
Kak Ardi sudah kembali dua hari yang lalu tapi kami belum bisa pergi bersama seperti biasanya. Karena aku sedang menghadapi ujian kenaikan kelasku. Kami hanya berkirim kabar melalui telepon saja. Hari demi saat aku menghadapi ujian Kak Ardi tak hentinya memberikan semangat untuk ku.
Ketika ujian sudah berakhir aku dan Kak Ardi pergi ke tempat-tempat yang biasa kami datangi berdua untuk menghabiskan waktu bersama sebelum Kak Ardi benar-benar kembali ke kota asalnya.
"Kak, aku akan meminta Ayah dan Bunda untuk menguliahkan aku di kota yang sama juga nantinya," kata ku pada Kak Ardi.
"Benarkah?"
"Iya."
"Itu bagus, itu artinya tahun depan kita sudah bisa bersama lagi." Kak Ardi menggenggam tanganku sambil tersenyum senang.
"Kak, janji ya?"
"Janji apa?" Tanya Kak Ardi.
"Janji jangan terlihat tampan saat di sana," ucapku.
"Apa!? Haha...."
"Aku nggak mau Kakak di lirik cewek-cewek di sana."
"Kalau mereka melirik, aku nggak bisa melarangnya, tapi yakin lah mata dan hatiku tetap hanya akan mengagumi orang yang saat ini ada di hadapanku."
"Tetap aja aku nggak rela kalau ada yang melirik Kakak!"
"Ya sudah, nanti aku mandinya dua hari sekali aja biar nggak terlihat tampan."
"Ishh, kok dua hari sekali?"
"Ok, seminggu sekali aja, dan nggak usah sisiran juga."
"Ihhh, jorok!"
Kak Ardi tergelak dan aku hanya bisa memanyunkan bibir ku karena kesal, sepertinya Kak Ardi tidak menanggapi dengan serius ucapanku.
Waktu dua bulan berlalu begitu cepat. Kak Ardi akan kembali ke kotanya. Pagi sebelum berangkat ia mendatangi ku ke rumah untuk berpamitan.
__ADS_1
"Anita, jaga diri kamu baik-baik, dan jangan pernah menerima ajakan dari laki-laki mana pun untuk pergi. Karena nggak semua laki-laki sebaik aku. Dan aku nggak rela ada orang yang memanfaatkan jarak kita saat ini." Kak Ardi menatapku sambil menggenggam kedua tanganku.
Aku hanya bisa mengangguk tak sanggup rasanya aku berpisah dari Kak Ardi. Entah kenapa aku menjadi tidak rela seperti ini. Padahal sebelumnya aku sudah mempersiapkan diriku untuk hari ini. Tapi tetap saja air mataku mengalir tanpa permisi.
"Kenapa menangis? Bukan kah tahun depan kita sudah bisa bersama? Dan aku akan kesini jika sedang libur." Kak ardi menghapus air mata yang membasahi pipiku.
Ku lingkarkan kedua lenganku di pinggang Kak Ardi dengan memeluknya. Kak Ardi pun langsung membalas pelukanku.
Aku mendongak menatap Kak Ardi dengan air mata yang masih saja membasahi pipiku. Kak Ardi mengecup keningku untuk pertama kalinya. Tapi aku sangat terkejut ketika Kak Ardi menempelkan bibirnya di bibirku.
"Kak!"
"Hmm, kelak aku akan memiliki semuanya ini." Kak Ardi mengusap bibirku dengan ibu jarinya. Aku langsung tertunduk sangat malu. Ku rapatkan wajahku ke dada Kak Ardi. Tapi Kak Ardi malah mengangkat wajahku kembali dan kami saling menatap.
"Kak!" Aku menahan dada Kak Ardi yang sepertinya kembali ingin mengecup bibirku.
"Kali ini saja, biarkan hari ini malaikat mencatat dosa kita. Setelah itu kita akan mengulangnya kalau kita sudah halal."
Aku tidak tau harus berkata apa. Aku tidak mengiyakan namun juga tidak menolak. Ku biarkan Kak Ardi mengecup bibirku dan kali ini bukan sekedar kecupan saja, Kak Ardi me**mat bibir ku dengan begitu lembut. Aku pernah menonton adegan seperti ini di televisi.
