Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Apa yang Terjadi Pada Mu


__ADS_3

Suara ketukan pintu di rumah Beni mengejutkan Inayah yang sedang menyiapkan makan malam untuk Beni dan dirinya malam itu.


Inayah meninggalkan piring berisi makanan yang di masaknya di meja dan bergegas berjalan ke depan untuk membukakan pintu.


"Lama sek---" Tania yang baru saja di bukakan pintunya oleh Inayah merasa terkejut karena mendapati Inayah di rumah Beni malam malam begini.


"Kau ! Kenapa hidup ku di penuhi wanita wanita kampung murahan yang tanpa tahu malu menumpang di rumah laki laki yang bukan pasangannya, sih !" pekik Tania kesal, bagaimana tidak, sebelumnya dia memergoki Lilis yang berada di rumah Wiliam, sekarang dia menemukan Inayah di rumah Beni.


Betapa dia merasa hidupnya di kelilingi para wanita kampung yang merebut semua pasangannya.


Termasuk Adit yang juga kini sudah bertunangan dan akan menikah dengan Neneng si anak juragan tanah di kampungnya.


"Tania, silahkan masuk !" ucap Inayah berusaha ramah.


"Kau memang wanita murahan, kau menjual diri mu pada calon tunangan ku agar kau mendapatkan saham keluarga ku dan jabatan ku sebagai pemimpin Teja, dan kau juga ingin menguasai kehidupan Beni dengan tinggal di rumah nya ? Dasar tak tau diri !" maki Tania yang tak bisa menahan diri untuk mengumpat wanita yang ada di hadapannya itu.


"Terserah kau mau bilang apa, kenyataannya kau merasa kalah dari aku, kan ?" ucap Inayah sambil tersenyum mengejek.


"Kau !" pekik Tania sambil menunjuk wajah Inayah.


"Aku malas berdebat dengan mu, kalau kau ada perlu dengan mas Beni, silahkan temui dia di ruang kerjanya, dan sampaikan juga padanya makanan sudah aku siapkan di meja makan,!" ketus Inayah yang sedang tak ingin beradu kata dengan Tania yang menurutnya tak penting itu.


Inayah lebih memilih pergi keluar rumah, karena dia juga merasa tak suka saat melihat Beni dan Tania yang merupakan mantan calon tunangannya Beni itu bersama, entahlah terkadang dia merasa kesal saat melihat Beni berinteraksi dengan wanita itu.


"Pergi yang jauh ! Bagus kalau kau gak balik lagi kesini !" teriak Tania seraya menutup pintu rumah Beni dan menyunggingkan senyum kemenangan karena berhasil membuat Inayah keluar dari rumah Beni.


"Inayah, siapa yang datang, ribut sekali !?" seru Beni saat dia menuruni anak tangga menuju ruang makan dimana biasanya Inayah berada kalau jam jam seperti ini.


"Wanita kampung itu sudah minggat dari sini !" jawab Tania mengagetkan Beni yang tidak menyangka akan kehadiran Tania di rumahnya.


"Apa maksud mu? Apa yang kau lakukan pada Inayah ? Kemana dia ?" Beni mencari cari Inayah di setiap sudut ruangan, namun sosok perempuan itu tidak dia temukan di ruangan mana pun.


"Ben, hentikan ! Untuk apa kau mencari wanita kampung itu ?" pekik Tania.

__ADS_1


"Diam ! Awas saja kalau sampai aku tau kau berbuat yang tidak tidak pada Inayah,!" ancam Beni geram.


"Apa sebenarnya hubungan mu dengan wanita kampung itu ? Kenapa dia ada di rumah ini ?" tanya Tania.


"Inayah tinggal di rumah ini ! puas ?!" bentak Beni.


"Kalian kumpul kebo ?!" Tania menutup mulutnya yang menganga karena kaget.


"Jaga ucapan mu, tidak semua perempuan berkelakuan busuk seperti kelakuan mu !" maki Beni.


"Lantas apa namanya, kalian tinggal satu atap tanpa ikatan apa pun kalau bukan kumpul kebo ?" ucap Tania lantang.


"Bukan urusan mu ! sekarang kau pergi dari sini dan jangan sekali kali berani lagi menampakkan wajah mu di hadapan ku !" Beni menghubungi ponsel Inayah, namun sialnya ponsel Inayah berbunyi di meja makan, dia tak sempat membawa ponselnya tadi.


Beni meraih ponsel Inayah yang tergeletak di antara piring piring yang berisi makanan hasil masakan Inayah, dia menarik dan membuang napas nya kasar.


"Ben, aku minta maaf, ijinkan aku tinggal di sini, aku dan Monik teman baik, almarhum ibu mu dan ibu ku juga berteman baik, aku sedang butuh tempat untuk menenangkan pikiran ku, aku boleh tinggal di sini ya ?!" rengek Tania.


