
Kemarin aku mendapat pesan dari Om Wandy bahwa ia sedang ada pekerjaan di luar daerah. Jadi beberapa hari ke depan aku pergi ke sekolah dengan naik ojek.
Ku lihat Kak Ardi sudah berdiri di depan kelasku dan dia tersenyum saat melihat kedatanganku.
"Hay...."
"Hay juga," ucapku. Lalu aku masuk ke kelas dan duduk di bangku ku.
"Kak Ardi kayaknya ngejar-ngejar kamu banget deh, An," ucap Salwa dan beberapa teman yang lain menghampiri mejaku. Aku hanya diam tanpa berkata apa-apa. Lagi pula tidak ada yang perlu ku jelaskan lagi sebab, tempo hari bahkan Kak Ardi sudah menyatakan perasaannya padaku di ruang yang sama.
Dia kan di juluki buaya di sekolah ini, mungkin setelah bosan dia akan berhenti buat ngejar aku. Tapi hatiku tidak bisa berbohong bahwa aku sangat senang saat kemarin dia mengajakku ke cafe. Aku berniat kapan-kapan aku akan pergi sendiri kesana.
Ku lihat langit sangat gelap di sertai hembusan angin. Sepertinya akan turun hujan dan aku tidak punya persiapan apa pun untuk menangkal hawa dingin.
Bel tanda pulang berbunyi aku pun langsung memberesi peralatan menulisku dan memasukan nya ke dalam tas ku. Saat aku keluar dari kelas ku dengar ada yang memanggilku. Ternyata Kak Ardi.
"Aku antar pulang ya," tawar Kak Ardi.
Karena langit semakin gelap dan akan membutuhkan waktu jika aku menolak tawaran Kak Ardi, jadi aku setuju saja.
Benar saja setelah beberapa saat hujan turun sangat deras bahkan di iringi suara petir yang bersahutan. Kak Ardi menghentikan motornya di depan sebuah warung lalu mengajak ku untuk berteduh sebentar. Udara dingin mulai memasuki paru-paruku. Aku bersedekap untuk mengurangi hawa dingin yang menerpa tubuhku sambil menunggu hujan reda untuk segera pulang ke rumah.
"Sepertinya hujannya akan lama. Mau tetap menunggu?" Tanya Kak Ardi. Dan Aku hanya mengangguk saja karena aku tidak mungkin pulang dalam keadaan hujan seperti ini atau sakit ku akan kambuh lagi.
Kak Ardi menghampiri motornya lalu mengambil sesuatu dari sana. "Kamu pakai ini," ucap Kak Ardi seraya memasangkan jaket ke punggungku.
__ADS_1
"Kenapa Kakak jadi repot begini. Tuh Kak Ardi jadi basah," kataku karena tidak enak sudah merepotkan Kak Ardi yang jadi basah kena hujan karena harus mengambil jaket dari dalam motornya.
"Nggak apa. Aku malah khawatir kalau kamu yang sakit," ucap Kak Ardi.
Aroma Kak Ardi ada di jaket yang aku pakai. Dan aku mulai merasa canggung saat berada di dekat Kak Ardi.Ada apa ini...???
"Duduk dulu, dek," ucap Ibu pemilik warung mempersilakan kami duduk seraya memberikan kami dua buah kursi plastik.
"Terimakasih," ucapku dan Kak Ardi.
"An, bagaimana? Apa kamu menerima aku?" Tanya Kak Ardi mengenai perasaannya yang ia nyatakan tempo hari. "Aku tau, kamu pasti ragu karena ucapan teman-teman di sekolah, tapi aku bukan pria seperti itu. Selama ini aku memang punya beberapa teman perempuan, tapi bukan berarti aku selalu menyatakan perasaanku pada mereka semua. Percayalah, aku hanya seperti ini ke kamu." Kak Ardi berusaha meyakinkanku sambil menatapku sangat dalam.
"Ehm, hujannya sudah berhenti, ayo kita pulang," ucapku seraya beranjak dari tempat duduk ku.
Setelah mengucapkan terimakasih pada ibu pemilik warung kami pun pulang.
