Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Kita Bukan Keluarga


__ADS_3

Perhatian warga desa kini beralih pada kehadiran Beni yang berada di tengah tengah mereka.


Mereka rata rata begitu takjub dan kagum dengan sosok Beni yang terlihat gagah dan berkarisma saat itu.


"Tidak ku ijinkan siapa pun mengacau di acara pernikahan putri ku ! Kau orang asing, aku tak takut dengan mu, lebih baik kau pergi dari sini sebelum anak buah ku memberi mu pelajaran yang tak akan kau lupakan se umur hidup mu !" Haji Juned yang sedari tadi menahan diri di dalam balai desa akhirnya keluar dan memberi ultimatum pada Beni yang menurutnya hanya orang asing yang ingin mengacau di pesta pernikahan putrinya.


"Tenang pak tua, justru aku ingin membuat pernikahan anak anda menjadi lebih berkesan dan tak akan bisa di lupakan seumur hidup kalian !" ucap Beni.


"Apa maksud mu ?!" Haji Juned melotot ke arah Beni, dia tak terima keluarganya di permalukan di acara yang seharusnya menjadi acara paling membahagiakan, bagi seluruh keluarganya dan juga warga desa di sana karena pesta ini lebih ke seperti pesta rakyat yang akan menampilkan berbagai hiburan selama tujuh hari tujuh malam untuk warga dan juga sebagai pembuktian jati diri seorang haji Juned yang merupakan juragan tanah paling kaya dan di segani di hampir seluruh desa sekitar.


"Sabar pak tua, jangan terburu buru, siapkan mental mu, jangan sampai kau melewatkan acara puncak dari pertunjuk kan hari ini," kata Beni, jujur saja Beni agak menaruh sesikit dendam pada pria tua hidung belang itu, karena dia tau kalau aki aki itu mengejar ngejar Inayah dan ingin menjadikan nya istri ke empat atau ke lima, dia tak begitu ingin tau, yang jelas Beni membenci pria tua tak tau malu itu.


Tak berapa lama sirine mobil polisi terdengar memekikkan telinga siapa saja yang ada di sana.


Tiga mobil polisi dengan sirine itu berhenti tepat di halaman balai desa.


"Nah, akhirnya datang juga, pak polisi, tangkap wanita pembuat onar dan pacarnya yang orang kota songong dan tak tau sopan santun itu !" ucap Esih pada beberapa orang anggota polisi yang baru saja turun dari mobil, sambil menunjuk ke arah Inayah dan Beni.


Beni hanya tersenyum melihat kelakuan Esih yang dengan percaya dirinya yang tinggi menyuruh para polisi itu menangkap nya dan Inayah.


"Maaf, saya ke sini untuk menangkap saudara Aditya Permana atas tuduhan penggelapan yang di lakukan di perusahaan tempatnya bekerja, atas laporan dari saudara Beni Wijaya sebagai pemilik perusahaan," seorang petugas polisi menjelaskan maksud kedatangannya sambil menunjukkan surat penangkapan untuk Adit.


"Tidak ! Ini fitnah, ini semua bohong ! Adit katakan pada mereka kalau kamu tidak bersalah !" titah Esih panik.


Adit mulai gusar, dia sangat tau kalau dirinya memang bersalah, namun dia tidak menyangka kalau kecurangannya itu ternyata sudah di ketahui Beni, dan sialnya dia harus di laporkan di saat dirinya sedang melaksanakan pesta pernikahan seperti ini.


Mungkin Adit lebih tak akan menyangka kalau hal itu memang sudah di rencanakan dengan matang oleh Beni, dia memang menunggu waktu yang tepat agar penangkapannya itu dapat memukul telak Adit dan keluarganya yang selalu menindas Inayah selama ini.


"Pak Beni, tolong maafkan saya, saya akan mengganti kerugian di perusahaan bapak, tapi tolong cabut laporan bapak ke polisi, kita bisa menyelesaikan nya secara kekeluargaan !" pinta Adit.

__ADS_1


"Maaf, tapi kita bukan keluarga !" ucap Beni dengan nada tengil nya.


"Pak, saya mohon, saya belum satu jam menikah, kasihanilah saya, istri saya dan keluarga saya, !" Adit melipatkan kedua tangannya di dada seraya memohon pada Beni yang tak termakan bujuk rayu setan bermuka dua seperti Adit.


"Saya akan mengganti semua kerugian yang di sebabkan oleh suami saya pada perusahaan anda, tapi tolong lepaskan suami saya !" ucap Neneng mendekati Beni memohon agar dia membebaskan suaminya dari segala tuduhan.


"Berapa banyak uang yang kau dan ayah mu punya ?" ejek Beni.


"Sebutkan saja berapa kerugian yang menantu saya ambil dari perusahaan anda !" Haji Juned akhirnya angkat bicara, dia sungguh merasa wajahnya di coreng si depan banyak orang,


"Maaf, saya tidak kekurangan uang sampai harus menerima uang ganti rugi dari anda, saya hanya ingin kasus ini di selesaikan melalui prosedur yang benar !" tolak Beni.


"Ini memang sengaja kan ? Semua ini memang rencana kalian kan ? Kalian memang jahat !" tuduh Esih pada Beni dan Inayah.


