharga bagi kami sebagai penulis🤗
__ADS_1
Thanks all...😘😘**