
"Aku mau di bawa kemana ini ? Ini hari sabtu, aku masih ngantuk !" tanya Inayah pada Beni yang memaksanya untuk ikut pergi dengan nya di pagi itu.
"Bukan kau meminta ku untuk mengajari mu agar tidak menjadi bodoh lagi ?" ucap Beni.
"Pengajaran macam apa yang di lakukan pagi buta seperti ini ?" gerutu Inayah.
"Hey, ini jam 9 pagi, matahari sudah tinggi, kau bilang pagi buta ?" protes Beni kesal.
"Ini hari libur, jam segini masih pagi buta kalau di hari libur !" kilah Inayah.
"Kau harus segera menyelesaikan urusan mu satu persatu, bereskan para pecundang yang berbuat jahat pada mu, di mulai dari sahabat mu !" ucap Beni.
"Lilis ?" tanya Inayah.
"Kau punya sahabat yang lain ?" Beni balik bertanya, lalu di jawab dengan gelengan kepala Inayah.
"Apa yang harus aku lakukan padanya,?" tanya Inayah sedikit bersemangat.
"Pergi ke tempat kost nya untuk menebar umpan, berpura pura lah kau ketinggan flashdisk ini," Beni menyodorkan sebuah flashdisk ke arah Inayah lalu wanita itu menerimanya dengan kening berkerut penuh tanya.
"Lakukan saja perintah ku, aku akan membuat dia berlutut dan memohon ampun di hadapan mu atas semua kesalahannya," yakin Beni.
"Tapi, ini apa isinya ?" Inayah mengacungkan benda kecil itu di hadapannya.
"Kau terlalu cerewet, cepat turun dan lakukan !" Beni menghentikan mobilnya agak jauh dari tempat kost tempat tinggal dulu Inayah, untuk melancarkan aksinya.
***
Seminggu kemudian,
"Sudah seminggu berlalu, kenapa tak terjadi gerakan apa pun dari Lilis ?" protes Inayah merasa umpan yang dia tebar sepertinya tidak membuahkan hasil.
"Sabar, kau terlalu terburu buru dan tidak sabaran,!" jawab Beni sambil tetap serius memeriksa dokumen di meja kerjanya pagi itu.
"Apa yang harus aku lakukan selanjutnya ?" tanya Inayah.
"Menunggu,! Kita hanya perlu menunggu pergerakan dari mereka,!" ucap Beni santai.
Sementara di lain tempat, dua orang manusia masih terlelap di bawah selimut yang sama di sebuah ranjang berukuran besar setelah mereka menikmati dosa bersama semalam menuju kenikmatan sesaat yang tak pantas di lakukan oleh dua manusia tanpa ikatan itu.
Drrrt,,,,drrrt,,,
Dering ponsel di atas nakas membangunkan dua sejoli yang masih asik saling menghangatkan diri dengan saling merapatkan tubuh mereka yang tak berbusana itu.
__ADS_1
"Ssssttt !" Wiliam menaruh jari telunjuk di depan mulutnya mengisyaratkan agar wanita yang sedang memeluk tubuh polosnya itu untuk diam, saat dia meraih ponselnya dan melihat nama yang terpampang di layar benda pipih itu.
"Aku sedang di jalan hendak bertemu klien, aku tak bisa menemui mu hari ini, maaf !" bohong Wiliam pada orang di si seberang sana, sepertinya dia sedang menolak ajakan bertemu orang yang menelponnya itu.
"....."
"Aku tak tau, nanti aku coba hubungi Lilis, aku belum bertemu dengannya semenjak terakhir kali bertemu di Teja grup saat aku menemui mu !" pungkas Wiliam lalu menutup dan mengakhiri pembicaraannya.
"Pasti jallanng mu mencari keberadaan ku !" ucap Lilis menggeliat dari balik selimut mempererat pelukannya pada tubuh Wiliam yang selalu membuatnya tergila gila.
"Apa kau tak mengabari nya kalau hari ini kau tak masuk kerja ?" tanya Wiliam menatap tubuh wanita yang semakin menempelkan tubuhnya di badan kekarnya.
"Aku lupa,! Aku juga sedang malas melihat wajahnya, nenek sihir cerewet itu selalu selalu memerintah ku ini itu, menyebalkan !" Lilis mengerucutkan bibirnya.
"Tapi dia bos mu saat ini, tentu saja dia berhak memerintah mu !"
"Liam ! Kamu selalu saja membelanya, apa karena dia pacar masa lalu mu ? Ingat, dia jallanng yang di tiduri banyak pria, kenapa kamu masih mempertahankan nya ?!" kesal Lilis.
"Aku masih membutuhkan nya, saat ini hanya dia yang bisa aku andalkan untuk mengeruk aset Teja dan di pindahkan ke pabrik baru ku !"
"Lalu kamu pikir aku tidak melakukan apa pun untuk mu ? Aku bahkan memberikan kesucian ku untuk mu, dan selalu menjadi pemuas hasrat mu selama ini," kesal Lilis.
"Bukan aku yang minta, tapi kau yang menyerahkannya secara suka rela padaku, ingat, aku juga memberi mu banyak uang setiap kita tidur bersama, itu karena aku tak ingin berhutang apa pun pada mu, kita hanya saling memuaskan !" Wiliam menggeser posisi tidur nya agak menjauh dari Lilis.
