Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Akhir Cerita


__ADS_3

"apa yang kau ingin kau bicarakan dengan ku ?" tanya Beni yang siang itu sengaja mengosongkan jadwalnya untuk menemui Wiliam yang menurut Omar terus menerus meminta untuk bertemu dengannya.


"Beni, aku ingin meminta satu hal pada mu !" lirih Wiliam yang duduk di kursi roda di taman di temani Tania yang memang di tugaskan Omar untuk menjaga laki laki yang pernah menjadi bagian di kisah perjalanan hidupnya itu.


"Apa lagi yang kau inginkan dari ku ? Kau sudah merampas semuanya dari ku, merampas adik ku, lalu ibu ku, aku tak punya apa apa lagi, harta ku sekarang hanya istri dan calon anak ku !" ucap Beni.


"Kau akan menjadi ayah ? Selamat ! Aku hanya minta di ijinkan untuk melihat pusara Monik, aku mohon !" pinta Wiliam.


"Untuk apa ? Apa lagi yang ingin kau lakukan pada adik ku ?" sinis Beni.


"Aku hanya ingin menemuinya, meminta maaf padanya, ada banyak hal yang ingin aku sampaikan pada Monik, tolong ijinkan aku, aku hanya ingin berkunjung !" mohon Wiliam.


Karena Wiliam yang terus meminta dan memohon, dengan berbagai pertimbangan akhirnya Beni mengijinkan Wiliam untuk datang mengunjungi makam Monik.


Tibalah saat itu, Beni, Inayah, Wiliam dan Tania mengunjungi makam Monik.


Beni sengaja melibatkan Inayah sang istri karena menurutnya dia harus menunjukkan kalau firinyaa sudah sedikit melunak dengan Wiliam, dan Inayah harus tau itu.


Tak banyak yang mereka bicarakan di sepanjang perjalanan, apa lagi saat itu mereka juga di kawal ketat anak buah Omar karena hawatir Wiliam ataupun Tania melarikan diri.


"Apa kalian tidak keberatan jika aku meminta kalian untuk meninggalkan aku di sini sendirian untuk beberapa saat saja, hanya sepuluh menit, dan nanti aku akan menyusul kalian ke depan !" ucap Wiliam.


Beni mengangguk saat Tania dan Inayah menoleh ke arahnya tanda dirinya memberikan ijin pada Wiliam, begitu pun para pengawal yang di ajak pergi Beni ke depan dan menyisakan Wiliam sendirian memandangi pusara Monik yang kini sudah di pasangi nisan cantik.


"Hai Monik, lama aku mencari, akhirnya aku bisa menemukan rumah baru mu, aku tau aku orang yang paling tak bisa di maafkan oleh mu, aku jahat, aku menyakiti mu, dan sepertinya aku juga tak berhak meminta maaf pada mu, biarlah kamu tak memaafkan ku, karena memang aku tak pantas untuk di maafkan. Aku hanya ingin menyampaikan rasa sesal ku, meski itu mungkin sudah sangat terlambat, tapi aku menyesalinya, jujur,,, aku di hantui rasa bersalah semenjak kamu pergi meninggalkan aku, tak ada sedikit pun ketenangan pada hidup ku." sesal Wiliam dalam tangisnya.


Sementara di depan gerbang menuju pemakaman elit itu, Tania, Inayah dan Beni bercengkerama santai.

__ADS_1


"Kau sedang mengandung ?" tanya Tania yang matanya seketika berkaca kaca karena teringat akan anaknya yang menjadi korban atas kecelakaan yang menimpa dirinya dan Wiliam saat itu.


Iri ? jujur ada sedikit terbersit rasa itu di hati Tania, kata mengapa dan andai saja memenuhi hati dan pikirannya, namun kembali lagi Tania merasa kalau Tuhan salah dalam memberikan takdir hidup pada hambanya, dan itu semua mungkin yang terbaik untuk dirinya.


"Ya," jawab Inayah singkat sambil mengelus perutnya yang masih tampak rata itu dengan sedikit meseman di bibirnya.


"Selamat, aku turut senang dan berbahagia mendengarnya, maaf kalau selama ini aku selalu berbuat jahat padamu, mungkin itu semua bentuk dari rasa iri ku terhadap kebahagiaan dan keberuntungan mu, yang selalu mendapatkan cinta dari semua orang, dari Wiliam, dari Beni, semua mencintai mu dengan tulus," urai Tania membenerkan apa yang dia rasakan selama ini.


Namun berbicara tentang Wiliam, mereka seakan tersadar kalau sudah lebih dari seperempat jam lamanya laki laki itu di tinggal di dalam pemakaman, tapi tak terlihat tanda tanda Wiliam kembali menghampiri mereka.


Beni lantas mengutus dua pengawal untuk menghampiri Wiliam ke dalam, kalau kalau laki laki berkursi roda itu merasa kesulitan dalam perjalanan nya menuju ke gerbang pemakaman.


