
...Happy reading...
Aku kembali menutup daun pintu yang tadi sempat ku buka. Dunia seakan runtuh, air mata ku yang sempat reda kini kembali berjatuhan membanjiri wajah sembab ku. Belum cukup kah Tuhan menguji ku sehingga memberikan aku rasa sesakit ini. Aku kembali meringkuk di tempat tidurku meratapi nasib ku.
Suara pintu kamar ku terbuka, ku rasakan ada seseorang yang mendekap tubuh ku dari arah samping.
“Maaf, Kakak juga ikut andil atas kejadian yang aku alami saat ini, seandainya saja waktu...--”
“Kakak tidak salah, nasib ku saja yang terlalu buruk.”
“Ssttt...jangan bicara seperti itu.” Kak Laras memeluk ku erat dan ikut menangis.
-
-
-
Suasana rumah mendadak hening, hanya ada suara Rifqy yang sedang bermain memecah kesunyian. Aku duduk di kursi dekat jendela kamar dengan posisi yang masih sama meringkuk memeluk kedua lututku. Hanya posisi itu saja yang bisa membuat ku sedikit nyaman.
Ku tatapi tetesan air hujan yang membasahi dedaunan di luar sana. Gerimis sejak tadi malam seakan ikut merasakan kepedihan hati dan jiwa yang benar-benar di permainkan oleh takdir. Di berikan sedikit kebahagiaan lalu di hempaskan kembali dan di rejam dengan ribuan luka. Hanya bisa menjerit dalam diam.
Harusnya hari ini menjadi momen bahagia ku, tapi kenyataannya wanita malang ini sedang meringkuk dengan air mata yang masih setia mengaliri sudut mata.
Ku rasakan ada yang mengelus rambut ku, lalu aku pun menengadah.
“Oma...,” ucapku seraya memeluk pinggang Oma dan membenamkan wajahku di sana.
“Kita boleh saja bersedih, tapi jangan lupa untuk tetap berdo'a dan tetap bersujud pada-Nya.”
Aku sudah beberapa hari ini meninggalkan sholat. Bisa di bilang aku kecewa dan marah. Aku merasa do'a dan sujud ku selama ini tidak di dengar oleh-Nya. Jadi untuk apa lagi aku menghadap pada-Nya.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Oma pun pergi dari kamar ku. Aku melirik ponsel ku yang ada di atas meja rias ku. Kemarin Tante Irna menyita ponsel ku karena aku masih dalam masa di pingit. Tapi kemarin ia mengembalikan ponsel tersebut setelah pernikahan ku di nyatakan benar-benar di batalkan secara sepihak oleh keluarga Bang Fauzan.
Aku berjalan mendekati meja rias itu dan meraih ponsel ku. Ternyata ponsel tersebut dalam keadaan nonaktif. Aku pun mencoba menyalakannya. Begitu ponsel aktif, ada banyak notif yang masuk secara beruntun. Aku kembali ke kursi ku dengan masih menggenggam ponsel ku yang terus berdenting.
Dari sekian banyak notif yang masuk, aku lebih dulu membuka aplikasi sosial media ku. Ada beberapa teman ku yang mengetag nama ku untuk memberikan ucapan selamat dua hari yang lalu. Tapi sepertinya postingan tersebut sudah di hapus. Aku hanya bisa mendesah pilu berusaha menahan sakit dari luka yang tidak terlihat oleh mata.
Aku lanjut membuka aplikasi hijau dengan logo telepon tersebut. Mata ku fokus pada nama orang yang sudah mengisi hati ku saat ini meski harapan untuk bersama sudah tidak ada lagi.
Ada banyak pesan dan panggilan darinya. Aku membaca satu persatu pesan tersebut. Aku ingin membalas tapi ada sesuatu dari dalam diriku yang menahanku untuk melakukannya.
Beberapa menit merenungi isi pesan tersebut handphone ku berdering dan itu panggilan dari Bang Fauzan. Aku terpaku sebentar menatapi layar poselku. Aku benar-benar kacau dan tidak tau harus berbuat apa jika Bang Fauzan menanyakan langsung hal yang aku tutupi selama ini.
Dengan sekali tarikan nafas aku pun mengangkat panggilan itu dan sudah siap dengan segala pertanyaan darinya.
