Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Sekretaris Baru


__ADS_3

Mulai hari ini Inayah mengerjakan tugas yang di berikan Beni padanya semalam,


"Kau ada hubungan apa dengan bos, tiba tiba di pindah jadi penanggung jawab barang keluar?" tanya Seno sang kepala gudang.


"Saya tidak ada hubungan apa apa, Pak. Saya bahkan tidak tau kenapa saya di pindahkan ke bagian ini." kelit Inayah berbohong.


"Aku masih atasan mu, aku kepala gudang, jadi kamu harus menuruti perintahku dan ikuti aturan main yang ku buat," ucap Seno.


Inayah hanya mengangguk, tak berkomentar atau bertanya apa apa.


Perkiraan Beni benar, Seno ternyata otak dari penggelapan barang yang selama ini terjadi, banyak barang yang keluar tanpa sepengetahuan perusahaan, tentu saja Seno berkomplot dengan karyawan lain yang dapat memuluskan aksinya.


Berkat kerja sama antara Inayah dan Beni sang bos, penggelapan yang di lakukan seno dan beberapa karyawan yang terlibat akhirnya bisa di bongkar, dan mereka semua di serah kan pada polisi untuk di tindak lebih lanjut.


"Seperti janjiku, bila kamu berhasil membantuku membongkar kejahatan Seno, kamu akan naik jabatan," tutur Beni yang sedang berbincang dengan Inayah di ruangannya.


"Kamu aku angkat sebagai kepala gudang menggantikan Seno" lanjut Beni.


"Tapi pak, sepertinya saya tidak pantas dengan jabatan itu, saya masih baru disini, lagi pula, saya hanya lulusan SMU, saya takut tidak bisa mengemban amanah bapak," tolak Inayah.


Beni sedikit terkejut bercampur kagum, ternyata di dunia ini masih ada orang sepolos Inayah, di beri jabatan bagus tapi menolak.


"Baik, kalau begitu kamu sementara ini menggantikan posisi sekretaris ku yang baru di pindah ke luar kota," titah Beni.


"Tidak, tidak pak, itu lebih tidak sanggup lagi saya, jujur saya gaptek, pak. mengoprasikan komputer saja saya tidak bisa," tolak Inayah.


"Nanti akan ada orang yang mengajari mu, kamu belajar sambil jalan saja, setelah di kerjakan, semua pasti tak sesulit yang kamu bayangkan," Beni merasa teprtarik dengan pribadi Inayah yang di nilainya jujur dan polos itu.


Inayah sudah tak bisa menolak lagi, meski berbagai alasan dia kemukakan untuk menolak tawaran bosnya itu, tapi Beni seakan tak menerima penolakan, dan mau tak mau Inayah menyetujuinya.


***


Sebulan berlalu, tak ada perubahan berarti pada hubungan Inayah dan Liam, mereka suami istri, serumah, namun mereka seakan hidup di dunia nya masing masing.


Hari ini hari minggu, hari libur kerja untuk Inayah maupun Liam, mereka biasanya menghabiskan waktu libur mereka sendiri sendiri, kalau Inayah biasanya menghabiskan waktunya untuk tidur dan berdiam di kamar, lain halnya dengan Liam yang memang senang menonton, dia akan seharian di ruang tengah menonton film film favoritnya.


"Nisa !" panggil Liam sambil mengetuk pintu kamar Inayah.


"Ada apa?" tanya Inayah membukakan pintu kamarnya dengan mimik wajah malasnya.


"Besok aku wisuda, apa kamu bisa mendampingi ku?" tanya Liam.


"Baik, aku akan meminta ijin untuk tidak masuk besok" ucap Inayah datar.


"Terimakasih !" ucap Liam.


"Hmm" jawab Inayah dan langsung menutup pintu kamarnya kembali.

__ADS_1


Keesokan harinya, pagi sekali Liam sudah siap menunggu Inayah di teras,


"Kamu cantik !" ucap Liam memandangi penampilan Inayah yang menghampirinya ke teras rumah dengan mengenakan rok hitam selutut dan blouse berwarna maroon juga flat shoes warna hitam, terlihat beda dari biasanya, apalagi Inayah juga sedikit merias wajahnya.


"Terimakasih sudah mau menemani ku," sambung Liam membukakan pintu mobil untuk istri pura puranya itu.


Inayah masuk ke dalam mobil Liam dengan mode diam seperti biasa, kebencian demi kebencian yang Inayah selalu pendam di dalam hati membuat dia memilih untuk tak begitu banyak berinteraksi dengan Liam.


Jujur saja, saat ini Inayah bingung menentukan sikap, dia harus protes atau membiarkan Liam yang statusnya sebagai suami tapi tak pernah memperlakukannya selayaknya istri itu, terkadang dia lelah memendam semuanya, tapi balik lagi, bukan kah Liam bilang kalau pernikahan mereka hanya status saja.


"Kamu marah padaku? Kamu selalu mendiam kan ku," tanya Liam lirih.


"Aku tak punya hal yang harus di bicarakan dengan mu!" ketus Inayah.


"Dulu kita tak seperti ini, dulu kita bisa membicarakan apa saja tanpa segan"


"Ya, dulu... sebelum kamu menjebak ku dan memanfaatkan kelemahan dan kebodohan ku untuk kepentingan mu"


"Nisa, aku tak bermaksud seperti itu, sebenarnya aku---" ucapan Liam mengantung saat kaca mobilnya di ketuk dari luar, saat ini mereka sudah sampai di pelataran gedung tempat acara wisuda.


"Cih, wanita mu sudah menunggu, kenapa kau meminta ku untuk mendampingi mu ?" Inayah melirik ke arah jendela sebelah kanan Liam, terlihat Tania berdiri sambil mengetuk ngetuk kaca jendela mobil Liam dengan tak tau dirinya.