Aku diam saja merasakan sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya hingga Kak Ardi melepaskan pagutan itu. Buru-buru aku kembali menunduk merapatkan wajahku di dada Kak Ardi. Ku rasakan Kak Ardi mengecup puncak kepalaku. Dan aku kembali mengangkat wajahku menatap pada Kak Ardi.
"Aku juga sayang Kakak."
Kami saling membalas pelukan. Ingin rasanya ku hentikan waktu agar kami bisa lebih lama lagi bersama.
Kak Ardi melambaikan tangannya dari jendela mobil dan aku membalasnya dengan air mata yang lagi-lagi hampir tumpah. Aku masuk ke dalam setelah mobil Kak Ardi sudah tidak terlihat lagi.
Menyembunyikan wajah di balik boneka pandaku dengan air mata yang kembali berderai.
Setelah puas menangis aku langsung meraih handphone ku dan mengetik pesan untuk Kak Ardi.
📨 [Me] Kak, jangan lupa untuk mengabariku jika sudah sampai di sana.
Lama tidak ada balasan karena Kak Ardi masih dalam perjalanan. Aku menunggu hingga sore tiba jika Kak Ardi sudah sampai dia pasti akan melihat pesanku.
Baru saja tadi pagi kami berpisah, kenapa aku merasa seperti sudah berhari-hari saja rasanya. Aku bahkan tidak bisa menyantap apa pun sejak pagi tadi karena aku tidak merasa lapar samasekali. Tapi ku rasakan tubuhku sangat lemas. Ku buka kulkas dan mengambil susu lalu meminumnya agar aku sedikit bertenaga.
__ADS_1
Handphone ku berdering setelah aku usai sholat ashar. Aku sangat senang ketika ku lihat Kak Ardi yang menelpon.
"Kakak sudah sampai?" Tanyaku.
"Iya. Kamu lagi apa?"
"Aku baru selesai sholat, dan aku nungguin telepon dari Kakak sejak tadi," kataku.
"Nanti kita lanjutkan lagi, aku mau mandi dan istirahat sebentar."
"Jika ada waktu jangan lupa untuk menelpon ku," pesanku sebelum kami mengakhiri obrolan itu.
"Pasti," jawab Kak Ardi.
-
-
-
Hari demi hari dengan berat ku lalui. Setiap aku melewati gang menuju sekolah aku teringat pada Kak Ardi. Aku juga selalu melihat ke warung dulu tempat kami berteduh di saat hujan. Di akhir pekan aku akan pergi ke cafe favorit kami. Jika Kak Ardi sedang tidak ada kegiatan dia akan menelpon ku untuk menemaniku mengobrol sambil melihat matahari terbenam.
Aku bahkan masih bisa menangis ketika kami saling berbicara melalui telepon. Tapi aku selalu berusaha agar terlihat tegar. Namun tetap saja pada akhirnya Kak Ardi mengetahui bahwa aku sedang menangis. Selama ini dia lah yang selalu menghibur ku, mengisi hari-hariku dengan kebahagiaan di saat aku haus akan perhatian. Di kala ia jauh dariku, tentu rasa kehilangan itu sangat menyiksaku. Tentu berbeda rasanya, antara hanya bisa mendengar suaranya dan bertemu secara langsung. Aku ingin memeluk dan menumpahkan segala beban kerinduan ini di dalam dekapan nya.
Rindu itu tidak berwujud, sama seperti angin. Tapi bisa di rasakan.
🤧🤧
Selama ini aku tidak pernah mengatakan pada Kak Ardi bahwa aku sering berjumpa dengan Pak Adji di cafe itu meski hanya kebetulan. Meski aku tau bahwa Pak Adji sepertinya menyukaiku tapi aku berusaha acuh saja dan tetap bersikap seperti murid kepada gurunya. Memang dulu aku sering mengusili Pak Adji dan sangat mengaguminya juga. Tapi nyatanya hatiku sudah menjatuhkan pilihan pada Kak Ardi. Orang yang benar-benar bisa membuatku nyaman.
-
-
-
...**Tbc...
__ADS_1
Thanks all, atas dukungan nya 😘**