
...Happy reading...
Aku kembali bekerja seperti biasa dan Pak Erik juga sudah meminta maaf atas lamarannya yang begitu mendadak kemarin. Aku pun sudah tidak mempermasalahkannya. Aku memaklumi jika mungkin Pak Erik hanya terbawa perasaan saja karena kami sering bertemu setiap hari dan kini juga kami sedang berkerja sama. Aku sebetulnya kasihan padanya, semoga ia di segerakan menikah lagi dengan wanita yang seumuran dengannya. Kalau pun lebih muda tidak harus separuh dari umurnya.
Entah dari mana Bang Fauzan tau mengenai Pak Erik yang melamar ku kemarin, tiba-tiba ia mengajak ku berbicara dengan serius.
Ia kembali mengutarakan keseriusannya denganku. Aku tidak tega untuk berterus terang mengatakan tidak. Namun jika aku mengatakan kesediaanku, itu artinya aku menerimanya hanya karena terpaksa.
Suatu sore setelah menyelesaikan tugas terakhir kami di perkebunan itu, aku bermaksud untuk berbicara dengan Bang Fauzan. Kami berjalan menyusuri setiap blok di perkebunan itu hingga menemukan tempat yang cocok untuk mengobrol.
Sedikit ku ceritakan pengalaman percintaan ku yang berakhir dengan kekecewaan. Meski tidak semuanya setidaknya aku menceritakan inti dari kisah itu yang membuatku belum siap untuk kembali memulai lagi kisah yang sama.
"Jalan hidup setiap orang berbeda-beda. Jika ada ada yang namanya bahagia maka ada yang namanya kesedihan. Jika terpuruk, maka ada dua pilihan untuk itu, memilih untuk tetap jatuh atau bangkit dari keterpurukan itu. Semua ada di tanganmu, kamu yang menentukan. Aku hanya bisa berdo'a semoga kamu bisa membuka kembali hati itu. Jika saat itu tiba, semoga aku orang pertama yang masuk ke dalamnya."
Aku lega sekaligus senang akhirnya aku bisa mengungkapkan sedikit beban yang mengganjal selama ini. "Terimakasih, sudah mau mengerti. Abang ini pria yang baik dan juga berpendidikan, aku pernah mendengar bahwa pria yang baik akan mendapatkan wanita yang baik, dan begitu juga sebaliknya." Aku berucap seraya tersenyum ke arah Bang Fauzan yang berada di samping ku.
"Oh jadi menurut mu aku pria yang baik?"
Lalu ku jawab dengan angggukan.
"Menurut ku kamu wanita yang baik juga. Apa itu artinya kita jodoh?" Sambil Bang Fauzan memainkan sebelah matanya dan tersenyum padaku.
"Ck! Abang belajar dari mana sih ngegombalnya? Penasaran, deh."
"Kalau penasaran, nanti Abang kasi tau caranya. Tapi kita nikah dulu. Hahaha...!"
Jika sudah seperti ini percuma saja melanjutkan untuk berbicara. Lagi pula sudah tidak ada lagi yang perlu di bahas. Aku lebih dulu beranjak pergi meninggalkan Bang Fauzan.
-
__ADS_1
-
-
Meski hubungan kami masih sebagai teman, tapi para tetangga ku mulai ribut dan menanyakan status hubungan ku dan Bang Fauzan. Bagaimana tidak, setiap aku pulang ke kota, Bang Fauzan selalu saja ikut menyusulku. Dia sengaja menyewa hotel yang dekat dengan rumah ku sebagai tempatnya menginap dan agar mudah juga bertandang ke rumahku.
”Siapanya Anita, cowok yang sering main ke sini?” Tanya Pakde Kus yang rumahnya berseberangan denganku.
”Oh, itu temannya. Ada apa ya, Pakde?” Tanya Kak Laras kembali. Aku tau Pakde Kus orangnya juga usil dan suka ngeledek, jadi ku biarkan saja Kak Laras yang berbicara.
”Temen apa temen...?”
