
Tania sungguh merasa bingung dengan apa yang Wiliam sampaikan, laki laki itu meracau tentang wanita lain yang sudah dia hancurkan, tapi siapa ?
"Apa ? Apa maksud mu ? Siapa wanita yang kau maksud yang kau hancurkan itu ? Apa yang kau lakukan di belakang ku, tanpa sepengetahuan ku saat itu ?" cecar Tania menyipitkan matanya menuntut jawaban dari laki laki yang ternyata menyimpan banyak rahasia dan dendam yang di sembunyikan darinya.
"Diam ! Kau tak berhak tau tentang itu semua, ini semua salah mu ! Aku yang saat ini rusak itu karena ulah mu, dan dia yang hancur pun itu karena mu !" tunjuk Wiliam dengan kulatan mata yang sudah untuk di artikan, antara kemarahan dan kesedihan yang menjadi satu, membuat emosi Wiliam meluap tak terkendali.
"Aku ? Kenapa aku ?!" Tania tak terima jika dirinya yang di persalahkan atas apa yang terjadi pada Wiliam yang bahkan sama sekali dia tak tau apa.
"Ya ! Karena kau selingkuh dan mendua kan ku saat itu, sehingga membuatku menjadi se bajingan ini akhirnya !" Wiliam tetap menyalahkan Tania atas apa yang terjadi pada dirinya dan juga atas apa yang terjadi pada Monik.
"Kau gila ! Kau sama tak warasnya dengan perempuan kampung murahan yang tak tau diri itu !" umpat Tania yang tak ingin lagi memperpanjang percakapannya dengan laki laki yang pernah lama mengisi hatinya namun kini di bencinya itu.
"Pergi ! Jangan pernah ganggu hidup ku lagi, kau sudah cukup mengacaukan kehidupan ku ! Jangan pernah kembali lagi dan menunjukkan muka mu !" Wiliam semakin murka, dia bahkan mengusir Tania.
Tania menggelengkan kepalanya tak percaya, dia sangat tak habis pikir dengan jalan pikiran Wiliam yang melimpahkan semua kejadian hidup pahitnya pada dirinya.
"Kau gila, aku pun tak sudi melihat wajah menjijikan mu lagi !" teriak Tania sambil membanting pintu rumah Wiliam sekencang mungkin.
Dia pun sama marahnya dengan Wiliam, Tania merasa benar benar tertipu dengan sikap Wiliam yang seolah mencintai dan menjaga kesuciannya selama ini karena tak ingin merusak dirinya seperti yang sering dia ucapkan kalau Tania merayu laki laki itu.
Tapi ternyata dia harus menerima kenyataan kalau ternyata Wiliam mempertahan hubungan mereka hanyavkarena dendam nya.
Belum lagi dia berpikir keras siapa wanita yang di maksud Wiliam yang sudah dia hancurkan itu, sungguh tenyata kelakuan Wiliam di luar dugaannya, tapi dia yakin cepat atau lambat dia akan mengetahui siapa wanita yang di maksud Wiliam itu.
"Kamu mengusirnya ? Kamu benar benar mengusirnya Liam ? Oh, itu keren !" seru Lilis berlari ke ruang tamu dimana Wiliam masih berdiam diri di ruangan itu.
__ADS_1
"Diam ! Tutup mulut mu, jangan mengatakan atau menayakan apa pun saat ini. Tinggalkan aku sendiri !" ketus Wiliam mengacungkan sebelah tangannya seraya memberi tahu kalau dirinya tak ingin di ganggu dan meminta Lilis untuk tidak mendekati nya saat ini.
"Tapi, kenapa ?" lirih Lilis.
"Jangan membantah ku, pergi ! biarkan aku sendiri !" tunjuk Liam ke arah ruangan dalam rumah.
"Ish, nenek sihir sialan, gara gara dia aku jadi ikut ikutan kena damprat dan kena omelan, padahal aku tak tau apa apa !" gerutu Lilis kesal tapi dengan volume suara yang se pelan mungkin karena takut kena amukan Wiliam yang hatinya sedang panas dan tak bisa di ajak kompromi itu.
