
"Permisi !" ucap seseorang dari luar, mengetuk ngetuk pintu rumah Inayah.
"Anda mencari siapa ?" tanya Titin saat membukakan pintu, terlihat seorang pemuda asing yang dia yakin bukan warga desanya ataupun warga desa sebelah.
"Saya mencari Inayah," ucap laki laki itu sopan.
"Anda siapa ?" tanya Titin lagi.
"Saya, Beni teman kerja Inayah di Jakarta" ucap laki laki itu yang ternyata Beni memperkenalkan diri.
Titin termenung sebentar, dia teringat tentang apa yang di katakan Esih tempo hari, bahwa Inayah menjalin hubungan dengan bos nya yang bernama Beni.
"Silahkan masuk, Nak Beni !" ucap Titin mempersilahkan bos anaknya itu.
Pagi itu memang Titin sedang tidak enak badan jadi dia di rumah, sedangkan Inayah pergi ke kebun menggantikan pekerjaannya memanen jagung di ladang orang.
Beni memutar pandangannya ke seluruh ruangan rumah sederhana itu.
"Maaf bila rumah saya sangat kecil dan membuat anda tidak nyaman," ucap Titin memperhatikan sikap Beni.
"Ah, tidak ! cukup nyaman, kok !" ujar Beni merasa malu karena dirinya ternyata sedang di perhatikan oleh wanita tua itu.
"Perkenalkan, saya ibunya Inayah, kalau boleh saya tau, ada urusan apa nak Beni mencari putri saya ?" tanya Titin dengan wajah yang serius.
"Sudah seminggu ini Inayah tidak masuk kerja, apa Inayah baik baik saja ?" ucap Beni menayakan kabar Inayah yang seperti hilang di telan bumi, namun setelah mencari tau alamat Inayah yang berada di desa dari berkas cv Inayah, Beni memberanikan diri menyusul Inayah ke rumahnya di desa.
"Apa nak Beni selalu mendatangi semua anak buah nak Beni di kantor bila mereka tak masuk kerja, meskipun rumah mereka sejauh ini ?" nada bicara Titin memang bisa saja, malah terkesan tanpa ekspresi, namun mampu membuat Beni yang seorang pemimpin perusahaan besar itu gelagapan menjawab pertanyaan wanita tua itu dan sikapnya pun menjadi terlihat sedikit serba salah.
"Emh, anu, itu karena Inayah sekretaris saya, jadi saya---"
"Apa dengan sekretaris sebelumnya nak Beni juga memperlakukan hal yang sama seperti ini ?" kejar Titin dengan pertanyaannya.
"emh, saya---" Beni makin salah tingkah dan terbata bata dalam menjawab pertanyaan Titin yang di lontarkan padanya.
"Pak Beni !" ucap Inayah kaget saat masuk ke dalam rumah ternyata ada bosnya yang wajah nya tegang karena di interograsi oleh ibunya.
"Ah, Inayah, untunglah !" lirihnya dia seperti merasa terselamatkan dengan datangnya Inayah saat ini, karena dirinya benar benar tidak bisa menjawab pertanyaan Titin.
"Ada apa ? Sepertinya bapak senang sekali melihat kedatangan saya,?!" heran Inayah karena wajah pucat Beni tiba tiba seperti kembali di aliri darah setelah melihat dirinya.
__ADS_1
"Apa saya bisa meminjam putri ibu untuk berbicara sebentar ?" ijin Beni pada Titin.
"Silahkan berbicara di sini, saya hanya akan mendengarkan tidak akan mengganggu !" Titin bergeming, dia tak ingin ada gosip tak baik bila sampai ada warga tau Beni yang merupakan bos dari anaknya itu datang ke rumah, terlebih setelah Esih menyebar fitnah tempo hari.
"Mak, percaya sama Inayah, kami hanya akan sekedar mengobrol, lagi pula kami hanya membicarakan masalah pekerjaan," ucap Inayah meyakinkan Titin.
Inayah membawa Beni ke teras depan rumahnya, dia takut dan tak ingin kalau sampai ibunya mendengar hal hal tentang Liam atau tentang hubungannya dengan Beni.
"Ada apa bapak datang kesini ?" tanya Inayah pada bos nya itu.
"Aku mendengar kabar kalau kamu mengalami penculikan, apa kamu baik baik saja ?" mata Beni memandangi tubuh wanita yang diam diam dia cintai itu dari atas sampai bawah.
"Seperti yang bapak lihat saya baik baik saja, terimakasih atas perhatian bapak," ucap inayah datar.
"Kamu tak masuk kerja selama seminggu, aku hawatir," cicit Beni.
"Saya sudah menitipkan surat pengunduran diri saya pada bagian HRD seminggu yang lalu," jelas Inayah.
"Tapi aku tak memberi mu ijin untuk berhenti kerja," ucap Beni.
"Maaf pak, saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan saya di perusahaan bapak, saya sudah memutuskan untuk tinggal di desa saja" urai Inayah.
