Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Tujuan Kita Sama


__ADS_3

Karena rasa penasaran dalam hatinya dan keinginan besar untuk mengungkap semua yang terjadi, Inayah memberanikan diri untuk menemui Liam di rumahnya, dia berharap Liam mau berbagi cerita dengannya tentang apa yang terjadi antara dia dan Beni sebenarnya.


Namun saat Inayah hampir sampai di teras rumah yang pernah dia tempatinya itu, langkah Inayah terhenti karena melihat sosok Tania yang juga sepertinya hendak mengunjungi Liam disana, Tania berdiri di depan pintu menunggu si pemilik rumah membukakan pintu untuknya.


Inayah bersembunyi di antara pepohonan rindang yang ada di depan rumah asri itu, lalu memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Terlihat Wiliam membukakan pintu, dengan menengok ke kiri dan ke kanan, seolah memastikan keadaan sekitar aman, Tania memberikan sebuah dokumen pada Liam dan bergegas pergi lagi meninggalkan Liam dengan tersenyum bahagia nya karena menerima dokumen yang entah apa isinya.


Setelah memastikan Tania sudah pergi jauh dari rumah Liam, dan Liam sudah kembali masuk ke dalam rumahnya, Inayah keluar dari persembunyiannya dan berjalan menuju pintu rumah lalu mengetuknya berpura pura tak tau apa yang telah terjadi di sana sebelumnya.


" Oh, Nisa, apa yang membawa mu datang ke sini ?" Liam terlihat seperti terkejut dengan kedatangan mantan istrinya itu.


"Ah, itu aku tadi hanya kebetulan lewat, jadi sekalian mampir," kilah Inayah.


"Apa kamu mulai merindukan ku ?" goda Liam.


"Aku boleh bertanya sesuatu ?" Tanya Inayah.


"Tentu saja, silahkan !"


"Ada masalah apa antara kamu dan Pak Beni ?" tanya dengan nada serius dan to the point.


"Hanya masalah hutang piutang perusahaan, lagi pula sekarang dia sudah mengambil alih Teja grup, meski aku masih punya sedikit saham di sana," jawab Liam dengan wajah yang sedikit masam, karena ternyata kedatangan Inayah hanya untuk menayakan hal yang menurutnya tidak penting sama sekali untuk di bicarakan dengan nya.


"Selain itu ?" tanya Inayah seakan belum menemukan jawaban yang dia inginkan.


"Aku tak meresa punya masalah lain selain masalah perusahaan dengan dia," jawab Liam sedikit mengingat ingat.


"Bukan kah dia sudah memberikan bantuan modal pada Teja grup ? kenapa semua jadi begini ?" sambung Inayah.


"Dia membatalkan perjanjiannya, karena dia meminta syarat yang tak masuk di akal !" tatapan Liam menajam ke arah Inayah.


"Syarat ? Tapi syarat apa?" tanya Inayah penasaran.


"Inayah ! bukan kah ini jam kantor, kenapa kamu keluyuran ke tempat yang tak penting seperti ini ?!" Beni tiba tiba sudah berdiri di belakang Inayah yang duduk di kursi teras rumah berhadap hadapan dengan Liam.

__ADS_1


"Pak Beni,! Tapi bukan kah saya sudah ijin untuk berangkat telat tadi ?" jawab Inayah yang memang sudah meminta ijin bosnya itu untuk berangkat telat ke kantor dengan alasan karena ada sedikit urusan.


"Kebetulan ada dia di sini, tanya kan pada bos mu itu, syarat apa yang dia berikan padaku agar aku bisa menerima bantuan untuk menjalan kan Teja grup kembali waktu itu !" ucap Liam menunjuk kasar Beni yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.


Rani memicingkan matanya pada bosnya itu,


"Bisa Bapak jelaskan, apa yang terjadi sebenarnya ?"


"Dia yang sudah mengingkari ucapannya sendiri !" tampik Beni.


"Aku tak mungkin memberikan istri ku sebagai syarat agar kau mau memberikan bantuan modal pada Teja grup !" ucap Liam, disusul dengan pekikan tertahan Inayah yang menutup mulutnya karena kaget mendengar apa yang di ucapkan Liam barusan.


"Apa maksud semua ini ?" Inayah menatap tajam Beni yang masih terlihat tenang.


"Omong kosong ! Dari awal bajingan ini sudah setuju dengan syarat yang ku berikan, bahkan aku sudah memberikan uang ku padanya, tapi dia meminta waktu satu bulan untuk tetap bersama mu, sayangnya,,, baru tiga minggu, dia ingin membatalkan perjanjian dengan alasan dia ternyata mencintai mu, tapi uang sudah dia gunakan sebagian," urai Beni.


