Luka Terdalam

Luka Terdalam
MENGAMBIL KEPUTUSAN


__ADS_3

...Happy reading...


Saat di dalam perjalanan menuju pulang, aku menyuruh supir taksi berhenti sebentar di depan sebuah tempat yang menjual onderdil motor. Aku sengaja membeli salah satu alat motor agar kesannya aku keluar rumah untuk membeli alat tersebut. Kak Laras tidak akan banyak bertanya jika aku membeli barang-barang seperti itu. Ingin beralasan membeli barang yang lain itu tidak mungkin, karena semua masih tersedia di rumah. Hanya akan menimbulkan kecurigaan saja jika aku membeli barang yang sama. Kak Laras memang tidak terlihat tangguh seperti diriku, tapi ia bak detektif berpengalaman yang bisa membaca gerak-gerik yang ku lakukan. Dia sangat teliti dengan hal-hal sekecil apa pun.


Ketika aku keluar dari tempat tersebut dan ingin kembali masuk ke mobil, tanpa sengaja aku melihat mobil yang terparkir tak jauh dari taksi yang ku tumpangi. Aku tau betul siapa orang yang ada di belakang kemudi tersebut.


Aku langsung masuk ke mobil dan menyuruh supir taksi untuk melanjutkan perjalanan pulang.


Dari dalam mobil aku memperhatikan mobil yang kini mengiringi taksi yang ku tumpangi. Dia adalah Bang Fauzan yang sepertinya sengaja mengikuti untuk memastikan aku pulang dengan selamat.


Air mata ku benar-benar tak bisa di cegah, mengalir begitu saja dari sudut mataku. Aku di cintai dan di sayangi tapi tak mendapat ijin untuk saling memiliki.


Kenapa perjalanan cinta ku berakhir seperti ini?


Apa mungkin aku memang tidak pantas untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan yang utuh?


“Mbak, sudah sampai.” Suara supir taksi memecah lamunan ku. Aku pun keluar dari dalam mobil setelah membayar ongkos taksi tersebut.


“Mbak...kembaliannya!”


“Buat Bapak, aja!” Sahut ku sambil berjalan menuju rumah ku.


“Terimakasih, Mbak...!”


Aku langsung masuk ke dalam rumah yang kebetulan pintunya sedang terbuka dan benar saja Kak Laras sudah menunggu ku di ruang tamu sambil ia menemani Rifqy yang sedang bermain.


Ia tampak mengernyit melihat barang bawaan ku. Namun hanya sebentar lalu ia kembali acuh.


Aku masuk ke dalam kamar ku dan menghembuskan nafas lega karena cara ku berhasil. Kemudian aku melepaskan jaket ku dan meletakkan nya di sandaran kursi.


Tring!


Hp ku berdering tanda ada pesan masuk. Pesan dari Bang Fauzan.


📨[Bang Fauzan] Dek, Abang pamit pulang. Kamu jaga diri kamu baik-baik, ya...Abang nggak mau kalau kamu sakit. Abang tunggu kabar dari kamu.


Aku melemparkan ponsel ku ke atas kasur setelah membaca pesan itu. Aku benar-benar bingung tidak tau harus bagaimana lagi. Aku harus memutuskan ini sendiri dan tidak mungkin aku meminta pendapat orang lain.

__ADS_1


Mungkin sekiranya para readers ada yang mau bantu Anita mengambil keputusan😂


Hingga malam hari aku terus berpikir mengenai ajakan Bang Fauzan tersebut.


Bohong jika aku tidak tergiur untuk pergi bersamanya, karena aku juga mencintainya. Dia orang yang mampu mengisi hari-hari kelam ku dengan kebahagiaan pasca duka yang aku alami setelah di tinggal menikah oleh orang ku cintai.


-


-


-


Tibalah hari di mana aku janjian dengan Bang Fauzan di tempat kemarin kita bertemu. Aku sudah memikirkan dengan matang keputusan.


Sejak pagi aku sudah menunggu kabar dari Bang Fauzan. Katanya ia akan menghubungi ku jika sudah berada di penginapan kemarin. Tapi hingga sore belum juga dia menghubungi ku.


