Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Istri dari Wiliam


__ADS_3

Malam itu mereka tidur di kamar terpisah di vila itu, Inayah sudah terlalu lelah dengan apa yang terjadi dengannya malam itu, dia pun terlelap begitu saja.


Begitu juga dengan Liam, dia tertidur dengan lelap.


Keesokan paginya, Inayah terbangun, dia melihat sekeliling kamar yang di tempatinya, semua masih sama, dia juga memeriksa pintu, dan masih terkunci, dia bernafas lega.


Inayah takut terjadi sesuatu saat dirinya terlelap semalam, bagaimana pun juga, dia tak bisa mempercayai siapa pun saat ini, bahkan Liam, yang dia anggap baik saja bisa dengan tega menjebaknya.


Inayah keluar kamar setelah membersihkan dirinya terlebih dahulu.


Liam terlihat sudah duduk di meja makan dengan beberapa hidangan yang sudah tersrdia di meja.


"Selamat pagi, ayo sarapan dulu" sapa Liam sedikit melirik ke arah Inayah.


"Hmm" deham Inayah dan berjalan menuju ke meja makan lalu duduk di kursi yang letaknya bersebrangan dengan Liam.


"Aku mau pulang !" ucap Inayah membuka obrolannya.


"Tidak sekarang, hari ini kamu harus menemani ku pulang, bertemu ayah ku di rumah, sekalian memperkenalkan menantunya" ucap Liam datar.


"Tapi aku---"


"Aku sudah mempersiapkan semuanya, baju ganti mu ada di ruang tamu, setelah sarapan ganti baju mu dan kita langsung berangkat" titah Liam.


Inayah terdiam, tak ada pilihan lain selain mengikuti perintah suami barunya itu.


Inayah mengambilkan makanan ke piring Liam, terima atau tidak, saat ini status dia sebagai istri Liam, sudah menjadi kewajibannya melayani suaminya.


"Tidak usah repot repot, aku bisa melakukannya sendiri," ucap Liam


"Aku istri mu, ini sudah menjadi kewajiban ku" lirih Inayah.


"Hanya status saja, tak perlu terlalu terbebani" seloroh Liam.


"Kamu sudah menjebak ku untuk menjadi istrimu, jangan sampai kamu menjebakku untuk menjadi istri durhaka karena tak melayani suami" ketus Inayah sambil menyodorkan piring berisi nasi dan beberapa lauk ke hadapan Liam.


"Terserah lah, buatku itu tak penting, tapi kalau kamu mau melakukannya ya, monggo !" ucap Liam terkesan cuek tak peduli.


Inayah menurut saja saat, Liam menyuruhnya berganti pakaian dengan baju yang sudah di siapkannya entah kapan, kini Inayah sudah mengenakan dres brokat berwarna biru selutut dengan model leher sabrina, terlihat cantik membalut tubuh Inayah dan kontras dengan kulit Inayah yang seputih susu.

__ADS_1


Liam tertegun melihat penampilan Inayah yang tak seperti biasanya, dia terlihat lebih cantik dan auranya lebih keluar.


"Aku pakai rok seperti ini ?" tanya Inayah tak yakin dengan apa yang di pakainya saat ini.


"Iya, memangnya kenapa?" heran Liam


"Kita naik motor kan ?" tanya Inayah lagi.


"Tentu saja tidak, orang perusahaan sudah mengantarkan mobilku dan baju yang kamu pakai, juga makanan untuk kita sarapan, tadi pagi sekali" jawab Liam.


***


Mobil sudah berhenti di pelataran rumah yang cukup mewah, dengan gerbang tinggi yang di jaga dua orang sekurity yang menyambut kedatangan mereka, Liam memang sudah mengabari Andi, sang ayah kalau dirinya akan pulang.


"Selamat datang, tuan!" ucap Yati, asisten rumah tangga yang sudah puluhan tahun mengabdi di kediaman keluarga Andi Subagja, bahkan dari sebelum Liam Lahir.


Wanita tua itu memeluk erat Liam sambil menangis tersedu, bertahun tahun Liam meninggalkan rumah, sehingga dirinya sangat merindukan anak majikan yang sudah dia anggap anaknya sendiri itu.


"Bi Yati, ini istri ku, namanya Nisa" ucap Liam setelah mengurai pelukannya.


"Cantik!" ucap Bi Yati sambil mengelus pundak Inayah.


"Wiliam, anak ku." sapa Andi, suaranya tercekat menahan tangis haru, anak semata wayangnya yang bertahun tahn memilih pergi meninggalkan rumah, kini telah pulang kembali.


"Ayah, perkenalkan ini istriku, Nisa." Liam memperkenalkan Inayah pada ayahnya, dan Inayah menyalami kedua pasangan paruh baya itu dengan sopan.


"Ayah mu dan Tante ikut berbahagia, kamu sudah menikah, meski kami tak di beri tahu perihal pernikahan mu itu," sambut Meli sanga ibu tiri.


