Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Hiburan di Pesta Pernikahan


__ADS_3

Perhelatan akbar pernikahan Beni Wijaya sang pengusaha terkenal itu akhirnya terlaksana, hampir semua media datang untuk meliput acara pernikahan itu, mereka begitu antusias ingin mengetahui wanita mana dan wanita seperti apa yang beruntung itu, wanita yang berhasil di persunting pengusaha yang bisa di katakan hampir tak pernah terdengar berita tentang percintaan nya dengan wanita mana pun, selain kasak kusuk tentang hubungannya dengan Tania yang kemudian di patahkan karena ternyata Tania mengumumkan pernikahannya dengan Wiliam dan berakhir dengan skandal memalukan di malam pernikahan mereka.


Beni yang tampil gagah dengan balutan jas serba putih itu sangat serasi bersanding dengan Inayah yang juga tampil mempesona dengan gaun panjang mewah berwarna putih senada.


Mereka berdiri di podium bak raja dan ratu semalam, menjadi pusat perhatian semua mata para undangan dan para peliput berita yang hadir di sana.


"Selamat pak Beni, Inayah," ucap Adit yang hadir bersama kedua istrinya yaitu Neneng dan Tania yang juga sudah di nikahi oleh Adit walaupun masih secara siri.


"Terimakasih," kata Beni, menerima uluran tangan Adit, sementara Inayah hanya tersenyum simpul tanpa berkata apa apa, menurutnya tak ada yang perlu dia katakan pada mantan suami yang penah menyakitinya dengan teramat sangat itu.


Pandangan Adit terlihat dalam, ada sedikit guratan penyesalan dan kekecewaan di rona wajahnya saat melihat Inayah yaang sedang duduk sendiri di salah satu meja tempat para undangan, Inayah merasa lelah menemani Beni sang suami menemui kolega bisnisnya yang seakan tak ada hentinya berdatangan untuk di sapa, jadi Beni menyuruhnya untuk duduk sejenak mengistirahatkan kakinya yang sejak tadi berdiri dengan sepatu berhak tinggi itu.


Tanpa di duga duga Adit memberanikan diri berjalan ke arah Inayah duduk,


"Boleh aku duduk di sini !" sapa Adit yang sudah mendudukan dirinya meski Inayah belum menjawab pertanyaannya itu.


Inayah masih terdiam, matanya memandang tajam dan awas, seketika dirinya siaga, hatinya bertanya tanya, hal buruk apa lagi yang akan laki laki itu lakukan padanya, di hari bahagia nya ini.


"Jangan takut, aku hanya ingin sedikit berbincang dengan mu, apa kamu masih marah dengan ku ?" tanya Adit,


"Tidak !" ketus Inayah, matanya menyalang ke arah Adit yang menatapnya dengan tatapan yang tak tau apa artinya.


"Apa itu berarti kamu sudah memaafkan ku ?" tanya Adit lagi.

__ADS_1


"Juga, tidak !" jawab Inayah tegas.


"Aku memang pernah bersalah pada mu, sangat bersalah-- Adit berhenti sejenak-- namun percayalah itu semua karena aku termakan provokasi dari ibu adik, dan sahabat mu !" ucap Adit.


Inayah tersenyum kecut,


"Jangan mencari kambing hitam atas apa yang terjadi di antara kita dulu, lagi pula tak ada gunanya di ungkit kembali, bukankah kita sudah bahagia dengan kehidupan kita sendiri sendiri, aku dengan suami ku, dan kau dengan kedua istri mu !" ucap Inayah menghindari obrolan yang mungkin saja akan melebar tidak jelas.


"Tapi percayalah, aku ingin memberi tahu mu sesuatu, Lilis, sahabat mu itu tak sebaik yang kamu kira, dia jahat, bahkan dia ikut andil dalam terjadinya perceraian kita !" kata Adit.


"Aku tau,! Namun untuk masalah perceraian kita, ups,, maksud ku, untuk masalah yang kau menceraikan aku secara tiba tiba, aku rasa itu bukan salah orang lain, itu terjadi hanya karena kau tak memcintai istri mu saat itu." sinis Inayah.


"Aku mencintai mu, demi Tuhan ! Karena itu aku menikahi mu," ucap Adit yakin.


"Aku yang akan memberikan itu semua pada Inayah, aku yang akan melindungi, mencintai termasuk menjaga nya dari orang orang yang akan berbuat jahat pada nya seperti yang kau dan keluarga mu lakukan padanya dulu." Beni mengelus lembut pipi Inayah yang kini bersandar padanya.


