Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Topeng


__ADS_3

Inayah merasa sangat kesal karena cerita Beni seakan berputar putar tak langsung ke intinya.


"Cepat ceritakan pada ku apa yang ingin kamu ceritakan sebenarnya !" kesal Inayah menghentikan makan malamnya, selera makannya tiba tiba hilang begitu saja.


"Berapa lama kau berteman dengan wanita di kost yang kau bilang sahabat mu itu ?" tanya Beni.


"Lilis, maksudnya ? Yaa,,, sejak kami kecil sudah main bersama !" jawab Inayah seadanya.


"Kau pasti tak akan percaya kalau aku bilang teman mu itu punya andil besar atas kedekatan aneh mu dengan Wiliam. Kau pasti tak akan menyangka kalau pertemuan mu dengan Wiliam sudah di rencanakan oleh Wiliam, Tania dan si Lilis sahabat mu itu !" urai Beni.


"Kau tak usah mengarang cerita, Lilis tak mungkin jahat padaku, dia selalu baik padaku, kami berteman sejak kecil !" tepis Inayah tak terima bila sahabatnya di tuduh yang tidak tidak oleh Beni.


"Lama atau sebentarnya waktu berteman itu tidak menjamin ketulusan seseorang ! Aku tak tau motif sebenarnya si Lilis berbuat seperti itu pada mu, sejauh yang aku tau mungkin hanya uang, apa kau tak curiga seorang buruh bisa membeli sawah berhektar hektar di desanya ?" beber Beni.


"Dari mana kau tau Lilis memebeli sawah di kampung ?" Inayah merinding seketika mendapati Beni mengetahui info sampai se detail itu, siapa sebenarnya Beni ini ?


"Dan otak bodoh mu tidak curiga kan, saat Dia tiba tiba datang ke kampung mu dan membujuk mu untuk bertemu Wiliam ?" tekan Beni.


Inayah memutar kembali ingatannya, saat Lilis tiba tiba datang ke rumah nya hanya untuk mengatakan kalau Wiliam saat ini bangkrut dan membujuknya untuk bertemu dan berbicara dengan Wiliam yang saat itu masih berstatus suaminya itu.


"Untung saja aku bergerak cepat, menyuruh salah satu anak buah ku untuk pura pura mengajak si Adit bekerja sama menggelapkan barang di perusahaan ku, aku tau dia pasti akan menekan mu untuk meminta di masukan kerja di perusahaan ku, dan dengan begitu, kamu mau tidak mau harus kembali ke perusahaan ku, lantas dengan mudah kau menyetujui syarat ku untuk menceraikan Wiliam," ucap Beni panjang lebar.


"Aku masih tidak mengerti, kenapa harus aku, apa salah ku,?" Inayah menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Karena kamu bodoh ! Makanya mereka memperalat mu !" ejek Beni.


"Termasuk kau ! Kau juga memperalat ku !" kesal Inayah.


"Aku tidak memperalat mu, tapi kita saling membantu, ingat, tujuan kita sama !" elak Beni.


Inayah hanya memutar bola matanya malas.


"Wiliam adalah manusia gila harta dan kekuasaan, dia akan melakukan apa saja untuk mewujudkan keinginan nya, bahkan mejebakmu untuk menjadi istri pura pura nya hanya demi ayahnya percaya dia sudah tak ada hubungan apa apa dengan saudara tirinya dan menyerahkan kembali Teja grup ke tangannya," beber Beni lagi.


"Lalu apa hubungannya dengan mu ?" pancing Inayah.

__ADS_1


"Kau tak perlu tau masalahku dengan Wiliam, yang perlu kau tau itu kejahatan apa saja yang sudah Wiliam dan antek anteknya lakukan pada mu," tepis Beni.


"Termasuk Adit ? apa Adit salah satu dari mereka ?" tanya Iagi.


"Laki laki idiot itu salah satu alat mereka, setelah Lilis menentukan diri mu sebagai target untuk di jadikan istri Wiliam, dia sengaja di beri pekerjaan dengan posisi bagus di Teja grup, lalu giliran Tania sengaja menggoda dan mendekati laki laki itu agar dia terjerat dalam pesona Tania dan menceraikan mu," lagi lagi Beni mengungkap fakta fakta yang sulit di terima akal sehat Inayah, tapi sungguh semua itu sangat relate dengan apa yang terjadi di hidupnya.


"Sejahat itu kah mereka ? Hanya demi uang ?" gumam Inayah mulai mencerna semua kata kata Beni yang di sampaikan padanya.


"Begitulah ! aku hanya menyampaikan apa yang ku tau, mau percaya atau tidak, terserah !" kata Beni tak peduli.


"Oh iya, jangan usik dan biarkan saja si Adit itu mencuri barang dari perusahaan, aku ingin dia bersenang senang dahulu sebelum dia menangis dan membusuk di penjara !" sambungnya.


