Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Syarat


__ADS_3

"Sialan kau Wiliam, aku akan di bawa ke mana lagi,?" maki Lilis yang di seret paksa oleh Wiliam menuju ujung pelabuhan yang terlihat lebih sepi di dari kegiatan bongkar muat barang.


"Diamlah, aku hanya mengantarkan mu pada pembeli mu," ucap Wiliam sambil terus berjalan tanpa memperdulikan makian Lilis,


"Pembeli ? Kau menjualku pada siapa ? Aku akan berteriak agar orang orang menangkap mu dan menghakimi mu beramai ramai sampai kau mati !" ancam Lilis.


"Berteriaklah kalau kau ingin pisau ini menembus pinggang mu," ucap Wiliam yang semakin menekankan ujung pisau yang dia todongkan di pinggang Lilis itu.


Namun saat di depan kontainer besar yang pintunya baru saja di buka oleh penjaga, Lilis benar benar berontak dan meronta ronta berusaha melepaskan diri, Wiliam yang panik spontan menusukkan pisau belati yang sejak tadi di pegangnya ke pinggang Lilis, sampai wanita itu menjerit dan lunglai ke tanah dengan genangan darah yang langsung membasahi baju yang di pakainya.


"Hei, sialan kau ! Kenapa kau bunuh barang jualan ku ?" ucap dua penjaga yang membukakan pintu kontainer tadi langsung marah ketika barang dagangan yang akan dia kirim ke luar negeri itu tergeletak bersimbah darah akibat tusukan pisau Wiliam.


"Bawa kedua orang itu ke dalam, jangan sampai lepas !" teriak seseorang dari dalam kontainer, suaranya menggelegar dan sangat menyeramkan.


Dua orang berbadan tegap berhasil melumpuhkan dan menangkap Wiliam yang merasa kebingungan karena dirinya ikut di tangkap mereka, padahal dirinya hanya berniat mengantarkan Lilis saja.


Sedangkan dua orang lainnya mengangkat tubuh Lilis yang sudah terkulai lemas.


"Apa apaan ini, kenapa kalian membawa ku juga, aku hanya mengantar wanita yang di beli bos kalian !" protes Wiliam yang mengira kalau orang orang yang kini menangkapnya itu adalah para anak buah Beni, padahal mereka adalah para mafia kejam yang menjual organ tubuh manusia di pasar ilegal.


"Oh, jadi kau orang yang menjual wanita itu bos kami ?" tanya seorang pria yang kedatangannya langsung di sambut hormat oleh beberapa pria yang berjaga di sana, sepertinya pria itu berkedudukan lebih tinggi di antara mereka.


"Iya, aku yang menjual wanita itu pada bos kalian !" jawab Wiliam tegas.


"Kau sudah menerima uangnya ?" tanya pria itu lagi.


"Sudah," singkat Wiliam.


"Bos, wanita itu lewat, sebelah ginjalnya rusak tidak bisa di pakai karena terkena tusukan dia, sekarang sedang di urus di dalam !" lapor salah satu pria yang tadi membawa Lilis ke dalam.


"Sepertinya kau sudah melanggar perjanjian," pria itu mendekati Wiliam.


"Perjanjian apa ? Tak ada perjanjian apapun antara aku dan bos mu !" elak Wiliam.


"Bos ku membeli barang hidup, bukan membeli bangkai !"


"Itu di luar kendali, aku tak sengaja melakukannya, dia akan berteriak dan itu akan membahayakan kita semua !" Wiliam beralasan.

__ADS_1


"Sesuai kesepakatan, kau harus mengembalikan uang yang di berikan bos kami dua kali lipat, jika tidak kau yang akan menggantikan posisi wanita tadi untuk kami ambil dan jual organ organ tubuh mu !" ucap pria itu dengan tatapan sadisnya.


"Ju-jual organ tubuh ? Kalian,,, apa kalian mafia penjualan organ tubuh manusia ? ini ku kembalikan uang dari bos kalian, masih utuh !" Wiliam merogoh saku kemejanya danvmenyodorkan selembar cek yang di berikan Beni padanya.


"Apa ini ? Kau mempermainkan ku " teriak pria itu menggebrak meja yang ada di hadapan nya.


"I-itu yang di berikan bos kalian sebagai uang pembelian wanita itu, kalau kalian minta dua kali lipat, beri aku waktu dua sampai tiga hari untuk memberikan kekurangannya, tapi lepaskan aku !" ucap Wiliam ketakutan, dirinya tiba tiba merinding membayangkan jika organ organ tubuhnya harus di ambil para mafia itu.


"Kau menghina bos kami ? Atau berusaha menipu bos kami ? kami membeli wanita itu seharga enam milyar, dan kau harus mengganti dua kali lupat dari itu pada kami karena kau sudah merusak barang dagangan mu sendiri !" terang pria itu yang membuat Wiliam terhenyak.


"Enam milyar ? Itu artinya aku harus mengembalikan sebanyak dua belas milyar ? Ini gila, bajingan itu lagi lagi mempermainkan dan menipu ku untuk kesekian kalinya !" gumam Wiliam geram bercampur kesal, ada rasa marah juga untuk Beni yang berulang kali berhasil membodohinya itu.


