Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Hadiah Beni


__ADS_3

Ke esokan harinya, Wiliam dan Tania datang ke perusahaan Beni, secara bersamaan,


"Ini pembayaran saham yang kalian jual padaku, ini surat surat resmi yang harus kalian tanda tangani di depan notaris," Beni menyodorkan dua lembar cek, dan di berikan pada Wiliam dan Tania, juga beberapa lembar berkas yang harus di tanda tangani Wiliam dan Tania.


"Apa ini ? Kenapa saham yang kami jual di rubah jadi atas nama Inayah khaerunisa ?" Tania membaca ulang dokumen yang telah terlanjur di tanda tanganinya itu.


"Aku membelinya dari kalian, aku berhak memberikan saham itu pada siapa pun yang aku mau !" jawab Beni.


"Kenapa harus dia ?" tanya Tania menunjuk wajah Inayah yang berdiri di ruangan itu,


Jujur saja Inayah juga kaget dengan apa yang di dengar nya, tapi Inayah berpikiran kalau itu hanyalah salah satu trik bos nya saja, makanya meminjam namanya.


"Kenapa tak boleh dia ? Sekali lagi aku tekan kan, kalau aku berhak memberikan apapun yang aku miliki pada siapa pun tanpa kecuali, kau tak punya hak untuk mengatur ku !" tepis Beni.


"Tapi aku calon istri mu, bulan depan kita bertunangan." kata Tania mengingatkan.


"Kau terlalu berharap banyak pada ku, kau terlalu percaya diri bisa menipu ku !" Beni tersenyum sinis.


"Apa maksud mu ?" bentak Tania.


"Aku tak perlu menjelaskannya pada mu, kau pasti sudah tau apa maksudku, mulai hari ini, Inayah akan menggantikan posisi mu di Teja grup," putus Beni.


"Beni ! kau jangan main main, dia tak akan mampu mengurusi Teja, biarkan Tania yang tetap mengurusnya !" Wiliam yang dari tadi bungkam akhirnya membuka suara, setelah di rasa Beni keterlaluan memperlakukan Tania.


"Siapa kau ? Kau tak punya hak mengatur ku, mengatur Teja dan mengatur Inayah, karena kau bukan siapa siapa !" tunjuk Beni pada Wiliam.


"Tapi Tania calon istri mu !" ucap Wiliam.


"Tidak lagi, aku sudah tak ingin mempunyai hubungan apapun dengan adik tiri mu tercinta itu !" ucap Beni cuek.


"Ben, kau memutuskan hubungan kita ?!" teriak Tania.


"Ya, dan aku juga memecat mu dari Teja, mulai hari ini, karena untuk besok dan selanjutnya, Inayah yang akan memimpin di sana," papar Beni.


"Kau keterlaluan !" umpat Wiliam.

__ADS_1


"Yang jelas, aku tidak lebih bajingan bila di banding kan dengan mu !" decih Beni.


"Aku tak bisa terima semua ini, aku akan membalas semua perlakuan mu pada ku, dan kau juga , janda tak tau diri !" geram Tania melotot ke arah Inayah yang sedari tadi hanya diam menonton pertunjukan bos nya.


"Dengan senang hati nona, silahkan !" ucap Inayah sambil tersenyum.


"Nisa, kau banyak berubah, sikap mu menjadi sangat mengerikan !" Wiliam menatap tajam Inayah, dia tak menyangka kalau mantan istri palsunya itu sudah tak sepolos dulu lagi.


"Semua berkat anda tuan, terimakasih sudah mengajarkan saya selama ini," lagi lagi Inayah menjawab dengan senyum manisnya, tak lupa dia menganggukan kepalanya sopan ke arah Wiliam, dengan maksud mengejeknya secara sarkas.


"Kalian gila, sakit jiwa ! Tunggu saja pembalasan ku !" teriak Tania sambil berlalu keluar ruangan yang lalu di ikuti Wiliam yang mengekor langkah cepat Tania dengan penuh emosi.


"Bos, anda tak memberi tahu ku kalau ada adegan pura pura pengalihan saham pada ku," protes Inayah.


"Siapa bilang pura pura,? ini memang aku berikan pada mu, tiga puluh persen saham Teja yang tadinya milik Wiliam dan keluarganya, sekarang menjadi milik mu !" ucap Beni menyerahkan dokumen kepemilikan saham pada Inayah.


"Tapi bos ?" jantung Inayah serasa berhenti, dia tak menyangka kalau Beni benar benar memberikan saham itu padanya.


"Itu memang hak mu, Wiliam sudah menjebak mu, dan memaksa mu untuk menjadi istri pura pura nya, sudah sepantasnya kau mendapatkan itu semua dari mereka !" kata Beni.


