Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Hadiah


__ADS_3

"Sayang, apa kamu masih marah padaku ?" tanya Beni pada Inayah yang tak henti berdecakkagum melihat hadiah yang Beni berikan padanya.


"Masih !" jawab Inayah tak memperdulikan Beni yang terus terusan mengekorinya dan mengajaknya berbicara tanpa henti.


"Sayang, aku sudah memberi mu hadiah ini agar kamu tak terus terusan marah pada ku !" rajuk Beni.


"Mas,! Kamu pikir nyawa dan keselamatan mu bisa di gantikan dengan rumah mewah ?" semprot Inayah yangblagi lagi terpancing amarahnya karena Beni yang salah dalam pemilihan kata untuk di sampaikan pada istrinya.


"Ampun sayang, jangan marah lagi, aku salah, aku gak ulangi lagi, janji !" ucap Beni butu buru meralat ucapannya yang dapat menimbulkan huru hara dan menyebabkan dirinya tak mendapat jatah itu.


Inayah kini berada di rumah milik almarhum Andi ayahnya Wiliam yang di beli Beni dan di bangun ulang sebagai hadiah untuk istri tercinta.


"Apa ini ?" tanya Inayah takjub saat mereka nenuju ke halaman belakang rumah.


"Ini kebun versi mini, siapa ta ibu mu mau di ajak tinggal di sini kalau tau ada kebun yang membuat beliau merasa seperti di kampung," jelas Beni menunjukkan hamparan kebun yang lumayan luas di belakang rumahnya terdapat tanaman hias, sayur, buah yang membuat halaman belakang rmah itu terasa sangat asri dan teduh, Inayah serasa berada di kampung halamannya.


"Mas, bagaaimana aku bisa kehilangan kamu, kalau sikap mu itu terlalu manis buat ku, kamu sangat berarti dalam hidup ku, jangan pernah melakukan hal hal yang membuat aku kehilangan kamu, aku mohon !" lirih Inayah, tetesan bening pun tak kuasa untuk keluar dari pelupuk matanya.


Inayah sungguh tak bisa membayangkan jika dirinya hidup tanpa Beni, dia sudah begitu ketergantungan dengan perlakuan Beni yang selalu memanjakannya itu.


"Kamu tau kalau aku tak punya siapa siapa lagi selain kamu, mana mungkin aku berani meninggalkan mu, aku bersedia kehilangan semua harta ku dan segala yang aku punya, tapi tidak kamu, sayang !" Beni merengkuh tubuh Inayah dengan sayang, wanita yang membuatnya kembali menemukan arti hidup, wanita yang berhasil membuatnya bangkit dari keterpurukan, sembuh dari depresi, bagi Beni, istrinya itu sangat berharga.


"Sayang, bagaimana kalau kita melihat kamar baru kita dan mencobanya ?" senyuman Beni sungguh mengandung arti yang bukan hanya sekedar senyuman, mungkin hanya Inayah yang tau, arti senyuman Beni yang satu itu.

__ADS_1


"Aku juga punya hadiah untuk mu," kata Inayah mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.


"Apa itu ?" tanya Beni sedikit penasaran.


"Apa kamu akan berjanji padaku tak akan melakukan hal hal yang membuatku hawatir lagi jika aku memberi tahu hadiah ini pada mu ?" goda Inayah sambil memainkan ujung jari telunjuknya yang menelusup nakal di sela sela kancing kemeja Beni.


"Aku janji, aku tidak akan menyembnyikan apapun lagi dari mu," napas Beni semakin tak beraturan saat satu persatu kancing kemeja Beni Inayah buka perlahan dan membiarkannya tergeletak begitu saja di lantai.


Pemandangan dada bidang Beni yang keras dan berotot sungguh memanjakan mata Inayah yang tak pernah bosan menatap tubuh suaminya dan menghirup aroma maskulin yang sungguh memabukkan baginnya.


"Sayang, lupakan hadiahnya, sepertinya aku haris membawa mu ke kamar, kaamu terlalu menggoda untuk hanya sekedar di lihat, aku tak bisa menunggu !" Beni menggendong tubuh Inayah ala bridal style.


