
"Kembalikan Ibu dan Adik ku ! aku akan menukar semua harta ku asal kau kembalikan ibu dan adik ku !" sorot mata Beni menatap tajam Wiliam yang sedikit mengerutkan keningnya mencerna apa yang baru saja Beni ucapkan padanya.
"Apa maksud mu ? Apa kau sudah gila ? Aku bahkan tak mengenal ibu dan adik mu !" dahi Wiliam mengerut tanda sedang berpikir keras.
Tapi Beni hanya tersenyum miring, betapa pria bajingan di hadapannya itu ingin sekali dia musnahkan sampai hancur berkeping keping, bahkan jadi debu bila ingat kelakuan bejad nya pada sang adik tercinta.
Namun sayangnya Beni tak ingin Wiliam hancur dengan cara begitu mudahnya, pria itu harus merasakan hari demi hari detik demi detik saat Monik sakit dan tersiksa karena nafsu setannya itu.
"Apa kau tak merasa pernah menyakiti orang lain sampai orang itu benar benar hancur gara gara perlakuan mu ?" tanya Beni.
"Cepat katakan maksud ucapan mu, tak usah bertele tele !" sinis Wiliam merasa tak kunjung juga menemukan apa maksud perkataan Beni padanya.
"Sudah ku duga kau memang benar benar bajingan, kau pantas mati di tangan para mafia itu, organ tubuh mu akan sangat berguna bagi orang orang yang membutuhkan, daripada kau hidup tak berguna seperti ini !" Beni menahan gigi nya yang saling beradu dengan rahang yang mengeras, tangannya sudah benar benar gatal ingin memuntahkan peluru dari senjatanya yang dia simpan di laci meja kerjanya itu.
Tangan Beni sudah masuk ke dalam laci mejanya yang kini terbuka itu, telapak tangannya meraba raba isi laci, dan tangan itu terhenti di sebuah benda yang lalu di genggamnya, di tariknya benda itu perlahan, lalu dia simpan di dadanya, di dekapnya dengan perasaan yang kacau balau.
"Kau memang tak berniat membantuku, dan kau hanya mengulur waktu saja, aku tak punya waktu meladeni permainan konyol mu, lebih baik aku mencari uang untuk membayar para mafia itu, kau sakit jiwa !" umpat Wiliam yang lalu membalikan badannya dan melangkahkan kaki menuju pintu untuk meninggalakan ruangan itu.
Namun Beni memanggilnya,
"Tunggu !" pekiknya.
Wiliam menghentikan langkahnya dengan malas dan memutar badannya menghadap Beni, sebuah benda kotak berwarna biru langit melayang ke arah tubuh Wiliam dari arah Beni,
Untung saja, Wiliam yang sigap dapat menangkap benda itu yang hampir saja menghantam wajahnya dengan keras.
"Hei ! Apa kau benar benar sudah gila !" hardik Wiliam, melihat benda yang di lempar kan Beni yang kini berada di tangannya yang ternyata sebuah buku dengan cover keras dan berhalaman tebal itu, dan pasti akn membuat nya cedera atau paling tidak lebam jika mengenai wajahnya tadi.
"Baca lah, dan kau akan tau siapa aku sebenarnya," kata Beni tegas.
Wiliam hanya melengos dan melanjutkan langkahnya menuju ke luar ruangan, tak ada keinginannya sedikitpun untuk meladeni ocehan Beni padanya, masalah nyawanya yang di ujung tanduk karena tengah di incar mafia penjual organ dalam itu pun cukup memusingkannya,
Beni malah dengan seenaknya menyuruhnya membaca buku yang entah berisi apa segala macam.
Wiliam melenggang ke luar ruangan dengan buku biru itu di genggamannya, segala sumpah serapah yang dia tujukan untuk Beni meluncur sepanjang perjalanannya ke luar kantor menuju parkiran tempat dirinya memarkirkan mobilnya.
