Luka Terdalam

Luka Terdalam
CEWEK BENING,CANTIK DAN SEKSI


__ADS_3

Aku menghembuskan nafas lelahku lalu menjatuhkan tubuhku di kasur. Aku memejam sebentar setelah kemudian terdengar suara adzan dari Mesjid.


Setelah menunaikan sholat ashar, aku melipat mukena dan sajadah ku. Baru aku akan memriksa kembali handphone ku tapi handphone ku sudah terlebih dahulu berdering pertanda ada panggilan masuk. Aku langsung mengangkatnya ketika melihat nama Kak Ardi yang muncul di layar ponselku.


"Kakak sudah sampai?" Tanyaku langsung.


"Iya, sekitar satu jam yang lalu."


"Apa, satu jam!? Dan Kakak baru mengabariku sekarang!?"


"Maaf, tadi aku...--"


"Waktu satu jam itu lama, Kak. Jika tidak bisa menelpon, setidaknya Kakak bisa mengirim pesan untuk mengabariku. Aku tau di sana banyak cewek-cewek bening, cantik, dan juga seksi. Sehingga Kakak lupa untuk mengabariku." Aku sudah tidak bisa menahan semua kekesalanku dan langsung menumpahkan nya saat itu juga.


"Kamu itu bicara apa...!? Cewek bening, cantik, dan seksi? Dari mana kamu belajar bicara seperti itu?"


"Kata Kak Agil cewek di sana seperti itu," jawabku.


"Hahaha...!" Terdengar Kak Ardi tertawa sangat keras sehingga aku harus menjauhkan ponsel dari telingaku.


Aku hanya diam hingga Kak Ardi menghentikan tawanya.


"Em, Kak Agil benar. Cewek di sini bening dan seksi...--"


"Oh, jadi benar Kakak sejak tadi sedang sibuk mengagumi cewek-cewek di sana sehingga lupa mengabariku!?" Aku langsung mematikan handphone ku dan menyeka mataku yang mulai mengembun. Ada sakit yang ku rasakan ketika Kak Ardi memuji-muji wanita lain.


Handphone ku berdering. Sudah pasti Kak Ardi yang kembali menelpon ku karena tadi aku memutuskan panggilan sepihak. Ku biarkan ponselku berdering hingga beberapa kali hingga akhirnya panggilan tersebut sudah berhenti dan berganti dengan bunyi nada pesan yang masuk.


Ku raih ponselku yang tadi tergeletak di kasur lalu ku baca pesan dari Kak Ardi.


📨[Kak Ardi] Ya sudah, jika kamu nggak mau bicara. Tapi tolong kamu baca pesan ini. Cewek bening dan seksi itu memang banyak, cewek terlihat cantik itu, biasa. Tapi nyatanya aku lebih tertarik sama kamu dan keinginan ku sangat besar untuk memiliki kamu, An. Aku bahagia kita bisa seperti saat ini. Masalah kenapa aku nggak langsung menghubungi kamu, karena tadi aku dan keluargaku langsung singgah ke makam Mama aku dan kita berdo'a bersama. Jadi aku belum sempat untuk menghubungi kamu. Aku janji, akan secepatnya pulang. Semoga nanti malam kamu sudah nggak marah lagi.


Aku terhenyak membaca pesan Kak Ardi. Aku sampai lupa tujuan utama dia pergi kesana. Aku merasa sangat malu karena sudah berprasangka buruk dan menuduh yang bukan-bukan tanpa mendengarkan penjelasan darinya.


Perkataan Kak Agil telah mengacaukan pikiranku sehingga aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku menelan mentah-mentah ucapan Kak Agil tanpa mencernanya terlebih dahulu. Kak Agil benar-benar sukses sudah mengerjaiku.


Setelah sholat dan makan malam aku langsung mengecek handphone ku. Aku ingin segera menelpon Kak Ardi, tapi aku masih ragu-ragu dan juga masih ada rasa gengsi. Ku tunggu beberapa saat saja, semoga Kak Ardi yang menghubungi ku duluan.


Aku duduk di sofa sambil bersandar dan menggoyang-goyangkan kaki ku yang ku selonjorkan di atas meja yang ada di depan ku.

__ADS_1


"Awas! Jadi cewek sopan dikit lah, An...!" Kata Kak Agil yang ingin meletakkan gelas kopi yang di bawanya.


Buru-buru aku menyingkirkan kaki ku dari sana.


