Luka Terdalam

Luka Terdalam
MENGUNGKAPKAN PERASAAN


__ADS_3

Setelah tiba di kamar ku buka kerudungku lalu ku jatuhkan tubuhku di kasur. Suasana sepi makin terasa karena Bunda sudah kembali ke desa.


Ku pejamkan saja mataku yang memang sudah sangat mengantuk. Ketika aku terbangun hari sudah agak gelap. Aku pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih, saat aku sedang berpakaian aku merasa ada sesuatu yang kurang di kamarku itu. Ya gitarku tidak tampak di sana. Aku panik dan menduga ada seseorang yang sudah mencuri gitar ku. Tapi siapa orangnya, bukan kah rumah terkunci dan mana mungkin Bunda yang membawa gitar ku. Pikiranku sudah sangat kacau mengingat hanya gitar itu sarana hiburanku. Ku coba pergi ke kamar Bunda untuk memeriksanya namun tidak ada.


Karena sudah sangat putus asa ku hubungi saja Om Wandy.


📞 "Ya An, ada apa?"


📞 "Hmm...,begini gitar Anita hilang, dan ---"


📞 "Oh...,gitar kamu gak hilang kok, aman...."


📞 "Maksud Om?"


📞 "Tadi pagi sebelum Bunda kamu pulang ke desa, Om ijin buat ambil gitar kamu.Ya Om pikir Anita sudah nggak butuh gitar itu lagi karena sekarang, kan Anita sudah jadi gadis manis nan sholehah...."


📞 "Om Wandy.......!!!"


Om Wandy memutus panggilannya dan aku sudah bisa membayangkan bagaimana Om Wandy tergelak puas menertawai ku.


Beberapa saat ponsel ku kembali berbunyi. Ku lihat ada sebuah pesan yang masuk. Ku buka dan ku baca pesan tersebut.


[Fatiah]📨 "Assalamu'alaikum. Sekolah kita ngadain pengajian. Dan acaranya akan di adain nanti malam setelah sholat Isya,, aku berharap kamu mau datang juga☺"


[Me]📨 "Wa'alaikumsalam. InsyaAllah aku datang."


-


-


-


Pagi begitu cepat datang sementara aku masih ingin di bawah selimut memejamkan mataku sambil memeluk guling. Tapi ku paksakan untuk bangun karena sebentar lagi Om Wandy pasti akan datang menjemputku.


"Masih cemberut aja," kata Om Wandy ketika aku sudah masuk ke mobil.


Aku tidak menjawab dan Om Wandy langsung menjalankan mobilnya. Setelah tiba di sekolah aku turun dari mobil dan Om Wandy memanggilku. Aku pun menoleh ke arah Om Wandy yang berbicara melalui jendela mobilnya.


"Kalau Anita bisa masuk peringkat 10 besar nanti Om ganti gitarnya dengan yang lebih bagus!"


"Segitu doang hadiahnya?" Ucapku.


"Emang Anita mau nya apa?"

__ADS_1


"Yang gedean dikit napa?"


"Kalau gitu,harus tingkatkan lagi peringkatnya!"


Aku tersenyum lalu membalikan badanku untuk melanjutkan langkahku menuju ke sekolah.


Aku suka tantangan


Setelah sampai di sekolah aku langsung menuju kelas ku dan aku terkejut ternyata di sana sudah ada Kak Ardi yang duduk tepat di depan mejaku


"Kak Ardi ngapain duduk disini...? Gak malu apa!? Coba lihat, disini cuma Kak Ardi doang cewek sendiri," kataku sambil menunjuk ruangan kelas dengan pandanganku. Dan aku sengaja membalikkan kata-kataku tadi.


"Ada yang mau aku bicarakan. Penting!" Kata Kak Ardi.


Aku menduduki kursiku. "Buruan...," ucapku.


"Anita, aku suka sama kamu sejak pertama kita bertemu," Kak Ardi menatapku serius dengan matanya yang kecoklatan.


Bukan hanya aku yang mendengar, bahkan seisi kelas pun tau kalau Kak Ardi sedang menyatakan perasaannya padaku. Ini pertama kalinya bagiku, dan aku sangat malu. Ingin rasanya aku menenggelamkan ragaku ke dasar Bumi.


"Bagaimana?" Tanya Kak Ardi lagi.


"Anita..., kenapa nggak datang tadi malam? Kita nungguin lho," kata Fatiah yang baru masuk kelas pagi itu.


