
Lilis menundukkan kepalanya dari semenjak dia turun dan menghampiri puluhan orang yang mengerumuni nya, sungguh dia tak berani mengangkat wajahnya, bayangan tentang mereka yang sudah menonton kegiatan panasnya dengan Wiliam tadi di atas, sungguh sangat memukul telak mentalnya.
Lilis tak bisa di bayangkan jika video panas itu sampai tersebar ke penjuru negeri ini, betapa dia tak akan pernah berani lagi menampakan diri nya di kampung untuk bertemu orang tua dan sanak saudaranya.
Rasanya saat ini dia ingin sekali menghilang ke belahan bumi yang lainnya dan tak pernah bertemu lagi dengan orang orang yang mungkin akan segera mencemooh dan menghina dirinya tanpa ampun, apa lagi jika membayangkan dirinya yang akan menjadi bahan tertawaan seluruh penduduk negeri ini, Lilis rasanya sungguh ingin mati saat itu juga.
Namun dia merasa heran dengan Wiliam yang tak se stres dirinya, dia bahkan meminta para wartawan untuk berbicara dengannya, sungguh Lilis tak tau apa yang sebenarnya Wiliam rencanakan saat ini.
"Sebelumnya saya ingin memngucapkan permohonan maaf, karena saya sudah membuat kegaduhan dan keresahan tadi, saya hanya ingin memenyampaikan hal yang mungkin belum di ketahui oleh semua orang, perkenankan saya memperkenalkan istri saya, Lilis. Kami sudah menikah siri selama lebih dari dua tahun lamanya, hanya saja saya merahasiakannya dari siapa pun, termasuk orang tua dan keluarga kami !" bohong Wiliam sambil melirik ke arah Lilis yang sedikit gelagapan karena belum siap mengikuti drama yang di ciptakan Wiliam, saat itu Lilis hanya bisa tersenyum tipis ke arah para wartawan.
"Namun, atas permohonan orang tua saya yang meminta untuk menutupi aib keluarga, yaitu menikahi adik tiri saya yang bernama Tania, yang hamil di luar nikah karena pergaulan bebasnya, saya sebagai anak yang berbakti hanya bisa pasrah dan mengikuti apa yang di minta orang tua saya, meskipun saya harus mengorbankan keutuhan rumah tangga saya sendiri !" ucap Wiliam dengan memasang wajah sedihnya yang meyakinkan, sesekali dia juga melirik ke arah Tania yang menatapnya penuh marah.
Wiliam merasa puas sudah membalikkan hianaan yang Tania berikan padanya beberapa saat yang lalu.
Namun di sisi lain, Andi yang ikut mendengarkan pidato anak lelakinya bersama Meli dan Tania itu memucat, sambil memegangi dada nya yang sebelah kiri dengan kedua tangannya, dia merintih kesakitan dan ambruk ke lantai tempatnya berpijak saat itu.
"Ayah !" teriak Tania, sekuat tenaga dia menahan tubuh ayah tiri nya, namun sia sia, tenaganya tidak cukup kuat untuk menahan tubuh laki laki tua itu.
Seketika orang orang yang tadinya berkumpul di hadapan Wiliam dan Lilis kini berhamburan mendekati tubuh lemah Andi yanh tergeletak lemas tak berdaya di lantai hotel.
Dengan sigap pihak hotel memanggil ambulan, tubuh tua itu segera di bawa ke rumah sakit untuk di beri pertolongan.
Wiliam yang terlihat syok dengan apa yang terjadi di hadapannya itu tak bisa berkata apa apa, dia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi hal yang buruk pada ayahnya itu, satu satunya orang tua yang dia miliki di dunia ini.
Namun setelah beberapa menit di dalam ruang penanganan, takdir berkata lain, seorang dokter yang keluar dari ruangan tempat Andi di rawat membawa berita yang sungguh tak di harapkan oleh seluruh keluarga yang menungguinya dengan harap harap cemas itu.
__ADS_1
Andi sudah meninggal, begitu kabar yang di sampaikan dokter itu pada Meli.
Lutut Wiliam pun seketika terasa lemas, badannya luruh dan tak bisa menopang bobot tubuhnya lagi, dia terdusuk di lantai seiring air mata yang tiba tiba membanjiri pipinya,
Air mata kesedihan seorang anak yang di tinggalkan pergi oleh ayahnya untuk selamanya, ayah yang sebenarnya selalu menjadi panutan dalam hidupnya, satu satunya orang yang paling berharga setelah kepergian ibu nya.
Air mata kepedihan karena merasa belum bisa membahagiakan ayah tercinta nya, belum bisa menjadi anak yang bisa di banggakan oleh ayahnya.
Dan yang paling berat di rasakan Wiliam kini adalah air mata penyesalan, karena keegoisan nya, karena tingkah bodoh dan cerobohnya, secara tidak langsung dia merasa sudah menjadi pembunuh ayahnya sendiri karena kebohongan yang di ciptakannya pasti menjadi pukulan besar untuk Andi saat itu, sehingga dia sampai tak bisa mengendalikan emosinya dan berakhir kehilangan nyawanya.