"Lalu karena itu kau menculik ku ? Kalian berdua sama saja, sama sama bajingan ! kalian seenaknya menganggapku sebagai barang yang dapat di perjual belikan !" umpat Inayah yang tak bisa lagi mempertahan kan kesabarannya pada kedua laki laki di hadapannya itu.


"Nisa, aku mencintai mu, untuk itu aku membatalkan perjanjian itu, aku telah benar benar mencintai mu, tapi sekarang apa yang ku dapat,? aku kehilangan Teja grup dan juga kehilangan mu !"


"Jangan bicara tentang cinta, aku muak mendengarnya ! Jelas jelas dari awal kau setuju dengan syarat yang di berikan oleh nya," ketus Inayah melepaskan tangan Liam yang meraih bahu Inayah.


"Tapi aku membatalkannya, aku tersadar kalau aku mencintai mu, dan aku juga sudah mendapatkan hukuman dari perbuatan ku, aku sudah kehilangan Teja grup, dan kini aku tak mau kehilangan mu untuk kedua kalinya !" Rayu Liam.


"Cih, kau pantas mendapatkannya, ini bahkan belum seberapa, kau pantas kehilangan semua yang kau miliki,!" decih Beni.


"Kau memang iblis, apa sebenarnya yang kau inginkan, kenapa kau ingin sekali menghancurkan hidupku, kau ambil perusahaan ku, juga istri ku !" ucap Liam marah.


"Mantan istri ! Dan sebentar lagi semua yang menjadi milik mu akan menjadi milik ku, semua nya ! Ingat itu !" Beni tersenyum miring, meninggalkan Liam dan menyusul Inayah yang terlebih dahulu pergi meninggalkan rumah itu.


"Inayah, masuk !" titah Beni membukakan pintu mobilnya.


"Tidak, aku tak ingin pergi bersama bajingan seperti mu !" tolak Inayah.


"Cepat masuk atau kau akan ku laporkan pada polisi karena bersekongkol dengan mantan suami pertama mu yang kerja di gudang itu dengan tuduhan penggelapan barang !"ancam Beni.

__ADS_1


"Aku tak melakukan hal itu ! Itu fitnah !" elak Inayah tak terima, Inayah sempat curiga ketika Adit minta bekerja di perusahaan milik Beni dan minta di tempatkan di bagian gudang, ternyata benar saja dugaannya, dan ternyata Beni malah mengetahui hal itu tapi diam saja.


"Kau kepala gudang, dan tanda tangan mu ada di setiap barang yang di gelapkan lewat laporan barang keluar," tekan Beni.


Inayah tak berkutik dengan ancaman yang diberikan Beni padanya.


Dengan terpaksa Inayah menuruti perintah bos nya dan itu dan memasuki mobil mewah itu.


"Harusnya kau berterima kasih pada ku, aku menyelamatkan mu dari jeratan laki laki berengsek seperti Wiliam," ucap Beni seolah membanggakan dirinya sendiri.


"Kau sama berengsek nya dengan dia, kau malah meniduri ku saat aku tak berdaya !" umpat Inayah kesal, dia bahkan sudah tak memanggil Pak atau bos lagi pada atasannya itu.


"Kau terlalu percaya diri,! Apa buktinya aku pernah meniduri mu ?" Beni tersenyum mengejek.


"Kau ! Aku sedikit ingat malam itu tapi memang tak sepenuhnya aku bisa mengingatnya," cicit Inayah.


"Biar aku ingatkan, kau merayuku, mencium ku, menggerayangi ku, kau juga membuka baju mu sendiri, lalu..." dengan santai Bima bercerita seolah membacakan dongeng pengantar tidur.


"Stop ! Jangan di lanjutkan !" Inayah menutup kedua telinga nya.


"Kenapa ? Bukannya sudah mau masuk cerita puncaknya ? Kau yakin tak ingin mendengar cerita selanjutnya ?" goda Beni.


"Tidak ! Itu semua karena efek obat Adit sialan !" umpat Inayah.


"Sudah lah, aku akan membantu mu menghancurkan mantan mantan suami mu, yang tak ada ahlak itu !" tawar Beni.


"Kenapa kau mau membantuku ?" tanya Inayah penuh curiga.


"Karena tujuan kita seperti nya sama, menghancurkan Wiliam, sehancur hancurnya !" Beni mencengkram erat kemudi mobil penuh emosi.


Entah apa yang telah Liam lakukan pada Beni,, sehingga kemarahan Beni selalu memuncak bila itu tentang Wiliam.


"Kenapa kau begitu dendam dengan Wiliam ?" tanya Inayah.


"Dia sudah merenggut semua milik ku yang berharga, dan aku harus membalasnya lebih dari rasa sakit ku !" ucap Beni berapi api.

__ADS_1


__ADS_2