
"Ikut aku !" ajak Beni masih dengan nada dingin dan ketusnya.
"Sebentar, aku akan membawa tas ku di rua---" Inayah sampai tak bisa melanjutkan kata katanya karena Beni langsung menarik tangan nya dengan sedikit kasar menuju ke luar loby.
"Tidak usah !" ujarnya sambil terus menuntun tangan Inayah sampai pelataran parkir depan perusahaan.
Hati Beni masih kesal bukan main, setelah menahan rindu sepanjang hari, dirinya malah harus mendapati Inayah sedang berduaan dengan laki laki asing.
"Ada masalah apa sebenarnya dengan mu ?" tanya Inayah yang sudah tak tahan lagi menyimpan rasa penasarannya atas sikap dingin Beni hari ini.
Tapi Beni hanya diam, dan mengemudikan kendaraannya tanpa bersuara sedikit pun.
"Wajah mu jelek kalau cemberut seperti itu !" goda Inayah berusaha mencairkan suasana.
"Iya tau, yang gak jelek cuma laki laki tadi itu siapa namanya yang matanya jelalatan liat badan mu ?!" omel Beni kesal.
"Apa sih mas ? Gak jelas banget kamu, sumpah !" cicit Inayah tak ingin meladeni sikap Beni yang marah marah tanpa alasan pada nya.
Mereka lantas masuk ke sebuah restoran ayam goreng cepat saji yang berada tak jauh dari kantor Teja grup, karena memang ini masuk jam makan siang, keadaan di resto itu lumayan terbilang ramai pengunjung.
Inayah yang berjalan berdampingan dengan Beni terkaget ketika tiba tiba Beni membuka blazer yang di pakai nya kemudian memakaikan nya pada bahu Inayah, Beni juga membuka gulungan rambut Inayah yang di angkat ke atas, agar bisa menutupi leher jenjang wanita yang sedang berjalan di sampingnya itu.
"Kenapa ?" tanya Inayah.
"Apa kamu tak sadar kalau banyak laki laki yang melihat ke arah mu ? Mereka lancang sekali memandangi tubuh mu !" ketus Beni, wajahnya terlihat semakin kesal.
"Ya Tuhan,,, mas, bisa saja itu hanya perasaan mu saja, mana ada yang memandangi ku !?" elak Inayah sambil menengok ke kanan dan ke kiri.
Ternyata memang kehadirannya menjadi pusat perhatian beberapa orang laki laki yang di lewatinya.
"Masih mau bilang itu hanya perasaan ku ?!" kesal Beni sambil menarik tangan Inayah keluar dari tempat itu, dia mengurungkan niatnya untuk makan di tempat itu.
"Mas, kenapa gak jadi, aku lapar, dan aku ingin ayam goreng itu !" rengek Inayah.
"Kita drive thru saja !" ketus Beni sambil terus menarik tangan Inayah dan bergegas meninggalkan tempat itu.
Inayah pun tak bisa membantah atau berkata apa apa lagi selain menuruti keinginan laki laki tukang ngambek itu.
Akhirnya mereka makan di ruang kerja Inayah, Beni masih memasang mode bisu, begitu pun Inayah, dia tak ingin membuka pembicaraan dan semakin membuat amarah Beni meluap.
"Apa aku boleh meminta sesuatu dari mu ?" ucap Beni setelah sekian lama memasang mode bisu nya.
"Apa itu ?" tanya Inayah.
"Jangan memakai baju seperti ini lagi jika kamu ke kantor," kata Beni sambil memandang wajah Inayah dengan serius.
"Kenapa ?" ucap Inayah seraya melihat penampilannya sendiri yang menurutnya masih dalam kategori sopan.
"Pakaian mu terlalu ketat, untuk di pakai ke kantor !" ucap Beni ketus.
"Tapi, perasaan karyawan perempuan lain bajunya lebih ketat dan sekkssi dari pada yang aku kenakan ini,!" elak Inayah.
"Aku bos mu, aku pemilik saham terbesar di perusahaan ini, itu aturan khusus buat mu !" tegasnya lagi lagi tak ingin di bantah.
