
Suasana semakin kacau setelah Esih tumbang tak sadarkan diri di tengah keributan yang terjadi di pesta pernikahan anak nya itu, belum lagi pertengkaran Neneng dan Tania yang tak bisa ter elakkan lagi karena dua dua nya meng klaim bahwa mereka sedang mengandung anak dari Adit.
Sedangkan Beni lebih memilih pergi dari tempat itu dengan mengajak serta Inayah bersamanya, meninggalkan rerusuhan yang si sebabkan karena ulah nya.
"Mas, sebaiknya sampai di sini saja !" ucap Inayah menahan Beni untuk tak ikut bersamanya ke rumah, karena takut mendapat banyak pertanyaan dari Titin.
"Kenapa ? Aku ingin mengantar mu sampai rumah, kita ini pasangan kekasih, aku calon suami mu, gak pengen ngenalin aku ke ibu mu ?" goda Beni.
"Haish,,, pertunjukkan sudah selesai masih akting saja !" cicit Inayah dengan wajah yang bersemu merah karena malu.
"Ayo cepat, ini sudah hampir sore, aku akan mengantar mu pulang,!" titah Beni memang tak bisa di tentang siapa pun.
Sepanjang perjalanan dari balai desa ke rumah kediaman Inayah yang tak terlaalu jauh itu terasa sangat lama bagi Inayah, velum lagi dia memutarvotak apa yang harus dia katakan jika Titin bertanya perihal laki laki yang kini bersama nya itu.
Titin menghentikan aktifitas nya yang sedang dia lakukan di teras rumah, saat sebuah mobil sedan berhenti tak jauh dari halaman rumahnya yang sederhana itu.
Inayah turun dari mobil dan berjalan dengan ragu ragu ke arah halaman rumahnya di mana saat itu Titin berdiri menatap Inayah dan Beni yang jalan beriringan dengan tatapan aneh.
"Emh,,, mak,,, kenalkan ini ---" ucap Inayah terbata bata.
"Lho, nak Beni,?! Kok, bisa bareng sama anak saya ?" tanya Titin pada Beni.
"Ah, iya tadi kebetulan saya ke acara pernikahan karyawan saya, dan bertemu Inayah di sana," ucap Beni menyalami Titin sopan.
"Emak masih kenal mas Beni ?" tanya Inayah seakan tak percaya Titin masih mengenal Beni padahal baru pernah sekali dia bertemu, itu pun sekilas.
Inayah baru ingat kalau Beni pernah datang ke rumahnya sekali saat dirinya mengundurkan diri sebagai sekretaris Beni, dan dia datang ke desa menemuinya untuk membujuk agar Inayah kembali bekerja di perusahaannya.
"Iya, sekitar dua minggu yang lalu nak Beni datang kesini menayakan lokasi kebun dan sawah yang akan dia beli, jadi emak mengantar nya," kata Titin.
"Mas,?" Inayah melirik penuh tanya pada Beni.
"Aku hanya bertanya lokasi kebun dan sawah yang akan aku beli, kebetulan ketemu nya ibu mu, ya aku tanya," elak Beni.
"Dari sekian banyak warga di kampung ini, kenapa harus tanya sama ibu ku ?" bisik Inayah geram.
"Kalian terlihat akrab sekarang," ucap Titin.
"Kebetulan Inayah ini dulu teman sekantor saya bu, walau pun sekarang sudah beda perusahaan, kami tetap sering bertemu dan akrab," jawab Beni, sementara Inayah hanya tersenyum kaku.
"Oh begitu ternyata, sukurlah kalau kalian masih berhubungan baik, ibu bisa titip Inayah sama nak Beni, di Jakarta !" kata Titin sambil mempersilahkan Beni untuk masuk ke dalam rumah nya.
"Mas, kamu beli kebun dan sawah ?" tanya Inayah curiga.
"Itu lho, kebun dan sawah punya si Lilis ternyata yang mau dia beli !" kata Titin pada Inayah yang langsung terbatuk saat mendengar ucapan ibunya.
__ADS_1
"Kenapa ? Kalau minum pelan pelan !" Titin menepuk nepuk punggung Inayah pelan.
"Mas ?" Inayah memicingkan matanya ke arah Beni.
Tapi Beni yang mendapat tatapan tajam dari Inayah hanya tersenyum cuek.
"Bagai mana, nak Beni jadi membelinya ?" tanya Titin.
"Jadi bu, dan sebetulnya saya juga ada perlu dengan ibu, saya ingin menitipkan kebun dan sawah untuk ibu kelola, karena saya tidak bisa mengurus nya," ucap Beni.
"Maksud nak Beni ?" tanya Titin tak mengerti.
"Jadi, ibu menggantikan saya memantau para pekerja saja, nanti ibu juga yang mengurus hasil panennya, nanti kita bagi hasil bu !" terang Beni.
"Tapi, ibu,,, maksudnya ibu tidak ikut bekerja bersama pekerja ?" Titin masih tidak mengerti.
"Tidak bu, istilah nya ibu hanya memandori para pekerja saja, nanti ibu juga dapat gaji bulanan dari saya sebagai mandor di lahan saya, lalu hasil panen juga kita bagi, bagaimana ?" tawar Beni.
"Bagai mana Inayah, apa boleh ?" tanya Titin meminta pendapat anak nya.
"Terserah emak saja, Inayah setuju apapun yang menjadi keputusan emak," jawab Inayah.
"Jangan terburu buru, di pikirkan saja dahulu, saya juga tidak memaksa bu," kata Beni.