Aku mulai lelah karena semalam aku hampir tidak tidur untuk mempertimbangkan keputusan ku. Di saat aku mulai terlelap handphone ku berdering ada panggilan masuk. Aku melihat ke layar ponsel ku ternyata Bang dari Bang Fauzan. Buru-buru aku menerimanya.


“Bang...kenapa baru menelepon sekarang?” Tanya ku.


“Maaf, tadi pagi tiba-tiba keluarga Abang mengajak untuk pergi mendatangi keluarga wanita yang akan di jodohkan dengan Abang.”


Berarti Bang Fauzan sudah bertemu dengan wanita itu?


Seperti apa dia?


Apa dia cantik?


Atau bahkan lebih cantik dari ku?


Pertanyaan-pertanyaan bodoh itu bermunculan di kepala ku.


Sakit rasanya. Namun lagi-lagi hanya bisa menjerit dalam diam. Sungguh aku tidak rela, tapi takdir ku sepertinya lebih tidak rela lagi untuk membiarkan aku bahagia di dunia ini. Mata ku mulai terasa panas dan hanya air mata yang menjadi saksi keperihan hati ini.


“Abang tunggu sekarang.” Suara Bang Fauzan membuat ku tersadar.


“E i iya, sebentar aku akan sampai,” jawab ku seraya menyeka air mata di pipiku.

__ADS_1


Aku berdiri di depan cermin memastikan keadaan ku. Wajah ku masih saja terlihat sembab dan aku tidak mau Bang Fauzan kembali melihat wajah yang sama seperti saat kami bertemu dua hari yang lalu.


Aku berjalan menuju ke dapur lalu membuka kulkas dan mengambil sebutir es batu di dalam wadah cetakan. Kemudian kembali ke kamar dan mengompres kantung mata ku dengan es tersebut. Ternyata cara itu lumayan ampuh juga.


Aku mengikat asal rambut ku yang sedikit berantakan. Bahkan aku lupa kapan terakhir aku menyisirnya. Namun sudah tidak ada waktu jika aku berdandan terlalu lama. Lagi pula keahlian ku berdandan ku pun sangatlah kurang.


Aku mengambil kunci motor ku di tempat biasa aku menggantungnya lalu pergi ke luar. Beruntung Kak Laras sedang tidak ada di rumah karena ia sedang menjenguk salah satu kerabatnya Kak Agil yang sedang sakit.


Aku memacu motor ku menuju ke penginapan di mana Bang Fauzan sudah menunggu ku di sana.


Setelah memarkirkan motor, aku langsung menuju ke kamar hotel yang kemarin di sewa Bang Fauzan. Sebetulnya aku merasa tidak nyaman untuk melangkahkan kaki ku di penginapan tersebut. Tapi tidak ada pilihan lain karena aku juga takut kalau Om Wandy mengetahui pertemuan kami.


Sampai di depan kamar aku langsung mengetuk pintu. Tidak lama pintu terbuka dan Bang Fauzan mengajak ku masuk ke dalam.


Aku terkejut tiba-tiba Bang Fauzan memeluk ku dengan begitu erat. Aku dapat merasakan ada kecemasan dalam dirinya.


“Bang...,” aku melonggarkan jarak antara kami karena aku mulai kesulitan untuk bernafas.


“Kamu sudah siap?” Tanya Bang Fauzan menatap lekat pada.


“Maaf, aku nggak bisa ikut bersama Abang,” ucap ku seiring dengan air mata ku yang menetes dari pelupuk mata ku. Semalam aku berpikir sangat keras hingga mencapai keputusan itu.


“Apa...!?” Bang Fauzan memegang kedua pundak ku dengan erat memastikan jawaban dari ku. “Dek..., kenapa?”


“Ak a aku nggak bisa, Bang.” Sambil melepaskan cengkraman tangan Bang Fauzan dari kedua bahu ku.


“Tapi kenapa? Kamu ragu Abang tidak bisa menjaga dan membahagiakan kamu?” Bang Fauzan merangkup wajah ku hingga menengadah padanya.


...**Tbc...


-


-


-


**Jangan lupa jejak dukungannya agar othor lebih semangat lagi 👍

__ADS_1


Happy weekend**


__ADS_2