__ADS_1
Setelah makan siang Beni tak beranjak dari ruangan Inayah dia tetap duduk di sofa ruangan itu memperhatikan Inayah yang sedang mengerjakan tugas tugasnya, sedangkan tugas di kantornya sudah dia limpahkan semua pada sekretarisnya, dia tidak ingin pergi kemana pun, dia hanya ingin melihat wanita yang telah lancang mengobrak abrik perasaannya saat ini.
***
"Mas, aku sudah masak, mas mau makan malam bareng aku atau masih mau marah marah ? Aku sih, laper !" ucap Inayah cuek sambil menyambar piring yang tergeletak di atas meja makan.
"Inayah, aku bukan tipe cowok yang pintar mengungkapkan isi hati, tapi sepertinya aku harus bicara sesuatu pada mu !" Beni menarik kursi tepat di sebelah Inayah duduk.
"Maksudnya ?" Inayah menghentikan suapan nya.
"Sepertinya aku menyukai mu !" ungkap Beni jujur.
"Uhuuukkk,,,,,uhuuuukkk !" spontan saja Inayah terbatuk karena makanan yang di mulutnya tiba tiba terasa naik ke hidung.
Beni dengan sigap memberikan segelas air minum dan menepuk nepuk punggung Inayah pelan.
"Apa ini maksudnya mas ?" tanya Inayah setelah batuknya mereda.
"Aku tak bisa fokus bekerja karena terus kepikiran kamu di kantor, aku juga selalu merasa rindu bila jauh dari kamu, aku marah dan tak suka saat kamu bersama laki laki lain, itu berarti aku suka kamu, kan ?" Beni malah balik bertanya.
"Mas,,,, apa ini pernyataan cinta ?" Inayah menatap ke bola mata Beni, tak ada kebohongan di sana.
"Entah lah, aku belum pernah menyatakan cinta pada perempuan, mungkin bisa di katakan seperti itu, apa cara ku sudah benar ?" tanya Beni polos.
"Ckk, sangat tidak romantis ! Apa dulu mas seperti ini juga saat menyatakan cinta pada Tania ?" tanya Inayah.
"Aku tidak pernah menyatakan cinta pada Tania, !" elak Beni.
"Lantas, bagaimana awalnya sampai kalian berpacaran dan hampir mau tunangan ?" sewot Inayah.
"Tapi mas menikmatinya kan ? Di goda goda, di rayu rayu sama dia ?!" sinis Inayah.
"Kenapa jadi bahas orang lain, aku sedang menyatakan perasaan ku pada mu, ini !" protes Beni.
"Menyatakan cinta ? Pernyataan cinta mu tidak aku terima !" ketus Inayah.
"Ke- kenapa ?" tanya Beni dengan raut wajah kecewa nya.
"Aku akan menerima pernyataan cinta mu dengan satu syarat !" ucap Inayah, mengalirkan kembali darah Beni yang tadi memucat.
"Apa ? Kamu minta apa ? Saham Teja ? Atau apa ?" tanya Beni antusias.
"Ish, aku bukan wanita matrealistis, aku hanya ingin kamu mengulangi pernyataan cinta kamu dengan suasana yang romantis kaya di drama drama gitu, !" kata Inayah tersenyum jahil.
Beni termenung sebentar, tantangan Inayah terlalu berat untuknya yang sama sekali tidak bisa romantis itu.
"Waktu itu, saat kamu ngajak aku dinner di hotel mewah itu, aku pikir kamu bakal nembak aku, ternyata,,!" kata Inayah menggantung kalimatnya.
"Sebenarnya waktu itu aku memang mau nembak kamu, tapi kejadian kamu dan Wiliam di apartemen saat itu mengacaukan segalanya, semua kata kata yang sudah aku susun ambyar semuanya !" oceh Beni.
Inayah terkikik geli membayangkan Beni yang saat itu gagal menyatakan cinta dengan persiapan yang sudah sedemikian rupa sempurna itu.
"Sudah lah mas, aku hanya bercanda, aku juga sebenarnya sudah lama menyimpan perasaan yang sama, hanya saja aku merasa kalau itu hanya perasaan sepihak ku saja, kamu begitu baik pada ku, pada ibu ku, bagaimana bisa aku tak menerima kamu, bahkan bila kamu tak mempunyai perasaan spesial pada ku pun, kamu tetap spesial di hati aku mas, dan tak perlu berubah menjadi romantis, bagi ku semua yang kamu lakukan pada ku sangat romantis," urai Inayah pada Beni, dia tak mungkin tega menolak cinta Beni, karena dirinya pun merasakan cinta yang sama untuk laki laki yang telah berbuat baik padanya selama ini.