***
__ADS_1
Saat baru saja menjalankan mobilnya beberapa meter dari kantor Beni, dari kejauhan dia melihat Tania yang sedang berjalan keluar dari sebuah mini market, perutnya sudah terlihat sedikit membuncit.
Seperti mendapatkan lotre, Wiliam tersenyum senang, sepertinya Tuhan memberinya jalan keluar begitu cepat untuk masalahnya, Tania pasti masih punya banyak uang hasil dari menjual rumah orang tuanya.
Dengan tergesa gesa Wiliam langsung menepikan mobilnya mendekat ke arah Tania yang sedang memasukan beberapa kantung barang belanjaannya ke dalam bagasi mobilnya.
Wiliam turun dari mobilnya dan segera membekap mulut Tania setelah melihat keadaan sekitar cukup aman dan sepi,
"Jangan memberontak, atau aku akan membuat kau dan anak haram mu ini mati bersamaan !" Wiliam menunjukkan pisau lipat yang baru saja dia keluarkan dari saku celananya, pisau itu memang selalu di bawanya kemana pun untuk berjaga jaga.
Suara Wiliam yang memang sudah sangat familiar di telinga Tania membuat dirinya sedikit terkejut, dia tau persis bagaimana sifat Wiliam, dia tak pernah main main dalam ancamannya, jadi untuk menghindari hal hal yang mungkin saja bisa mencelakai dirinya dan juga bayi yang ada dalam perutnya, Tania menuruti apa yang di perintahkan Wiliam saat ini.
Tania menutut dan patuh saat Wiliam menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi penumpang tanpa perlawanan, akan sangat beresiko jika dirinya berspekulasi mencoba melawan atau berontak.
"Apa kabar mantan ?" Wiliam menyeringai saat mulai melajukan kendaraannya setelah memastikan semua pintu terkunci.
"Wil, apa mau mu, jangan macam macam, kita sudah tidak punya urusan apa apa lagi !" ucap Tania dengan suara sedikit bergetar ketakutan.
"Santai lah mantan ku, kau seperti berbicara dengan orang asing saja, tentu saja kita masih punya urusan yang sangat penting untuk di bicarakan, masalah kita belum selesai, sayang !" Wiliam menjepit dagu Tania dengan ibu jari dan telujuknya.
"Lepas, kita tak punya apa pun untuk di selesaikan, kita sudah lama selesai !" Tania menepis tangan kiri Wiliam yang dengan lancang mencubit gemas dagunya itu.
"Tidak ada pemalsuan surat apa pun, rumah itu memang sudah di berikan ayah mu pada ibu ku, dan itu sah karena di lakukan di hadapan notaris, rumah itu sudah beralih menjadi atas nama ibu ku !" tepis Tania.
"Aku tidak peduli, saat ini aku butuh uang sepuluh milyar, kau harus membantu ku, cepat berikan uang hasil penjualan rumah itu padaku !" bentak Wiliam.
Tania membuang pandangannya ke tempat lain, dia begitu malas berbicara dengan laki laki yang kini bertampang acak acakan tak terurus dengan mata cekung yang sepertinya lama tidak tidur plus baju kumal yang seakan tak berganti pakaian selama berhari hari.
Namun saat Tania memalingkan wajahnya, matanya tak sengaja menangkap sebuah buku berwarna biru yangvtergelwtak di dashboard mobil Wiliam, laki laki itu tadi memang melemparkannya sembarangan ke sana.
"Dari mana kau dapatkan buku ini ?" tanya Tania, tangannya gemetaran saat meraih buku berukuran sekitar 20x15cm itu.
"Itu tak penting, Beni memberikannya padaku tadi !" jawab Wiliam asal.
"Kenapa Beni memberikan buku ini pada mu ?" tanya Tania lagi.
"Apa yang kau bicarakan ?! Kenapa kau menjadi histeris hanya karena sebuah buku tak beguna itu ?!" bentak Wiliam.
