Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Kejahatan Klasik


__ADS_3

Kedua orang tua Wiliam yang sengaja di telpon untuk datang ke hotel dengan alasan yang sama yaitu undangan makan malam namun dengan jam yang sedikit berbeda dengan Beni dan Inayah sudah datang dan berjalan menuju ke kamar pengantin anak anaknya yang berada di lantai 5 hotel.


Andi dan Meli sedikit bingung dengan banyaknya rombongan pencari berita yang mengukuti langkah mereka ketika kedua orang tua itu baru saja sampai di lantai 5 tempat kamar tujuan mereka berada.


Ketika Meli membuka kamar yang memang sedikit terbuka itu terlihat Tania yang sedang menangis, dan saat Tania melihat ibunya yang datang, Tania langsung berlari dan menangis sejadi jadinya di pelukan Meli yang kebingungan dengan di saksikan para pewarta yang memang sudah siap dengan kamera mereka yang sudah dalam posisi on.


"Ibu,,,, betapa malang nasib anak mu ini, aku hancur bu, aku tak sanggup lagi untuk melanjutkan hidup ku,,,,!" raung Tania yang sengaja membuka lebar lebar kamar pengantinnya itu agar semua orang bisa melihat keadaan semua sudut di dalam ruangan kamar.


"Ada apa Ini ? Ada masalah apa ?" tanya Meli kebingungan.


Para wartawan yang penasaran dengan kabar sebelumnya yang mengatakan bahwa ada perselingkuhan antara Beni dan calon menantu Andi Suteja sang pengusaha ternama itu, tentu saja celingak celinguk melihat isi kamar yang tak tampak seorang pun berada di sana selain Tania yang sedang Menangis pilu.


"Wiliam bu,,,! Dia sudah menghianati ku, betapa kejam perlakuannya padaku, kalau begini caranya, biar aku sendiri saja yang membesarkan anak dalam kandungan ku ini, Wiliam malah memilih perempuan lain, padahal besok harusnya kami berbahagia di pelaminan !" raung Tania sambil mengusap usap perutnya yang masih rata.


"Apa maksud mu, ada apa sebenarnya !" Andi mulai ikut emosi mendengarnya, milyaran uang sudah dia pinjamkan pada Wiliam, demi terlaksananya pernikahan ini, namun Wiliam tak memenuhi kesepakatan yang di setujui di antara mereka.


Para pewarta yang berkumpul disana saling berbisik dan semangat mengabadikan raungan Tania yang mengatakan kalau dirinya sedang berbadan dua itu akan menjadi berita besar bagi mereka.


"Wiliam selingkuh ayah, aku melihatnya dia membawa seorang perempuan, tepat di sebelah kamar ini, mereka terlihat mesra, aku sudah mendapat kunci cadangan dari pihak hotel, tapi aku tak berani untuk datang kesana dan melihat kenyataan kalau nanti ternyata mereka sedang...." tangis Tania semakin pecah sambil mengacungkan sebuah kartu akses di tangannya sambil menunjuk ke arah pintu kamar tempat Wiliam dan Lilis sedang mendaki puncak gairah.


Tanpa basa basi Andi langsung menyambar kartu itu dan menempelkannya pada pintu kamar yang tadi di tunjuk Tania, para wartawan ikut mengekor langkah Andi ketika dia berhasil membuka pintu dan menerobos masuk ke kamar itu.


"Tuh kan benar ! Kamu jahat,,,! Siapa wanita ini Wil ? Kamu tega berbuat seperti ini padaku, pada anak ini,, apa salah ku Wil ?" teriak Tania histeris saat mendapati Wiliam yang tampak sedang menindih tubuh Lilis dengan keadaan mereka berdua yang polos tanpa sehelai benang pun.


"Apa ini, kenapa kalian menerobos ke sini, ini melanggar privasi, keluar kalian semua !" jerit Lilis sambil menyembunyikan wajahnya di dada Wiliam yang sedang mengukungnya di ranjang, dia tak ingin wajahnya menghiasi semua laman berita dengan judul yang pasti memalukan.


"Matikan kamera kalian,! Kalian semua bisa aku tuntut karena melanggar privasi orang lain !" teriak Wiliam sambil berusaha menutupi tubuhnya dan tubuh Lilis dengan selimut, dia juga sibuk menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya.


***


Sehari sebelumnya,

__ADS_1


Tak biasanya Tania menghubungi Beni, setelah berpikir sejenak, akhirnya Beni memaksakan diri untuk mengangkat telpon dari Tania.


"Aku punya info dan penawaran menarik buat mu, apa kita bisq bertemu ? Aku sedang di depan kantor mu !" ucap Tania dari sebrang telepon.


"hmm, sepertinya aku tak tertarik !" jawab Beni malas.


"Ini tentang rencana Wiliam yang akan menjebak dan mencelakai kita !" ucapnya,


Tania memutuskan untuk menemui Beni setelah dia membuntuti Wiliam ke kontrakan Lilis dan mendengarkan rencana busuk mereka untuk menjebak dirinya dan Beni dengan keji.


"Oke, aku tunggu kamu di ruangan ku,!" kata Beni sedikit penasaran dan ingin tau kebenaran yang di ucapkan Tania, bisa saja itu hanya akal akalan Tania saja, pikirnya.


"Waktu mu lima menit untuk menceritakan nya padaku, aku tak punya banyak waktu !" ketus Beni saat Tania baru masuk ke ruang kerja nya.