"Tunggu, kamu yakin tak ingin tahu apa hadiahnya ?" Inayah menangkap tangan Beni yang hendak bergerilya membuka baju yang di pakainya.


"Apa itu sayang ?" tanya Beni yang baru pernah melihat benda seperti itu.


"Ini alat tes kehamilan, tadinya aku akan memberikan kejutan ini kemarin, tapi kamu malah berulah dan kejutannya gagal aku berikan," Inayah mengerucutkan mulutnya.


"Apa !? Ini berarti kamu ---?" Beni meraih benda itu, di lihat dan di pandanginya secara seksama, lantas sejutus kemudian pandanganya beralih pada wajah istrinya yang tampak seperti sedang mengiyakan apa yang sesang di pikirkannya.


"Ya Tuhan, kamu yakin sayang ? Katakan kalau aku sedang tidak bermimpi saat ini, ini luar biasa !" teriaaknya berhambur memeluk Inayah yang menerima pelukan dan ciuman Beni berttubi tubi padanya.


Tak banyak yang di katakan Beni padanya, Inayah tau kalau Beni pasti bingung harus berkata apa, laki laki itu hanya mengucapkan terimakasih berulang kali dengan mata yang berkaca kaca.

__ADS_1


Tak terbayangkan olehnya akan mendapatkan banyak sekali anugerah yang Tuhan berikan padanya, setelah mendapat istri yang yang menurutnya sempurna untuknya, kini Tuhan kembali memberinya hadiah berupa titipan seorang bayi yang berada di perut Inayah.


"Mas, kamu nangis ?" tanya Inayah mengusap pipi Beni yang kini tampak basah dan lembab.


"Aku bahagia, sangat bahagia !" ucapnya, tak dapat menyembunyikan kebahagiaan plus keharuannya yang datang bersamaan.


"Mas, aku harap mas tidak melakukan hal hal yang dapat membuat aku dan calon anak mu ini akan kehilangan mas, kami tak ingin mas melakukan hal hal berbahaya lagi apa mas mau memenuhi keinginan kami ?" pinta Inayah, yang secara tidak langsung mengatakan kalau dia merasa keberatan Beni mempertaruhkan nyawa mengejar ngejar Wiliam.


"Mas, apa mas percaya karma ?" lanjut Inayah.


Beni terdiam, dia tau kemana arah pembicaraan istri nya itu, Inayah sedang ingin memgatakan kalau dirinya harus segera berhenti melakukan balas dendam, tapi rasanya hatinya belum siap untuk melepaskan dendam itu begitu saja.


Pembicaraan mereka terhenti saat ponsel Beni tiba tiba berdering, terpampang nama Omar di layar ponselnya, dengan rasa gamang Beni akhirnya menjauh dari Inayah dan menerima panggilan telpon itu, sekitar lebih dari lima menit Beni berbincang dengan Omar lewat udara.


"Ada apa, mas ?" tanya Inayah ketika menyadari raut wajah Beni berubah setelah berbicara di telpon.


"Ah, tidak !" elaknya, Beni kini benar benar merasa bingung, Omar mengabari dirinya kalau Wiliam sudah berhasil di tangkap dan di amankan, sementara Beni tau kalau Inayah kini merasa keberatan jika dirinya masih mengurusi masalah dendam masa lalunya itu, sungguh dia tak tau apa harus di lakukannya.


"Mas, kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu lagi dari ku kan ?" selidik Inayah.


Entah lah saat ini Beni harus bahagia atau sebaliknya, kenapa perasaannya biasa saja saat meendengar Wiliam sudah tertangkap, padahal sebelumnya dia sangat menggebu ingin menangkap dan memberinya pelajaran, mengembalikan semua rasa sakit dan pedihnya yang kehilangan orang orang tercintanya.


"Ah tidak, hanya masalah pekerjaan !" ucapnya yang lagi lagi terpaksa berbohong pada istrinya.

__ADS_1


"Maafkan aku Inayah, aku janji ini yang terakhir, aku akan menyelesaikan semuanya, aku janji akan mengakhiri dendam ku setelah ini, tapi maafkan aku yang terpaksa harus mengingkari janjiku untuk sekali ini saja !" ucap Beni dalam hatinya.


__ADS_2