Luka Terdalam

Luka Terdalam
PEMIKIRAN YANG SAMA


__ADS_3

...Happy reading...


Setelah dua hari barulah Pak Erik menampakan batang hidungnya di kantor. Aku langsung menemuinya ke ruangannya untuk membahas perihal dia yang meminta bantuanku tempo hari.


Aku mengutarakan maksudku bahwa aku tidak ingin bayaran berupa uang. Tapi aku ingin Pak Erik menjamin bibit untuk lahan ku juga. Boleh di bilang aku mengajak ia untuk bekerja sama. Aku bertugas mengelola sementara ia yang menjamin biaya untuk membayar orang yang nanti akan bekerja. Tentu saja aku juga yang nanti akan mencari orang-orang yang mau bekerja di sana.


Obrolan kami singkat padat dan jelas karena aku dan Pak Erik itu ada kesamaan masalah yang berhubungan dengan uang dan pekerjaan. Bekerja lah untuk mendapatkan uang, dan gunakanlah uang untuk menambah lebih banyak uang πŸ˜…πŸ˜…


Entah kenapa otak kami seperti memiliki pemikiran yang sama. Tapi Pak Erik juga memiliki sifat dermawan. Ia selalu menawarkan bantuan pada Karyawan jika ada yang mengalami masalah keuangan terutama pada pertengahan bulan. Aku juga pernah melihat ia memasukan uang dengan jumlah yang banyak ketika kami berteduh di sebuah mushola. Diam-diam ia memasukan lembaran-lembaran uang seratus ribuan yang aku sendiri sampai lupa jumlahnya.


Bukan hanya aku dan Pak Erik, ternyata Bang Fauzan juga terlibat dalam pekerjaan ini. Ia bertugas untuk memilih dan mendatangkan bibit-bibit itu. Aku juga baru tau kalau ia Sarjana Pertanian, bidang yang aku impikan dahulu. Dari awal aku memang tidak ingin tau banyak tentangnya. Sebab itulah sebisa mungkin aku menghindari pertemuan yang tidak bersangkutan dengan pekerjaan. Terutama sejak aku mencium gelagatnya.Tapi untuk beberapa bulan ke depan kami bakal sering ketemu.


Dalam dua bulan lahan perkebunan itu sudah siap untuk di tanami bibit. Aku banyak belajar dari Bang Fauzan dari cara memberikan pupuk dan lain-lain. Sedikit banyaknya aku juga belajar cara merawat berbagai jenis tanaman dengan baik. Hingga suatu sore saat pulang dari perkebunan Bang Fauzan menyatakan perasaannya padaku. Aku sudah menduga dia akan mengatakan hal itu dan yang aku takutkan adalah aku tidak sampai hati untuk menolak karena selama ini dia sudah sangat baik padaku. Tapi di sisi lain aku samasekali tidak ada perasaan apa-apa padanya. Aku hanya menganggapnya sebagai teman sekaligus rekan kerja saja, tidak lebih.


"Sejauh yang aku kenal, Abang adalah orang yang baik dan juga profesional. Aku suka sifat yang ada di dalam diri Abang. Tapi ...--


"Ya, aku tau. Jangan merasa terbebani dengan kata-kataku tadi. Aku hanya ingin mengutarakan perasaanku saja. Kata orang, tidak baik memendam perasaan terlalu lama. Di terima atau tidak, sudah siap dengan konsekuensi. Tapi, aku berdo'a semoga di terima, sih. Hehe...," Bang Fauzan tertawa kecil sambil mengusap tengkuknya. Kata-kata terakhirnya berhasil membuat seulas senyum di bibirku.


"Kalau tidak?" Tanyaku berniat membalas candaannya.


"Aku akan gantung diri di pohon ialalang yang ada di sana," sambil menunjuk padang ilalang yang kami lewati di pinggir jalan.


Kata-kata Bang Fauzan berhasil membuat tawa kami pecah di jalan yang terlihat sepi itu.


"Anita...."


"Ya?" Jawabku tanpa menoleh ke belakang karena kami sedang melewati jalan setepak dan aku berjalan tepat di depan Bang Fauzan.


"Aku panggil kamu Nita, saja bagaimana?"


"Terserah Abang, saja. Yang penting masih di dalam jalur namaku."

__ADS_1


"Ya sudah, aku panggil Bunda saja gimana?"


