
Esih pulang ke rumah kontrakan Adit dengan bersungut sungut tak terima karena dirinya di usir begitu saja oleh ibunya Tania.
"Orang kaya itu kehidupan nya sangat rumit ya Mal ? Masalah nya njelimet banyak dan susah di mengerti !" gerutu Esih pada Jamal sang adik di sepanjang jalan meuju pulang.
"Iya teh, mending jadi orang biasa saja kaya kita ya !" kata Jamal.
"Orang biasa ? Orang susah, maksud mu ? ya mending jadi orang kaya lah, sorry jadi orang susah, kakak mu ini sekarang besan haji Juned lho di kampung, dan sebentar lagi bakal punya besan pengusaha kaya raya Jakarta, tunggu saja mereka pasti memohon mohon untuk jadi besan ku !" oceh Esih membusungkan dada nya.
"Bagaimana bu, berhasil membujuk besan pengusaha ibu yang kaya raya itu ?" ledek Neneng yang menangkap gelagat raut kekecewaan dari wajah ibu mertua nya itu.
"Tenang saja Neng, kamu gak perlu hawatir, ibu gak akan menerima mantu lagi selain kamu, mereka itu ternyata orang orang bermasalah !" oceh Esih.
"Cih, paling juga di usir dari keluarga sana, makanya bilang kaya gini, kalau penerimaan mereka baik, lain cerita pasti,,, ibu pasti bangga punya menantu anak pengusaha, iya kan ?" cibir Neneng yang tak tahan menumpahkan kekesalan nya.
"Ish, kamu ini, ibu tuh tidak pernah begitu, ibu hanya ingin tahu saja bagaimana keluarga mereka sebenarnya, lagi pula kedatangan ibu kesana itu tidak sia sia, ibu punya suatu rahasia yang bisa di jadikan senjata untuk menekan si sombong Inayah !" Esih tersenyum licik, dia seakan punya amunisi baru untuk menyerang Inayah sang mantan menantu yang di bencinya itu.
"Rahasia apa ?" tanya Neneng kepo.
"Tunggu saja, besok ibu akan mendatangi wanita songong itu, dia pasti tak akan bisa mengelak lagi untuk membantu Adit !" Esih menyeringai licik, memperlihatkan deretan gigi kuning nya.
"Benarkah ? Ibu yakin, Inayah akan bantu kang Adit kali ini ?" ucap Neneng antusias.
"Yakin lah ! Makanya kamu harus bangga punya mertua pintar seperti ibu ini, nanti kan kepintaran ibu bisa menurun ke anak mu," Esih menunjuk perut Neneng yang masih rata.
Spontan Neneng melengos sambil meninggalkan Esih,
"Amit amit jabang bayi, bukan pinter itu mah licik nama nya !" cicit Neneng pelan sambil mengelus perut ratanya.
***
Sesiangan Esih menunggui Inayah di kantornya, dia belum juga berhasil menemui Inayah yang sedang rapat dan belum usai sampai hari hampir menjelang senja.
__ADS_1
Esih tak ingin menyerah begitu saja setelah seharian lelah menunggu, dia menunggu di luar gedung kantor, karena menurutnya Inayah sengaja berlama lama rapat karena untuk menghindari bertemu dengan dirinya.
Mungkin kalau Esih pura pura pergi, Inayah akan segera keluar dari ruangan nya, apa lagi ini sudah memasuki jam pulang kantor.
Benar saja, tak sampai satu jam menunggu, Inayah terlihat keluar dari lobi kantor, namun saat Esih ingin menghampiri nya, Beni yang waktu itu ternyata sudah menunggu Inayah di parkiran depan kantor, keluar dari mobilnya dan membuka kan pintu untuk wanita kampung yang semakin hari terlihat semakin cantik dan elegan itu,
Tentu saja itu semua atas campur tangan Beni yang selalu mengarahkan bagai mana cara Inayah bersikap, bahkan sampai cara berbusana yang anggun, sehingga tak akan ada yang mengira kalau sebelumnya Inayah hanyalah wanita kampung yang polos.
Esih mengurungkaan niatnya untuk menghampiri Inayahyanag sudah seharian dia tunggu tunggu itu, justru kini dia bersembunyi dan mengamati pergerakan Beni dan Inayah secara diam diam.
Esih bahkan menyetop taksi untuk mengikuti kemana arah laju mobil yang di tumpangi kedua orang incarannya itu.
Esih lantas keluar dari taksi yang di sewa nya setelah memastikan kalau Beni dan Inayah masuk ke sebuah rumah mewah bersama.
Tok,,, tok,,, tok,,,
Ketukan pintu terdengar nyaring di kediaman Beni.
"Selamat malam nyonya Wiliam !" sapa Esih dengan cengiran menjijikan nya.
Esih bahkan langsung menerobos masuk ke dalam rumah Beni ketika pintu terbuka meski tanpa di persilahkan.
Inayah menghela napas panjang dan dalam, dia berusaha menetral kan perasaan nya, jujur saja dia sedikit terkejut saat Esih menyapanya dengan sebutan Nyonya Wiliam, entah dari siapa wanita tua itu mendapatkan info tentang pernikahannya dengan Wiliam, dasar tukang gosip !
