Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Sahabat Palsu


__ADS_3

Inayah termenung di sebuah taman, betapa dirinya tak habis pikir, apa sebenarnya kesalahan yang sudah di perbuatnya, kenapa semua orang seakan menjahatinya, dia juga mulai berpikir, apa benar Lilis yang selama ini kenalnya dengan baik ternyata ikut berperan dalam kesialan hidup yang di alaminya belakangan ini ?


Sungguh tak bisa di terima dengan akal sehatnya, orang orang yang bahkan tak di kenal sebelumnya seperti Wiliam dan Tania merencanakan hal sebegitu jahatnya untuk dirinya, apa jalan hidupnya se sial itu ?


"Apa kau sedang meratapi kebodohan mu yang tak kunjung sembuh ?" tanya Beni dengan nada sedikit mengejek membuyarkan lamunan Inayah.


"ish, tak bisa kah sehari saja libur menyebut ku bodoh ?" ketus Inayah.


"Kau bodoh seperti Monik !" gumam Beni, tersenyum getir dengan pandangan yang nanar.


"Monik ?" tanya Inayah,


"Hampir setiap malam aku mendengar mu meneriakan nama itu," ucap Inayah dengan tatapan seolah meminta penjelasan, dan berharap Beni mau berbagi cerita tentang nama yang selalu mengganggu tidur laki laki berkulit putih dan bermata sipit itu.


Beni mendudukan dirinya di bangku taman bersebelahan dengan Inayah.


Laki laki itu menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan, mencoba menata suasana hatinya agar tetap tenang.


"Monik, dia adik ku, adik perempuan ku satu satu nya yang aku sayangi !" kata Beni.


"Apa dia gadis cantik yang ada di bingkai foto di dinding rumah mu itu ?" tanya Inayah mengungkapkan kepenasarannya.


"Ya, dia !" jawab Beni, bibirnya membentuk lengkungan senyum, mengingat kembali sosok adik kesayangannya itu.


"Di mana dia sekarang ?" tanya Inayah lagi.


"Suatu hari nanti akan ku ceritakan, hari ini aku belum siap bercerita," tolak Beni.


Inayah tersenyum,


"Ceritakan lah bila kamu ingin bercerita, aku siap mendengarkan nya kapan pun !" Inayah melihat kerapuhan di diri Beni saat dia berbicara tentang adik nya.


"Terimakasih, kau sudah memberikan dokumen itu pada Tania ?" tanya Beni mengalihkan pembicaraan.


"Sudah, tapi aku tak memberikan nya laangsung pada Tania, aku menitipkan nya pada Lilis yang sekarang menjadi,,,"


"Sekretaris Tania ?" sambar Beni saat Inayah menggantungkan ucapannya.


"Hmm, kamu tau ?"


"Tentu saja, saham terbesar di Teja grup adalah milik ku, apa yang terjadi di sana aku pasti tau," kata Beni.


"Tadi juga aku bertemu Wiliam, dia keluar dari ruangan Tania, apa kamu tau juga?"


"Oh, bukan hal aneh buat ku, aku sering mendapat laporan kalau dia beberapa kali datang menemui Tania," ucapnya santai.

__ADS_1


"Kamu diam saja ? Bukan kah Tania dan kamu akan bertunangan ?"


"Aku rasa Tania akan segera membatalkannya, dalam waktu kurang dari dua bulan, atau bahkan lebih cepat !" ucap Beni.


Inayah menganga mendengan penuturan Beni yang se santai itu menceritakan hal hal yang menurutnya sungguh di luar dugaan dan membuatnya bertanya tanya jenis manusia macam apa Beni sebenarnya.


"Kenapa bisa begitu ?"


"Karna perusahan Wiliam yang baru sudah semakin maju, sebentar lagi setelah aset Teja grup di pindahkan sedikit demi sedikit ke perusahaan barunya Wiliam melalui tangan Tania dan Lilis, pasti Tania akan meminta ku untuk membatalkan pertunangan !" ucapnya.


"Dan kamu hanya diam membiarkan itu semua ?" pekik Inayah.


"Tentu saja tidak, aku hanya ingin membiarkan mereka bersenang senang sesaat, tak akan ada ampun untuk perenggut kebahagiaan ku !" geram Beni.


***


Hari itu Inayah pergi ke apartemen yang dulu sempat dia tinggali, ada beberapa barang yang tertinggal di sana, dan harus dia ambil, tentu saja atas persetujuan dan ijin Beni sebelumnya.


Setelah sampai di depan pintu unit apartemen yang dia tuju, langkahnya tiba tiba berhenti, dia ragu saat ingin memasukan kunci pintu di hadapannya itu, beberapa kali dia menoleh dan memastikan nomor kamar yang tertempel di pintu itu benar, tapi dia bingung kenapa pintunya tidak terkunci.


'Ah, mungkin Beni sempat ke sini dan lupa menguncinya lagi,' batin Inayah.


Perlahan Inayah mendorong pintu kayu berwarna coklat tua itu, lalu masuk melangkahkan kakinya masuk perlahan, tak ada yang mencurigakan, di sana, meski Inayah tetap bersikap waspada karena takut ternyata ada orang jahat yang sudah membobol apartemen itu.


Tak ada siapa pun di apartemen yang tak terlalu luas itu, setelah mengambil barangnya yang tertinggal di sana Inayah segera bergegas hendak meninggalkan ruangan, tapi tunggu, ada gelas bekas kopi di atas meja makan, saat Inayah hendak membereskan agar tak berantakan, gelas yang masih berisi kopi setengahnya itu masih terasa hangat, itu pertanda orang yang meminumnya, belum lama meninggalkan ruangan itu,


"Halo, bos ! Apa bos baru saja dari apartemen ?" tanya Inayah langsung pada intinya.