"Aku tidak memintanya untuk datang, demi Tuhan !" Tampik Liam.


Tapi Inayah tak ingin mendengar penjelasan Liam, seperti biasanya, Inayah hanya melengos dan turun dari mobil dengan muka yang di tekuk.


"Hai, wil ! Aku datang untuk mendampingi di acara wisuda mu" sapa Tania dengan senyum mengembang di bibir merah nya.


"Ish, dia sangat memalukan, lihatlah dandanan nya tak sebanding dengan penampilan mu, jadi pendamping wisuda suami, kok dandanannya kayak mau ke warung !" sinis Tania.


"Ya sudah, kau saja yang mendampinginya, kalau kau ingin sekali mendampinginya !" ucap Inayah meninggalkan dua orang itu.


"Nisa, kamu mau kemana, acara sudah mau di mulai" panik Liam.


"Kau pergilah bersama dia, aku mau ke warung !" kesal Inayah tak peduli, dia sungguh tak ingin menyiksa hatinya sendiri, dengan tetap disana bersama mereka.


'Sabar Inayah, kau hanya istri pura pura, tak perlu marah, tak perlu baper, berdoa saja perusahannya Liam cepat kembali normal, agar segera berpisah' Inayah mengusap dadanya yang terasa nyeri.


Perasaan ini terlalu membingungkan, tapi menyakitkan, ingin rasanya Inayah marah pada Tuhan yang telah memberinya jalan sedemikian rumit untuk dirinya.


Karena terlanjur sudah ijin tidak masuk kerja, akhirnya Inayah memutuskan untuk berjalan jalan ke mall sendirian, sekedar melihat lihat barang tampa belanja saja dia sudah senang, yang penting bisa melupakan kekesalannya.


Lelah berjalan jalan berkeliling keluar masuk pertokoan, Inayah mamsuk ke sebuah coffe shop, dia ingin merasakan seperti orang lain, bagaimana rasanya duduk dan menikmati secangkir kopi di sebuah kafe.


"Kamu ijin tak masuk kerja hanya untuk berjalan jalan di Mall dan menikmati kopi ? apa pekerjaan yang ku beri pada mu sangat melelahkan sampai kau harus tak masuk kerja untuk hal seperti ini?" omel Beni yang tiba tiba ada di depan Inayah yang sedang bersantai dengan kopinya.


"Pak Beni,!" kaget Inayah.

__ADS_1


"Saya tadinya ada acara keluarga, tapi tidak jadi, makanya saya memutuskan untuk berjalan jalan" ucap Inayah grogi.


"Boleh aku duduk disini?" tanya Beni menunjuk kursi kosong di sebelah Inayah.


Inayah mengangguk canggung.


"Apa kamu tidak sibuk hari ini?" Beni mendudukan diri nya di kursi sebelah Inayah.


"Tidak, Pak!" geleng Inayah.


"Baiklah, aku minta tolong temani aku membeli kebutuhan dapur, kamu pasti lebih pintar memilih bahan makanan" pinta Beni.


"Kebutuhan dapur ?" beo Inayah.


Selama ini Inayah tak pernah membeli kebutuhan rumahnya sendiri, semua pasti Liam yang mengurusnya, memasak pun dia hanya mengolah apa yang ada di dapur, tak pernah meminta di belikan ini itu.


Beni mendorong troli belanjaan dan Inayah mengekor di belakangnya memilihkan kebutuhan dapur untuk bosnya itu, mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang sedang berbelanja bulanan.


"Setelah ini kamu mau kemana lagi ?" tanya Beni.


"Aku hanya mau berjalan jalan saja sampai sore" ucap Inayah.


"Bagaimana kalau kamu membantu ku mengerjakan proyek kerja sama pengadaan barang untuk perusahaan Teja grup,? karena besok akan ada rapat pertemuan dengan mereka" pinta Beni.


"Teja grup ?" tanya Inayah.


"Iya ada apa ?" heran Beni yang melihat Inayah seperti terkejut mendengar nama Teja grup.


"Ah, tidak Pak." tepis Inayah, dia menutupi ke canggungannya karena setahu dirinya, Teja grup adalah perusahaan garmen milik Andi suteja yaitu ayah dari Liam yang sekarang perusahaannya sedang di pimpin oleh Liam.


"Perusahaan itu punya hutang yang cukup banyak pada perusahaan kita, sekarang pemimpin perusahaan itu sudah di gantikan oleh putranya, dan meminta bertemu denganku untuk peemohonan pengajuan agar kita menyuplay kain pada mereka" urai Beni panjang lebar.


"Kamu tak keberatan kan, kalau kita bicara di rumah ku?" sambung Beni.


"Apa tidak sebaiknya di kantor saja?" ucap Inayah merasa tak enak bila harus berbicara di rumah pribadi bosnya itu


"Aku sedang malas dan bosan dengan suasana kantor, kenapa, kamu takut ?" cicit Beni.


"Oh, bukan seperti itu, hanya sungkan saja"


"Tenanglah, aku tinggal sendiri"


"Istri bapak ?"


"Kalau aku punya istri, untuk apa aku belanja kebutuhan dapur sendiri." jawab Beni datar.


"Maaf, saya tidak bermaksud--"

__ADS_1


"Tidak apa, santai saja"


Inayah membolak balik kertas perjanjian kerjasama itu, dalam hati dia berdoa, semoga Tuhan memberikan kelancaran dalam kerja sama itu dan perusahaan Liam dapat segera membaik, dengan begitu dia bisa cepat terbebas dari pernikahan palsu yang menjeratnya.


__ADS_2