Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Tak ada tempat untuk Penghianat


__ADS_3

Hanya tinggal tersisa tiga orang mafia yang berada di atas kapal itu, mereka benar benar waspada, terlebih ketika satu persatu bagian dari mereka tumbang tanpa tau siapa yang menyerang mereka.


"Siapa yang menyerang kita dengan cara pengecut seperti ini ? Hei siapa pun kalian, keluar ! Jangan menyerang secara sembunyi, kalau tidak, kepala wanita ini akan aku ledakkan sekarang juga !" ancam mereka seraya menempelkan ujung senjata di kepala Tania.


"Jangan sakiti dia !" Tanpa di duga Adit tiba tiba keluar dari persembunyiannya, dan mengangkat kedua tangannya.


"Adit, apa yang kamu lakukan ? Kenapa kamu bisa ada di sini ?" pekik Tania kaget karena tiba tiba suami sirinya itu berada di kapal yang sama dengan dirinya.


"Siapa kau ?" tanya pria yang sedang menyandera Tania itu.


"Aku suaminya, dia tak ada hubungnnya dengan masalah kalian dengan Wiliam ataupun Beni, aku dan istri ku hanya tak sengaja terseret ke pusaran masalah kalian !" terang Adit.


"Beni ? Siapa lagi dia ?" tanya orang yang masih menodongkan senjata nya di kepala Tania, karena setau dirinya bos besarnya hanya memerintahkan untuk menangkap pria bernama Wiliam, bukan Beni.


"Dia yang menembaki dan membunuh teman teman mu, mereka di sana !" sesuai dengan prediksi Beni, Adit benar benar berulah dan menghianatinya.


"Ah, manusia egois, tak berguna itu, bisa bisanya menjadi penghianat,!" kesal Beni.


Bukan tanpa alasan Adit berbuat seperti itu, selain ingin menyelamatkan Tania sang istri, tapi juga ternyata dari kejauhan dia sudah melihat kapal dengan penumpang puluhan orang mendekat ke kapal mereka, Adit berasumsi kalau itu adalah bala bantuan para mafia, dan mungkin nyawanya akan terancam bila dia terus bersembunyi dan berada di pihak Beni yang anak buahnya kalah jumlah dengan mereka, terdengar sangat egois memang, tapi ya itulah Adit.


Baru saja Beni hendak mengokang sejatanya yang berperedam suara itu dan membidikannypa ke arah kepala Adit karena dia sangat kesal dengan ocehan pria penghianat itu, namun aksinya harus terhenti karena kini di belakang kepalanya terasa seperti ada benda keras yang menempel.


"Jatuhkan senjata mu, atau ucapkan selamat tinggal pada dunia ini sekarang juga !" ancam seseorang di belakang nya.


Beni tak mendapat kesempatan untuk sekedar berbalik dan melihat siapa penodongnya itu, apa lagi melawannya, Beni hanya bisa pasrah menurunkan senjatanya dan Mengangkat kedua tangannya ke atas kepala.


Satu persatu anak buahnya di gelandang ke hadapannya, beberapa di antaranya bahkan terlihat sudah babak belur, mungkin karena mereka mencoba melawan saat tangkap.


Beni benar benar mengutuk Adit dalam hatinya, gara gara mulut pria itu kini dirinya dan juga anak buahnya tertangkap para mafia, sedangkan Wiliam yang menjadi incarannya sepertinya berhasil meloloskan diri.


"Bawa mereka semua ke dalam kapal, bawa ke markas !" titah seorang pria bertubuh besar yang sepertinya merupakan pimpinan mereka.

__ADS_1


"Aku tak termasuk di antara mereka, kan ? Kalian akan melepaskan aku, kan ? Aku sudah mberi tahu kalian tentang penyerang teman teman kalian !" oceh Adit.


Dor,,,!


Satu tembakan di arahkan ke kaki Adit yang langsung menjerit kesakitan.


"Aaaaahhh ! Kenapa kau menembak ku ? Aku sudah memberitahu tentang keberadaan Beni yang menghabisi para anak buahmu secara diam diam ?!" ringis Adit memegangi kakinya yang terasa sakit, perih dan panas menjadi satu.


"Manusia bermulut besar dan penghianat seperti mu tak akan bisa di percaya, bisa saja kau membocorkan tentang kami di luaran sana !" ucap pria itu membuat Adit ketakutan.


Benar saja, satu tembakan lagi lagi di terdengar memekakan telinga, dan kali ini tepat mengenai dahi Adit yangvtembus ke belakang kepalanya karena tembakan di lakukan dari jarak dekat, sehingga menyebabkan Adit langsung tergelepar di geladak kapal dengan mata terbelalak dan lalu beberapa detik kemudian tak bergerak lagi.


"Cih, tak ada tempat untuk seorang penghianat di dunia ini, tempat mu hanya neraka !" cibir pria itu menendang tubuh Adit yang menghalangi jalannya.