"Apa yang ibu inginkan, cepat katakan, aku lelah seharian bekerja, aku ingin istirahat !" ucap Inayah masih berdiri di dekat pintu memperhatikan kelakuan Esih yang dengan seenaknya duduk dan mengangkat kaki nya ke atas sofa ruang tamu rumah milik Beni itu.
"Siapa yang dat--- Ah, ternyata nenek tua ini lagi, bisa bisa nya wanita busuk ini sampai ke rumah ku !" gerutu Beni kesal sambil melipatkan kedua tangannya di dada dan menatap tajam Esih dari tempatnya berdiri, dia terlihat sangat kesal melihat Esih yang tiba tiba saja datang dan bersikap seenak nya di rumahnya.
"Kenapa kalian terlihat kesal, apa karena aku mengganggu keasikan kalian malam ini ?" mulut lancang Esih mengeluarkan kata kata busuk seperti biasanya.
"Tentu saja anda mengganggu kami nenek tua !" ketus Beni sinis.
__ADS_1
"Wow,,, mulut mu tajam juga ya pebinor !" maki Esih dengan tatapan mengejek ke arah Beni.
"Apa maksud mu, bu ?" bentak Inayah tak terima dengan sebutan yang di berikan Esih pada Beni.
"Ya,,, dia perebut bini orang, dia memacari mu yang jelas jelas istri dari calon kakak iparnya sendiri, tapi kalian itu serasi kalian pasangan pelakor dan pebinor !" caci Esih semakin kurang ajar.
"Lantas apa hubungannya dengan mu ?" tanya Beni datar, tak terlihat sedikit pun gusar atau keterkejutan di raut wajah Beni.
Lain halnya dengan Inayah yang agak sedikit kaget karena Esih mengetahui cerita tentang dirinya dan Wiliam walaupun tidak sepenuhnya benar, dia terlihat agak sedikit grogi saat Esih mengancam nya dengan lancang bahkan membawa bawa nama Wiliam segala rupa.
"Tentu saja ini berhubungan sekali dengan ku, coba bayangkan, bagaimana jika semua cerita ini aku jadikan oleh oleh untuk ibu mu di kampung saat aku pulang ? Oh iya, di tambah cerita kalau anak perempuan tersayang nya juga kini tinggal serumah dengan laki laki yang menjadi selingkuhannya ! Oh,,, pasti akan sangat seru menyaksikan mak Titin jantungan sama seperti pak Andi kemarin !" kikik Esih tertawa geli setelah menumpahkan ancamaannya pada Inayah dan Beni.
"Jaga mulut anda ! Jangan pernah libatkan emak ku dalam urusan kita,!" panik Inayah, dia tak bisa membayangkan jika Esih sampai menceritakan hal yang tidak sepenuhnya benar itu pada Titin sang ibu, wanita tua yang sangat di sayanginya itu pastilah akan merasa sedih dan sangat kecewa.
"hahaha panik ya....!" goda Esih semakin merasa di atas angin karena melihat kegelisahan dan ketakutan di mata Inayah.
Beni yang langsung cepat bisa membaca situasi, dia langsung menghampiri Inayah dan merangkul bahunya, dia harus menenangkan wanita itu terlebih dahulu, karena kalau tidak, Esih akan semakin membabi buta dan menekan Inayah sampai terlihat lemah lalu menyerah.
"Mas !" ringis Inayah pelan, dia juga tak sadar menautkan erat tangannya di lengan berotot milik Beni.
"Tenang lah !" Beni mengusap pucuk kepala Inayah seraya mengatakan kalau semuanya pasti akan baik baik saja, dan percayakan saja semuanya pada nya.
"Kalian sungguh pasangan tidak tau malu, pasangan hasil dari merebut dari pemilik aslinya ! Dan yang laki laki lebih menjijikan, dia merebut perusahaan dari tunangannya untuk di berikan pada selingkuhannya ? ooh dunia sudah gila !" oceh Esih seakan paling tahu semua ceritanya, dan hidupnya paling suci.
"Perusahaan Tania yang kamu rampas itu harusnya menjadi milik cucu ku, anak Adit yang kini berada dalam kandungan Tania, tapi kalian tamak, jahat, dasar pencuri !" maki Esih meracau tak karuan.
"Hey nenek tua,! Apa kau sudah selesai mengoceh ? Kalau sudah, pergilah ! Kami lelah seharian bekerja, kami harus mendapat istirahat yang cukup untuk menghadapi manusia manusia gila macam anda !" tegas Beni.
"Kau mengusir ku ? Apa kalian tak takut aku menceritakan semua ini pada Titin ?" kaget Esih membelalakan matanya, dia tak percaya kalau ancamannya tidak mempan untuk menekan kedua orang di hadapannya itu.
"Ya, pergilah ! Lakukan semau mu, sepuas mu nenek tua !" usir Beni sambil menunjuk ke arah pintu depan yang terbuka lebar.
__ADS_1
"Kalian akan menyesal, kalian anggap aku hanya sekedar mengancam, huh ? Aku akan menceritakannya, bukan hanya pada Titin, tapi pada seluruh penduduk desa, dan satu lagi,,, stop menyebut ku nenek tua !" teriak Esih dengan napas yang tersenggal senggal, dia menahan amarah karena tidak mendapatkan apa yang di inginkannya yaitu mengancam Inayah dan Beni agar mau mencabut laporan atas anak lelaki kesayangannya itu.