Luka Terdalam

Luka Terdalam
KABAR PERNIKAHAN ORANG YANG DI CINTAI


__ADS_3

...Happy reading...


Kami sudah sama-sama dalam posisi berdiri dan Bang Fauzan kembali memandang ku dengan tatapan tidak rela.


“Maaf, aku nggak pernah cerita tentang orang tua kandung ku. Karena aku sendiri sakit jika mengingat mereka yang telah mengabaikan aku.”


“Abang sudah bilang, Abang nggak peduli. Rugi sekali mereka mengabaikan putri seperti ini,” sambil mengusap pucuk kepala ku. “Jika mungkin, Abang tetap berharap bisa berjodoh sama Adek.”


Aku hanya bisa tersenyum getir tidak ingin lagi berharap banyak dari kehidupan ku yang sepertinya memang di takdirkan hanya untuk menyimpan luka dan duka.


“Dek, sekali lagi Abang tanya, apa ini sudah menjadi keputusan mu?” Bang Fauzan menahan lengan ku sebelum aku melangkah pergi dari ruangan kamar hotel tersebut.


Keputusan ku sudah bulat. Aku tidak akan mundur selangkah pun ketika sudah mengambil keputusan. Luka di hati bisa aku tutupi, yang penting aku bisa menjaga nama baik keluarga ku. Meski aku tidak tau nama baik keluarga yang mana yang coba aku lindungi.


Aku hanya mengangguk saat menjawab pertanyaan dari Bang Fauzan tanpa menoleh sedikit pun. Kemudian aku melanjutkan langkah ku hingga meninggalkan penginapan tersebut dengan motor ku.


Sebetulnya aku sangat malu keluar rumah apa lagi ketika orang-orang melihat ku dengan berbagai macam pandangan. Tapi kehidupan harus tetap berjalan dan tidak mungkin aku memakai raga orang lain untuk beraktifitas di luar rumah termasuk kembali bekerja di perusahaan.


Aku mematut diriku sebentar di depan cermin. Berdebar saat seperti pertama kali aku bekerja di perusahaan itu. Tapi kali ini rasa berdebarnya karena ada rasa malu yang di sebabkan kegagalan dalam rencana pernikahan ku kemarin.


Aku menguatkan diriku sendiri memberi semangat dan dorongan agar tidak mempedulikan pandangan orang-orang yang nanti akan menatap ku dengan berbagai macam spekulasi.


Aku langsung di sambut dengan tatapan dari para Karyawan yang sebagian adalah rekan ku sendiri.


Aku bersikap sebiasa mungkin walau sebenarnya aku ingin sekali menenggelamkan diriku ke dasar bumi.


Baru saja aku mendudukkan tubuh ku di kursi, tiba-tiba rekan ku yang lain mendekati ku dan memberikan ucapan penyemangat dan turut prihatin atas kejadian yang menimpa ku. Aku yang tadi sempat membeku akhirnya bisa sedikit tersenyum dan merasa lega karena ternyata pikiran ku salah yang mengira akan mendapatkan cemoohan.


“Terimakasih atas perhatian kalian semua...,” aku terharu dan hampir menangis.

__ADS_1


“Udah, ah...jangan mewek gitu, ntar make up nya luntur...,” ledek Riris yang sebenarnya tahu, aku tidak pandai samasekali menggunakan make up. “Susah lho mau make up'an lagi kalau udah luntur,” kekehnya yang di ikuti suara tawa yang lainnya.


-


-


-


Hari-hari ku mulai berjalan normal walau hati ku tetap di landa duka dan kehampaan. Hingga salah satu rekanku membicarakan kabar mengenai hari pernikahan Bang Fauzan.


Undangan yang di sebar lewat sosial media itu cukup menarik perhatian hingga rekan-rekan ku yang lain ikut pergi ke daratan tinggi untuk sekedar mencari sinyal agar bisa melihat undangan yang si sebar lewat sosmed tersebut.


Aku berpura-pura acuh walau hati ku meraung pilu. Bohong jika aku tidak terusik dengan berita itu walau aku sendiri lah yang memintanya untuk mengikuti kemauan keluarganya. Tapi ini sudah takaran hidup ku yang sudah tidak bisa di tawar lagi.


Esoknya di saat jam istirahat makan siang mereka berkasak kusuk membicarakan wanita yang kini menjadi calon istri dari Bang Fauzan. Aku belum melihat seperti apa wanita yang akan mendampinginya kelak. Tapi aku yakin dia pasti wanita yang baik dan akan membawa kebahagiaan bagi hidup Bang Fauzan.