"Ish, kau ini,! Padahal aku datang kesini untuk menyelamatkan mu !" cicit Tania sambil menatap Beni penuh kesal.


"Aku tak percaya kau berbuat baik tanpa sesuatu di belakangnya, katakan apa yang kau inginkan dari ku ?" tebak Beni, dia tau benar kalau Tania itu wanita yang tak mungkin berbuat baik secara cuma cuma.


"Waw,,, permintaan yang tak sepele,! Coba aku ingin dengar, apa sebanding dengan info yang akan kau berikan padaku, biar aku bisa mempertimbangkannya !" kata Beni datar.


"Wiliam dan Lilis akan menjebak kita besok malam, dia akan mengundang banyak wartawan, untuk memergoki kita yang sedang berduaan di kamar, dengan harapan reputasi mu hancur, dan dia dapat menekan mu untuk menikahi ku !" terang Tania.


"Hahaha,,,, kecurangan dan kejahatan yang terlalu klasik !" tawa Beni menggema di ruangan itu.


"Tapi, kenapa kau justru membocorkan rencana mereka padaku ? Bukan kah kau sangat ingin menikah dengan ku ?!" ejek Beni.


"Walau aku bukan perempuan baik, tapi aku tak segila itu mempertaruhkan keselamatan bayi yang ada di perut ku ini, aku takut mereka memberi sesuatu yang dapat mencelakai anak ku, dan yang terbersit pertama kali di otak ku adalah meminta bantuan mu !" ucap Tania lirih.


"Oke, kau tunggu kabar dari ku, bersikap sebiasa mungkin dan ikuti saja permainan mereka, untuk yang lainnya serah kan pada ku, aku juga menjamin keselamatan anak mu,! tegas Beni.


Beni memutuskan untuk tak menceritakan masalah penjebakan itu pada Inayah, dia tak ingin wanita yang di cintainya itu merasa hawatir.

__ADS_1


Sampai tiba saat acara makan malam itu, semua seolah berjalan sesuai rencana Wiliam, namun tanpa di sadari oleh laki laki berotak busuk itu, anak buah Beni sudah bertebaran di sekitar hotel itu, ada yang menyamar ikut rombongan wartawan, jadi pengunjung hotel, bahkan sebagai pekerja di hotel dan restoran di hotel itu.


Beni juga mengetahui kalau Lilis mengawasi mereka dari kejauhan, bahkan saat Lilis memasukan obat peranngssang pada minuman miliknya dan milik Tania, semua itu langsung di bereskan oleh salah satu anak buah Beni yang bertugas menyamar menjadi pelayan yang melayani meja mereka saat itu, dan menukar minuman itu dengan minuman milik Wiliam.


"Akting mu keren, meski aku harus bersusah payah menggendong mu sampai sini !" puji Beni pada Tania yang tertawa tawa di kasur saat Wiliam meninggalkan mereka berdua di kamar itu.


"Mungkin aku harus berubah haluan menjadi artis !" canda Tania.


"Oke, ku serah kan acara selanjutnya pada mu, lanjutkan akting mu !" ucap Beni beranjak dari duduknya karena suara bel pintu kamar hotel berbunyi, sepertinya itu Inayah, dan benar saja saat pintu Beni buka, Inayah sedang berdiri di depan pintu.


"Aku tak menemukan ponsel milik Wiliam di bawah !" sesal Inayah.


"Tidak apa, memang ponselnya tidak tertinggal di sana, ayo pulang !" ajak Beni.


"Ku tunggu kabar baiknya besok, dan ku pastikan kabar baik tentang ayah dari anak mu akan segera ku urus juga besok ! Selamat bersenang senang !" ucap Beni berpamitan pada Tania.


"Tapi, bagaimana keadaan Tania, kenapa di tinggal sendirian ?" tanya Inayah.


"Dia bisa menjaga dirinya sendiri, dan satu lagi, aku tak suka caramu tadi menyuruh ku membantu menggendong wanita lain !" kesal Beni karena tadi Inayah seperti tak ada sedikit pun rasa cemburu saat dirinya membantu membopong Tania, bahkan dia terkesan malah menyuruh dirinya bersentuhan dengan wanita lain terlebih wanita itu Tania, yang notabene adalah wanita yang di ketahui pernah dekat dengan dirinya.


"Aku hanya kasihan, dia sedang hamil, takutnya terjadi apa apa dengan Tania !" elak Inayah.


"Gak usah sok baik !" ketus Beni.


"Mas, maaf, aku tak punya maksud lain, aku panik tadi melihat Tania yang sepertinya kesakitan !" dalih Inayah.


"Hmm,,, sayang... Aku pikir kamu sudah semakin pintar, tapi ternyata masih saja gampang di bodohi, kamu masih saja tak bisa membedakan antara kesakitan dan pura pura sakit !" Beni merangkul mesra pinggang ramping itu di sepanjang perjalanan keluar hotel.


"Maksudnya apa mas ? Apa maksud mas itu, Tania berpura pura sakit ?" tanya Inayah.


"sudah lah tidak perlu banyak berpikir, biar aku saja yang berpikir bagaimana cara melindungi kekasih tercintaku yang bodoh ini dari orang orang yang ingin menjahatinya !" ledek Beni seraya mencium pipi Inayah gemas.

__ADS_1


__ADS_2