
"Tania,,, Tania,,,!" panggil Wiliam saat baru saja sampai di rumah orang tuanya, berteriak teriak di depan pintu kamar Tania yang terkunci dari dalam.
"Apa kau gila,! kenapa kau berteriak teriaak seperti orang sinting !" caci Tania pada kakak tiri yang pernah menjadi belahan hatinya itu sebelum akhirnya harus berakhir dengan hubungan yang tidak baik baik saja di antara mereka yang kini tersisa.
"Kita harus bicara, aku ada perlu dengan mu !" ucap Wiliam sambil menerobos masuk ke kamar Tania dan menutup lalu mengunci pintu kamar itu lagi dari dalam.
"Apa yang akan kau lakukan pada ku ?" kata Tania ketakutan, dia menutupi dadanya dengan kedua taangannya sambil berjalan mundur menjauhi Wiliam.
"Cih, kalau aku mau, aku bisa meniduri mu sedari dulu, bukan saat kau sudah bunting anak orang seperti ini, bahkan dulu kau paksa paksa aku juga aku tak pernah tergoda, apa lagi sekarang !" decih nya dengan tatapan menghina.
"Karna selera kau itu wanita wanita kampung seperti si Lilis dan si Inayah, bukan cewek modis dan kekinian kaya aku !" sindir Tania,
"Kau lupa, bayi dalam kandungan mu hasil dari perbuatan liar mu dengan laki laki kampung ?" kata Wiliam memukul telak Tania yang tak berani lagi bersuara karena merasa apa yang di ucapkan Wiliam itu benar adanya.
"Apa yang kau inginkan dari ku ?" ketus Tania.
"Ayo kita saling menguntungkan dan saling membantu satu sama lain !" ucap Wiliam.
"Aku tak mengerti !" kata Tania masih dengan nada ketusnya.
"Menikahlah dengan ku !" pinta Wiliam.
"Kau gila ! Kau pikir aku mau menikah dengan laki laki berengsek seperti mu ? Aku memang pernah mencintai mu, tapi itu dulu, dulu,,,,, sekali sebelum aku tau kau bermain gila dengan si Lilis wanita kampung sialan itu !" amuk Tania.
"Hey, jangan merasa besar kepala kau, aku mengajak mu menikah karena ini akan memberi keuntungan untuk kita berdua, kalau tidak, aku juga tak sudi menikahi wanita binal seperti mu !" umpat Wiliam.
"Aku sedang menggarap proyek besar, dan aku membutuhkan tambahan modal, ayah bersedia memberiku pinjaman modal asal aku menikahi mu," terang Wiliam.
"Apa maksud mu ? Kenapa aku harus menikah dengan mu ? Bayi ini punya ayah !" tolak Tania.
"Ayah seorang napi, dan tak tau kapan bebas dari penjara, apa kau mau mempertaruhkan harga diri mu dan keluarga ini dengan hamil tanpa suami, huh ? Aku berbaik hati membantu mu, kita saling di untungkan dalam masalah ini !" bujuk Wiliam.
__ADS_1
"Hanya kau yang di untungkan, aku tidak !" elak Tania.
Wiliam seakan kehilangan kesabarannya, Tania tetap bergeming tak mau menerima penawaran dirinya.
"Bayi mu akan punya ayah !" bujuk Wiliam.
"Bayi ku punya ayah, dan tak perlu ayah seperti mu !" tolak Tania.
"Aku memberi mu keuntungan lima persen dari keuntungan !" ucap Wiliam putus asa karena Tania terus terusan menolaknya.
"Sepuluh persen, kalalu tidak mau silahkan cepat keluar dari sini !" Tania menunjuk pintu kamar yang tertutup.
"Oke, deal ! ayo temui ayah sekarang juga !" kata Wiliam kesal.
Tania tersenyum puas, dia merasa senang melihat kakak tirinya itu merasa frustasi dan akhirnya menyetujui permintaannya.
Sebenarnya bagi Tania yang merupakan wanita yang menerapkan gaya kebebasan dalam hidupnya, dan memang menjunjung tinggi gaya hidup yang kebarat baratan dimana mempunyai anak tanpa status pernikahan merupakan hal yang wajar baginya, jadi tanpa dirinya harus menikah dengan Wiliam atau siapa pun dia tidak peduli.
"Kamu benar benar sudah bercerai dengan istrimu ?" tanya Andi sang ayah.
"Sudah ayah, itu sudah lama, kami juga hanya nikah siri, maafkan aku yang menyembunyikan masalah ini dari ayah." ucap Wiliam mencari simpati dari ayahnya itu.