"Hah! Kok Bunda?" Seiring dengan langkahku yang terhenti karena kini kami sudah melawati jalan setapak itu, dan berada di tepi jalan poros.


"Bunda dari anak-anak kita nanti...."


Aku reflek menoleh pada Bang Fauzan sambil melotot. "Udah nggak lucu lagi!" Kataku lalu berjalan mendekati motor yang kami parkirkan di tepi jalan itu.


"Hehe, terus apa yang menurut kamu lucu?" Bang Fauzan mengejar langkahku yang telah mendahuluinya.


"Abang guling-gulingan dulu di lumpur yang ada di sana," tunjukku pada kubangan lumpur.


Bang Fauzan tersenyum padaku sambil berkecak pinggang. "Apa setelah itu kamu bersedia jadi Bunda?"


"Haha, coba aja." Aku menertawainya sambil ingin memasang helm ku. Karena aku yakin dia tidak akan melakukan itu.


Aku tidak jadi mengenakan helm ku ketika ku lihat Bang Fauzan menuju kubangan lumpur itu dan seperti ingin melakukan apa yang aku ucapkan tadi. Aku buru-buru turun dari motor dan mengejar Bang Fauzan untuk menghentikannya. Tapi aku malah kepeleset dan tanpa sengaja mendorong Bang Fauzan hingga benar-benar masuk ke kubangan lumpur itu.


"Yess! Keinginan ku terkabul!" Kata Bang Fauzan malah terlihat senang.


Meski aku hanya terpeleset tapi aku juga tidak kalah kotornya karena kebetulan jalan itu sedang berlumpur setelah di guyur hujan kemarin.


Aku berusaha berdiri sambil menahan bokong ku yang terasa sakit karena ada bebatuan kecil juga di tempat ku terjatuh tadi. Bang Fauzan buru-buru keluar dari kubangan lumpur itu dan membantuku berdiri.


"Auww...! Pekik ku.


"Yang mana yang sakit?" Bang Fauzan mulai panik saat melihat ku meringis kesakitan. Tapi mana mungkin aku mengatakan kalau bagian bokong ku yang sakit.


"Udah, nggak apa-apa," kataku sambil berusaha menahan rasa sakit yang ada di bokong ku.


"Yakin?"

__ADS_1


"Iya. Lagian kenapa juga Abang pengen nyebur beneran? Aku kan nggak serius!?" Ketusku.


"Siapa yang mau nyebur...? Aku cuma mau bersihin lumpur yang menempel di sepatu."


"Mana aku tau kalau niat Abang seperti itu! Memangnya aku bisa baca pikiran Abang!?" Kesal ku. Aku berbalik dan kembali menaiki motorku.


Aku langsung menjalankan motorku meninggalkan Bang Fauzan yang masih berdiri di sana sambil menatapku. Lagi pula tujuan kami berlawanan arah, jadi tidak ada alasan bagiku untuk menunggunya.


-


-


-


Aku mulai sering pulang ke kota dengan motorku. apa lagi sekarang jalan menuju kesana sudah jauh lebih baik. Tapi masalahnya kini Bang Fauzan selalu saja bertamu ke rumah ku. Dari gelagatnya aku tau dia sedang mencari perhatian keluarga ku. Ku akui dia lelaki yang cerdas dan pandai memanfaatkan situasi.


Suatu hari Oma Maryam yang sedang menginap di rumah ku tiba-tiba darah tingginya kumat. Dengan sigap ia membantu membawa Oma ke Rumah Sakit karena kebetulan tidak ada orang di rumah selain aku dan Oma. Kak Agil dan Kak Laras kala itu sedang menghadiri acar pernikahannya sepupu Kak Agil. Aku sempat kebingungan dan menghubungi Kak Laras untuk memberitahukan keadaan Oma. Tapi Bang Fauzan sudah lebih dulu membopong Oma ke mobil dan membawanya ke Rumah sakit terdekat.


Tentu saja ia langsung mendapat pujian baik dari Oma maupun Kak Agil dan Kak Laras. Kalau dalam istilah kata anak muda jaman sekarang itu namanya MODUS.


...**Tbc...


-


-


-


Jangan lupa like,komen dan klik ❀


Apa pun bentuk dukungan kalian sangat berarti bagi kami sebagai penulisπŸ€—

__ADS_1


Thanks all...😘😘**


__ADS_2