"Ya udah, aku pergi dulu. Aku tunggu jawaban kamu," kata Kak Ardi beranjak dari tempat duduknya.


"Kak Ardi ngapain?" Tanya Fatiah setelah Kak Ardi pergi.


"Nggak tau, dia langsung bilang suka dan nunggu jawaban," jawabku. Mau berbohong pun percuma, karena teman yang lain sudah mendengar semuanya.


Tapi aku salut pada teman-temanku disini, mereka tidak mengejekku samasekali setelah apa yang terjadi barusan. Hanya saja aku tak habis pikir kenapa Kak Ardi bisa seberani itu menyatakan perasaannya padaku.


Selama pelajaran berlangsung pikiranku tak tentu arah mengingat kata-kata kak Ardi. Bagaimana aku bisa mendapatkan nilai yang memuaskan jika pikiranku kacau seperti ini. Bisa malu aku jika tidak bisa mengalahkan tantangan Om Wandy. Target ku adalah mendapatkan peringkat satu di kelasku.


Sejak saat itu sibisa mungkin aku menghindari pertemuan dengan Kak Ardi. Dan sepertinya Kak Ardi menyadari sikapku itu. Dan pagi ini kak Ardi sudah menungguku di depan gang tempat biasa aku berjalan kaki. Sepertinya Kak Ardi sengaja menungguku disana dan aku juga tidak melihat motornya.


"Anita...!"


Kak Ardi mensejajari langkahku. Aku berjalan lurus menatap ke depan tanpa menoleh sedikit pun.


"Beberapa hari ini aku perhatiin kamu sedang menghindari aku?"


"Nggak juga," jawabku.

__ADS_1


"Hm..., aku mau mendengar jawaban kamu?"


"Apa?" Tanyaku pura-pura tidak mengerti.


"Aku suka sama kamu dan aku mau kita jadian."


Lagi-lagi Kak Ardi sangat berani mengulang kata-katanya. Semudah itukah dia mengucapkan nya, sudah berapa banyak korban sebelumnya? Hatiku bertanya-tanya.


"Belum bisa jawab, dan aku nggak ngerti," ucapku.


"Jawab iya atau tidak saja."


"Tidak!"


Kak Ardi hanya tersenyum saja mendengar jawabanku. Tidak ada kekecewaan sedikitpun di wajahnya.


Ardi POV


Saat pertama kali aku melihatnya aku tidak bisa berhenti untuk tidak menatapnya. Dia sangat berbeda dan terlihat lebih mencolok di antara yang lainnya. Saat aku bisa melihat mata dan wajah cueknya sungguh menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku.


Mungkin aku terkesan terlalu buru-buru saat menyatakan perasaanku padanya. Aku merasa gelisah saat tiba-tiba dia menghindariku. Ku coba untuk menunggunya dan menanyakan alasannya. Aku juga ingin tau jawaban darinya tentang perasaan yang aku utarakan kemarin.


Aku tidak berharap dia langsung menerimaku, tapi setidaknya dia sudah tau perasaanku dan ini adalah langkah awal bagiku untuk berjuang mendapatkan hatinya.


Ardi POV END


-


-


-


Ku mulai hari ini dengan lebih fokus lagi dalam belajar agar dapat memenangkan tantangan dari Om Wandy.


Ku buang jauh-jauh segala pikiran tentang Kak Ardi dan ku abaikan godaan dari ketampanan Pak Yusran meski sangat sulit rasanya 😁


Bel tanda istirahat berbunyi aku pun memberesi buku dan alat tulisku. Ku lihat ada keramaian di salah satu ruangan dan katanya sedang ada latihan bagi beberapa murid yang akan tampil untuk mewakili sekolah dalam sebuah acara. Aku sudah tidak tertarik lagi untuk mengikuti acara apa pun, yang ku inginkan adalah aku segera lulus dan mendapatkan kepercayaan lagi dari Ayah.


Tapi ku lihat ada beberapa siswa yang membawa gitar dan menuju ke ruangan tersebut. Sungguh ini godaan bagiku, aku jadi merindukan gitar ku yang di sita oleh Om Wandy.


"Ayo kita lihat teman-teman kita yang sedang latihan," ajak Salwa.


Aku ikut saja saat Salwa menarik lenganku. Saat tiba di depan pintu ruangan tersebut aku melihat ada sebuah gitar yang sedang nganggur. Ku ambil saja gitar itu lalu ku ajak Salwa duduk di tempat agak tersembunyi di dekat pohon belakang sekolah.

__ADS_1


__ADS_2