"Masih Ada yang ingin ku tanyakan pada mu," ucap Inayah.


"Cepat tanyakan, aku mulai mengantuk !" ujar Beni malas.


"Kenapa kau menyuruh Tania untuk menculik ku ?" tatapan Inayah tajam mengarah langsung ke mata sipit Beni.


"Aku kesal pada Wiliam, dia sudah menerima uang bantuan modal dari ku dan setuju untuk memberikan mu padaku dengan catatan dia meminta waktu satu bulan, tapi di tengah jalan, belum juga satu bulan, Wiliam sepertinya mulai tertarik pada mu dan membatalkan perjanjian sebelumnya, sedangkan sebagian uangnya sudah dia pakai, dengan memanfaatkan kecemburuan Tania yang mulai mencium gelagat ketertarikan Wiliam pada mu, dengan mudahnya dia menuruti perintah ku untuk menculik mu," cengir Beni.


"Ini bukan soal uangnya, tapi aku ingin mengambil apa yang dia punya, apa yang dia cintai, sayangi, semuanya !" oceh Beni.


"Kenapa bisa begitu ?" tanya Inayah lagi.


"Ya bisa lah ! Sudahlah aku ngantuk, mau tidur, sesi tanya jawab sudah selesai, bereskan semua nya !" ucap Beni meninggalkan meja makan sambil mengusap usap perutnya yang sudah kenyang kakrena terisi penuh makanan.


Inayah hanya bisa pasrah, menahan penasaran, masih banyak pertanyaan di kepalanya yang ingin dia tanyakan pada Beni, tapi dia harus lebih bersabar, Beni tak bisa di paksa, lebih baik dia mengikuti alur permainannya saja.


***


"Inayah, antarkan dokumen ini ke Tania di Teja grup !" titah Beni siang itu sambil menyodorkan dua map berwarna merah dan hitam ke meja Inayah.


"Baik, Pak" jawab Inayah patuh, dia tetap bersikap formal dan profesional dalam berhadapan dengan Beni jika di kantor.


Ini kali ke dua Inayah menyambangi Teja grup, jadi dia sudah tau dimana ruang pimpinan berada, karena dulu pernah mendatangi Liam sekali saat mantan suami palsunya itu masih menjadi pimpinan di perusahaan itu.

__ADS_1


Baru sampai depan ruangan Tania, Inayah sudah di kejutkan dengan keberadaan Lilis sang sahabat yang tengah duduk di meja yang terletak di sebelah pintu ruang pimpinan itu,


"Eh, Inayah !" sapa Lilis grogi.


"Hey Lis !" Inayah balik menyapa Lilis yang tiba tiba bersikap serba salah itu.


"Ada yang bisa aku bantu ?" tanya Lilis.


"Kamu,,,?"


"Iya, aku sekarang jadi sekretaris nya bu Tania," jawab Lilis.


"Oh, syukurlah ! Bu Tania nya ada di tempat ?" Inayah mencoba bersikap biasa saja.


"Eh, anu, bu Tania sedang keluar," gelagat Lilis sungguh tak bisa menyembunyikan kalau dia sedang berbohong padanya,


"Oke, aku hanya mau menyampaikan ini pada bos mu," ucap Inayah menyodorkan dua dokumen itu ke meja Lilis.


"Baik nanti aku sampaikan," ucap Lilis.


Baru saja Inayah hendak membalikan badannya dan berpamitan pada sahabatnya itu, pintu ruangan Tania terbuka dari dalam.


Inayah mengarahkan pandangannya ke pintu yang di dorong dari dalam itu, sosok laki laki yang menjadi topik pembicaraannya dengan Beni semalam muncul dari balik pintu ruang kerja Tania.


"Nisa !?" kaget Liam ketika pandangan matanya bertubrukan dengan tatapan tajam mata Inayah yang juga sedang menatapnya.


"Hai, Liam !" sapa Inayah tersenyum miring.


"A- aku ada sedikit urusan dengan Tania mengenai perusahaan, bagaimana pun aku masih punya sedikit saham disini," gugup Liam.


"Oh ! Tapi bukannya bu Tania sedang tidak ada di tempat ?" lirik Inayah pada Lilis yang wajahnya sudah pias karena ketahuan bohong.


"Ah, sudah lah, terserah kalian saja !" ucap Inayah bersikap masa bodoh lalu meninggalkan tempat itu segera, perlahan dia mulai mempercayai apa yang di sampaikan Beni padanya semalam, terlalu nyata untuk di sangakal.


Apa benar apa yang di bilang Beni padanya, kalau dia itu terlalu bodoh, sehingga tak bisa membedakan mana sahabat mana penjilat ?

__ADS_1


Tak ada yang lebih sakit dari rasa di hianati oleh orang yang paling dekat dan di percaya, rasa itu membuat Inayah semakin bertekad untuk membuka topeng orang orang yang seolah baik padanya.


__ADS_2