Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Kamu Tak Sendiri


__ADS_3

Beni memasuki pelataran parkir sebuah hotel berbintang, lalu mengajak Inayah untuk turun bersamanya.


Inayah terdiam sejenak,


"Ke- kenapa ke hotel mas ?" tanya Inayah penuh curiga.


"Kita makan dulu sebentar, kamu belum makan malam, kan ?" ucap Beni.


Inayah mengekor langkah Beni ragu ragu, memasuki hotel berbintang yang gedungnya tinggi menjulang.


Tak ada obrolan di antara mereka berdua selama menuju ke tempat yang menjadi tujuannya, yaitu rooftop hotel yang sudah Beni pesan sejak tadi sore.


Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di sebuah meja yang berhias bunga serba putih, dengan lilin lilin yang menyala di dalam gelas kecil yang berisi cairan berwana warni, hanya ada dua kursi yang di setting berhadap hadapan dengan atap langit yang bertabur bintang malam itu membuat suasana semakin romantis.


"Mas, sepertinya kita salah tempat," bisik Inayah.


"Kenapa ?" tanya Beni mengerutkan kedua alisnya.


"Tempat ini sudah di pesan orang, itu liat, di meja nya udah ada tulisannya, cari tempat lain aja yuk !" ucap Inayah polos sambil menunjuk tulisan reservasi yang terdapat di tengah tengah meja.


"Gak apa apa, kita nanti pergi kalau orang yang mereservasi tempat ini sudah datang," kata Beni datar.


"Ish,, gak boleh gitu mas, malu !" Inayah menengok ke kanan dan ke kiri, celingukan takut kalau orang yang memesan tempat itu ternyata ada di sana, tapi tak terlihat ada orang lain di sana selain mereka berdua dan seorang pegawai hotel yang mendekat ke arah nya.


"Tuh kan, kita mau di usir nih, ayo mas, pergi !" Inayah menggoyang goyang lengan Beni yang menahan tawanya melihat tingkah polos Inayah yang ketakutan.


"Permisi tuan, apa makanannya bisa saya bawa ke sini sekarang dan di hidangkan ?" tanya seorang laki laki yang sepertinya pegawai hotel itu menyapa Beni dengan sopan.

__ADS_1


"Ya, bawa saja ke sini sekarang," ucap Beni.


"Mas !?" Inayah menatap Beni penuh tanya.


"Aku yang memesan tempat ini," kata Beni sambil tersenyum manis membuat hati Inayah tiba tiba mencelos dan berdesir aneh.


"Maksudnya, mas yang memesan dan menyiapkan semua ini ?" tanya Inayah tak percaya.


"Hanya memesan, yang menyiapkan para pegawai hotel, bukan aku !" Beni tertawa jahil.


"Tapi mas, memangnya ada acara apa mas Beni bikin acara kaya gini ? Mas Beni ulang taun ya ? Aduh, mana aku ga tau lagi, kalau tau kan aku beliin kado !" kata Inayah polos.


"Memangnya mau ngasih kado apa kalau aku ulang tahun hari ini ?" goda Beni.


"Apa ya,,, bingung ! Aku mau ngasih do'a saja buat mas Beni, semoga mas di berikan ketenangan batin, dan sabar menghadapi semua ujian hidup !" ucap Inayah serius.


"Hmm, do'a yang bagus, sayangnya hari ini bukan hari ulang tahun ku, tapi bisa kah do'a mu itu aku minta meski hari ini bukan ulang tahun ku ?" pinta Beni memandang wajah Inayah yang terlihat semakin menawan di bawah sinar bulan dan kelap kelip ribuan bintang yang seakan ikut menonton kebersamaan mereka berdua.


"Aku sengaja memesan tempat ini tadi sore, tidak ada acara apa apa, hanya ingin merasakan makan berdua dengan suasana lain seperti ini, dengan mu !" ujar Beni datar.


Deg, hati Inaya tiba tiba merasa seperti meluncur dari atas gedung tinggi itu,


"Kenapa aku ?" gugup Inayah.


"Lalu harus siapa ? Jujur selain ibu ku dan Monik, saat ini aku merasa nyaman dengan mu," ungkap Beni santai.


"Mas, maaf kalau aku lancang, tapi,,, aku penasaran, sebenarnya ada hubungan apa antara Wiliam dengan adik mas yang bernama Monik itu ?" tanya Inayah ragu ragu, kepenasarannya sejak tadi di apartemen yang seakan terus mengganggu pikirannya, membuat dia memberanikan diri bertanya pada Beni.

