Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Firasat


__ADS_3

Keadaan rumah kontrakan Wiliam kini tampak porak poranda akibat amukan Lilis yang tak bisa menemukan surat surat berharga di rumah itu, Lilis ingin membalas perlakuan pria gila itu yang sudah menjual aset asetnya tanpa persetujuan dari dirinya.


Wanita yang kini sedang di selimuti amarah itu berniat membalas Wiliam dengan mengambil surat surat berharga milik Wiliam, untuk di jualnya, karena laki laki yang selama ini dia cintai dan perjuangkan itu sudah sangat membuatnya marah dan kecewa setelah apa yang dia beri dan lakukan untuk laki laki itu.


"Apa yang terjadi ?" tanya Wiliam yang baru saja pulang dari kantornya malam itu merasa terkejut karena keadaan rumahnya yang sudah seperti kapal pecah itu.


"Kau menjual kebun dan sawah ku di kampung ?!" tunjuk Lilis penuh marah.


"Sejak kapan kau mempermasalahkan hal sepele seperti itu ?" ucap Wiliam datar.


"Sepele kata mu ?!" teriak Lilis tak percaya kalau Wiliam hanya menganggap hal itu sebagai hal yang tak berarti sama sekali.


"Bukan kah kau dulu yang bilang, 'pake aja gak apa apa !' -- Wiliam menirukan ucapan Lilis saat itu, giliran aku pake beneran, kok ngamuk ?! lagi pula, nanti juga aku ganti !" ketus Wiliam merasa kalau Lilis terlalu berlebihan dalam menyikapi hal yang menurutnya tak perlu di besar besarkan itu.


"Tapi setidaknya bicarakan dulu, lah dengan ku sebelum kau menjualnya," protes Lilis tak terima.


"Kau memang selalu menyepelekan kehadiran ku, kau juga seenaknya menjual kebun ku pada suaminya si Inayah !" saambung Lilis bersungut sungut.


"Beni ?! Aku tak menjualnya pada dia !" elak Beni yang memang tak merasa menjual kebun dan sawah milik lilis itu pada Beni, karena seingatnya dia menggadai dan menjual aset milik Lilis itu pada orang lain dan dia sangat ingat itu bukan Beni.


"Iya, mereka menjadikan aku tamu di kebun kebun ku sendiri, aku tak mau tau, kau harus menggantinya !" rajuk Lilis.


"Iya aku akan ganti nanti, tapi sebelumnya aku punya tugas untuk mu," ucap Wiliam mendekati Lilis, laki laki itu mulai merayu partner ranjangnya.

__ADS_1


"Apa mau mu !?" lirih Lilis yang mulai terlena dengan sentuhan sentuhan kecil yang di berikan Wiliam padanya, matanya bahkan terpejam saat Wiliam menciumi telinga dan leher bagian belakangnya, tangan Wiliam pun merayap ke bagian dada, Lilis yang di peluk dan di serang dari belakang oleh Wiliam itu pun tak bisa menolak percikan gairah yang mulai terpancing.


"Rayu kekasih mu, si pemilik baru Teja grup itu untuk bekerja sama dengan perusahaan kita !" bisik Wiliam tepat di telinga Lilis sambil sesekali menjilatnya.


"Ke- kekasih apa maksud mu ? Si- siapa yang kamu maksud ?" kaget Lilis, berusaha menjauh kan diri dari dekapan Wiliam.


Namun Wiliam mempererat pelukannya,


"Sudah lah, jangan ber akting seolah olah kau wanita setia di hadapan ku, aku tau kau sedang dekat dengan laki laki itu, dan aku tak peduli ! Aku hanya ingin kau merayunya sampai berhasil, maka kau akan ku nikahi secara resmi !" Wiliam melancarkan jurus bujuk rayu nya.


Lilis berpikir sejenak, menjadi istri dari Wiliam adalah impiannya, namun mengapa seolah tak ada cemburu di hati Wiliam meski tau dirinya berhubungan dengan David.


Ada sedikit kecurigaan dan ketakutandi hati Lilis, setelah apa yang dilakukan pria itu padanya, bukaan tidak mungkin kalau laki laki itu hanya akan mencuranginya dan membohonginya lagi.


Lilis sudah mulai merasa kalau dirinya hanya di manfaatkan saja oleh Wiliam, namun cinta di hatinya untuk laki laki itu membuatnya buta mata dan buta hati, sehingga berkali dirinya di curangi dan berkali juga dia memaafkaan seolah tak terjadi apa apa.