Lima menit kemudian, seorang pengawal yang di utus Beni untuk masuk itu berlari menghampiri Beni yang menunggu mereka di pelataran parkir.


"Maaf Tuan, ada kejadian di luar dugaan," ucap pria berbadan tegap itu tergagap, kepalanya terus terusan menoleh ke arah pemakaman.


"Apa yang terjadi ?" tanya Beni, wajahnya berubah serius.


Saat sampai di tujuan, Beni segera mendekap Inayah dan menyembunyikan wajah istrinya itu di dalam dekapannya, dia sengaja mengalihkan pemandangan yang baru saja membuat wanita yang sedang hamil muda itu syok.


Wiliam terduduk lemas merosot dari kursi rodanya, tepat di samping pusara Monik dengan pergelangan tangan yang bersimbah darah, sepertinya dia mencoba bunuh diri dengan memutus nadi di pergelangan tangannya degan cara mengirisnya, entah dari mana dia mendapatkan pisau yang masih dia genggam di tangan kanannya itu.


"Periksa keadaannya, dan cepat bawa ke rumah sakit !" titah Beni pada dua pengawal itu.


"Maaf tuan, nadinya sudah tak berdenyut, sepertinya sudah lewat !" ungkap salah satu pengawal yang memeriksa keadaan Wiliam saat itu.


"Bereskan tempat ini dan bawa kembali mayatnya ke markas !" titah Beni lagi.

__ADS_1


"Kamu baik baik saja, sayang ?" tanya Beni pada Inayah yang masih menenggelamkan diri di dada sang suami karena tak ingin menyaksikan apa yang sedang terjadi di hadapannya itu.


"Aku ingin pulang !" rengek Inayah pelan.


Beni pun menggiring Istrinya untuk kembali ke parkiran dan pulang, sementara Tania ikut bersama para pengawal membawa jenazah Wiliam untuk kembali ke markas.


Keesokan harinya, saat keadaan Inayah sudah tenang, Beni mengajaknya untuk menghadiri pemakaman Wiliam, bagaimana pun laki laki yang sangat di benci nya itu sudah tiada dan Beni tetap menguburkan Wiliam secara layak.


"Wiliam, aku tak tau balasan apa yang akan kau hadapi dan dapatkan karena buah dari perbuatan jahat mu selama kau hidup, aku juga tak ingin berkata kalau aku telah memaafkan mu, karena itu sangat sulit buat ku, meski Tuhan telah menakfirkan kau untuk mengakhiri hidup mu di dunia ini, sama seperti yang adik ku alami saat itu, aku tak tau apakah aku harus bahagia karena kau mendapatkan karma mu tepat di depan kedua mata ku, atau aku harus menyesal karena merasa kau belum menerima banyak kesakitan dan pembalasan di dunia ini, kau pengecut ! Kau memilih untuk melarikan diri dari hukuman dunia, tapi aku akan mencoba menerima kenyataan dan ketentuan yang sudahdi gariskan Tuhan, aku yakin ini yang terbaik untuk kita semua, untuk mu, dan juga untuk ku yang sudah tak ingin lagi menggenggam dendam di hati ini, semoga jalan mu menuju pembalasan Tuhan di lancarkan !" ucap Beni panjang lebar.


Bei seakan sedang melepas semua beban yang sekian tahun lamanya mengarat di hatinya, tapi kini rasanya hati Beni sudah terasa lebih ringan seiring dengan kepergian Wiliam menghadap sang kuasa dengan caranya.


Kini Beni hanya akan fokus menjaga dan membahagiakan keluarga kecilnya, istri dan calon anaknya.


"Kamu benar sayang, cara Tuhan memang terkadang di luar ekspektasi kita, tapi percayalah,, Tuhan sudah merancang semuanya yang terbaik untuk kita semua, lepaskan semua beban dan dendam di hati mu, hidup lah dengan hati yang lapang," ucap Inayah mengusap punggung suaminya yang berdiri di sebelahnya.


"Terimakasih sayang, semoga ini benar benar akhir kisah dari sisi kelam hidup ku, terimakasih sudah menemani ku melewati semuanya, terimakasih selalu setia mendapingi ku, dan terimakasih sudah memberiku pelita hidup yang benerapa bulan lagi akan hadir ke dunia menjadi penerang kehidupan kita," Beni mengelus perut Inayah lembut, dan mencium kening istrinya itu dalam.


***


Terima kasih juga buat semuanya yang bersedia dan sudi membaca cerita receh terpanjang othor, semoga kakak kakak semuanya di beri kesehatan dan rejeki berlimpah.


mampir ke cerita baru othor yuk,,,


Tengokin bang duda nya othor yang hot...


__ADS_1


Sekali lagi, terimaksih semuanya atas dukungannya....lope lope yang banyak buat kakak semuanya....!!!


Di tunggu di rumah bang duda ya....!


__ADS_2