Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Tersangka Penggelapan


__ADS_3

Hari ini seperti biasanya, Inayah lembur dan jam tujuh malam baru menyelesaikan pekerjaannya, tugas Inayah di pabrik adalah bagian mencatat gulungan kain yang sudah selesai di produksi dan akan di masukan ke gudang penyimpanan, sebelum masuk gudang, Inayah lah yang bertugas mencatat berapa banyak gulungan kain yang masuk, ada sekitar tiga puluh orang buruh yang tugasnya sama seperti Inayah, tapi hari ini hanya sembilan orang saja yang lembur bersama Inayah sampai malam.


Bagi Inayah, uang lembur sangat berarti,karena uang itu dia sisihkan untuk ibunya di kampung, sedangkan uang gajinya, dia pakai untuk keperluan pribadinya, karena kalau untuk makan dan lain lain Liam sudah memenuhi segala kebutuhan dapur dan stok makanan di rumah itu, kadang dia juga memberi uang Inayah, biasanya dia menyimpan nya di meja makan dan di bungkus amplop, tapi Inayah tak pernah memakai uang itu, hanya di simpan saja, semuanya masih utuh dengan amplopnya, bahkan Inayah tak pernah melihat berapa isinya.


Bukan apa apa, Inayah hanya tidak mau merubah gaya hidupnya hanya karena sekarang Liam memberinya banyak uang, dia takut bila suatu hari nanti dirinya berpisah dari Liam, dia tidak bisa mencukupi biaya hidupnya yang terlanjur di biasakan mewah.


Makanya dia lebih nyaman memakai uang hasil keringatnya sendiri untuk kebutuhan pribadinya.


"Hey kamu,! Tolong antarkan catatan ini ke Pak Beni di ruang direksi, beliau sedang menunggu catatan ini, aku ada sedikit urusan penting," ucap kepala gudang menghentikan langkah Inayah yang hendak bersiap keluar ruangan.


"Oh, iya. Baik pak !" patuh Inayah menerima dua bundel kertas yang sudah di susun rapi.


Setelah Inayah bertanya pada petugas keamanan yang berjaga malam itu, Inayah berjalan menuju ruangan direksi yang berada di lantai sebelas gedung itu, untunglah Inayah sempat di ajak jalan jalan ke Mall beberaa kali oleh Lilis, jadi dia tau cara naik lift, kalau,, tidak dia pasti akan kebingungan.


Inayah menengok ke kiri dan ke kanan menyusuri lantai sebelas yang sudah sepi karena para pegawainya sudah pulang sejak sore tadi.


Tak jauh dari sana, Inayah melihat tulisan besar di satu ruangan yang terlihat lampunya masih menyala, 'RUANG DIREKSI' begitu tulisannya, dengan tergesa Inayah langsung mendekati ruangan itu dan mengetuk pintunya.


"Masuk !" teriak suara pria menjawab ketukannya dari dalam.


Inayah mendorong pintu kokoh itu perlahan.


"Astaga !" ucap Inayah kaget, saat melihat sosok pria tampan yang sedang duduk di kursi kebesarannya tanpa melihat ke arahnya sedikitpun.


"Kenapa bukan Seno yang mengantar dokumen ini kesini, dimana dia?" tanya pria itu, menanyakan keberadaan Seno sang kepala gudang.


"Maaf, Pak Seno ada urusan lain di gudang" ucap Inayah terbata bata.


"Lantas kenapa kau seperti ketakutan melihat ku ? Apa wajah ku ini menyeramkan ?" tanya Beni menyipitkan matanya.


"Ah, tidak pak, tidak, saya permisi !" Inayah menyerahkan dokumen itu di meja sang Bos, lalu bergegas pergi berbalik untuk keluar ruangan, Inayah mengusap usap dadanya seraya beerkata dalam hatinya, 'selamet,,,selamet!'


Bukan tanpa alasan Inayah seperti ketakutan melihat bos tampannya, itu karena Inayah merasa bersalah karena laki laki yang dia timpuk kepalanya dengan kerikil tempo hari di Puncak itu ternyata Beni bosnya, tapi sepertinya Beni tak mengingatnya, padahal Inayah sudah sangat ketakutan.


"Tunggu !" seru Beni.


Inayah menghentikan langkahnya, dia memejamkan matanya, dia merasa bosnya itu sepertinya sudah mengingat kejadian tempo hari itu.

__ADS_1


"I-iya pak," jawab Inayah berbalik pelan pelan.


"Kamu bekerja di bagian apa?" tanya Beni.


"Sa- saya di bagian pencatatan barang, Pak ?"


"Barang gudang ?" tanya Beni, di jawab dengan anggukan Inayah.


"Barang masuk atau keluar ?" tanya Beni lagi.


"Barang masuk, Pak !" jawab Inayah tertunduk menyembunyikan wajahnya, dia takut bosnya mengenali dirinya.


"Ada apa dengan mu, dari tadi seperti ketakutan padaku ? Jangan jangan kamu terlibat dengan kasus penggelapan barang di gudang ?" tuduh Beni curiga dengan gerak gerik Inayah yangvketakutan dan tak berani menatap wajahnya.


"Hah, penggelapan ? Saya tidak tau, Pak, sungguh, demi Tuhan !" sanggah Inayah mengibas ngibaskan kedua tangannya.