"..."


"Oh, tidak,,, tidak apa apa tadi sepertinya aku melihat bos di lobi apartemen," ucap Inayah berbohong.


Inayah mengerutkan keningnya, jika itu bukan Beni, lantas siapa yang datang kesini ? pikir Inayah.


Tak ingin terlalu memikirkan hal yang memang sulit untuknya mendapatkan jawabannya, setelah mencuci dan membereskan kembali gelas itu ke tempat asalnya, Inayah keluar dari sana, dia juga memastikan mengunci apartemen itu sebelum dia pergi meninggalkan tempat itu.


Saat dia menunggu ojek online yang di pesannya di depan lobi, Inayah terkejut saat melihat mobil Wiliam lewat di hadapannya, mobil itu keluar dari basemant gedung apartemen,


"Bang, ikuti mobil itu !" tunjuk Inayah pada mobil hitam yang baru saja melewatinya pada pengendara ojol pesanannya itu.


"Tidak bisa mba, saya hanya mengantarkan sesuai tujuan di aplikasi," jawab pengendara ojol itu.


"Saya bayar 5 kali lipat, cepat !" pekik Inayah.


Setelah menmbang nimbang, si pengendara ojol itu tergiur juga dan mengikuti permintaan Inayah untuk membuntuti mobil yang di kendarai Wiliam itu.

__ADS_1


Mobil hitam itu menuju ke arah pinggiran kota Jakarta dan berhenti di depan sebuah bangunan besar mirip sebuah bangunan pabrik tapi tak sebesar Teja grup, apa lagi sebesar pabrik milik Beni.


Inayah turun dari motor ojek online itu dan mengikuti Wiliam secara diam diam, Inayah di kejutkan lagi dengan kehadiran Lilis yang menyambut hangat Wiliam saat Dia baru saja turun dari mobilnya, Lilis terlihat tersenyum sumringah dan mencium pipi Wiliam yang lalu di balas dengan rangkulan Wiliam di pinggang wanita yang Inayah anggap selama ini sebagai sahabat baiknya itu.


'Apa lagi ini ?' gumam Inayah,


Lilis dan Wiliam ?Ada hubungan apa mereka? Mengapa mereka begitu pintar bersandiwara di depan ku?atau kah kali ini dia hqrus setuju dengan sebutan bodoh Beni terhadap dirinya, karena sepertinya bukan mereka yang pintar bersandiwara, tapi dia yang terlalu bodoh tak menyadari semuanya.


Demi Tuhan hati Inayah terasa perih, bukan karena cemburu atas kebersamaan mereka, karena perasaan nya pada Wiliam sudah menguap begitu saja sejak dia tau di jadikan alat tukar modal oleh laki laki itu kepada Beni, tapi perih ini karena penghianatan orang terdekat yang terasa lebih menyakitkan baginya.


***


"Ajari aku untuk tidak menjadi bodoh lagi ! Bantu aku untuk membalas sakit hati ku !" ucap Inayah Sore itu sesaat setelah menerobos ke kamar Beni yang tak terkunci.


"Kau ! Apa kau tidak tau sopan santun, menerobos kamar orang tanpa permisi, seharian meninggalkan kantor tanpa pamit, apa kau sudah gila !?" ucap Beni yang selalu tak pernah bisa berkata lembut.


"Apa kau tak bisa bila tak berkata kasar pada ku ?" protes Inayah mendudukn dirinya di sofa yang ada di kamar Beni.


"Hey, siapa yang mengijinkan mu duduk di sana ?" bentak Beni.


"Tak ada, tapi aku butuh berbicara dengan mu, aku butuh bantuan mu, aku ingin berubah, aku tak ingin bodoh lagi !" cicit Inayah, tak memperdulikan tatapan tajam Beni yang seakan ingin membunuh nya.


"Apa imbalan bagi ku bila aku bersedia membantu mu ?" tantang Beni.


"Apa saja, semau mu !" celoteh Inayah seakan putus asa.


"Apa yang terjadi ?" tanya Beni sambil duduk berhadapan dengan wanita yang dandanannya terlihat kacau sore itu.


"Aku melihat Wiliam bersama Lilis tadi siang,!" ad Inayah.


"Hahaha,,,! Kau cemburu dengan sahabat palsu mu rupanya !" ejek Beni.


"Tidak, sedkit pun aku tidak cemburu, aku hanya kesal dan marah dengan sandiwara mereka selama ini," oceh Inayah.


"Jadi kau sudah tak mencintai Wiliam lagi ?"


"Sudah lama aku ilfil dengan nya !" gumam Inayah.


"Ilfil ? Bahkan saat kau hampir memperkosaku malam itu kau terus saja menyebut nama nya !" cibir Beni.


"A- apa maksud mu aku memperkosa mu ? Kau yang memperkosa ku saat aku tak sadar karena di bawah pengaruh obat !"


"Cih ! Aku tak sudi tidur dengan mu, bila dalam bayangan mu, kau sedang beercinta dengan Wiliam,!" ucap Beni.


"Ja-jadi kau tidak..."

__ADS_1


"Tidak ! Aku tidak akan meniduri wanita yang sedang tidak sadar, gini gini aku laki laki sejati !" bangganya.


__ADS_2