__ADS_1
"Berarti kamu menerima ku, sungguh ?" pekik Beni menggoyang goyang bahu Inayah yang duduk di hadapannya.
Inayah mengangguk pelan dengan rona wajah yang me merah, dan entah keberanian dari mana, Inayah mengecup pipi Beni sekilas.
"Inayah !" panggil Beni dengan suara keras.
"Kenapa ? Aku salah ya ?" ucap Inayah takut.
"Sepertinya aku harus segera menemui ibumu !" ucap Beni.
"Kenapa membawa bawa emak ?"
"Aku harus segera melamar mu, aku tak akan bisa menahan diri bila serumah dengan pacar seperti mu !" kata Beni yang langsung mengungkung Inayah dalam pelukan posesif nya, wajahnya semakin mendekat ke wajah wanita di hadapannya itu.
Hati Inayah berdesir aneh saat hidungnya dan hidung Beni bersentuhan, Inayah memejamkan matanya saat Beni mengecup mesra bibir merah Inayah yang seakan pasrah namun menyambut hangat bibir Beni yang semakin menyesapnya dalam.
"Mas," ucap Inayah di sela ciuman panasnya.
"Hmm" jawab Beni masih mengatur nafasnya yang tersenggal senggal.
"Jangan kecewakan aku !" kata Inayah lirih.
"Tidak akan pernah, kamu boleh membunuh ku jika aku menyakiti atau mengecewakan mu !" ucap Beni dengan mata yang berbinar dan menatap tajam wajah Inayah yang kini telah menjadi kekasihnya itu meyakinkan nya.
***
*Hai semuanya, mampir dan ramaikan cerita baru othor yuk... judulnya TERJERAT CINTA HOT DUDA.
"Erik, aku ingin kita berpisah, bercerai !" Tegas Citra.
"Citra, sayang,,, apa maksud mu ? Ada apa ini ? Katakan, apa aku berbuat salah pada mu?" Erik terlonjak dari tempat duduknya.
"Erik tolong, aku sudah tidak mencintai mu lagi, tolong lepaskan aku !" Pinta Citra menghindari tatapan mata Erik yang mengiba padanya.
"Demi Tuhan jangan katakan itu, kata kan apa salah ku ! Aku akan memperbaiki semuanya, aku akan melakukan apa pun demi kamu, asal kamu tak pergi dari ku !" Mohon Erik dengan mata yang berkaca kaca.
"Erik aku sudah selingkuh, aku mempunyai laki laki lain yang aku cintai," kata Citra mengungkap dosanya.
Kata kata Citra terasa bagai sayatan sembilu di hati Erik, perih tiada tara, sekuat tenaga Erik menahan rasa sakitnya.
"Aku tau, dan aku sudah memaafkan mu, tolong jangan tinggalkan aku !" Ucap Erik mengiba.
"Aku tidak bisa, aku hanya ingin hidup bersamanya," elak Citra tak bergeming.
"Kenapa ? Aku sudah memaafkan dan melupakan semua kesalahan mu, tapi tolong tetap di sisi ku !" Erik memeluk erat tubuh Citra, seakan takut kalau istri kesayangannya itu meninggalkannya.
"Erik, lepaskan ! Kamu menyakiti ku, aku sedang hamil !" Teriak Citra, sontak saja Erik langsung mengendurkan pelukannya, dan menatap wajah Citra dengan tatapan bahagia.
"Ka- kamu hamil ?" Tanya Erik terbata bata.
"Ya, dan itu anak nya, bukan anak mu !" Tegas Citra.
Sejenak pandangan mata Erik gelap seketika, otaknya tak dapat mencerna apa yang di katakan oleh istrinya barusan, Citra hamil dan itu bukan dari benihnya melainkan hasil dari hubungan gelap istrinya bersama selingkuhannya,
__ADS_1
Oh tidak, pasti Tuhan sedang bercanda padanya saat ini, empat tahun Erik menanti kabar itu di tengah rumah tangganya, tapi kini dia malah mendapat kabar kehamilan istrinya dengan orang lain, sungguh bercandaan Tuhan kali ini sangat tidak lucu bagi nya.