Namun Beni tetap tak bergeming, polisi tetap membawa Adit yang masih memakai pakaian pengantin itu di giring polisi menuju mobil,


"Tolong ! Lepaskan anak saya, besan saya bahkan mau mengganti semua kerugian, jadi lepaskan anak saya !" teriak Esih menangis histeris saat melihat kedua tangan anaknya di borgol dan di bawa oleh petugas polisi.


Sungguh tak terbayangkan oleh mereka kalau pesta yang seharusnya memberi mereka kebahagiaan dan di elu elukan warga karena pwesta mewahnya, kini justru sebaliknya, di sana hanya tercipta kesedihan, rasa malu dan cibiran dari warga pada keluarga mempelai.


Haji Juned pun memilih untuk kembali masuk ke dalam balai desa, sang juragan yang biasanya begitu percaya diri bila berhadapan dengan semua orang itu, kini seperti yang kehilangan taji nya, dia bahkan tak berani keluar lagi dari dalam balai desa untuk ikut berkerumun dan meminta penjelasan menantu nya itu karena merasa tak punya muka lagi untuk berhadapan dengan warga desa akibat ulah sang menantu baru nya itu.


"Mas, kenapa mesti membawa bawa nama ku di kasus ini, ?" protes Inayah.


"Aku hanya ingin melihat orang orang yang menyakiti mu selama ini memohon pada mu, aku ingin tau bagai mana dan apa sikap yang akan mereka ambil jika nasib laki laki bajingan itu ada di tangan mu !" beber Beni.


"Tapi, kenapa aku ?" tanya Inayah bingung.


"Karena aku juga ingin tau bagaimana cara mu dalam menghadapi musuh saat ku berikan kendali kekuasaan penuh pada mu !" terang Beni yang membuat Inayah terpukau dengan cara Beni mendewasakan nya.

__ADS_1


"Inayah,,,, tolong, bilang pada calon suami mu agar melepaskan suami ku, aku sedang mengandung anak kang Adit, kasihani lah bayi yang tak tau apa apa ini bila harus terpisah dengan ayahnya,!" mohon Neneng mengejar Inayah yang melangkah menjauh dari halaman balai desa itu.


Bak drama di televisi, Neneng bahkan bersimpuh dan memohon pada Inayah, dia tak peduli semua mata menuju pada nya, bahkan dengan lantang secara tidak langsung dia mengakui kalau dirinya sekarang tengah mengandung di hadapan seluruh warga mengesampingkan harga diri keluarganya yang merupakan keluarga terpandang di desa itu.


Esih juga berlari mengejar menantunya yang kini bersimpuh di kaki Inayah agar suaminya tidak di bawa polisi, persis saat Inayah bersimpuh memohon di kaki Adit saat itu ketika dia meminta suaminya untuk tidak menalak dirinya.


"Inayah, apa kau tak punya hati, huh ? Lihat seorang wanita hamil bersimpuh di kaki mu memohon agar suami nya di kembalikan ?" hardik Esih pada Inayah.


"Apa anda tidak merasa dejavu, mantan ibu mertua ? Aku pernah di posisi yang sama saat itu, memohon pada anak mu untuk tak menalak ku, tapi apa yang ku dapat saat itu ?!" Hampir saja Inayah meneteskan airmata nya saat ingatannya kembali ke masa itu.


Namun seorang wanita terburu buru turun dari mobilnya dan berlari ke arah Beni.


Beni pun tersenyum miring penuh kepuasan,


"Pertunjukan sepertinya belum berakhir !" celoteh nya lirih ke arah Inayah.


"Tania ?" cicit Inayah.


"Beni tolong, lepaskan Adit, tolong jangan penjarakan dia, aku hamil anaknya Adit, tolong kita sudah kenal lama, demi pertemanan ku dengan adik mu, demi pertemanan ibu ku dan ibu mu, aku mohon !" Tania menangis tersedu memohon pada Beni.


"Aku berjanji tak akan mengusik hubungan mu dengan dia jika kau mau membebaskan ayah dari anak yang ku kandung ini !" janji Tania sambil menunjuk ke arah Inayah.


Inayah menatap Beni dengan pandangan mata meminta penjelasan pada laki laki di sebelahnya itu.


Dua wanita hamil yang kini memohon dan bersimpuh di depan Beni dan Inayah itu saling bertatapan dengan sinis, meski mereka sedang memohon untuk laki laki yang sama, yaitu ayah dari bayi yang kini mereka kandung.


Karena tak kuat menahan malu, Esih langsung tak sadarkan diri saat mendengar apa yang di ucapkan Tania pada Beni bahwa wanita yang tadi wajahnya ada di vidio layar tancap itu sedang hamil anak Adit, dan itu berarti menguatkan kebenaran yang menjadi pertanyaan semua orang disana bahwa video yang tadi di putar itu benar adanya.


"Mas, kamu ?" tanya Inayah sambil menatap Beni.

__ADS_1


"Aku sudah tau lama kalau Tania sedang mengandung anak Adit, makanya aku mengabarinya saat aku hendak berangkat ke sini, karena aku yakin dia pasti akan menambah seru pertunjukan ini !" cengir Beni.


__ADS_2