“Dek..., kamu di mana? Bagaimana keadaan kamu sekarang?” Terdengar suara serak itu dengan nada khawatir.
Aku menutup mulut ku dan tubuh ku mulai terguncang karena menahan gejolak antara rindu pada orang yang menelepon tersebut tapi sekaligus ada rasa sakit dan perih bercampur aduk. Aku hampir kesulitan untuk bernafas karena dada ku terasa sesak seakan ada sebongkah batu yang mengganjal di sana.
Tutt...tutt...
Panggilan terputus karena baterai handphone ku yang kehabisan daya. Aku pun buru-buru mencharger handphone ku. Setelah menunggu beberapa saat aku kembali menyalakan handphone ku yang masih tersambung di charger. Ada pesan yang masuk dan aku langsung melihatnya karena pesan tersebut dari Bang Fauzan.
📨[Bang Fauzan] Kita harus ketemuan, ada hal penting yang harus di bicarakan. Besok temui Abang di tempat XX, Abang mohon jangan sampai tidak datang.
Aku mengusap wajah sembab ku dengan telapak tangan ku sambil berpikir dan menerka hal penting apa yang ingin di bicarakan Bang Fauzan.
Ke esokannya aku pergi ke alamat yang di kirimkan Bang Fauzan pada ku. Meski aku harus menjawab banyak pertanyaan terlebih dahulu dari Kak Laras sebelum melangkah pergi dari rumah.
Ternyata itu sebuah penginapan yang tampak tersembunyi dan agak jauh dari jalan raya. Aku pun sempat kebingungan mencari tempat tersebut. Setelah bertanya pada seorang bapak tua yang berjualan di depan gang yang menuju tempat tersebut ternyata benar itu tempatnya.
Setelah berada di depan penginapan aku mencoba menghubungi Bang Fauzan untuk memastikan aku tidak salah alamat. Selama menetap di kota ini, baru pertama kali aku melewati jalan itu.
__ADS_1
“Bang, aku sudah di depan,” ucap ku ketika Bang Fauzan mengangkat panggilan ku.
“Ya sudah, tunggu sebentar,” sahut Bang Fauzan lalu terdengar suara langkah darinya melalui sambungan telepon tersebut.
Aku menurunkan sedikit kaca mata hitam ku untuk memastikan orang yang sedang berjalan ke arah ku. Bukan tanpa alasan, aku mengenakan kacamata tersebut agar kantung mataku yang masih terlihat kemerahan akibat terlalu banyak menangis itu tidak terlihat orang lain.
“Ayo,” ajak Bang Fauzan seraya mengenggam lengan ku. Aku hanya menurut saja mengikuti langkahnya memasuki salah satu kamar hotel yang ia sewa.
Aku melepaskan kaca mata yang sejak tadi bertengger di wajah ku untuk menutupi mata sembab ku.
Kemudian menyapukan pandangan ku mengitari kamar hotel tersebut begitu sudah berada di dalamnya. Dapat di terka harga hotel tersebut yang mungkin jauh lebih murah dari hotel di dekat rumah yang biasa di sewa Bang Fauzan. Pasti ia sengaja menyewa tempat tersebut yang jauh dari rumah ku agar tidak ada yang melihat pertemuan kami.
“Bang...kenapa harus ketemuan di tempat ini? Aku tidak suka tempatnya, terasa aneh,” protes ku.
“Hanya tempat ini yang sepertinya aman untuk kita bisa bertemu,” jawab Bang Fauzan setelah menutup dan mengunci pintu kamar hotel tersebut.
“Bang, kok di kunci?” Tanya ku dengan dada yang tiba-tiba berdebar karena baru pertama kalinya aku berada di ruangan yang tertutup rapat berduaan dengan lawan jenis.
“Jangan takut, Abang nggak akan berbuat apa-apa. Percaya, kan?” Ucap Bang Fauzan mendekat dan merangkup wajah ku dengan kedua tangannya. Matanya menatap dalam ke arah ku. Ada banyak isyarat di sana yang sulit untuk ku artikan.
...**Tbc...
-
-
-
Hai...othor up dua bab hari ini, biar nggak nanggung dan bikin penasaran. Hehe...
Jangan lupa jejak dukungannya, karena jejak kalian semua adalah penyemangat bagi othor 😍😍
__ADS_1
Thanks all...😘😘**