Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Liam, Aku Rindu


__ADS_3

"Inayah, aku akan menceritakan tentang penculikan mu itu, apa sepulang jam kantor kamu mau jalan dengan ku ?"ucap Adit dengan tidak tahu malunya.


"Kemana ?" tanya Inayah singkat.


"Terserah kamu, mau makan, nonton atau nginep di rumah ku juga boleh !" Adit mengedipkan sebelah matanya.


"Aku banyak pekerjaan dan akan lembur malam ini, maaf !" tolak Inayah.


"Apa kamu tidak tertarik lagi tentang alasan Tania menyanggupi permintaan Beni ntuk menculik mu ?" Adit mencoba memengaruhi pikiran Inayah.


"Sepertinya aku tak tertarik lagi, aku bisa mencari tau sendiri !" ucap Inayah sambil tersenyum miring.


"Sial !" umpat Adit, merasa putus asa karena setiap kali mengajak pergi mantan istrinya itu, selalu hanya penolakan yang dia terima.


'Kau akan segera aku miliki kembali, tunggu saja !' gumam Adit dalam hatinya sambil melengos dan pergi meninggalkan Inayah yang tidak tertarik sedikitpun untuk sekedar menolehkan wajahnya pada Adit.


Jam 9 malam Inayah baru sampai di halaman kost nya, turun dari ojek online dia di sambut oleh Adit yang menghalanginya di gerbang akses masuk ke kost.


"Boleh aku mampir ke tempat kost mu ?" cengir Adit.


"Tentu saja tidak !" tegas Inayah.


"Bukan kah kita sekarang berteman, aku ingin ngobrol dengan mu," rayu Adit.


"Kau bisa bicara sekarang disini" ketus Inayah.


"Bagaimana kalau sambil makan malam ?" kata Adit masih usaha.


"Aku sudah makan !"


"Kalau begitu sambil menemani aku makan malam," ajak Adit setengah memaksa.


Inayah akhirnya menyetujui keinginan Adit dari pada dia harus membawa laki laki gila itu ke kamar kost nya, lagi pula Adit pasti akan terus menagih dan menerornya untuk pergi bersama sebelum dia mendapatkan keinginannya.


"Kau mau membawa ku kemana ?" tanya Inayah, saat merasa Adit membawanya ke tempat yang asing baginya.


"Kita mampir kesini dulu, bertemu teman ku sebentar," Ajak Adit membawa Inayah ke sebuah pub.

__ADS_1


Inayah yang baru pernah masuk tempat seperti itu hanya mengekor Adit, suasana di dalam pub yang hingar bingar dengan suara live musik dan riuh para tamu yang sedang menikmati malam disana sungguh membuat Inayah merasa tak nyaman berada di sana, dia sangat ingin pergi meninggalkan tempat asing itu, tapi Adit mengatakan padanya hanya sebentar saja, jadi dia hanya patuh.


"Mana teman mu ? Kenapa belum datang ?" tanya Inayah, karena sudah hampir setengah jam tapi belum satu orang pun datang menghampiri mereka,


"Mungkinnmasih di perjalanan, lebih baik kita pesan minum dulu !" tawar Adit.


Inayah lagi lagi hanya menutut saja, dia memesan segelas orange juice, karena sepertinya hanya minuman itu yang dia kenali dan di rasa aman yang terdapat di buku pub itu menu selain air mineral.


"Kamu harus sering main ke tempat seperti ini agar pikiran mu rileks, di sini tempat orang orang kota melepas lelah dan kejenuhan dalam bekerja," terang Adit sok tau.


"Tapi kita kan bukan orang kota !" sinis Inayah.


"Walaupun kita orang desa, tapi tetap harus mengkuti pergaulan orang kota, saat kita tinggal di kota, biar gak ketinggalan jaman !" oceh Adit.


Sepuluh menit kemudian Inayah merasa kepalanya sangat berat dan pusing, bahkan pandangan nya pun sudah berbayang tak jelas.


"Aku permisi ke toilet dulu !" pamit Inayah, merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya dan tak ingin Adit mengambil keuntungan dari kelemahannya itu.


Saat menuju ke toilet seseorang menyapa nya dan menatapnya dengan pandangan heran karena tak menyangka bisa mendapati Inayah di tempat seperti itu.


"Inayah, sedang apa kamu di tempat seperti ini ? Dengan siapa kamu datang kesini ?"


"Liam, tolong aku, bawa aku pergi dari sini, dia,,, dia sepertinya ingin mencelakai ku, dia menaruh sesuatu dalam minuman ku !" racau Inayah.


