Luka Terdalam

Luka Terdalam
BIMBANG


__ADS_3

...Happy reading...


Beberapa menit lalu aku mendapat telepon dari Santi dan beberapa teman yang juga dari grup chat bahwa mereka saat ini sedang berada di sebuah cafe. Karena letak cafe tersebut tidak terlalu jauh dari rumah aku pun bersiap untuk pergi ke sana. Kebetulan aku juga sedang tidak ada kegiatan selama seminggu ini aku belum keluar rumah samasekali pasca dari pantai minggu lalu.


“Nggak ada niat nih buat nyusul kita semua?” Tanya Riska yang aku faham untuk siapa tujuan pertanyaan itu.


Aku hanya tersenyum saja seraya menikmati jus alpukat yang baru di sajikan pelayan cafe di depanku.


“Masih betah sendiri aja, Nit.” Yang lain pun berujar.


“Makanya, bantuin dong biar teman kita ini bisa nyusul secepatnya,” Sahut Maghda menimpali. “Kemarin di kasi waktu buat pendekatan malah diem-dieman doang. Udah kayak ABG yang masih malu-malu tapi mau, gtu,” ucapnya lagi.


Aku sudah menduga pasti mereka yang sudah merencanakan itu. Pasti Santi dan Maghda lah dalangnya.


“Tapi sebaiknya nggak usah buru-buru juga, masih banyak waktu untuk memikirkan itu semua. Nikmati masa kesendirian kamu dengan melakukan hal-hal yang bisa membuat kamu senang. Jangan seperti aku,” ucap Gea tersenyum hambar seraya mengaduk-aduk jus jeruknya dengan pipet yang ada di dalam gelas.


Ia sudah hampir dua tahun berpisah dengan suaminya karena suaminya sering melakukan KDRT. Bahkan sidang perceraian mereka belum selesai akibat Gea yang keburu kabur dari kota tempat tinggal suaminya karena tidak tahan lagi. Sedangkan suaminya sengaja tidak melanjutkan mengurus akta cerai mereka agar tidak ada yang berani menikahi Gea karena masih berstatus istri orang. Sementara ia tidak memiliki cukup uang untuk membayar seorang pengacara untuk mengurus sidang perceraiannya.


Dulunya Gea anak orang kaya yang hidup serba berkecukupan. Papanya seorang pengusaha tapi sejak kalah dari pemilu beliau mendadak sakit-sakitan hingga menghabiskan biaya begitu banyak untuk berobat sebelum akhirnya meninggal. Setelah Papanya meninggal, Mama tiri Gea menikah lagi dan pindah ke luar kota bersama suami barunya. Beruntung rumah peninggalan orangtuanya masih ada sehingga ia masih memiliki tempat untuk tinggal.


“Dari dulu aku udah bilang, mending kamu tinggalin aja karena waktu masih pacaran aja dia udah berani nyakitin kamu. Tapi kamu berharap dia akan berubah ketika menikah dan memiliki anak. Buktinya apa sekaranga? Kamu aja nggak di bolehin buat ketemu sama anak kamu sendiri,” omel Riska yang membuat wajah Gea seketika menunduk.


Santi langsung menyenggol Riska agar tidak menghakimi Gea seperti itu walau ucapan Riska ada benarnya. Riska dan Gea memang selalu dekat dari dulu, melanjutkan pendidikan di sekolah yang sama, sehingga wajar jika Riska tau lebih banyak tentang Gea.


“Nggak semua pria seperti itu, buktinya suami aku baik dan nggak pernah sedikit pun berkata kasar walau kami lagi marahan. Nggak pernah ngelarang aku juga kalau mau ketemu kalian, asal jangan sampai melupakan kewajiban kita sebagai seorang istri,” sahut Maghda.


“Iya, suami aku juga. Yang penting kita nggak menyalahgunakan kepercayaan suami dan begitu juga sebaliknya.” Santi menimpali.


“Jangan kayak si Lili, hampir tiap tahun ganti suami mulu. Alesannya suka mukul lah, nggak cukup nafkah lah, padahal dianya nggak bener jadi istri. Tiap hari pergi arisan, shopping, sementara rumah nggak ke urus, suami pulang dianya nggak ada di rumah. Suami mana yang nggak naik pitam coba?” Cerocos Riska dengan lancar.


“Tapi suami dia yang sekarang horang kayah, kan?” Ucap Maghda mulai ikut ngeghibah.

__ADS_1


“Katanya sih gitu, tapi denger-denger katanya tuh laki udah punya istri di kota sebelah.” Riska kembali menyahuti.


Mendengar mereka semua aku yang masih ragu jadi semakin bimbang untuk menentukan pilihan hidupku. Dan aku semakin jengah dengan obrolan beberapa orang yang ada di depanku itu.


