
"Bu Inayah, ada yang perlu saya perlu bicarakan dengan anda," ucap Lilis, siang itu.
"Bisa kita makan siang bersama ?" lanjut Lilis.
"Aku sudah ada janji makan siang dengan Mas Beni," tunjuk Inayah pada Beni yang masih dengan setia mengajari Inayah bagaimana cara mengerjakan tugas sebagai pimpinan perusahaan.
"Aku memberi waktu sepuluh menit untuk kalian berbicara, aku akan menunggu mu di mobil !" ucap Beni sambil berjalan ke luar ruangan.
"Katakan apa yang ingin kau bicarakan dengan ku, aku tak punya banyak waktu !" ketus Inayah.
"Tak bisa kah kita bicara seperti biasanya ? Seperti dulu ? Kita sahabat, kita telah lama bersama, kenapa tiba tiba sikap mu berubah pada ku ?" ucap Lilis mendekati Inayah yang duduk di kursi kebesarannya.
"Kau mau aku bersikap seperti apa pada mu ?" datar Inayah.
"Ya seperti dulu, seperti biasanya,,, kita---"
"Maaf, kalau kau hanya ingin membicarakan hal yang tak penting seperti ini, silahkan keluar !" tegas Inayah.
"Inayah, kamu benar benar berubah, apa salah ku pada mu sampai kamu memperlakukan aku, sahabat mu sendiri seperti ini ? Uang sudah merubah mu menjadi sombong, kamu lupa kalau aku yang membawa mu bekerja di kota ? Seperti ini cara mu berterimakasih ?"Lilis memulai dramanya.
"Berterima kasih ? Aku sangat berterima kasih pada mu, karena kau sudah memberi ku kesempatan untuk kebekerja di kota yang kejam ini, karena kalau tidak,,, aku tak mungkin tau kebusukan orang orang yang mengaku sahabat tapi hatinya busuk dan bejat !" ujar Inayah berapi api.
"Apa maksud mu ?" Lilis sedikit tersentak, baru kali ini dia melihat Inayah berani mengutarakan amarahnya, karena selama ini yang dia tau Inayah tipe orang yang hanya bisa diam meski hatinya di sakiti.
"Kenapa ? Kau tidak termasuk sahabat berhati busuk yang aku maksud itu, kan ? Atau jangan jangan justru kau merasa tersinggung dengan ucapan ku ?" sinis Inayah.
"Aku tak menyangka, kau memang berubah setelah mempunyai kekuasaan dan juga uang ?" ucap Lilis seolah olah dirinya seorang sahabat yang teraniyaya karena di campakkan Inayah hanya karena sahabatnya itu telah sukses.
__ADS_1
"Lantas kau ingin aku bersikap seperti apa ? Tetap menjadi Inayah yang polos dan bego agar gampang kau bodoh bodohi ? Agar gampang kau peralat sesuka hati ?!" teriak Inayah tak dapat lagi menahan luapan amarahnya yang meletup letup di dadanya.
"Apa maksud mu ? Kenapa kau berbicara seperti itu ? Apa semua ucapan mu itu mengarah padaku ?" hati Lilis sedikit mencelos, dia menebak nebak dalam hatinya, apakah ini berarti Inayah sudah tau tentang kejahatannya ?
"Menurut mu ? Tentu saja aku sedang berbicara tentang dirimu, sahabat busuk !!" caci Inayah.
"Hey, jaga ucapan mu, kau sudah gila, tak tau terimakasih, kalau bukan aku yang mengajak mu bekerja di kota, kau tak akan menjadi seperti sekarang ini, dan kau masih menyebut ku sahabat busuk ?!" elak Lilis masih berlagak tak berdosa.
"Apa ada kata lain yang pantas untuk mu selain sahabat busuk, sahabat berengsek, sahabat palsu, sahabat sakit jiwa !?" pekik Inayah.
"Aku tak menyangka uang sudah banyak merubah mu !" Lilis tetap bertahan dalam mode tak bersalahnya.
"Kau ! Kau yang sudah merubah ku menjadi seperti ini, kau yang merencanakan segala kejahatan padaku, pernikahan paksa dengan Wiliam, perceraian ku dengan Adit, semua ulah kau kan jallanng !" jari telunjuk Inayah mengarah tepat ke wajah Lilis dengan penuh emosi.
"Ternyata kau sudah mengetahuinya,!" Lilis tersenyum pasrah.
"Karena kau selalu menjadi orang beruntung semenjak dahulu, kau di anugerahi wajah yang cantik, otak yang pintar, ibu yang sangat menyayangi mu, bahkan semua laki laki yang ku taksir malah tertarik pada mu, termasuk Adit !" beber Lilis dengan napas memburu karena marah.