"Aku bahkan berterima kasih pada Tuhan, karena telah menciptakan mahluk bodoh seperti diri mu, sebab karena kebodohan mu yang menceraikan Inayah, secara tidak langsung, kau telah mengirim wanita istimewa ini pada ku, !" sarkas Beni yang membuat Adit tak bisa berkata kata lagi, dia memang akui kalau dirinya begitu bodoh melepaskan Inayah yang ternyata bisa menjadi berlian yang berkilau saat berada di genggaman Beni, sungguh kecantikan Inayah saat ini menyilaukan matanya, dan menusuk hatinya yang di penuhi penyesalan.


Inayah menggenggam tangan Beni erat dan mengangkat wajahnya menatap sang suami yang juga kini menatapnya dari atas.


"Wah,,, barisan para mantan reuni, nih !" suara cempreng Lilis yang menggandeng mesra Wiliam tiba tiba nimbrung di antara Beni, Inayah dan Adit yang sedang berbincang.


Kontan saja tiga orang itu mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara yang sekarang sudah ikut duduk dan bergabung di meja ke tiga orang itu.

__ADS_1


"Pernikahan dengan Adit cuma bertahan kurang dari setengah tahun, dengan Liam kurang dari dua bulan saja, lalu kira kira berapa bulan lagi rencana kau bercerai dengan Beni ?!" tanya Lilis dengan nada bicara yang menyebalkan.


"Tunggu lah beberapa bulan lagi !" ucap Beni.


"Maksudnya, beberapa bulan lagi Inayah akan di ceraikan ?" Lilis begitu bahagia mendengar pernyataan Beni yang terkesan memojokan istrinya itu.


"Tunggu lah,, dalam waktu dekat aku pastikan kehancuran menyakitkan akan sampai untuk orang orang yang telah menghancurkan kami," ucap Beni santai, bahkan dia sempat menyunggingkan senyum manis untuk istri tercintanya.


"Ayo sayang jangan rusak kebahagiaan kita dengan kecoa kecoa toilet menjijikan !" Beni menarik tangan Inayah untuk membantu nya berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan meninggalkan tempat itu sambil mengandeng pinggang ramping Inayah dengan mesra.


"Apa kau tak bisa menjaga mulut sampah mu itu sebentar saja, huh ? bagaimana kalau ada wartawan yang meliput, istri dari Wiliam bermulut jahanam, kau sengaja ingin mempermalukan aku ?!" tegur Wiliam pada Lilis.


"Bukan hanya mulutnya saja yang jahanam, kelakuan istri mu bahkan lebih dari sekedar jahanam !"sinis Adit.


Lilis yang tidak terima dengan ucapan Adit pun menggebrak meja, dan sontak berdiri dari duduknya,


"Jaga ucapan mu, dasar pencuri ! Penjara memang tempat terbaik buat pencuri seperti mu, bukan di pesta kalangan pebisnis kelas atas seperti ini !" caci Lilis sambil menunjuk wajah Adit.


Namun tanpa di sangka sangka, segelas sirup mendarat sempurna di wajah Lilis, kelakuan siapa lagi kalau bukan ulah Neneng yang merasa tidak terima suaminya di hina Lilis yang notabene dia rasa di kampung derajatnya jauh lebih rendah di banding keluarganya


"Jika kau tak bisa berkata yang enak di dengar telinga, lebih baik kau sumpal mulut mu sebelum gelas ini ikut melayang ke wajah mu !" ucap Neneng dengan sikap dominan yang belum bisa dia singkirkan dari dirinya, bagaimana tidak, dia terlahir dari keluarga kaya raya dan di puja juga di hormati di kampung, jadi dia akan merasa tidak terima jika di senggol oleh siapa pun.


"Hei, anak juragan messsum, tukang kawin, ini di kota kau tak punya pengaruh apa apa, di sini. Aku tak takut sedikit pun pada mu, lihatlah karma ayah mu, sekarang suami mu punya istri dua, sebentar lagi bertambah terus seperti ayah mu yang suka mengkoleksi istri !" olok Lilis yang langsung memancing emosi Neneng, tanpa bisa di elak kan lagi, mereka berdua lantas saling jambak dan saling serang, sementara Wiliam dan Adit bukannya memisahkan mereka, justru malah meninggalkan pasangan mereka yang kini menjadi tontonan para undangan dan hiburan para awak media yang kegirangan karena mendapat berita besar di acara sebesar itu.

__ADS_1


__ADS_2