"Jangan ungkit ibu dan adik ku, jika kau masih ingin melihat matahari esok pagi !" geram Beni mencengkram leher Tania dan mendorongnya dengan kasar sampai punggung wanita itu menabrak dinding ruangan dengan begitu kerasnya.


"Mulut kotor mu tak berhak menyebut ibu dan adik ku, aku sudah mengingatkan mu berulang kali, aku tak butuh bantuan mu, !" teriak Beni seperti kesetanan dengan mata yang merah menyala.


"Mas Beni ! Apa yang kamu lakukan, lepaskan dia, mas bisa membunuh nya !" jerit Inayah yang baru saja pulang dan masuk ke rumah itu ternyata di di suguhi pemandangan yang sangat mengerikan.


Dengan susah payah Inayah menarik dan melepaskan tangan Beni dari leher Tania yang wajahnya mulai memucat karena kurang nya pasokan oksigen.


"Aaaaah ! kenapa kau tak biarkan saja jallanng ini mati di tangan ku !" pekik Beni, tangannya meninju tembok sekencangnya, tepat hanya berjarak beberapa inchi saja dari wajah Tania yang masih mematung bersandar ke dinding itu sambil mengatur napasnya.


"Kau gila !" umpat Tania sambil terus menghirup oksigen sebanyak banyaknya.


"Kau pergi lah, jangan terus memancing emosinya, apa kau tak dengar tadi ? Kau bisa mati di tangan nya !" usir Inayah pada Tania yang masih saja bertahan tinggal di rumah itu, sementara Beni sudah semakin murka, Inayah tak ingin terjadi tragedi yang tidak di inginkan di sana.


"Apa hak mu mengusir ku ? Berasa kau nyonya rumah, huh ? Aku calon istrinya, aku yang lebih berhak di sini !" tantang Tania setelah keadaannya mulai membaik.

__ADS_1


"Pergi ! Aku bilang pergi ! Jangan sampai aku memakai cara kekerasan untuk mengusir mu !" ucap Beni dengan suara bergetar karena menahan amarah.


"Kau keterlaluan, kau memilih wanita kampung ini untuk tinggal di rumah mu di bandingkan aku yang jelas jelas calon tunangan mu !" kata Tania yang masih saja kekeh mengaku dirinya sebagai calon tunangan Beni.


"PERGI !" teriak Beni tak bisa lagi menahan emosi nya.


Tania pun pergi dengan sumpah serapah yang keluar dari mulutnya yang dia tujukan untuk Beni dan Inayah di sepanjang perjalanan nya menuju pintu keluar.


Inayah memapah tubuh tinggi besar Beni yang tiba tiba limbung dan kehilangan keseimbangan tubuh nya, tubuh laki laki itu seketika terasa lemas.


"Mas,,, kamu tidak apa apa ?" pekik Inayah panik, dia memapah Beni agar dusuk di sofa ruang tengah,


Wajah Beni memerah dengan keringat dingin yang mengucur di dahi dan tubuhnya,


Inayah terlihat sangat hawatir dengan keadaan Beni saat ini, dia segera mengambil segelas air minum untuk Beni dan membantunya meminum air itu.


"Obat,,,, tolong ambilkan obat di kamar ku, di laci nakas sebelah ranjang ku !" lirih Beni.


Inayah mengangguk dan segera berlari ke atas menuju kamar Beni.


Ini pertama kalinya dia masuk ke kamar laki laki yang selama ini satu rumah dengannya, kamar yang sangat rapi, di dominasi warna abu abu dan hitam khas laki laki.


Ketika Inayah akan membuka laci nakas di samping ranjang lebar itu, sebuah bingkai berisi foto Beni dengan wanita yang fotonya ada di apartemen dan ruang tamu itu mencuri perhatiannya, mereka tampak tersenyum bahagia sambil berpelukan.


Pikiran Inayah pun semakin bertanya tanya siapa sebenarnya sosok wanita itu, dan di mana dia sekarang, tapi Inayah tak pernah berani menanyakan hal itu pada Beni.


Setelah Inayah membuka laci dan menemukan botol obat itu, Inayah di kejutka dengan jenis obat yang kini ada di tangannya,


Waktu di desa, saat sekolah dulu Inayah sering membantu dokter desa di klinik untuk menambah uang sakunya, jadi dia sedikit banyak tau jenis obat obatan.


Obat yang kini ada di tangannya adalah obat jenis golongan ansiolitik, obat untuk meredakan pasien yang menderita kecemasan, agar bisa membantunya untuk bisa tenang dan tertidur.


Inayah buru buru turun kembali dan memberikan sebutir obat dari dalam botol itu untuk di minumkan pada Beni.

__ADS_1


'Mas, apa yang sebenarnya terjadi pada mu ? Masalah berat apa yang menjadi beban mu, sehingga kamu sampai harus meminum obat seperti ini ?' lirih Inayah dalam batinnya,


Inayah mengusap keringat Beni yang terus saja membasahi wajah dan tubuhnya.


__ADS_2