__ADS_1
"Buku ini ku berikan sebagai hadiah ulang tahun untuk Monik, kenapa buku ini sekarang ada di sini ? Kenapa Beni memberikan nya pada mu ?" cecar Tania pada Wiliam.
Ciiiiittttt,,,,,!
Wiliam mengerem laju mobilnya secara tiba tiba saat mendengar Tania menyebutkan nama Monik.
"A-apa maksud mu ? Apa hubungan Monik dengan Beni ?" tanya Wiliam membelalakan matanya menanti jawaban dari Tania.
Tiiiit,,,,,, tiiiiit,,,,,!
Suara klakson mobil dari belakang kendaraan Wiliam yang berhenti secara tiba tiba saling bersahutan, akibat pengereman mendadak itu, mengakibatkan kemacetan di jalan raya yang padat itu.
Wiliam kembali melajukan kendaraannya dengan suasana hati yang kacau balau akibat nama Monik kembali memenuhi pikirannya.
"Tentu saja Beni kakak lelakinya Monik, tapi kenapa Beni memberikan ini pada mu ?" tanya Tania lagi karena dari tadi pertanyaannya belum juga di jawab Beni.
"Aaaah shiiiiittttt !!! Kakak nya kau bilang ? Kenapa kau tak pernah menceritakan hal iti pada ku ?" teriak Wiliam memukul setir mobilnya sekencang mungkin, pantas saja Beni begitu membencinya dan menargetkan dirinya, ternyata ini semua karena Monik.
"Kenapa aku harus bilang pada mu ? Apa pentingnya aku memberi tahu mu kalau Beni kakak nya Monik, bukan kah kau hanya mengenal Monik sekilas, tidak begitu mengenalnya ?"Tania merasa penasaran.
"Kau bodoh, harusnya kau bilang pada ku sejak awal !" oceh Wiliam yang semakin kalut.
"Apa maksud mu ? Monik sahabat ku, bukan siapa siapa mu, bahkan kau tak tau kalau dia adik kelas mu !" Tania mulai curiga ada apa sebenarnya yang terjadi.
Tania mencoba membuka buku itu, membaca sekilas lembar demi lembar buku itu, sampai dia tak sengaja menemukan tulisan nama Wiliam di sebuah halaman, namun Wiliam segera merampas buku itu dari tangan Tania.
"Kembalikan, itu buku milik sahabat ku, dan kenapa ada nama mu di tertulis di sana ? Biarkan aku membacanya !" wanita hamil itu berusaha merebut kembali buku itu dari tangan Wiliam yang juga sibuk mengendalikan laju kendaraannya.
Tarik menarik buku itu oun tak dapat di elak kan, mereka berebut sebuah buku bak anak kecil yang sedang berebut mainan.
Namun fatal akibatnya, akibat kehilangan konsentrasi, Wiliam tak menyadari sebuah truk tiba tiba berada di depan mobilnya yang kini berada di lajur kanan dan melawan arah akibat berebut buku.
Karena panik, Wiliam membanting setir ke kanan jalan di mana itu adalah sebuah jurang yang curam,
Brakkkk !
Mobil menghantam pembatas jalan dan meluncur ke jurang, sepersekian detik waktu seperti terhenti, saat Wiliam membuka mata, body mobil bagian depannya sudah hancur akibat menabrak sebuah pohon besar, dengan kap yang terbuka dan menutupi pandangannya, beruntung airbag berfungsi sempurna menahan mereka berdua dari benturan keras.
__ADS_1
Namun begitu, saat dia melirik ke kursi penumpang, wajah Tania tampak berlumuran darah dan tak sadarkan diri, sepertinya kepala wanita malang itu terbentur saat airbag belum mengembang sempurna.
Wiliam memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing akibat kecelakaaan itu, dia harus meinggalkan kendaraan itu segera, namun sebelumnya dia mencari dan mengambil buku yang tadi mengakibatkan dirinya kehilangan konsentrasi akibat berebut dengan Tania.