
"Bos, mas David tidak dapat di temukan !" lapor salah satu anak buah Beni yang di perintahkan untuk mencari adik sepupunya yang menghilang sehari setelah pertemuannya dengan Wiliam.
"Cari sampai ketemu !" perintah Beni,
"Bos, ada berita buruk lagi ! Anu, itu,,,," anak buah Beni ragu ragu untuk mengatakan nya.
"Katakan !" tegas Beni.
"Itu bos, menurut orang di Teja grup, Nyonya belum sampai ke sana sampai sekarang," ucapnya takut takut.
"Apa maksudnya ? Apa tak ada yang mengawal Nyonya ?! Kerja kalian apa sebenarnya ?!" teriak Beni merasa cemas sehingga kepanikan langsung menyelimuti nya.
Semenjak menghilangnya David, Inayah memang sementara mengendalikan Teja grup lagi, Beni berulang kali sudah melarangnya, hanya saja Inayah merasa Teja harus tetap aman dan stabil dan dia akan mengambil alih posisi David sampai pria itu di temukan keberadaannya.
Beni langsung menghubungi beberapa anak buahnya agar mencari sang Istri sampai di ketemukan, ponsel Inayah pun tiba tiba tak dapat di hubungi.
Pikiran Beni kacau seketika, belum seres masalah adik sepupunya yang menghilang begitu saja, kini malah sang istri yang tiba tiba menghilang juga.
"Aah,,, awas saja kalau ternyata kau terlibat dalam masalah ini, Wiliam ! Aku akan membunuh mu dengan tangan ku sendiri jika sampai terjadi apa apa dengan istri ku !" pekik Beni.
Sungguh Beni akan menjadi orang yang paling merasa bersalah jika sampai terjadi pada istri dan adik sepupunya itu.
Dua jam berlalu, dua jam yang terasa seakan dua abad bagi Beni, laki laki itu terperanjat kaget saat ponsel di tangannya berbunyi, di tengah keseriusannya mengamati cctv di rumahnya, dia mencari tahu jam berapa dan kemana arah Inayah pergi, namun sayangnya, tak ada hal yang mencurigakan yang terjadi semenjak Inayah keluar rumah dan menaiki kendaraan jemputannya.
Bahkan sopir yang biasa menjemputnya pun tidak bisa di hubungi sama sekali sampai saat ini.
"Apa kau yakin ?" tanya Beni yang melaporkan kalau dia melihat mobil jemputan yang biasa menjemput Inayah setiap harinya di depan sebuah gudang terbengkalai di perbatasan kota.
__ADS_1
Darahnya seketika mendidih, Beni segera memasuki kamarnya dan membuka laci tersembunyi di balik meja rias yang biasa di gunakan Inayah, dia mengambil sepucuk senjata dan menyembunyikan nya di balik kemeja yang di kenakannya.
Langkah Beni terlihat begitu tergesa gesa menghampiri mobilnya dan melajukan kendaraan roda empatnya itu dengan kecepatan tinggi bak raja jalanan.
Beni tak ingin kecolongan dan dia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri bila sampai Inayah terlukq atau celaka.
Wajah yang tegang dengan rahang yang mengeras di iringi detak jantung yang memburu kencang tak membuat Beni sedikit pun kehilangan fokusnya, Beni mulai mengatur nafasnya yang memburu, dia tak mau penyakit depresinya kambuh di waktu yang tidak tepat seperti ini.
Puluhqn anak buah Beni sudah menunggu di perbatasan kota, mereka memunggu kedatangan Beni yang akan memberi mereka komando secara langsung sekaligus memimpin penggerebegan gudang itu, Beni sengaja tak melibatkan polisi, karena dia ingin menanganinya sendiri terlebih dahulu.
"Kalian semua, ikuti arahan ku, jangan bergerak sendiri, ingat ini menyangkut nyawa istri ku !" titah Beni tegas.
Semua mengangguk tanda mengerti dan setuju dengan apa yang di perintahkan Beni.