"Nggak habis pikir sama si Ardi, kok bisa-bisanya sampe kepincut sama kamu yang bar-bar, gini? Apa jangan-jangan kamu ya, yang ngancem Ardi biar bisa jadi pacar kamu?" Tuduh Kak Agil sengaja meledek ku.


"Oh, sorry ya, Kak. Sikap boleh bar-bar, tapi hati ku suci dan sebening embun. Mana mungkin seorang Anita menyatakan perasaan duluan apa lagi sampai mengancam segala," balasku menyerang, karena kali ini aku tidak ingin lagi terpengaruh ucapan Kak Agil yang tidak menyia-nyia kan kesempatan untuk mengerjaiku.


"Nih, bukti kalau dia lah yang selama ini mengejar-ngejar aku. Bahkan dia yang selalu menelpon ku duluan," kataku sambil memperlihatkan layar ponselku dan terlihat nama si penelpon yang tak lain adalah Kak Ardi. Aku bersyukur Kak Ardi menelpon ku saat itu, sehingga aku dapat menangkis keusilan Kak Agil.


Aku berlalu dengan gaya sombong namun terlihat konyol bagi siapa pun yang melihatnya.


Kak Laras hanya menggelengkan kepalanya melihat aksi saling ledek antara aku dan Kak Agil.


Tiba di kamar aku langsung menerima panggilan dari Kak Ardi.


"Iya, Kak," sambutku.


"Udah nggak marah lagi?"


"Emang kapan aku marah?" Balasku mencoba berkelit dari kenyataan.


"Emm, itu...tadi aku --"


Tidak sanggup rasanya jika ku katakan bahwa aku sedang cemburu. Seharusnya Kak Ardi mengerti tanpa aku mengatakan nya.


"Cemburu? Pasti karena ucapan Kak Agil, kan?"


"Iya...iya, aku cemburu. Emang nggak boleh, ya cemburu sama pacar sendiri?" Kataku sedikit menirukan kata-kata Kak Ardi tempo hari.


"Boleh, bahkan aku senang kalau kamu cemburu. Itu tandanya kamu benar-benar mencintai aku. Sepertinya aku bakal sering-sering buat kamu cemburu. Hehe...."


"Jangan coba-coba. Awas aja!"


"Bercanda..., mana mungkin aku sengaja melakukannya. Kecuali khilaf. Hahaha...."


"Kakak!"


"Iya, nggak akan. Malah aku yang takut kalau ada yang deketin kamu, An," Kata Kak Ardi berubah serius.

__ADS_1


Ahh, giliran aku yang mengerjainya.


"Iya, sebenarnya aku emang dekat dengan seseorang akhir-akhir ini," ucapku dengan nada serius.


Sejenak tidak ku dengar suara Kak Ardi menanggapi ucapanku.


"Kamu serius? Nggak bercanda, kan?"


"Aku serius. Memang benar, akhir-akhir ini aku sangat dekat dengan mbak penjual gado-gado yang ada di ujung gang. Aku baru tau kalau gado-gado nya sangat enak. Aku bahkan sudah menyimpan nomer kontaknya juga. Hahaha...."


"Awas kamu, ya. Udah berani usil kamu sekarang."


"Emang nggak boleh usil sama pacar sendiri...?"


"Aku mau dengar ucapan sayang dari kamu lagi," pinta Kak Ardi.


"Emm, gimana ya...," aku sengaja seperti sedang berpikir, padahal aku ingin sekali langsung mengatakannya.


"Ayo, aku mau sekali lagi mendengarnya." Kali ini Kak Ardi terdengar memohon.


"Aku sayang Kakak," kataku secepat kilat 😅


"Lagi," pinta Kak Ardi. Aku pun kembali mengulanginya. Tapi Kak Ardi malah meminta aku mengucapkan nya lagi.


"AKU...SAYANG...KAKAK. Muaach...muachh...," aku pun juga menghadiahi Kak Ardi dengan kecupan gemas melalui handphone ku. Lebih tepatnya aku sedikit jengkel karena Kak Ardi terus saja memaksaku mengulangi kata-kata itu.


Ku dengar Kak Ardi tertawa ketika mendengar kecupan konyol ku itu.


Entah berapa lama kami mengobrol, ketika aku terbangun HPku sudah mati karena kehabisan daya. Kecuali daya cintaku,, eaaaa...🤣🤣


-


-


-


...**Tbc...


Jangan lupa like, komen dan klik ❤

__ADS_1


Thanks all...😘😘**


__ADS_2