"Tak usah mengelak, sikap mu itu sangat mencurigakan, kamu berkomplot dengan Seno, kan?" cecar Beni.


"Ti-tidak, Pak, saya sungguh tidak tau apa apa!" mata Inayah mulai berkaca kaca, dia tak menyangka dirinya malah di tuduh menggelapkan barang yang sama sekali tidak dia pahami.


"Lalu, kenapa kamu ketakutan melihat ku? Bahkan sekarang kamu menangis?" Beni beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Inayah yang berdiri mematung sambil terisak.


"Ini kriminal, tidak bisa di selesaikan hanya deengan meminta maaf, tindakan mu dengan Seno itu merugikan perusahaan!" bentak Beni


"Tapi saya tidak melakukan penggelapan itu pak, saya,,, saya,,,"


"Saya apa ? " Beni tak sabar mendengar kelanjutan pembicaraan Inayah.


"Saya melempar kepala bapak dengan kerikil tempo hari di Puncak,!" lirih Inayah.


"Astaga, Tuhan ! Pantas saja aku rasanya pernah melihat wajah mu, tapi aku tak ingat dimana, ternyata kamu wanita di kebun teh itu," Beni menilik wajah Inayah dari dekat dan dia tersenyum geli.


Beni merasa kasihan dengan wanita di hadapannya yang ketakutan karena di tuduh berbuat kriminal olehnya.


"Maaf, aku salah sangka, aku pikir kamu...ah sudah lah!" Beni menjambak rambutnya sendiri.


"Saya yang seharusnya minta maaf, saya bersalah" Inayah masih terisak.

__ADS_1


"Sudah, sudah sini kamu duduk dulu, maasalah malam itu, lupakan saja, aku bukan orang pendendam hanya karena masalah sepele seperti itu" Beni menyodorkan minuman kaleng yang dia ambil dari lemari es yang berada di pojok ruangannya.


"Tenangkan diri mu, karena kamu sudah mengetahui tentang penggelapan barang yang terjadi di perusahaan, mulai besok kamu saya pindahkan di bagian pengeluaran barang, jadi setiap barang yang keluar dari gudang harus atas persetujuan dari mu, dan kamu langsung lapor pada ku" titah Beni memberi penjelasan, tapi Inayah hanya terbengong.


"Apa kamu mengerti ?" tanya Beni, tapi Inayah hanya menggeleng.


"Hmm, aqku sudah bicara panjang lebar, dan kamu masih tak mengerti, siapa nama mu?" Beni sampai lupa menanyakan nama wanita di depannya itu.


"Inayah, Pak," jawab nya lirih.


"Jadi begini, saya mencurigai Seno menggelapkan barang di gudang, dia menjual kain tanpa sepengetahuan perusahaan, tapi aku masih mengamati pergerakannya, aku minta kamu membantu ku, setiap barang yang keluar dari gudang harus atas persetujuan mu, jadi aku bisa mengontrol barang yang keluar lewat kamu, terus terang saat ini tidak ada orang yang busa aku percaya di bagian gudang." Beni menjelaskan perlahan agar Inayah dapat mengerti penjelasannya.


"Kenapa bapak percaya pada saya ?"


"Sepertinya kamu jujur, dan aku akan menaikan jabatan mu bila kita berhasil membongkar masalah ini, aku yakin ini sindikat, pasti banyak pihak yang terlibat disana," tukas Beni, matanya menerawang jauh.


"Tapi,, saya, apa saya bisa ?" Inayah tak yakin dwngan dirinya.


"Tenang saja, aku pasti membantumu dari belakang, yang penting kamu rahasia kan masalah ini, jangan sampai ada yang tau, kamu mau kan, membantu ku?" tekan Beni.


"Baiklah, saya setuju" lirih Inayah.


Karena pembicaraannya dengan Beni yang cukup lama, Inayah baru sampai rumah pukul 9 malam, saat dirinya membuka pintu dan hendak masuk ke rumah, terdengar suara mobil berhenti di depan pagar rumah.


Inayah menoleh ke sumber suara, terlihat Liam turun dari mobil dan di susul Tania di belakangnya, entah dari mana mereka, yang jelas mereka datang berdua malam itu.


Inayah melengos membuang wajahnya dan segera masuk rumah saat Tania dengan sengaja dan tidak tau malunya mencium pipi Liam sambil melirik ke arah Inayah berdiri.


"Kamu dari mana jam segini baru pulang ?" tanya Liam pada inayah yang sedang mengambil minum di dapur.


"Lembur, " jawab Inayah singkat.


"Tadi mobil mogok, jadi Tania mengantar ku pulang," ucap Liam.


"Hmm, terserah lah," ucap Inayah, matanya mulai memanas menahan butiran bening yang hampir jatuh.


Entah apa maksud Liam menikahi Inayah secara paksa, apa benar hanya untuk agar Tania menjauhinya, kenapa kenyataannya seperti sebaliknya, dia menikahi Inayah hanya untuk menutupi hubungannya dengan Tania dari kedua orang tua nya yang tak memberi mereka restu.

__ADS_1


Tapi apapun alasan Liam, yang jelas dalam hal ini Inayah adalah satu satunya korban yang tersakiti.


__ADS_2