”Dihh, Pakde kepoh banget,” sahutku mulai terpancing.
”Do'ain aja, kalau emang jodoh pasti Pakde bakal di undang,” kata Kak Laras seraya tertawa.
”Aamiin..., Pakde selalu do'ain.”
Usai membalas keusilan Pakde Kus aku mengajak Kak Laras masuk dan buru-buru menutup pintu. Kemudian kami mengintip dari jendela kaca bagaimana Pakde Kus sedang di omeli oleh Istrinya.
”Dasar! Suka banget kamu ngerjain orang!” Kak Laras memukul lenganku tapi kami tak hentinya tertawa.
Istri Pakde Kus itu memang orang yang gampang di komporin dengan hal-hal yang belum pasti kebenarannya. Sebab itulah aku memanfaatkan situasi tadi untuk membalas Pakde Kus.
Sore hari aku pergi ke tempat pencucian motor langganan ku.Setelah dari sana aku berkeliling sebentar. Tanpa sengaja aku melewati jalan yang menuju cafe tempat favorit ku dulu dengan Kak Ardi. Sudah lama aku tidak mengunjungi cafe itu. Dengan ragu aku memarkirkan motorku lalu melewati jalan sempit menyerupai lorong sebelum mencapai cafe itu. Inilah salah satu keunikan dari cafe tersebut. Bagi yang belum pernah datang kesini tidak akan mengira bahwa ada cafe dengan pemandangan yang sangat menakjubkan.
Aku sudah melewati lorong itu dan mencari meja yang masih kosong. Kebetulan sore itu pengunjung lumayan banyak. Pengunjung yang terdiri dari pasangan muda mudi itu mungkin sedang menunggu momen utama yang jadi keunikan cafe itu, yaitu menyaksikan matahari terbenam.
Aku melihat ke arah pasangan remaja yang nampak asik bercengkrama. Aku teringat bagaimana dulu aku dan Kak Ardi sama seperti mereka tidak peduli dengan pengunjung yang lain dan sekan dunia milik berdua. Ku ambil selembar tisu yang ada di atas meja lalu menempelkannya di kedua mataku secara bergantian sebelum bulir bening itu lolos dari pelupuk mataku.
__ADS_1
Aku tidak munafik, jika saat ini aku masih mencintai pria yang telah beberapa tahun lalu mengisi hatiku. Pria pertama yang telah mengenalkan aku dengan yang namanya cinta. Tapi aku cukup tahu diri bahwa kini sudah tidak mungkin lagi berharap padanya.
Tapi tidak salah, kan jika aku masih mengingatnya?
Aku tersadar dari lamunan ketika pelayan cafe mendatangi mejaku untuk menanyakan pesananku. Aku memesan minuman saja agar ada alasan untuk ku berada di sana.
Senja mulai datang, terlihat guratan di langit yang di hasilkan oleh sang surya yang mulai bersembunyi di balik awan. Hatiku menjerit histeris mengingat masa di mana aku dulu pernah menyaksikan semua itu dengan kebahagiaan dan rasa damai.
Oh Tuhan...
Ambil ingatan ini walau hanya sebentar
agar aku bisa merasakan kedamaian itu lagi.
”An....”
”Anita...!”
Ku dengar suara itu dengan jelas memanggil namaku.
Aku kembali menangis di dalam tidurku, terbangun di dalam sepinya malam.
Kenangan-kenangan itu seperti film yang sedang di putar ulang.
Sudah hampir dua tahun aku melewatinya, tapi kenapa masih terasa baru dan segar di ingatan.
Membentangkan sajadah, dan menadahkan kedua tangan di sepertiga malam, bahkan aku marah pada Tuhan kenapa harus memberi rasa ini.
Meraung sendiri, hingga kembali tertidur di dalam balutan mukena dengan airmata yang masih saja mengaliri sudut mata walau aku sudah terlelap.
__ADS_1
Andai ada penawarnya aku ingin membayarnya berapa pun harganya.
...Tbc...