"Adit ?" beo Inayah.
"Ya, aku dulu menyukai Adit, tapi kau sebagai sahabat tak pernah peka, kau malah menikah dengan orang yang ku sukai, semenjak itu aku memutuskan untuk ke kota, kalau aku tetap di desa, aku hanya akan menjadi bayang bayang mu yang ada tapi tak pernah di anggap,!" urai Lilis.
"Kau, menyukai Adit ? Kau bahkan dulu yang menjodoh jodohkan aku dengan Adit dan menyarankan ku untuk cepat cepat menikah dengannya !" ingatan Inayah kembali ke masa itu, dimana Lilis sangat mendukung hubungannya dengan Adit semenjak awal, bahkan saat dirinya tidak yakin pada laki laki itu, Lilis selalu memberinya keyakinan dan malah memberinya saran untuk menikah dengan laki laki playboy itu.
"Haha,,, itu karena pernyataan cinta ku pada Adit di tolak nya mentah mentah, dia bahkan menghina ku,! Ya, dia menghinaku dan mengatakan kalau aku tak ada apa apanya di bandingkan dengan mu,!" geram Lilis.
"Lalu kau membenciku ?" Inayah menyipitkan matanya menatap wajah Lilis tak percaya.
__ADS_1
"Bukan hanya membenci, tapi sangat membenci mu ! Semenjak itu tujuan hidup ku hanya satu, menghancurkan mu !" tunjuk Lilis pada Inayah.
"Kau benar benar sakit jiwa, aku tak habis pikir kau melakukan semua ini padaku !" Inayah menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kau juga mungkin tak pernah tau, kalau Adit sebenarnya serius dan benar benar mencintai mu, tapai itu sebelum aku menghasut bu Esih dan Yeni untuk membenci mu dan menghasut Liam, untuk menyuruh Tania agar menggoda Adit, beruntungnya, semua itu berhasil, kau di tendang Adit sebagai istri !" tawa Lilis begitu puas di hadapan wajah Inayah.
"Kau !" Inayah merasa sangat marah dengan pengakuan jahat Lilis.
"Tunggu ! Masih ada lagi, hampir saja kau beruntung lagi, karena Liam sempat jatuh hati pada mu di tengah aksi pura pura pernikahan kalian, tapi aku tak akan membiarkannya, aku tak akan membiarkan kau mengambil kembali laki laki yang ku cintai ! Itu tak akan ku biarkan !" senyum iblis Lilis begitu jelas di bibirnya.
"Kau iblis !" maki Inayah.
"Aku bahagia dan puas menjadi iblis jahat untuk kehidupan mu, aku bahagia menjadi saksi dan penyebab kehancuran mu, !" ucap Lilis dengan bangganya.
Hati Inayah sepertinya sudah tak sanggup lagi mendengar semua ocehan Lilis yang membuat darahnya mendidih karena marah, sungguh dia tidak menyangka kalau sahabatnya yang dia percaya dan bersama semenjak mereka kecil, justru yang menjadi penyebab hancurnya kehidupan Inayah.
"Cukup, lebih baik kau pergi dari sini sekarang juga, sebelum aku kehilangan akal dan kesabaran dalam menghadapi mu, kau ku pecat !" teriak Inayah dengan dada yang terasa penuh dan sesak.
"Tenang saja, tanpa kau suruh dan kau usir, aku memang sudah sangat ingin pergi dari perusahaan ini, aku tak sudi menjadi kacung mu di sini, dan ingat, ini belum selesai, penderitaan dan kehancuran mu belum akan berakhir, aku masih akan menghancurkan mu, Tunggu lah saat saat kehancuran mu !" Lilis keluar ruangan dengan membanting pintu sekencang mungkin.
Inayah menarik dan membuang nafasnya kasar, dia menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya yang empuk itu, sungguh kenyataan yang baru saja di terimanya itu terasa sangat memukul hatinya, sakit rasanya di hianati sahabat yang begitu dia percaya.
Air mata pun meleleh dari kedua sudut matanya tanpa permisi, saat menyadari begitu tragis kisah hidupnya.
"Inayah, kau baik baik saja ?!" Beni yang kembali menyusul ke ruang kerja Inayah karena kelamaan menunggu di mobil merasa kaget, karena mendapati Inayah sedang menangis di kursinya, raut wajahnya menggambarkan betapa rapuh dan perihnya hati wanita desa itu.
'Ya Tuhan, kenapa hati ku merasa ikut perih dan tak terima melihat dia seperti ini ?' tanya Beni dalam hatinya.
__ADS_1
Tangan Beni terulur mengusap air mata yang meleleh di pipi wanita yang masih terdiam tanpa ekspresi apapun di wajahnya.