"Tapi siapa yang ingin mencelakai mu ?"


"Tolong bawa aku pergi, sebelum dia melihat ku !" pinta Inayah, dia jatuh ke pelukan dada bidang itu.


Inayah di bawa ke sebuah apartemen, sepanjang perjalanan Inayah terus meracau, entah apa yang Adit masukan ke minuman Inayah sampai dia menjadi kacau malam ini.


"Tidur lah, kamu perlu istirahat, aku akan menjaga mu di depan !"


"Liam, jangan tinggalkan aku, aku takut,!" cicit Inayah dia menahan lengan laki laki yang berada di hadapannya itu, dan memeluknya dengan posesif.


"Tapi, Inayah !"


"Liam, aku tau kamu masih sangat cinta padaku, maaf aku memaksa mu untuk menceraikan ku, maafkan aku, aku benar benar terpaksa, kini malah aku tersiksa karena aku tidak bisa melupakan mu, aku mencintaimu, aku akui aku mencintai mu, tapi ini sudah terlambat, kita sudah berpisah sekarang !" Inayah terus meracau tak jelas, dia mengungkapkan isi hatinya dan memeluk erat orang yang menurut dia itu adalah Liam.

__ADS_1


"Inayah !"


"Aku mencintai mu, kamu juga kan ?" tanya Inayah mendekatkan wajahnya ke arah laki laki di depannya.


"Aku mencintai mu, aku juga mencintai mu, kamu cinta pertama ku !"


"Bohong ! kamu bohong, cinta pertama mu itu Tania, bukan aku!" protes Inayah


"Aku tidak mencintai Tania, hanya kamu yang aku cintai !"


"Liam, aku rindu !" ucap Inayah dengan suara menggoda, entah setan mana yang merasukinya tiba tiba dia berubah menjadi agresif dan sangat berani, Inayah memaggut bibir penuh di hadapannya yang sedari tadi menggodanya, seakan gayung bersambut laki laki di hadapannya membalas ciuman Inayah dengan tak kalah panasnya,


"Inayah, kau akan menyesal nanti," bisik pria itu di sela ciuman panasnya.


"Tidak ada yang akan ku sesali, anggaplah ini kompensasi ku pada mu, selama menikah aku tak pernah memberi hak mu sebagai suami !" racau Inayah menikmati setiap sentuhan pria itu di tubuhnya,


Inayah bahkan membimbing kedua tangan pria itu yang tiba tiba diam mematung saat mendengar racauan Inayah, agar menyentuh area dada nya.


Malam itu Inayah bak jallanng yang haus akan belaian, tubuhnya terus dan terus mendamba sentuhan dan menuntut lebih dari itu.


Malam panjang dan panas di lakui dua insan yang sebenarnya terlarang untuk melakukan kegiatan dewasa itu.


"Maafkan Aku Inayah," ucap pria itu lalu mencium kening Inayah dan terlelap di samping Inayah yang sudah memejamkan matanya terlebih dahulu.


Pagi hari Inayah membuka matanya, kepalanya masih terasa sedikit berat, namun dia merasa terkejut karena dia berada di pelukan dada polos seorang pria yang terbaring bersamanya di ranjang dan kamar yang asing baginya.


Inayah mengerjapkan matanya beberapa kali, dan betapa ter kejutnya dia saat menyadari dirinya hanya memakai pakaian dallam saja, dengan dada yang sudah polos tanpa penutup.


Inayah memberanikan diri mengangkat wajahnya dan melihat siapa sosok laki laki yang berada di sampingnya itu.


Bagai di sambar petir, karena ternyata laki laki yang kini terlelap di sampingnya adalah Beni,


Inayah menarik selimut dan menutupi tubuh topless nya, dia memutar ingatannya, kembali mengingat ingat apa yang terjadi padanya semalam, sambil tak henti meruntuki kebodohan dirinya sendiri.


Semalam yang dia ingat hendak menemani makan malam Adit, lalu mampir ke pub dan dia pusing kemudian bertemu Liam dan di selamatkan Liam, tapi kenapa kenyataannya lain, kenapa berubah jadi Beni ? pikirnya.


"Kamu sudah bangun ?" tanya Beni yang ternyata sudah terbangun dari tadi hanya saja masih pura pura tertidur,

__ADS_1


Beni hanya ingin melihat reaksi Inayah saat tahu kalau dirinya lah yang menemaninya semalaman.


__ADS_2