"Lantas kamu yakin untuk menikah dengan Tania ?" tanya ayahnya lagi, bagaimana pun juga, saat ini Tania sedang mengandung anak orang lain, dia tak ingin keputusannya untuk menikahkan mereka menjadi masalah nantinya.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak pikiran buruk, mereka dulu sepasang kekasih yang saling mencintai, tentu saja mereka akan bahagia bila nanti menikah, bukan begitu !" sambar Meli sang ibu tiri yang juga merupakan ibu Tania, dia sungguh tak mau jika nantinya sampai Tania menikah dengan Adit yang mana merupakan ayah dari bayi yang di kandung putrinya itu.
Meli tak bisa membayangkan jika nantinya dia harus mempunyai menantu mantan napi dan orang kampung pula.
***
"Ini rumah mu yang baru ? Kenapa sempit dan jelek begini ?" tanya Tania saat di ajak berkunjung ke rumah kontrakan Wiliam yang baru, karena rumah lamanya sudah dia jual intuk modal proyek besarnya itu.
__ADS_1
"Ini hanya sementara, nanti ketika proyek ku sudah cair, aku akan membeli rumah yang besar dan mewah !" kata Wiliam yakin.
"Kalau kau tak suka dengan rumah ini, pergi jauh sana tak usah datang kemari !" sambar Lilis yang tiba tiba muncul dari balik pintu kamar utama.
"Owh,,, pantas saja, dari tadi aku berpikir keras, kenapa barang barang di rumah ini kampungan dan murahan semua, ternyata oh ternyata,,, ini lah biangkerok tersangka nya, aku paham sekarang !" ejek Tania sambil terus berjalan mengelilingi dan melihat lihat semua ruangan di rumah itu.
"Tutup mulut mu ! Aku nyonya di rumah ini, kau orang luar tak berhak ikut campur tentang urusan rumah kami !" teriak Lilis tak ingin kalah.
Wiliam mendudukan dirinya dirinya di sofa ruang tamu dengan malas, kedua tangannya memijat pelipis kanan dan kiri kepalanya yang terasa pening dengan pertengkaran tak jelas dua wanita yang sama sekali tak penting untuk diri nya itu.
"Apa, nyonya rumah ? Oke, aku sampaikan pada mu, kalau mimpi itu biasanya terjadi saat orang sedang tidur, kalau lagi melek seperti mu sekarang ini, namanya halusinasi ! Asal kau tau saja, aku akan menikah dengan Wiliam, dan kau akan seegera di tendang dari hidup Wiliam !" ucap Tania tersenyum iblis.
"Liam ?! katakan itu tidak benar !" Lilis menghampiri Wiliam yang kepalanya semakin terasa panas dan nyeri.
"Itu benar !" ucap Wiliam.
"Tapi, kenapa jadi begini, rencana kita bukan seperti itu, kenapa kamu tak membicarakan tentang ini sebelumnya pada ku ?" protes Lilis.
"Kau bukan siapa siapa ku, ingat kau hanya teman tidur ku, jadi jangan seolah bersikap sebagai pendamping hidup ku sebenarnya, aku bebas menentukan jalan hidup ku tanpa harus mendiskusikannya dengan mu terlebih dahulu, ini keputusan ku !" teriak Wiliam yang mulai merasa Lilis semakin posesif terhadap dirinya.
"Hahaha,,,! Bagaimana nyonya rumah ? ups,,, salah,, nyonya ranjang, karena kau hanya teman ranjang pemuas hasrat Wiliam saja ! Benar kau lebih tepat di sebut nyonya ranjang dari pada nyonya rumah di sini !" hina Tania tertawa dengan nada mengejek.
"Liam, kita perlu bicara, kamu tak bisa memperlakukan ku seperti ini, aku sudah berkorban banyak untuk mu, ingat rencana kita, Liam !" mohon Lilis mengguncang guncang bahu Wiliam.
"Wil,,, aku tak ingin melihat dia di rumah ini dan dekat dekat dengan mu lagi jika kau ingin menikah dengan ku, tapi jika kau lebih memilih mempertahan kan wanita ini, lebih baik batalkan saja pernikahan kita !" ancam Tania.
Benar benar pilihan yang sulit bagi Wiliam, meski kalau harus memilih di antara mereka berdua, tentu saja tak ada satu pun yang akan Wiliam pilih di antara mereka berdua.
Namun lain cerita dengan keadaan nya sekarang ini, kedua wanita itu mempunyai porsinya sendiri sendiri dalam membantu nya keluar dari semua permasalahan yang terjadi.
Tania merupakan tiket untuk mendapatkan bantuan modal dari ayahnya, dan Lilis yang membantu melancarkan otak liciknya dalam pembalasan dendam pada Beni yang sudah mengambil perusahaannya dan juga mengambil Inayah yang diam diam dia cintai, belum lagi Lilis juga bisa di andalkan untuk membantunya dalam pengerjaan proyek bisnis nya.
__ADS_1
Tentu saja itu membuat kepalanya pusing tujuh keliling, karena dia harus memikirkan bagaimana caranya mempertahankan kedua wanita itu agar tetap menempel pada nya dan turut memuluskan semua rencana yang sudah di susun nya sedemikian rupa.