Jari Jemari lincah Wiliam menari indah di antara pangkal paha Lilis, membuat wanita yang berada di dekapannya itu menggelinjang, pinggulnya ikut meliuk liuk seiring tempo gerakan jari Wiliam yang bertambah cepat, namun di tengah liukan tubuh Lilis yang semakin menggila karena permainan yang di ciptakan laki laki itu, Wiliam justru tiba tiba menghentikan semua aksinya membuat Lilis memberengut kesal.


"Liam !?" protes Lilis, tatapannya penuh permohonan agar Wiliam mau menuntaskan permainannya.


"Apa ?" ucap Wiliam datar pura pura tak mengerti.


"Ayolah, jangan menyiksa ku seperti ini !" Lilis membalikan tubuh nya dan gantian mencumbu tubuh kekar Wiliam, mencoba memancing balik gairah pria yang sudah membuatnya berhenti di tengah ke enakan nya.

__ADS_1


"Katakan kau bersedia merayu pacar mu untuk bekerja sama, dan aku akan memberikan apa yang kau butuhkan sekarang !" Wiliam semakin menggoda dan menyiksa gairah Lilis dengan cubitan nakal ibu jari dan telunjuknya yang sengaja membuat gerakan memutar di choco chip Lilis yang sudah mengeras dan menantang dari balik blouse tipisnya.


"Ah,,, iya,,, iya,,, aku bersedia, aku akan merayunya, ayolah jangan menyiksa ku lagi !" pertahanan Lilis runtuh seketika, dia tak kuat menahan serangan Wiliam yang sangat tahu titik kelemahan nya.


"Baik, memohonlah pada ku,,, katakan apa yang kau inginkan saat ini ?!" goda Wiliam dengan suara serak nya.


"Liam,,, jangan mempermainkan ku seperti ini, ayolah,,, aku menginginkan mu !" mohon Lilis mulai membuka ikat pinggang yang di kenakan Wiliam saat itu, sementara Wiliam hanya tersenyum miring, lagi lagi dirinya menang, dan dengan mudah bisa mengendalikan Lilis sesuai keinginannya.


***


Seminggu kemudian, iseng iseng Wiliam berjalan jalan ke daerah rumah orang tuanya yang sudah di jual Meli sang ibu tiri, dia sangat rindu pada orang tuanya, sehingga mungkin hanya dengan melihat rumah penuh kenangan itu meski hanya dari kejauhan akan sedikit mengobati rindu nya.


Betapa terkejutnya Wiliam saat melihat rumah masa kecilnya kini sudah tidak ada namun sudah berganti bangunan baru yang dalam proses pembangunan tahap akhir.


Wiliam mendekati bangunan baru itu, dan semakin terkejut Wiliam di buatnya saat melihat Beni sedang serius mengarahkan para pekerja untuk melakukan pekerjaan sesuai perintahnya.


Wiliam memasuki lagi mobilnya dengan segera sebelum Beni menyadari kehadirannya, dia mengamati Beni dari kejauhan sambil beberapa kali mengilas balik tentang apa yang telah terjadi selama ini.


Wiliam merasa ada yang janggal dengan apa yang di lakukan Beni selama ini, di mulai dari mendekati Tania hanya untuk membeli saham Teja yang kemudian berhasil mengambil alih perusahaan kebanggaan keluarganya itu, lalu masuk ke hubungannya dengan Inayah dan merebutnya lalu menikahinya, sekarang Beni juga terlihat di area rumah lama nya, Wiliam tergerak untuk mencari tahu apa hubungan Beni dengan rumah orang tuanya.


Wiliam juga semakin mengkait kaitkan antara satu peristiwa ke peristiwa lainnya, kesialan dan kegagalan dirinya yang sebagian besar ada Beni ikut andil di dalamnya,


"Sial, kenapa aku baru menyadarinya, kenapa dia sepertinya begitu menargetkan ku ? Rasa rasanya aku tak pernah punya masalah dengannya sebelumnya !" gumam Wiliam bertanya tanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Sekuat tenaga Wiliam berpikir tentang masalah apa yang dia punya dengan Beni sebelumnya, tapi tetap tak menemukan jawaban apapun.


"Aku akan mencari tahu tentang semua ini, Beni,,, kau boleh tersenyum saat ini karena merasa sudah berhasil membodohi ku, tapi tunggu sampai aku tau apa cerita di balik semua ini, kalau sampai benar firasat ku bahwa kau sengaja menargetkan ku, akan ku pastikan kau menyesal sudah mencari masalah dengan ku !" ancam nya sambil terus menatap Beni dari kejauhan.


__ADS_2