Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Pergerakan Wiliam


__ADS_3

Wiliam terlihat sedang berbincang serius dengan dua orang laki laki berperawakan tinggi besar dengan wajah yang sangar, sepertinya ada hal serius yang mereka bahas sampai tak ada seorang pun di perbolehkan masuk ke ruangannya tanpa kecuali, bahkan Lilis sekali pun.


"Bajingan ! Kalian yakin kalau yang membeli rumah orang tua ku benar benar dia ?" tanya Wiliam.


"Iya bos, ini foto copian surat kepemilikan rumah yang kami dapat, di sana tertulis pemiliknya atas nama Beni Wijaya," jawab salah satu pria itu seraya menyerahkan beberapa lembar kertas ke tangan Wiliam.


"Berengsek ! Kenapa dia terus mencari cari masalah dengan ku ?! Kalian sudah mencari tahu siapa dia sebenarnya ?" Wiliam melempar kertas ke sembarang arah sesaat setelah dia membaca isi kertas itu yang menyatakan kalau Beni kini pemilik rumah lamanya.


"Kami belum berhasil menemukan informasi apapun yang kami tahu, dia lama tinggal di luar negeri dan memulai usahanya di sana sebelum memutuskan untuk pindah ke sini," jawabnya ragu ragu, mereka memang mendapat kesulitan saat akan mengorek informasi tentang siapa Beni Wijaya yang sebenarnya.


Beni lantas mengeluarkan surat kepemilikan rumah yang pertama kali dia dapatkan dari orang yang akan menghancurkan rumahnya beberapa bulan yang lalu.


"Lalu kalian sudah memeriksa tentang surat ini ?" tanya Wiliam lagi.


"Maaf bos, surat itu bisa di pastikan palsu !"


"Aaaaah,,,,,, ! Sialan kau Beni, berani berani nya mempermainkan ku, aku akan membalas perbuatan mu, akan ku ambil kembali semua yang kau rampas dari ku !" teriak Wiliam menyapu segala yang ada di atas meja kerjanya dengan kedua tangannya hingga semua barang yang berada di sana berjatuhan dan berceceran di lantai.


Kedua orang yang di bayar Wiliam untuk mengungkap tentang siapa jati diri Beni sesungguhnya itu hanya bisa terdiam menonton amukan Wiliam yang membabi buta di hadapan mereka.


Beni memang menyembunyikan identitasnya, bahkan nama belakangnya pun sengaja di ganti menggunakan nama Wijaya yang tak ada hubungannya sama sekali dengan nama belakang keluarganya, belum lagi selama ini dia lebih lama tinggal di luar negeri, jadi tak banyak orang yang tau tentang informasi pribadi Beni.


"Ada apa ini sebenarnya, kenapa semuanya berantakan seperti ini ?" tanya Lilis yang baru saja masuk ke ruangan yang tampak berantakan itu.


"Tak usah banyak bertanya ! Bagaimana tugas mu, apa kau sudah berhasil membujuk pacar mu itu ?" sembur Wiliam yang melimpahkan kekesalannya pada Lilis yang baru saja datang ke ruangannya dan tak tau menahu atas apa yang menyebabkan laki laki yang selalu bertempramen tinggi itu meluapkan amarah dengan sebegitu dahsyatnya.


"Sudah, tapi David meminta untuk bertemu dengan mu terlebih dahulu," kata Lilis yang merasa menyesal sudah masuk ke ruangan itu di waktu yang tidak tepat, sehingga dirinya harus menerima pelampiasan amarah Wiliam.


***


"Sudah ku bilang, jangan temui aku sembarangan !" keluh Beni saat David datang ke kantornya.


"Tapi ini urgent, besok Wiliam mengajak ku bertemu untuk berbicara, aku bingung harus bagaimana nanti !" David beralasan.

__ADS_1


"Kau tau fungsi ponsel ? Kau punya ponsel, kan ? Punya nomor ku, kan ? Di pake !" bentak Beni kesal.


"Mas, jangan terlalu kasar sama David !" Inayah menenangkan suaminya.


"Sayang, rencana ku bisa berantakan gara gara melibatkan manusia bodoh ini !" maki Beni pada aduk sepupunya itu.


"Mas !" lagi lagi Inayah mengingatkan untuk bersabar.


"Tak apa, aku sudah biasa menerima makian koko !" ucap David yang merupakan satu satunya kerabat Beni yang tau tentang cerita penyebab meninggalnya Monik, David sangat mengerti dengan suasana emosi hati Beni yang gampang naik turun bila berhubungan dengan masalah Wiliam.