Beberapa saat Dani datang ke tempat itu juga. Berjalan ke arah kami dengan memamerkan senyum di wajah baby face yang ia miliki. Aku tidak menyangka kalau dia pria yang aku ajak adu chat walau baru pertama kali kenal meski sebelumnya kami pernah satu sekolah. Tapi itu adalah obrolan pertama kami saat dia mengirim chat waktu itu.


Aku merasa tidak pantas jika mendekati atau menerima pria yang menurutku masih sangat muda itu walau jarak usia kami hanya satu tahun saja. Dia terlalu imut jika untuk jadikan kekasihku. Entah kenapa juga aku malah berpikiran seperti itu padahal sampai saat ini aku masih trauma dengan kegagalan hubunganku.


Karena melamun tak sadar kalau Dani kini sudah mengambil tempat duduk di hadapanku dan yang lain sepertinya dengan sengaja memberikan tempat itu.


“Oiya, aku lupa kalau hari ini aku nemenin mertua aku chek up,” ucap Riska berpamitan seraya beranjak dari duduknya.


“Aku juga mau pulang, Paksu hari ini pulang cepat,” kata Santi juga berpamitan lalu di ikuti yang lain. Sementara Maghda memang sudah lebih dulu berdiri dari tadi dan memberikan kursinya untuk Dani.


Suasana mendadak berubah jadi sangat canggung ketika tinggal kami berdua saja di meja itu.


”Ehm, mau pesan minuman lagi?” Tanya Dani menawari setelah melirik jus ku yang hampir habis.


“Nggak. Terimakasih.” Aku menatap sekilas dan dia masih saja menunjukkan senyumnya.


“Ternyata lebih enak ngobrol di chat dari pada ngobrol secara langsung sama kamu,” kekehnya.


“Oh ya?” Aku melirik ke arahnya.


“Duhh, malah aku yang jadi salting ini.” Masih terkekeh dengan sedikit menundukkan wajahnya. Aku pun jadi merasa lucu dengan reaksinya yang seperti itu.


“Kenapa salting? Kalau mau jadi teman aku syaratnya nggak boleh banyak tingkah apa lagi salah bertingkah.” Otak ku menjadi liar ingin mengerjai pria yang lebih muda setahun dari ku ini.


“Kenapa harus berteman kalau bisa jadi imam.” Kali ini dia berani membalas dengan menatapku. Tapi tetap dengan senyum manisnya.


Hey hey hey...dia mulai menunjukkan keberaniannya.

__ADS_1


“Hmm, aku lebih tua dari kamu lho.”


“Kalau aku udah jadi imam buat kamu, ya mau selisih berapa tahun pun tetap aja kamu bakal jadi makmum yang harus nurut sama imam.” Lalu menyesap cappuccino yang tadi ia pesan.


Aku terdiam sejenak. Mencerna kata-kata “harus nurut sama imam”. Apa nantinya aku akan di atur-atur? Tidak boleh melakukan hal yang aku sukai dan aku harus memasak juga.


Kalau kekurangan ku yang tidak bisa memasak mungkin bisa ku atasi dengan membeli makanan di luar atau belajar memasak pelan-pelan. Tapi bagaimana jika nanti aku di larang bekerja? Karena aku sudah melihat sendiri beberapa temanku yang menikah kemudian harus berhenti bekerja atas perintah suaminya. Ada yang beralasan biar fokus mengurus rumah tangga hingga ada yang berhenti karena suaminya cemburu jika istrinya bekerja dan bertemu Karyawan laki-laki di kantor.


Memangnya wanita terlahir hanya untuk melakukan hal-hal semacam itu saja?


Memiliki perkebunan adalah impianku. Susah payah hingga kini aku memilikinya. Aku ingin mengelolanya dengan jerih payah ku dan dari tanganku sendiri.


Dulu aku ingin menikah karena ingin ada seseorang yang menjagaku, menemaniku serta menguatkanku. Sekeras apa pun aku dari luar, tetap saja aku memerlukan orang yang bisa menyayangiku.


Jika menikah hanya untuk jadi pengurus rumah dan menuruti apa kata suami, maka sepertinya aku tidak membutuhkan laki-laki.


Setelah obrolan itu aku mulai memberi jarak dengan Dani. Tidak ingin membuat dia berharap dan berlarut-larut dalam ketidakpastian.


Walau dia belum pernah berucap dengan serius tentang perasaannya, tapi aku dapat merasakan dari perhatian yang ia berikan belakangan ini.


Dan juga aku masih ragu apa aku benar-benar bisa menerimanya atau hanya karena merasa nyaman sebab dia sudah berhasil membuatku selalu tersenyum.


...**Tbc...


-


-


-


Maaf jika banyak typo dan kegaringan dalam bab ini.

__ADS_1


Thanks banget buat yg selalu dukung karya aku yang masih dalam proses belajar menulis.


Love U all**...


__ADS_2