"Aku akan mengajari dan membantu mu, apa kau tak mau mengerjai Lilis, di sana ?" cengir Beni.


"Apa bos tidak memecat Lilis ?"


"Tentu saja tidak, itu bagian mu, aku akan membiarkan mu bersenang senang dengan dia di sana, aku memberi mu kesempatan untuk memperlakukan dia se mau mu !" tawa Beni pun terdengar renyah memenuhi ruangan.


"Terimakasih bos, aku tak tau harus membalas dengan cara apa kebaikan bos pada ku !" ucap Inayah sedikit terharu.


"Tak usah berlebihan, kita hanya saling membantu, ingat tujuan kita sama, kehancuran Wiliam !" Beni membuang pandangannya saat tak sengaja beradu dengan pandangan mata indah Inayah.


"Anggap saja ini hadiah dari ku karena kau sudah membantu ku" sambungnya, seraya menyibukkan diri kembali dengan pekerjaannya yang menumpuk di meja.


Hati Beni tiba tiba berdenyut saat beradu pandang dengan wanita desa yang sama sekali bukan tipe nya itu.


'Dia hanya partner kerja saja, tidak boleh lebih dari itu !' bisik Beni pada hatinya, menekan kan agar hatinya tidak menyimpan perasaan lain pada Inayah.

__ADS_1


***


Pagi sekali Inayah sudah sampai di Teja grup, ini hari pertama nya bekerja sebagai pimpinan di perusahaan itu, meski dirinya merasa tidak percaya siri dengan kemampuannya, tapi Beni terus terus an meyakinkannya bahwa tak ada kata terlambat untuk belajar, dia juga berjanji akan membantu dan mengajari Inayah sampai dia benar benar mampu mengerjakan semuanya sendiri.


'Mak, Inayah sebentar lagi akan menjadi wanita sukses, tunggu sebentar lagi Inayah akan membawa emak ke sini dan membahagiakan emak !' gumam Inayah dalam lamunannya.


"Selamat pa---" ucapan Lilis yang baru saja masuk ke ruangan itu tampak menganga dan terkejut mendapati Inayah sedang duduk di kursi kebesaran yang biasanya di tempati Tania.


"Biasakan kau ketuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ruangan ku !" tegas Inayah sedikit kesal, karena kehadiran Lilis sudah membuyarkan lamunan nya tentang Titin yang selalu di rindukannya itu.


"Inayah, kenapa kamu ada di ruangan bu Tania, dan duduk di kursinya ?" tanya Lilis heran.


"Tolong panggil saya dengan sebutan yang lebih sopan, bu atau mbak, karena saya adalah atasan mu mulai hari ini !" sikap Inayah terkesan dingin pada Lilis, tak ada lagi Inayah yang polos dan selalu merasa tak enakan dengan teman.


"Kau,,?! Jadi atasan ku ?" pekik Lilis setengah tak percaya,


Inayah melemparkan tatapan tajamnya pada mantan sahabat nya itu,


"Panggil aku dengan benar !" tegas Inayah.


"I-iya bu,," gugup Lilis.


"Buatkan aku teh, dan antarkan kesini segera !" titah Inayah.


"Hah ? Kamu, eh ibu bisa memintanya ke ob, kenapa harus aku, eh saya yang membuatkan ?" protes Lilis.


"Aku bisa membuatmu jadi ob sekarang juga, bila yang membuatkan ku teh harus ob, karena aku ingin teh buatan mu !" ucap Inayah datar.


"Inayah, ada apa ini, kita teman, kenapa harus se formal ini ?" Lilis tak tahan juga harus berpura pura bersikap formal pada Inayah.


"Ini kantor, tolong kau bersikap profesional, dan jangan membantah perintah atasan mu jika masih betah bekerja di sini, dan satu lagi, jangan kurang ajar pada bos mu !" Inayah masih bertahan dalam mode datarnya.


"Hmmh, baik bu," cicit Lilis malas, dia tak habis pikir kenapa sikap Inayah berubah menjadi terkesan dingin padanya, terlebih memikirkan bagaimana bisa orang yang paling di bencinya itu lagi lagi mendapatkan keberuntungan, dan tak tanggung tanggung, keberuntungannya kali ini adalah menjadi bos di perusahaan tempatnya bekerja.


'Aku akan menghancurkan mu Inayah, lihat saja nanti, sombong sekali dia, akan ku buat dia tak lagi mendapatkan keberuntungan seumur hidupnya !' geram Lilis sambil mengaduk teh yang di buatnya untuk Inayah dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2