"Bagaimana, kau akan mengembalikan uang beserta dendanya, atau kau akan membayarnya dengan tubuh mu ?" tekan pria itu mengintimidasi.


"Beri aku waktu, itu bukan uang yang sedikit, aku juga harus bertemu seseorang untuk meluruskan masalah ini," pinta Wiliam, memohon pada mereka agar memberinya waktu.


"Ku beri kau waktu tiga hari, uang atau tubuh mu !"


"Hah, tiga hari ?! Seminggu, ku mohon !" ucap Wiliam.


"Tiga hari atau kau bayar sekarang juga !" tegasnya.


"Orang orang ku akan mengikuti mu kemana pun kau pergi ! Kalau kau mencoba macam macam, ucapkan selamat tinggal pada dunia ini segera !" ancam pria itu.


Dia harus segera bertemu dengan Beni dan meminta penjelasan tentang semua ini, dia akan meminta pertanggung jawaban atas semua yang terjadi padanya pada laki laki itu.


***


"Bos, Wiliam mencari anda di luar !" lapor salah satu anak buah Beni menunggu perintah apa yang di berikan bosnya.


"Biarkan dia masuk !" jawab Beni santai.


Beni yang sudah mendengar tentang kejadian tewasnya Lilis di pelabuhan dan Wiliam yang kini harus mengganti uang para mafia itu hanya ternsenyum sambil menanti, apa lagi yang pria bodoh itu inginkan.


Brakk,,,!


Wiliam menggebrak meja kerja Beni, beberapa anak buah Beni yang ada di sana sudah waspada dan bersiap mengamankan Wiliam, namun Beni menahan mereka dengan mengangkat sebelah tangannya tanda semua aman dan bisa dia kendalikan.

__ADS_1


Kedua anak buah Beni pun mundur, memberi jarak, meski tetap bersiaga dan tak melepaskan pandangannya pada Wiliam yang mungkin saja menyerang bos nya secara tiba tiba.


"Kau mencurangi ku lagi !" geram Wiliam.


"Aku ? Aku tak melakukan apapun, apa maksud mu?" Beni pura pura tak tahu menahu stas apa yang terjadi pada diri Wiliam.


"Lilis, kau menjualnya pada mafia penjual organ tubuh ilegal, dan kau menjualnya seharga enam milyar !" kesal Wiliam.


"Lantas, apa masalahnya dengan mu, kau menjualnya padaku aku membayarnya sesuai dengan permintaan mu tak kurang sepeser pun, masalah mau ku apakan barang yang ku beli, mau ku buang atau ku jual lagi, bukan kah itu urusan ku ?" ucap Beni yang membungkam mulut Wiliam karena apa yang di katakan Beni adalah benar adanya,


Perihal menyangkut masalahnya dengan para mafia bukankah itu terjadi karena kecerobohannya sendiri yang membuat Lilis kehilangan nyawanya saat itu.


"Tapi kau menjebak ku, kau yang meminta Lilis di antarkan ke tempat sarang mafia itu," Wiliam tetap mencari celah agar Beni tetap bersalah dalam hal ini.


"Aku tak pernah menyuruh mu untuk datang ke sana, kau yang mengajukan diri untuk mengantarkan istri mu sendiri ke sana, padahal kau bisa menyuruh anak buah mu untuk mengantarkan wanita itu ke sana," tepis Beni mengutarakan alibinya.


"Kenapa kau melakukan ini semua pada ku ? Kau harus membantu ku untuk keluar dari masalah ini !" ucap Wiliam frustasi.


"Kenapa aku harus membantu mu ?" Beni tersenyum geli.


"Karena semua ini ulah mu, kau yang bermain main dengan mafia mafia itu dan aku harus terlibat dalam pusaran masalah mu ini."


"Kau yang memasukan diri mu sendiri ke dalam masalah para mafia itu, kenapa kau menyalahkan orang lain !" tepis Beni.


"Bantu aku bayarkan uang yang di minta para mafia itu, kau yang mendapatkan uang enam milyar dari mereka, pinjamkan aku sepuluh milyar, aku yakin itu jumlah yang sedikit buat mu !" pinta Wiliam.


"Kenapa aku harus meminjamkan uang untuk membantu mu ?"


"Tolonglah ini menyangkut hidup dan mati ku, anggaplah sebagai ganti karena kau sudah mengambil semua yang ku punya, perusahaan ku, rumah orangtua ku !" oceh Wiliam.


"Hanya sepuluh milyar ? Aku bisa mengembalikan semua yang pernah ku punya padamu, dan aku juga akan memberikan seluruh harta yang ku punya padamu, asala kau bisa memberiku satu hal," ucap Beni serius.


"Satu hal ? Kau mempermainkan ku lagi ?" Wiliam tak ingin tertipu untuk ke sekian kalinya.


"Tidak, aku benar benar akan memberikan semuanya," tepis Beni.


"Apa syarat yang kau berikan?" tantang Wiliam.

__ADS_1


"Kembalikan Ibu dan Adik ku ! aku akan menukar semua harta ku asal kau kembalikan ibu dan adik ku !" sorot mata Beni menatap tajam Wiliam yang sedikit mengerutkan keningnya mencerna apa yang baru saja Beni ucapkan padanya.


__ADS_2