"Hanya pernikahan sederhana, tante" jawab Liam Diangin.


"Siapa yang menikah ?" seru Tania dari dalam ruang tengah berhamburan ke ruang tamu tempat Liam dan yang lainnya sedang berbincang.


"Sayang, kakak mu itu sudah menikah dan ini kakak ipar mu" jawab Meli melotot ke arah Tania.


"Wanita itu!" cicit Tania kaget saat mendengar tiba tiba lelaki yang dia cintai sudah menikah, dengan wanita yang dia ingat malam kemarin ada di kamar kost Liam.


"Kenapa? Apa kamu kenal kakak ipar mu itu ?" Tanya Andi.


"Tidak, aku tidak mengenalnya, aku permisi !" Tania kembali masuk meninggalkan keluarga nya yang sedang berkumpul, dadanya sesak, dan perih, bagai mana bisa Liam tiba tiba sudah menikah, sementara kemarin malam saja mereka masih bertemu, dan dia masih berkata kalau dia masih mencintai dirinya, ini kenyataan yang tak bisa dia terima sama sekali.

__ADS_1


"Tidur lah disini malam ini Wil, apa kamu tak merindukan kamar mu? Ayah juga ingin membicarakan masalah perusahaan dengan mu." pinta Andi pada Liam di sela makan malam mereka.


Liam melirik Inayah yang duduk terdiam di sebelahnya.


"Bagaimana? gak apa apa kan, sayang ?" tanya Liam, membuat Inayah meremang karena penggilan sayang Liam padanya.


Inayah pun mengangguk pasrah, sungguh dia tak punya pilihan lain selain menurut apapun yang Liam katakan.


Sementara Tania yang juga duduk di meja yang sama hanya memutar matanya jengah,


"Ya sudah, ayah dan Kak Wili berbincang dulu, biar aku mengantar kakak ipar ke kamar kak Wili." ucap Tania dengan senyum palsunya.


Inayah melirik ke arah Liam meminta pertolongan agar dirinya jangan di biarkan bersama Tania.


"Ah, itu biar aku antar sendiri ke kamar, aku juga mau ganti baju dulu, nanti aku temui ayah untuk membicarakan masalah perusahaan, ayo sayang !" ucap Liam seolah mengerti kode dari Inayah, mereka pun pamit ke kamar Liam di lantai atas.


'Sial, Wili sangat melindungi wanita itu, dan tidak memberi ku kesempatan untuk menghajar wanita itu' gumam Tania dalam hatinya.


"Aku besok harus bekerja !" protes Inayah saat sampai di kamar Liam.


"Kamu masih tetep mau bekerja sebagai buruh di pabrik orang ? Sementara suami mu ini pemimpin pabrik garmen terbesar di Jakarta ?" tanya Liam.


"Suami siapa?" cebik Inayah


"Nisa,,, terserah lah ! Besok pagi pagi sekali kita pulang" ucap Liam meninggalkan Inayah sendiri di kamarnya.


Liam turun menemui ayahnya, untuk membicarakan masalah perusahaan yang akan di serahkan kepemimpinannya dari Andi ke anak laki laki satu satunya yaitu Liam, selama ini Andi yang mengurus perusahaan di bantu Tania, tapi kini perusahaan yang sedang dalam keadaan tidak baik itu akan di serahkan pada Liam.


Saat Liam hendak naik ke atas karena sudah selesai berbicara dengan ayahnya, tiba tiba Tania menarik tangannya menuju ke taman belakang rumah.


"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi !" tuntut Tania.


"Apa? Bukannya semua sudah jelas ? Apa lagi yang harus aku jelaskan ?" Liam melepaskan cengkraman tangan Tania, dia tak ingin orang rumahnya curiga dengan kebersamaan mereka.


"Wil, apa kamu sengaja bersandiwara untuk menutupi hubungan kita di depan ayah dan ibu? ini kamu lakukan agar kita bisa tetap berhubungan tanpa ada yang mencurigainya kan ?" Tania memeluk tubuh Liam dengan mesra dan menggoda, lalu dia sengaja mengecup bibir Liam sekilas, sementara matanya melirik ke arah balkon kamar Liam dan tersenyum iblis ke arah Inayah yang saat itu sedang berada di balkon kamar Liam yang menghadap taman belakang dengan pemandangan sepasang laki laki dan perempuan yang sedang berpelukan sambil berciuman mesra.


"Apa aku berhak cemburu ?" tanya Inayah dalam hatinya, saat melihat suminya di peluk dan di cium wanita lain.


Namun Inayah hanya mampu mengelus dada dan masuk ke ke kamar, seraya berkata pada dirinya sendiri, "Sadar Inayah,,, dia hanya suami pura pura mu, jangan baper !"

__ADS_1


Sungguh dia tak mau lebih lama menonton adegan tak senonoh itu.


__ADS_2