Beni menyalakan televisi besar yang menggantung di dindingnya,


"Lihat, kau lihat itu ! Tiga orang suruhan Wiliam berdiri di sekitar gedung kantor ini, setiap hari mereka mengawasi gerak gerik ku, jadi mulai sekarang jangan menemui ku lagi, sampai keadaan cukup aman. Gunakan ponsel mu untuk membicarakan hal apa pun dengan ku !" titah Beni sambil menunjuk gambar yang tertera di layar tv besar itu yang ternyata terhubung dengan ruang kontrol cctv gedung perkantorannya.


"Maaf ko, aku tak tau kalau Wiliam ternyata sudah mulai bergerak, aku akan lebih berhati hati dalam bertindak," ucap David merasa kaget karena ternyata Wiliam sudah mulai memercik kan api peperangan dengan Beni.


"Buatku itu bukan pergerakan, ibaratnya dia hanya ku biarkan bergerak dan meraba raba di ruangan sempit yang sangat gelap, walau aku harus tetap waspada jangan sampai dia mendapatkan cahaya sekecil apa pun !" ucap Beni tersenyum miring.


"Do'a kan saja suami mu ini tetap selamat dan baik baik saja, dan aku minta pada mu tetap bersikap seperti biasanya, jangan menimbulkan kecurigaan kalau kita sebenarnya tau sedang di awasi, percayakan semuanya pada ku !" Beni meraih tangan Inayah yang bertumpu di meja kerjanya, lalu di kecupnya mesra.


"Ishhh,,,, pulang sana ko, ngamar ! Di kira aku patung apa, mesra mesraan di sini, ini kantor, woy !" kesal David merengut.


"Kau kan juga bisa seperti ini sama Lilis !" ledek Beni yang di susul tawa Inayah yang membuat David semakin kesal di buatnya.


"Kalian pasangan menyebalkan !" dengus David.


"Jangan sok suci, awas aja bentar lagi Lilis minta tanggung jawab karena dia hamil anak mu !" ejek Beni.


"Fu,ck boy always bring con,dom in everywhere, ko !" selorohnya yang langsung mendapatkan timpukan bolpoin dari Beni yang mendarat tepat di kepalanya.


"Bocah edan !" ujar Beni.


***

__ADS_1


Pertemuan antara Wiliam dan David di lakasanakan di sebuah restoran bernuansa pedesaan, biar santai kata David.


Untunglah Wiliam tidak keberatan atas tempat yang di pilihkan David itu.


Mereka hanya berbicara empat mata, itu pembicaraan antar pria, kilah Wiliam.


Makanya Lilis sengaja tak di ikut sertakan dalam pertemuan itu.


"Kalau boleh tau, apa alasan anda membeli Teja grup dari Beni Wijaya, pemilik teja sebelumnya itu ?" tanya Wiliam penasaran.


"Sebelumnya, aku minta kita jangan berbicara terlalu formal, kita santai saja," ucap David,


"Kalau di tanya apa alasan ku membeli Teja, aku tak punya alasan khusus, hanya ingin mencoba peruntungan saja di bidang garmen," sambung David santai.


"Perusahaan anda sebelumnya ?" tanya Wiliam berbasa basi, padahal dia tau kalau perusaan David sebelumnya bergerak di bidang property, dan Wiliam juga tak tau kalau itu merupakan perusahaan milik Beni juga.


"Tak ada hubungannya sama sekali dengan garmen, makanya aku merasa tertarik saat perusaan anda mengajak bekerja sama," ucap David meyakinkan kalau dirinya sangat antusias dengan ajakan kerja sama Wiliam.


Wiliam tersenyum dan bersorak riang dalam hatinya, karena niat jahatnya untuk mengelabui David yang buta dalam dunia garmen itu akan lebih memudahkan usahanya untuk mengambil alih kembali Teja grup dan membuktikan pada Beni kalau dirinya bisa mengambil kembali semua yang sudah dia rampas dari genggamannya.


"Apa hubungan antara anda dengan Beni Wijaya ?" pancing Wiliam yaang mendapat laporan dari anak buahnya kalau kemarin David datang ke kantor Beni.


"Hanya hubungan sesama pebisnis saja !" jawab David datar dan terlihat natural dalam kebohongannya.


"Hmm,,," Wiliam manggut manggut.


"Masih sering bertemu Beni Wijaya ?" pancing nya lagi.


"Kemarin aku baru bertemu dengannya, karena ada berkas pelimpahan perusahaan yang harus sama sama kami tanda tangani," jawab David lagi.


'Oke, aman,,, pria ini tidak berusaha berbohong kalau kemarin dia bertemu bajingan itu !' bisik Wiliam dalam hatinya.


Sedangkan David juga berusaha untuk tetap memasang raut wajah yang biasa saja, agar Wiliam tak merasa curiga, meski jauh di dalam hatinya David menahan tawa bangga dan bahagia karena aktingnya ternyata berhasil.

__ADS_1


__ADS_2