"Maaf pak, jangan seperti ini, kita tidak boleh seperti ini, tolong hargai saya, saya sudah menikah !" tegas Inayah menepis tangan Beni.
"Baik lah, pastikan suatu hari nanti kamu tidak akan memohon padaku untuk bekerja lagi di perusahaan !" Beni tersenyum penuh misteri.
"Semoga tidak akan pernah, saya tidak ingin kembali ke kota," ucap Inayah penuh keyakinan.
"Ingatlah, pintu perusahaan ku akan selalu terbuka untuk mu" pungkas Beni mengakhiri pembicaraannya.
Merasa mendapat penolakan dari Inayah, Beni pun akhirnya menyerah dan pergi meninggalkan Inayah yang tak bisa dia bujuk untuk kembali bekerja dengannya.
***
Sebulan berlalu, Inayah mulai betah dan terbiasa kembali mengerjakan pekerjaan serabutan sebagai buruh sawah dan kebun di desa nya.
"Inayah....!" panggil Lilis mendekati Inayah yang sedang menjemur pakaian di samping rumahnya pagi itu.
"Eh, kapan datang ?"seru Inayah menyambut kedatangan sahabat nya itu.
__ADS_1
"Semalem baru nyampe sini, makanya pagi pagi aku langsung kesini karena kata ibu ku kamu sekarang tinggal di desa lagi, kenapa? Ada apa?" tanya Lilis.
"Tidak ada apa apa, hanya ingin menemani emak saja," jawab Inayah seraya menyimpan ember bekas wadah pakaian basahnya tadi.
"Apa gara gara Liam sudah bangkrut, makanya kamu tinggalkan dia ?" tanya Lilis ragu.
"Apa ? Bangkrut ?" Inayah membelalakan matanya, dia sungguh kaget mendengar kabar dari sahabatnya itu.
"Iya, apa kamu tidak tau ? Aku mendengar dari gosip gosip para karyawan sana yang juga ngekost di tempat kita dulu, aku pikir kamu tau," urai Lilis.
"Bukannya pak Beni bos mu bersedia membantu dan menyuntikan dana ke teja grup ?" gumam Inayah.
"Kalau masalah itu aku gak tau, aku cuma buruh biasa, harusnya kamu yang lebih tau karena pernah menjadi sekretaris bos" ucap Lilis.
"Lalu bagaimana nasib Liam ?" cicit Inayah matanya menerawang jauh, dia memikirkan nasib Liam yang sampai saat ini masih berstatus sebagai suaminya itu.
"Yang aku tau Liam kini bekerja di sebuah garmen kecil di pinggiran kota Jakarta, dan Teja grup akan di ambil alih oleh perusahaan Pak Beni, karena Liam tidak bisa membayar utang perusahaannya," terang Lilis memberi informasi.
Betapa perih hati Inayah mendengarnya, dia merasa seperti istri yang benar benar tak tau diri, saat suami kesusahan dia malah meninggalkannya.
"Oh iya, sekretaris pak Beni yang baru yang mengganti kan mu itu katanya adik nya Liam, tapi sifat nya sangat jauh dari Liam, kalau Liam itu ramah dan baik, tapi adiknya malah sebaliknya, dia sombong dan sangat galak pada buruh," adu Lilis dengan wajah kesalnya.
"Tania, jadi sekretaris pak Beni ?" beo Inayah.
'Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku merasa ada sesuatu yang ganjil dengan semua ini ?" batin Inayah.
"Iya, menurut gosip yang beredar, mereka juga sepertinya berpacaran, beberapa karyawan pernah memergoki mereka sedang bermesraan di ruang kerjanya," gosip Lilis.
Inayah semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi setelah selama sebulan dia kembali ke desa, ternyata banyak hal tak terduga terjadi, Inayah sangat ingin menemui Liam dan melihat keadaannya sekarang, mendampingi nya di saat saat sulit, tapi dia takut kalau ternyata Liam sudah melihat foto dirinya dengan Beni dan Liam balik membencinya.
Secara selama satu bulan ini dia pergi, Liam tak pernah berusaha mencarinya, jadi mungkin Liam sudah tak ingin lagi bertemu dengannya.
"Inayah, kamu masih menjadi istrinya Liam kan ?" bisik Lilis, tak ingin Titin mendengar obrolannya, dia tau kalau Titin tidak mengetahui tentang pernikahan putrinya itu.
"Hmm" Inayah mengangguk pelan.
"Temui dia, apa pun masalah yang terjadi di antara kalian, sudah seharusnya di selesaikan bersama, bukan lari dan menghindar seperti ini, apapun keputusan kalian akhirnya nanti, sebaiknya kalian bertemu dan bicarakan baik baik," saran Lilis.
Inayah hanya terdiam tak berani menjawab apapun, memang benar apa yang di katakan sahabat nya itu, tapi apakah dirinya masih mempunyai muka dan nyali untuk bertemu Liam setelah apa yang terjadi ?
__ADS_1