Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Buronan


__ADS_3

"Nak, kamu tidak apa apa, kan ?" panggil Titin dari balik pintu toilet mengetuk ngetuk pintu karena hawatir terjadi apa apa pada Widya.


"Ya mak, Widya baik baik saja, kok !" jawab Widya sambil memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana.


"Ayo pulang, nak !" ucap Titin setelah Widya keluar dari toilet puskesmas.


"Mak, Widya mau minta ijin akan melaporkan kejadian ini ke polisi, boleh kan, mak ?" tanya Widya.


beberapa hari yang lalu Widya di tugaskan Beni untuk menjaga Titin dengan menyamar sebagai pencari kerja di kebun, karena kebaikan hati Titin, yang mendengar cerita Widya kalau dia seorang yatim piatu yang sedang mencari kerja, akhirnya Widya di ijinkan untuk bekerja di kebun dan tinggal di rumah Titin yang di akui nya sebagai keponakan nya dari luar kota kepada para tetangga.


"Emak tidak bisa memberikan pendapat nak, itu semua hak kamu untuk melaporkan atau tidak, meski hati kecil emak sebenarnya ingin masalah ini di selesaikan secara kekeluargaan saja," kata Titin.


"Mak, apa yang sudah bu Esih lakukan ini termasuk tindakan kriminal, dia harus di beri efek jera agar tak semena mena dalam memperlakukan orang lain, jadi,,, Widya mohon, ijinkan Widya ya !?" ucapnya.


Titin pun menghela napasnya dalam, dan menjawabnya hanya dengan tersenyum simpul.


"Terima kasih mak, saat ini emak keluarga yang Widya punya, jadi mohon dukung Widya, ya!" kata Widya sambil mengelus tangan keriput Titin yang mulai dia sayangi meski baru beberapa hari di kenalnya.


Sesuai dugaan Beni, setelah tau dirinya di laporkan pada pihak yang berwajib, Esih kini menghilang dari desa, dia kabur entah kemana, sebenarnya Beni sudah bisa menebak kemana Esih akan bersembunyi, tapi dia akan membiarkannya terlebih dahulu, setidaknya untuk waktu yang cukup panjang wanita tua itu tak akan merusuh dan mengganggu Titin di desa.


***


"Liam, bagaimana proyek kerja sama kita dengan perusahaan besar di luar negri itu, apa mereka sudah menghubungi mu ?" tanya Lilis sambil bergelayut manja di pangkuan Wiliam yang sedang duduk sambil melamun di kursi kebesarannya.


"Semua berjalan lancar, mereka masih sering menghubungi ku, malah mereka minta dikirim tambahan barang." ucap Wiliam sambil masih terus menatap langit langit ruang kerjanya dengan paandangan nanar.


"Tapi, pembayaran untuk barang yang sebelumnya saja belum masuk, kenapa minta penambahan barang ? Lagi pula mau dari mana kita mendapatkan modal untuk memenuhi permintaan mereka, bahkan rumah mu, kebun dan sawah ku semuanya masih di gadai !" oceh Lilis.


"Kita jual saja itu semua," kata Wiliam datar.


"Maksud mu ?" Lilis membelalakan matanya tak percaya.

__ADS_1


"Kita harus jual dulu itu semua, nanti kalau uangnya sudah cair kamu bisa membeli sawah dan kebun yang lebih luas, dan aku juga bisa membeli lagi rumah yang lebih besar untuk kita," bujuk Wiliam.


"Rumah untuk kita ?" senyuman langsung menghiasi wajah Lilis seketika, begitu dia mendengar kalau Wiliam berniat membeli rumah untuk mereka tinggal.


"Tentu saja, kalau perlu kita beli apartemen juga untuk kita," ucap Wiliam, suara nya sedikit tercekat saat menyinggung tentang masalah apartemen, pikirannya tiba tiba melayang pada sosok Monik, sungguh selama ini dia seakan di hantui rasa bersalah pada wanita cantik yang dia perdayai itu.


"Liam ! Kenapa kamu melamun ?" tegur Lilis.


"Ah, tidak...! Oh iya, apa kamu tau semua teman Inayah di Jakarta ini ?" tanya Wiliam.


"Inayah ? Kamu dari tadi melamun mikirin mantan istri sialan mu itu ?!" kesal Lilis, dia langsung turun dari pangkuan Wiliam.


"Bukan seperti itu, aku hanya ingin bertanya, apa kamu tahu salah satu teman Inayah yang bernama Monik ?" tanya Wiliam dengan nada serius.


"Monik ? Setahu ku dia tak punya teman bernama Monik, ada apa memangnya ?" Lilis balik bertanya.


"Ah, tidak tidak ! Aku mungkin salah," elak Wiliam tak ingin membahas lebih jauh.


"Sudah lah, jangan merajuk seperti itu, kamu tau kan, kalau Inayah sangat membenci ku, tak mungkin ada hubungan lagi antara aku dan sahabat mu itu !" terang Wiliam.


"cih, sahabat ! Gak sudi aku punya sahabat sok kecantikan kaya dia !" decih Lilis dengan wajah sebal nya.


"Sama lah, aku pikir dia juga gak sudi punya sahabat macam kamu !" seloroh Wiliam dengan cuek nya.


"Wiliam !" pekik Lilis kesal sambil melotot ke arah laki laki yang memasang wajah seolah tak berdosa itu.


***


"Inayah, bapak sebenarnya malu menemui mu di sini, tapi bapak memberanikan diri datang ke sini untuk berbicara dengan mu, nak !" ucap Harun sang mantan ayah mertua yang sengaja datang ke kota dan menemui Inayah di kantornya, wajahnya lesu dan sangat memelas.