"Anita, aku tidak ingin memaksa kamu untuk mempercayaiku tapi kamu perlu tau bahwa aku memang sangat menyukaimu bahkan bukan sekedar suka, tapi aku juga mencintai kamu, An," kata Kak Ardi sebelum aku pergi dari hadapannya.
Aku diam tidak tau harus berkata apa, jika di tanya apa aku suka pada Kak Ardi maka jujur saja aku mulai menyukai Kak Ardi. Tapi aku belum bisa menyimpulkan apakah aku juga mencintainya.
-
-
-
__ADS_1
Pagi itu sebetulnya aku malas untuk pergi ke sekolah karena hawa dingin semalam telah membuat badanku sedikit kurang enak. Namun ku paksakan untuk tetap pergi karena aku selalu teringat pesan Ayah dan juga tantangan dari Om Wandy.
Seperti biasa Kak Ardi sudah ada di depan kelasku saat aku datang. Lalu aku teringat jaket Kak Ardi yang ku pakai semalam.
"Maaf, jaket Kakak lupa aku bawa, nanti aku kembalikan setelah di cuci," ucapku.
"Nggak usah buru-buru, kalau pun tidak di kembalikan juga nggak apa-apa," kata Kak Ardi seraya ikut masuk ke kelasku.
Aku hanya berdecak saja mendengar jawaban Kak Ardi namun aku tetap berniat untuk mengembalikan jaket tersebut.
"Kakak ngapain sih selalu masuk ke kelas aku? Nggak malu apa di liatin sama yang lain!?" Ucapku karena lama-lama aku mulai merasa tidak nyaman jika Kak Ardi selalu membuntutiku.
Sedangkan Kak Ardi hanya nyengir saja sambil melihat pada beberapa murid yang ada di kelasku. "Ya sudah,aku pergi dulu. Tapi nanti pulangnya bareng lagi ya?" Ucap Kak Ardi lalu pergi dari kelasku.
Bel masuk pun berbunyi aku mengeluarkan buku dan peralatan menulisku dan bersiap untuk mengikuti pelajaran. Perlahan aku mulai terbiasa dan menyukai pelajaran yang ada di sekolah ini. Satu setengah jam pelajaran tak terasa berlalu, waktunya pergantian jam pelajaran. Kini aku benar-benar fokus pada tujuan awalku. Semoga aku berhasil memenangkan tantangan dari Om Wandy.
Jam pelajaran terakhir telah usai. Aku berjalan keluar kelas dan ku lihat Kak Ardi sudah menungguku di sana. Seperti biasa dia akan berjalan di sampingku tanpa menghiraukan ledekan teman-temannya. Terkadang aku yang merasa risih tapi Kak Ardi terlihat sangat santai dan tidak terbebani samasekali dengan ucapan teman-temannya. Kadang aku merasa heran kenapa Kak Ardi bisa sesantai itu.
"Ayo," ucap Kak Ardi saat ia sudah menaiki motornya.
"Aku naik ojek saja," tolak ku.
"Bukan nya kita sudah janji untuk pulang bareng?"
"Kapan aku janji? Kan, Kak Ardi sendiri yang bilang,aku nggak bilang apa-apa," ucapku lalu aku naik ojek yang sudah menjemputku meninggalkan Kak Ardi yang masih menatapku.
__ADS_1
Aku hanya tidak ingin perasaan ini akan lebih jauh lagi nantinya. Aku hanya takut jika kelak Kak Ardi tau tentang aku yang tidak di inginkan keluargaku sendiri. Lebih baik kehilangan sekarang dari pada harus kehilangan nanti yang mungkin akan membuat aku semakin terluka.
Sampai di rumah aku langsung membuka pintu dengan kunci yang biasa aku bawa. Namun aku terkejut saat masuk ke dalam ada suara-suara dari dapur. Perlahan aku berjalan untuk melihat siapa di sana karena tidak mungkin ada orang yang bisa masuk sebab aku selalu membawa kunci rumah jika sedang sekolah. Hanya Bunda yang memiliki kunci cadangan. Lalu siapa yang sudah masuk ke dalam rumah?