"Mas, kenapa ?" tanya Inayah saat Titin masuk meninggalkan Inayah dan Beni di ruaang tamu.
"Kenapa emak ?" tegas Inayah.
"Yang pertama, aku ingin mengenal ibu mu, dan yang ke dua aku tau ibu mu tak bisa bila tak bekerja, sedangkan usia nya sudah tak muda lagi, jadi aku ingin meringankan pekerjaan ibu mu, dengan mengelola lahan ku, ibu mu masih tetap bekerja tapi tidak terlalu menguras tenaga nya, terkadang di usia seperti itu mereka hanya ingin tetap produktif untuk kesenangan mereka saja, apalagi ibu mu tinggal sendirian di sini," urai Beni panjang lebar.
Tak terasa tetesan air mata jatuh di pipi Inayah, dia sungguh terharu, Beni tak hanya baik padanya, tapi dia juga memikirkan Titin sampai sejauh itu.
"Hey,! kenapa malah menangis ?" Beni justru kaget melihat Inayah meneteskan airmata, dia takut kalau ada ucapannya yang menyinggung perasaan Inayah.
"Maaf, aku tak bermaksud---" kata Beni serba salah.
"Terimakasih ! Aku benar benar berhutang banyak pada mu, mas !" potong Inayah seraya meraih tangan Beni.
"Emh, sudah lah, aku harus pulang, takut kemalaman sampai Jakarta," kata Beni yang merasakan jantungnya tiba tiba berdetak kencang dan seakan mau loncat dari tempatnya saat tangan Inayah menyentuh jemari nya.
Beni jadi merasa grogi dan segera berpamitan karena tak ingin ke gugupan nya terbaca oleh Inayah.
"Tunggu ! Aku ikut pulang ke Jakarta dengan mu," pinta Inayah.
Beni semaakin gelagapan, dia berpamitan karena ingin menghindari berdekatan dengan Inayah, ini justru Inayah meminta untuk pulang bersama, itu berarti selama beberapa jam perjalanan, mereka akan bersama.
__ADS_1
"Kenapa? Aku tak boleh ikut numpang pulang ya ?"goda Inayah.
"Bukan begitu, apa ibu mu mengijinkan," kata Beni mencari cari alasan.
"Boleh,,, emak justru lebih tenang bila Inayah pulang bersama mu, nak. Dan untuk masalah penawaran nak Beni tentang mengelola lahan nak Beni, emak setuju, emak akan bantu nak Beni !" seloroh Titin yang tiba tiba masuk ke ruang tamu dan bergabung bersama Inayah dan Beni.
"Tuh, kan boleh !" cicit Inayah sambil tertawa renyah.
Beni pun tak bisa berkutik, karena sebenarnya bukan karena dia tak mau pulang bareng Inayah, hanya saja akhir akhir ini jantungnya sering berdegup kencang jika sedang bersama wanita kampung yang bukan tipe nya itu.
***
Inayah sudah kembali menjalankan aktifitas rutinnya di kantor, namun samar samar terdengar suara keributan di luar ruangan nya,
"Ada apa ini ?" tegur Inayah keluar dari ruangannya.
"Maaf bu, ini mereka memaksa ingin bertemu ibu, tapi mereka tak punya janji," teprang sekretaris Inayah takut takut.
"Biarkan mereka masuk !" ucap Inayah.
"Ternyata kau benar benar menjadi bos di Jakarta,!" Esih dengan katro nya meraba setiap barang yang ada di ruang kerja Inayah.
"Kalian ada perlu apa dengan ku ? Cepat katakan, aku banyak pekerjaan !" ketus Inayah.
"Inayah, tolong bilang sama calon suami mu untuk mencabut laporan kang Adit, aku akan mengganti semua kerugian pada perusahaan nya," mohon Neneng, menyingkirkan harga diri nya.
"Kenapa aku yang harus bilang sama mas Beni, itu urusan dia, lagi pula itu tentang perusahaannya, tak ada hubungannya dengan ku !"elak Inayah.
"Kau jangan sok jual mahal seperti itu, apa kau tak punya hati, ada dua bayi yang akan kehilangan ayahnya jika kau tak menyelamatkan nya !" ketus Esih masih saja tak berubah meski dalam hal ini posisinya yang membutuhkan pertolongan Inayah.
"Anda tidak pernah berubah mantan ibu mertua, cucu mu sudah mau dua lho !" ejek Inayah.
"Inayah, apa kamu sudah tau lama kalau kang Adit itu punya pacar di sini ?" tanya Neneng.
"Mungkin suami mu terobsesi ingin menjadi seperti ayah mu, yang mempunyai banyak istri, !" seloroh Inayah.
"Kau,,,!" tunjuk Esih pada Inayah dengan wajah yang menegang.
"Santai mantan mertua ku, Tania itu bukan orang sembarangan, dia dari keluarga pengusaha besar !" ucap Inayah.
Dan seketika mata Esih langsung berbinar mendengar ucapan Inayah barusan.
"Benarkah ?!" tanya Esih antusias.
"Tentu saja, ini dulu perusahaan milik keluarganya, sekarang kakaknya punya perusahaan lebih besar dari ini," bual Inayah sengaja memanas manasi Neneng yang sepertinya sangat kesal melihat Esih menjadi antusias begitu mendengar selingkuhan suaminya itu ternyata orang kaya.
__ADS_1
"Nanti aku kasih alamat rumah orang tua nya Tania, biar bisa main kesana," kata Inayah sambil tertawa jahil dalam hatinya.