__ADS_1


Beni menengadahkan wajahnya ke langit, seperti menahan jutaan kesakitan yang menghimpit dadanya, rasa sesak dan kesakitan yang bertahun tahun dia pikul sendirian, seakan tak mampuvlagi dia tahan, mungkin kini saat nya dia berbagi cerita dengan wanita yang ada di hadapannya itu.


Terlebih Inayah tanpa sengaja sudah masuk dan terlibat dalam masalah hidup dan tabir rahasia yang selama ini dia simpan di hatinya, sepertinya tak adil jika Beni hanya menyeret Inayah dalam pusaran masalah nya dengan Beni tanpa wanita itu tahu masalah apa yang terjadi dengan kedua laki laki itu sebenarnya.


Beni menghela napas dengan berat, setelah beberapa saat dia hanya terdiam memandang langit dengan mata yang memerah menahan tangis dan membendung kristal bening agar tak berontak lalu tumpah dari kedua sudut matanya.


"Monik, adik perempuan satu satunya kesayangan ku, harus di renggut paksa dari kehidupan ku, dia pergi secara mengenaskan gara gara bajingan bernama Wiliam subagja,!" dengan suara tercekat dan berat Beni memulai cerita nya.


"Monik sudah ----?" tanya Inayah tak berani melanjutkan pertanyaan nya.


"Ya, Monik adik ku sudah meninggal, dia bunuh diri saat dia mengandung anak dari bajingan itu, karena Wiliam si bajingan itu tak mau bertanggung jawab atas perbuatannya, dia malah menyuruh adik ku menggugurkan kandungannya," Beni menjeda ucapannya, hatinya terasa perih seakan ter iris saat harus mengingat kembali kejadian saat itu.


"Yang membuat lebih menyakitkan adalah alasan bajingan itu menolak bertanggung jawab, dia berkilah kalau apa yang di lakukannya dengan adik ku hanya sekedar pelarian dari kegalauan laki laki itu yang di hianati oleh Tania, Wiliam sialan !!!" Beni mulai membanting piring yang ada di hadapannya, matanya berubah merah dengan kobaran api kemarahan yang tampak nyata seiringvdengan wajahnya yang memerah.


Inayah terlonjak dari kursi tempatnya duduk, dia segera menghampiri Beni yang mulai bercucuran keringat dingin di wajah dan sekujur tubuh nya.


"Mas, sudah,,, sudah tidak usah di lanjutkan lagi cerita mu, aku minta maaf,,, aku minta maaf, aku tak mau mas Beni jadi begini, mas tenang dulu,!" panik Inayah memberanikan diri memeluk tubuh Beni yang gemetaran.


Inayah mengusap punggung Beni, menenangkan laki laki yang kini sedang tersiksa oleh memori pahit masa lalu nya itu.


"Dia, dia,,, bajingan itu juga merenggut nyawa ibu ku,, aku tak akan memaafkan nya, aku akan membalas semua kesakitan yang telah dia berikan pada keluarga ku aku bersumpah !" ucap Beni terbata bata dalam pelukan hangat Inayah, yang berangsur bisa membuat dirinya sedikit tenang meski tanpa harus meminum obatnya.


semenjak kepergian adik dan ibu nya, Beni memang menderita depresi berat, dan akan kambuh jika ingatan tentang kejadian tragis adik dan Ibunya itu melintas di ingatannya, apa lagi kalau dia sengaja di ingatnya, emosi Beni akan semakin tak terkendali seperti sekarang ini, dan jalan satu satunya untuk mengakhiri penderitaannya yaitu mengkonsumsi obat obatan antidepresan.


Sehingga dia menjadi ketergantungan dengan obat obatan itu karena hampir setiap malam setelah dia hidup sebatang kara dia tidak bisa memejamkan matanya dengan tenang.


"Hentikan mas, tidak usah bercerita lagi, aku minta maaf, aku tak akan bertanya apa apa lagi tentang itu pada mu, aku tak mau kamu tersiksa seperti ini !" ucap Inayah sambil terisak,

__ADS_1


Sungguh Inayah tak tega melihat kondisi Beni yang terlihat sangat kesakitan, dia sangat merasa bersalah karena terkesan memaksa Beni untuk menceritakan masalah keluarganya.


"Aku akan menemani mu melalui semuanya, mas. Kamu tak sendiri, aku bersama mu !" ucap Inayah tak melepaskan pelukannya.


__ADS_2