Aku hanya menggeleng sambil meminum air jeruk dingin ku yang sudah hampir habis.


“Kamu pasti syok, deh. Apa sebaiknya kamu datang aja ke pernikahan mereka,” lanjutnya kini sambil mengambil lalapan yang masih ada di piring ku.


“Kalau Anita pergi ke pesta pernikahan mereka, bisa-bisa pengantin wanitanya yang bakal syok,” sahut Riris yang tiba-tiba datang dan mengambil di samping ku juga. Jadilah aku di apit oleh duo serigala ini.


Kepala ku mulai terasa kembang kempis mendengar ocehan dari keduanya. Aku sudah membayangkan bagaimana cantik dan terhormatnya wanita yang bersanding dengan Bang Fauzan. Berbeda dengan ku yang hanya berasal dari sebuah desa terpencil dan tidak memiliki jabatan apa-apa. Bahkan aku sempat mengalami kesulitan untuk bertahan hidup dan mendapatkan tempat tinggal jika tidak ada tanah warisan dari almarhumah Oma Siti dan Oma Nur.


Suasana perumahan ku yang selalu sepi apa lagi jika sudah malam tiba. Berbeda dengan Karyawan yang bekerja di bagian persemaian, mereka tinggal saling bedekatan dengan sesama rekannya. Jadi mereka bisa ngumpul bersama saling mengobrol dan bercanda melepas penat setelah seharian bekerja.


Aku duduk di bangku kayu yang biasa menjadi tempat Bang Fauzan saat bertamu ke rumah ku. Tentu memori-memori itu kembali terulang dengan sendirinya meski hati dan pikiran ku berupaya untuk tidak mengingatnya.


Udara malam yang semakin terasa dingin menyapu kulit ku. Aku pun memutuskan untuk segera masuk dan beristirahat. Tapi aku belum bisa memejamkan mata ku samasekali. Ucapan Disa dan Riris masih berputar di kepala ku. Aku mulai membayangkan bagaimana bahagianya wanita yang akan mendampingi Bang Fauzan kelak.

__ADS_1


Akibat tidur terlalu larut akhirnya aku jadi bangun kesiangan. Untungnya kantor terbilang dekat dari perumahan ku.


“Selamat pagi Nona Anita...,” sapa beberapa rekan ku yang memang suka mencandai ku


“Pagi,” sahut ku agak panik apa lagi kini Pak Erik tiba-tiba langsung mendatangi meja ku. Bagaimana tidak panik, Pak Erik adalah atasan ku sementara dia malah lebih dulu datang di banding aku.


“Maaf, Pak saya agak telat, karena...--”


“Satu jam lagi kita pergi untuk melanjutkan memantau proyek kita yang bulan lalu.”


“O, e iya, Pak.” Aku merasa lega walau irama jantung ku masih tak menentu.


“Wihh...lancar jaya nih bonus akhir bulannya,” celetuk salah satu rekan ku.


“Makan-makan...,” sahut Disa menimpali.


“Eh, Nit kasi tau kita dong alamat rumah kamu biar kapan-kapan kita bisa main ke sana kalau ada waktu,” ucap Riris yang berupa permintaan tersebut.


“Iya iya, nanti aku kasi. Aku mau siap-siap dulu, satu jam lagi mesti berjemur,” jawab ku seraya mengambil beberapa pekerjaan ku kemarin dan memeriksanya kembali sebelum menyerahkannya pada bagian keuangan. Pekerjaan ku awalnya sebagai Kerani divisi tapi setelah di pindahkan ke perusahaan ini aku juga menerima beberapa tugas di luar dari jabatan ku. Awalnya berat memang karena aku baru mengetahui setelah aku menandatangani surat atas persetujuan ku untuk pindah ke anak cabang tersebut. Tapi lama-lama aku jadi terbiasa dan menikmatinya meski kadang bonus yang di harapkan tidak sesuai dengan apa yang sudah kita kerjakan. Sebab itu lah aku selalu bersedia membantu Pak Erik di luar dari pekerjaan kantor karena bonus dari Pak Erik lebih besar dan bahkan mencapai dua kali lipat dari gaji ku. Saat ini pun kami juga sedang bekerja sama dalam mengelola perkebunan yang mungkin tahun depan sudah bisa kami rasakan hasilnya.


...Tbc...


-


-


-


Othor usahain lagi untuk up dua bab hari ini. Jangan lupa jejaknya agar othor tetap semangat 👍 dan jangan lupa klik ❤

__ADS_1


__ADS_2