"Ada apa pak ? Kalau ini untuk urusan tentang kasus kang Adit, jujur saja Inayah tidak bisa banyak membantu, karena semua keputusan ada di tangan mas Beni, kang Adit mencuri pak, melakukan penggelapan, itu bukan masalah sepele," terang Inayah memberi penjelasan pada mantan ayah mertuanya yang selama ini memang satu satunya keluarga Adit yang bersikap baik padanya.

__ADS_1


"Bapak tau, nak. Tapi ini masalah ibu,,,," Harun menjeda ucapannya, suaranya terdengar berat dan bergetar.


"Ada apa dengan ibu ?" tanya Inayah yang tak tau menahu tentang apa yang terjadi pada mantan ibu mertuanya itu.


"Ibu sekarang menjadi buronan polisi," ucap Harun, dia melorot seketika dari sofa tempatnya duduk di hadapan Inayah, Harun bersimpuh, berlutut di hadapan Inayah yang terpaku dalam duduknya, tak menyangka kalau mantan ayah mertuanya itu akan melakukan hal sejauh itu.


"Bapak tau keluarga bapak sungguh sangat jahat pada mu dan ibu mu, bapak meminta maaf atas nama mereka, mungkin ini salah bapak yang tak becus mendidik mereka, sehingga mereka menjadi seperti itu, tapi bapak mohon, maafkan ibu, nak !" ucap Harun, laki laki tua itu bersimbah air mata memohon belas kasihan pada mantan menantu yang dulu di buang oleh keluarganya, dia menyingkirkan harga diri dan rasa malu nya demi mendapat maaf dari Inayah.


"Maaf pak, tapi Inayah tak mengerti apa yang bapak bicarakan, bapak tidak perlu seperti ini, ayo bicara baik baik !" kata Inayah seraya mengangkat tubuh lelaki tua itu untuk kembali duduk di sofa, Inayah juga memberikan Harun segelas air mineral agar mantan ayah mertuanya itu sedikit tenang.


"Bapak merasa tak sanggup menanggung beban se berat ini, anak laki laki bapak harus di penjara karena penggelapan di perusahaan tempatnya bekerja, dia juga meninggalkan dua wanita yang sedang hamil dan kemungkinan kedua anaknya itu tak akan bertemu ayahnya dalam waktu yaang lama, sekarang ibu juga menjadi buronan polisi, ini mungkin karma keluarga bapak atas semua kejahatan kami terhadap mu, nak !" ucap Harun memelas.


Inayah sedikit mengerutkan keningnya, dia sungguh benar benar tidak tahu dengan apa yang terjadi pada mantan ibu mertuanya itu,


"Apa yang terjadi dengan ibu, pak ?" tanya Inayah dengan nada yang setenang mungkin.


"Kamu benar benar tak tau apa yang terjadi ? Ibu menganiyaya sepupu mu yang bernama Widya, di desa, dan sepupu mu melaporkan ibu ke polisi, ibu melarikan diri dan menjadi buronan, bapak dari kemarin mencari cari keberadaan ibu sampai ke sini." beber Harun yang tak menyangka ternyata Inayah benar benar tak tau apa yang terjadi pada Esih.


"Sepupu ? Widya ?" Inayah justru semakin bingung, karena seingat dirinya dia tak punya sepupu yang bernama Widya.


"Iya, kata mak Titin dia keponakannya dari luar kota," terang Harun.


Inayah mengingat ingat siapa saja sepupunya yang tinggal di luar kota, tapi seingatnya hanya ada dua orang sepupunya di kuar kota, dan itu pun keduanya laki laki.


Inayah mulai berpikir ada sesuatu yang aneh dalam kejadian ini, dia tak mau bertindak gegabah lagi, Inayah merasa hal ini ada hubungannya dengan ulah Beni, dan kalau itu benar, dia harus bisa menahan diri, cukup kemarin kemarin dia ceroboh, untuk sekarang dia ingin berhati hati dalam bertindak, karena tindak tanduknya sekarang ini berkaitan dengan kelangsungan pembalasan dendam Beni, mau tidak mau apa yang mereka berdua lakukan akan saling berkaitan nantinya.


"Maaf pak, jujur Inayah merasa ikut prihatin dengan apa yang di alami keluarga bapak, tapi ini semua di luar kuasa Inayah, ini semua hanya mas Beni dan se-sepupu saya yang berhak menentukan memaafkan atau melanjutkan tuntutannya," ucap Inayah agak ragu mengucap kata sepupu, karena memang dia sama sekali tak mengenal siapa yang bernama Widya itu.


Wajah Harun tertunduk lemas, laki laki tua itu seakan putus asa, karena satu satunya orang yang di harapkan bisa membantunya dalam masalah ini justru secara tidak langsung menolak permohonannya untuk membantu keluar dari kemelut masalah keluarga yang sedang di hadapinya saat ini.


"Maaf pak, Inayah yakin bapak kuat menghadapi semua ini, bapak orang baik, semoga ada jalan yang terbaik juga untuk menyelesaikan semua masalah keluarga bapak, Inayah akan selalu mendo'a kan yang terbaik buat bapak !" ucap Inayah tersenyum manis menguatkan hati mantan ayah mertuanya itu.

__ADS_1


Sebenarnya Inayah tak tega melihat Harun yang justru harus menderita dan menjadi korban atas kelakuan bejat istri dan anak anaknya, tapi ini semua memang konsekuensi yang harus di terima oleh Adit dan Esih atas semua perbuatan jahatnya.


__ADS_2