Mobil van mewah dengan branding Teja grup di semua sisinya itu memang sangat mudah di kenali, dan tak akan keliru jika kaita mencarinya, sehingga tak salah lagi kalau Inayah pasti berada di bangunan tua itu.
Bukan tanpa alasan Beni memilih masuk lewat jendela samping, karena pintu depan gedung itu di pasangi beberapa gembok besar, sehingga mungkin akan memakan waktu untuk membukanya, sedang kan lewat samping hanya jendela kaca yang sepertinya bisa dia pecahkan dengan mudah.
Prang !!!
Suara pecahan kaca terdengar seperti kaca yang di jatuhkaan dari atas gedung tinggi, untunglah bangunan tua itu berada di tengah hutan yang jauh dari rumah penduduk.
"Ampun, jangan sakiti saya !" teriakan dua orang laki laki yang terikat tangan dan kakinya memenuhi ruangan berlomba dengan suara nyaring pecahan kaca yang di lempar kursi dari arah luar.
Beberapa anak buah Beni menghampiri dua orang laki laki yang ternyata sopir Teja yang biasa menjemput Inayah dan asisten David yang biasa ikut pergi bersama bosnya itu.
Selain mereka berdua yang terikat di gedung itu, tak ada orang lain lagi di sana, hanya ada perabotan rusak berdebu, memenuhi ruangan itu.
__ADS_1
"Di mana Istri dan adik sepupu ku ?" tanya Beni saat semua anak buahnya melaporkan kalau tak di temukan Inayah dan David di gedung itu.
"Ka- kami tidak tau bos, kami tak pernah bertemu nyonya atau tuan David semenjak kami di sekap dan di bawa ke sini !" jawab asisten David.
"Bapak kan, sopir yang tadi pagi menjemput istri saya dari rumah menuju Teja, bagaimana bisa terjadi seperti ini ?" tekan Beni yangvputus asa pada sopir yang ketakutan itu.
"Mobil yang di kemudikan saya di cegat dan berhentikan oleh seseorang di jalan, saya dipepet dan tak bisa melawan, saya langsung di bqwa kemuar dari kemudi dan di bawa ke sini," terang sopir itu.
"Istri ku ? Bagaimana nasib istriku ?" tanya Beni mengguncang bahu sopir yang hanya tertunduk ketakutan.
"Maaf bos, saya tidak tau, dan tidak sempat melihat lagi bagaimana nasib Nyonya saat itu," lirih sang sopir ketakutan.
"Aaah,,,,,!" teriak Beni menendang barang barang yang ada di sana.
"Apa kalian tau siapa atau bagaimana ciri ciri orang yang menculik kalian ?" lanjut Beni.
Namun kedua orang itu serentak menggelengkan kepala,
"Mereka memakai masker dan topi, sehingga sudah untuk di kenali," jawab asisten David.
"Dan kau, bagaimana ceritanya kau dan juga bos mu bisa tertangkap juga ?" cecar Beni.
"Kami di undang untuk bertemu klien di sebuagh rumah makan di daerah dekat perbatasan kota, dan ternyata di tengah jalan yang sepi mobil kami di pepet, lalu sama seperti dia saya juga di sekap dan di turunkan dari mobil oleh orang orang berperawakan tinggi besar memakai masker dan bertopi, saya juga tidak tau bos David bagaimana nasibnya, sampai sekarang saya belum bertemu lagi," beber asisten David menceritakan kronologis kejadian yang terjadi saat itu.
"Siapa yang berani bermain main dengan ku, mereka tak tau kalau mereka sedang mengantarkan nyawa nya sendiri padaku !" geram Beni yang merasa sangat marah karena tak dapat menemukan Inayah, dia makin merasa hawatir dengan keselamatan istrinya itu.
Bayangan bayangan buruk mulai melintas secara bergantian di pikirannya, hatinya tak kuat bila harus kehilangan kembali orang yang dia sayangi.
__ADS_1
"Inayah, di mana kamu, sayang ?!" ratap Beni perih.