***
"Wah, apa yang terjadi dengan ruangan ku, mas ?" tanya Inayah saat pertama kali lagi masuk kerja, setelah tiga hari lamanya di tinggal Inayah cuti ke kampung halaman, ruangaan itu sungguh berubah total.
Inayah menatap takjub ruangannya yang kini sudah berubah total di mulai dari barang barang nya, sampai termasuk dekorasi ruangan yang berubah total.
Sofa, meja kerja semua sudah di ganti baru, bahkan sekarang di lengkapi dengan lukisan dan bunga di setiap pojok ruangan.
"Terima kasih, mas. Jujur aku gak tau harus bales kebaikan kamu dengan cara apa, kamu sudah banyak membantu ku !" ucap Inayah tulus, sepertinya memang hanya kata itu yang bisa Inayah sampaikan pada Beni, karena dia tak tau harus berkata apa lagi, tiba tiba Beni memberinya kejutan seperti itu.
"Cukup dengan bekerja yang sungguh sungguh, dan buktikan pada semua orang kalau kau bukan orang yang bisa di sepelekan, tunjukkan pada dunia kalau kau wanita tangguh dan mampu membalas orang orang yang menyakiti mu, ingat---"
"Tujuan kita sama, kehancuran Wiliam !" lagi lagi Inayah menyambar ucapan Beni sambil terkekeh.
"Kau meledek ku !" ucap Beni.
"Kata kata mas yang itu sampai menempel di otak ku saking seringnya mas mengingatkan hal itu," celoteh Inayah.
__ADS_1
"Sepertinya kalian harus mengajak ku bergabung bersama kalian, karena tujuan ku kini juga sama, menghancurkan Wiliam !" Tania menerobos masuk ruangan yangvpintunya memang terbuka itu tanpa permisi.
"Siapa yang mengijinkan kau masuk ke ruangan ini !" bentak Beni dengan tatapan tak suka.
"Aku mencari mu ke perusahaan, dan kata sekretaris mu yang baru, kau sedang di Teja grup, dan ternyata memang benar !" kata Tania mendekat ke arah Beni dan menyapukan tangannya di bahu kemudian turun ke arah dada bidang Beni.
"Jauh kan tangan kotor mu dari tubuh ku,!" tegas Beni menatap galak.
"Ish, kita itu harusnya pasangan serasi lho, sama sama dari kalangan atas, basic kita juga sama sama pengusaha, dan yang lebih penting ternyata kini kita punya tujuan yang sama, kehancuran Wiliam !" rayu Tania.
"Tak usah ikut campur dengan urusan ku, kalau kau punya masalah dengan laki laki itu, selesaikan sendiri dengan nya, tak usah membawa bawa aku dan mencari dukungan ku !" ucap Beni sinis.
"Sebaiknya kalian selesaikan urusan kalian, aku akan keluar dulu !" ujar Inayah, dia merasa tidak enak hati berada di antara pertengkaran Beni dan Tania.
Inayah melangkahkan kaki nya menuju pintu, namun baru saja beberapa langkah suara keras Beni menghentikan langkahnya.
"Inayah stop ! Kau tak ku ijin kan keluar dari ruangan ini !" bentak nya.
"Ta- tapi," gugup Inayah ketakutan.
"Tidak ada tapi tapian, kalaupun ada yang harus meninggalkan ruangan ini, itu adalah dia !" tunjuk Beni pada Tania yang masih berdiri di tempatnya.
"Aku ? Ben, tolong maafkan aku, aku menyesal dan aku tak ingin kamu membatalkan pertunangan kita, aku mohon, aku dan keluarga ku akan menanggung malu jika kita tidak jadi bertunangan !" rengek Tania.
"Aku akan melakukan apa pun yang kamu mau asal kan kamu mau kembali menerima ku, tolong lah, aku akan patuh pada mu !" mohon Tania memelas.
__ADS_1
sekuat tenaga dia meminta dan memohon agar Beni kembali ke pelukannya, secara dia sudah kehilangan Wiliam dan Adit juga sudah bertunangan dengan wanita pilihan ibunya di kampung.
Tak ada pilihan lain selain dia harus kembali mendapatkan Beni dan membuat Beni tidak jadi membatalkan pertunangan mereka.