"Kalau aku punya sesuatu yang bisa membuat perusahaan baru mu berkembang pesat dengan cara pintas apa kamu mau menendang nenek sihir itu jauh jauh dari hidup mu ?" Lilis mengeluarkan dan menunjukkan sebuah flashdisk di depan wajahnya.
"Apa itu ?" tanya Wiliam penasaran.
"Ini rencana proyek besar perusahaan Beni, berisi tentang draf kerja sama nya dengan perusahaan asing, kau bisa mengambil alih proyek ini, dan memberi penawaran harga yang lebih rendah dari Beni agar mereka lebih tertarik bekerja sama dengan perusahaan mu !" urai Lilis menerangkan rencananya.
Sontak saja Wiliam langsung menarik tangan Lilis dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Kau selalu bisa aku andalkan !" bisik Wiliam sambil mencium leher Lilis yang terduduk membelakangi di pangkuannya, tangannya meremas dua gundukan kenyal dari arah belakang, sehingga membuat Lilis melengguh nikmat dan menyandarkan tubuhnya ke belakang menyambut ciuman panas Wiliam.
Sungguh Wiliam tau cara menaklukan Lilis, wanita yang mengejar dan menggilainya sejak lama, dia bahkan rela memberikan kesuciannya pada Wiliam dengan suka rela, kecintaannya terhadap Wiliam membuatnya seolah hilang akal.
*Flash back
Wiliam mondar mandir di depan sebuah rumah kost,
"Maaf mba, apa di sini masih ada kamar kosong ?" tanya Wiliam pada seoranga gadis yang baru saja keluar dari gerbang kost.
"Oh, ada mas, mari saya antarkaan ke pengurus kost," ucap wanita itu ramah.
__ADS_1
"Nama saya Lilis," wanita bernama Lilis itu menyodorkan tangannya mengajak berkenalan.
"Ah, Liam,!" Wiliam menyambut uluran tangan wanita yang bqru saja di kenalnya namun terlihat sangat tertarik padanya itu.
Wiliam memutuskan untuk keluar rumah setelah dirinya tak di ijinkan ayahnya yaitu Andi subagja untuk mengurus perusahaan milik almarhum ibunya, karena Andi tidak setuju Wiliam berpacaran dengan Tania yang merupakan saudara tirinya atau anak bawaan dari Meli istri barunya.
Sebagai bentuk protesnya, Wiliam lebih memilih pergi meninggalkan rumah berharap ayahnya merubah keputusannya, namun Andi tak bergeming, selama Wiliam belum menikahi wanita selain Tania, dia tak akan menyerahkan Teja grup untuknya.
Seiring berjalannya waktu, kedekatan Lilis dan Wiliam semakin akrab, tak jarang Lilis juga jadi tempat berkeluh kesah Wiliam yang sedang di terpa masalah dengan Tania dan juga Andi ayahnya.
Lilis yang sudah menaruh hati pada Wiliam sejak pertama bertemu, menjadikan hal itu sebagai kesempatan untuk masuk ke kehidupan Wiliam.
Dengan segala bujuk rayu dan tak tik kotornya Lilis berhasil menjerat Wiliam sampai dia berhasil membuat Wiliam menidurinya, tak ada rasa sesal sedikit pun meski dia tau Wiliam melakukan itu tanpa cinta, baginya bisa melakukan sesuatu untuk Wiliam adalah hal terindah, begitulah cinta membuat orang bodoh.
"Kenapa wajah mu begitu sinis setelah membaca pesan di ponsel mu ?" tanya Wiliam pada Lilis yang sepertinya kesal sesaat setelah membaca pesan di ponselnya.
"Aku benci dia !" ketus nya.
"Siapa ?" tanya Wiliam yang masih mendekap tubuh Lilis, mereka baru saja selesai bercinta, bahkan napasnya saja masih tersenggal senggal.
"Inayah, dia teman ku di kampung, dia selalu mendapatkan semua hal dengan mudah sejak dulu, semua laki laki di kampung bahkan tergoda olehnya, aku ingin dia hancur !" geram Lilis yang ternyata diam diam membenci sahabatnya itu semenjak dahulu.
Semenjak itu lah Lilis dan Wiliam sepakat merencanakan untuk menjadikan Inayah istri pura pura Wiliam sebagai alat untuk mendapatkan kepercayaan kembali dari ayahnya dan tentu saja untuk mengambil kembali Teja grup ke tangan nya.
Renacana itu pun tak lsepas dari campur tangan Tania yang bertugas merayu Adit yang ternyata malah kebablasan karena ternyata Tania malah selalu ketagihan di puaskan oleh Adit, akibat tak pernah mendapatkan kepuasan dari Wiliam, entahlah, Wiliam memang tidak pernah menyentuhnya jauh, hanya sebatas berpelukan dan berciuman saja.
*Flash back off*
***
Pintu ruang kerja Beni di ketuk dari luar, setelah di persilahkan, seorang laki laki berpakain rapi masuk danvmemberi hormat pada Beni.
"Umpan sudah di makan para tikus, bos !" lapornya.
Beni tersenyum lebar,
"Persiapkan semuanya, lakukan sesuai rencana !" ucap Beni tertawa puas.
"Apa makasudnya ini ?" tanya Inayah sesaat setelah laki laki yang memberi laporan tadi pergi meninggalkan ruangan.
"Artinya sebentar lagi kita akan melihat kehancuran orang orang yang sudah menghancurkan hidup mu dan juga menghancurkan hidup ku !" jawab Beni
"Pertunjukan akan segera di mulai !" sambungnya.
__ADS_1