Entah harus bagaimana nanti Wiliam menjalani hari harinya yang di penuhi penyesalan di sepanjang hidupnya, kini dirinya bisa di katakan selamat dari reputasinya yang hampir hancur karena ulahnya sendiri, namun sebagai penebus itu semua malah lebih terasa lebih berat, karena hati dan hidupnya yang harus di korbankan dan hancur.
"Pergi kau pembunuh, ayah pasti tak akan senang kau berada di sini !" usir Tania pada saat acara pemakaman Andi sang ayah tiri.
"Cih, anak kandung yang tega membunuh ayahnya sendiri demi keegoisan dan ambisi nya sendiri, apa kau masih pantas di sebut manusia !" hardik Tania dalam isak tangisnya, selama ini Andi memang selalu baik padanya, dan selalu memperlakukan seperti putri kandungnya sendiri, makanya dulu Andi sempat tidak setuju kalau Tania dan Wiliam berpacaran, karena di mata Andi mereka berdua adalah anak kandungnya.
***
Seminggu setelah kepergian Andi, Wiliam memberanikan diri untuk pulang ke rumah orang tuanya itu, tiba tiba dia merasa rindu dengan kenangan kebersamaan nya dengan sang ayah di rumah tempatnya tumbuh dan berkembang itu.
Namun betapa terkejutnya Wiliam, karena mendapati rumah peninggalan orang tuanya itu kosong dan sepi, tak ada satu barang pun tersisa di rumah itu, semua ruangan benar benar kosong.
"Siaal ! Siapa yang sudah melakukan semua ini !" pekik nya kesal.
Banyak barang barang yang penuh kenangan antara dirinya dan orang tuanya terdapat di rumah itu, namun kini semuanya lenyap entah ke mana.
__ADS_1
Tak ada pembicaraan apapun tentang semua ini dari Meli sang ibu tiri mau pun dari Tania, padahal dirinya merupakan satu satunya ahli waris dari kekayaan yang di miliki Andi, terlebih rumah itu yang merupakan rumah peninggalan kedua orang tuanya, tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan Meli atau pun Tania.
Wiliam sedikit terkejut saat mendengar suara bising dan gemuruh dari arah depan rumah.
Wiliam berlari menuju halaman rumahnya, laki laki itu semakin terkejut saat melihat sebuah alat berat yang hendak menghancurkan tembok bagian depan rumahnya.
"Hentikan !" teriak Wiliam berdiri di depan alat berat itu dan merentangkan kedua tangannya menghalangi rumah nya yang siap di luluh lantah kan.
"Maaf, siapa anda, kenapa anda berada di rumah saya ?" tegur seorang laki laki muda yang sedang mengawasi para tukang yang bekerja di sana.
"Aku yang harus bertanya pada mu berengsek ! Siapa kalian,? kenapa kalian ingin menghancurkan rumah ini tanpa se ijin dari ku ? Kalian bisa aku lapor kan pada polisi atas perbuatan kalian ini !" teriak Wiliam murka.
"Sayapemilik rumah ini, saya ingin menghancurkan bangunan lama dan menggantinya dengan bangunan yang baru," ucap laki laki asing itu.
"Heh, aku pemilik asli rumah ini, bagaimana bisa kau mengaku ngaku, aku ahli waris dari pemilik rumah ini sebelumnya, rumah ini milik orang tua ku !" terang Wiliam berapi api.
"Maaf, tapi saya sudah membelinya dari nyonya pemilik rumah ini, beliau istri dari almarhum pemilik rumah ini sebelumnya, kami membeli nya secara sah dan sesuai aturan hukum yang berlaku, bila anda merasa keberatan atau ada masalah dengan hal itu, silahkan anda hubungi nyonya penjual rumah ini, karena saya sudah membalik nama semua surat kepemilikannya secara sah !" urai laki laki itu seraya menyodorkan kopian surat kepemilikan tanah dan rumah Andi yang kini berubah menjadi nama orang asing.
"Tolong jangan di bongkar dulu rumah ini, beri aku waktu untuk mengkonfirmasi masalah ini dengan ibu tiri ku, dan aku sebenarnya tidak ingin menjual rumah penuh kenangan ini, tolong !" mohon Wiliam memelas.
"Baiklah, saya beri anda waktu tiga hari dari sekarang, ini karena saya merasa kasihan dengan anda, sebetulnya saya bisa saja menghancurkan rumah ini sekarang juga, karena ini sudah menjadi milik saya," ucap laki laki itu memberi Wiliam kesempatan, mungkin karena dia merasa iba dengan permohonan Wiliam padanya.
Wiliam bergegas meninggalkan rumah orang tuanya itu dengan membawa kopian kertas surat kepemilikan rumah dan tanah yang sudah berganti nama pemilik itu.
"Meli, Tania, kalian akan ku cari sampai ke ujung dunia mana pun !" geram Wiliam dalam kemarahannya.
__ADS_1