Tania terlihat sangat syok, melihat Adit meregang nyawa di depan mata kepalanya sendiri, sampai sampai dia tak bisa mengeluarkan sepayah kata pun, dia hanya bisa menatap jasad kaku suami sirinya itu dari kejauhan, sengan air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya dan kemudian dalam sekejap saja membanjiri pipi nya.


Bagaimana Tania harus menjelaskan kepergian Adit pada keluarganya, pada madunya yang sedang mengandung anak yang tak akan pernah bisa bertemu ayahnya di seumur hidupnya.


***


David terlihat mondar mandir di ruangnkerjanya di Teja grup, suara ponsel yang terus terusan berdering semenjak satu jam lalu terdengar bagai suara teror bagi David, karena yang menelpon adalah Inayah, istri dari kakak sepupunya.


David terlalu bingung untuk menjawab pertanyaan pertanyaaan yang mungkin akan di lontarkan padanya mengenai Beni, karena David yakin kalau Inayah menelponnya hanya untuk menanyakan kabar suaminya yang sampai saat ini belum pulang.


Sementara itu, David juga belum tau pasti bagaimana keadaan kakaknya itu karena sampai saat ini belum ada satupun anak buah Beni yang bisa di hubungi, begitupun ponsel Beni yang sejak tadi tak bisa di hubungi membuat dirinya semakin di liputi rasa cemas yang teramat sangat.


"Sudah ku duga, kau memang sengaja tak menerima telpon ku !" ujar Inayah yang langsung menerobos ruang kerja David di Teja grup.


"Ka- kakak ipar, maaf aku tak tau kalau kakak menelpon ku, aku baru saja selesai meeting !" gugup David berbohong, sedangkan wajahnya tak bisa menyembunyikan raut keterkejutannya atas kedatangan Inayah ke sana.


"Aku yakin kamu pasti tau di mana kakak mu sekarang berada, ini sudah jauh lewat jam kerja, tidak biasanya dia seperti ini, ponselnya pun tak bisa di hubungi, katakan di mana dia ?!" todong Inayah.

__ADS_1


"Emh, anu,,, koko ada pekerjaan mendadak ke luar kota, tadi sempat mengabari ku dan meminta untuk menyampaikan ini pada kakak, dan meminta ku untuk menjaga kakak selama koko di luar kota," bual David lagi, sungguh dirinya sangat kesulitan berbohong di saat suasana hatinya yang sedang kalut seperti itu.


"Luar kota ? Kenapa dia tak mengabari ku ? Dan kenapa ponselnya tak bisa di hubungi ?" tanya Inayah mulai curiga.


"Anu, itu sangat mendadak dan mendesak, dan kalau tentang ponselnya yang tak bisa di hubungi, mungkin saat ini koko sedang berada di atas pesawat," kilah David.


"Tak biasanya dia seperti ini, kamu yakin tak ada yang di sembunyikan dari ku ?" Inayah memicingkan matanya mencari kejujuran di mata David.


"Itu sejauh yang aku tau kak, untuk selebihnya aku tak tau apa apa, kak," gugup David mencoba menghindari pandangan tajam mata Inayah yang seperti menanngkap kebohongan di matanya.


Tok,,, tok,,, tok,,,,!


Suara ketukan pintu menyelamatkan rasa gugup David yang ketakutan dan hampir katahuan kalau saat ini dirinya sedang berbohong.


"Masuk !" seru David bersemangat menyambut penyelamat dirinya yang sedang di interograsi istri dari kakaknya itu.


Tapi sedetik kemudian wajah David terlihat pucat pasi karena ternyata yang datang dan masuk ke ruang kerjanya itu salah satu anak buah Beni yang sudah babak belur.


"Bang, celaka bang,,, bener bener celaka, bos Beni tertangkap para mafia itu, bahkan kabarnya beberapa orang kita ada yang tewas tetembak di atas kapal !" lapor pria itu tanpa menyadari kalau di sana ada Inayah yang mendengarkan laporannya perihal nasib sang suami, padahal David sudah mengkode nya dengan mengerjap ngerjapkan matanya dan menaruh jari telunjuknya di mulut.


Namun pria itu terlanjur sudah mengatakan semuanya di ruangan itu dengan lantang saking dia paniknya.


"Apa maksudnya semua ini ? Mafia apa ? Siapa yang tewas dan tertangkap ?" Inayah mendekati David yang sedang duduk di kursi kerjanya dengan kilatan mata menyala nyala karena amarah


Tentu saja Inayah merasa di bohongi dan di permainkan oleh David yang menutupi hal sebesar itu dari dirinya.


David menahan nafasnya, matanya melotot ke arah anak buah Beni yang baru saja melapor itu, gara gara pria itu dirinya kini dalam masalah besar, harus menghadapi Inayah yang berubah menjadi seperti srigala betina yang siap menerkam siapa saja yang ada di hadapannya.


"Kak, tunggu dulu, biar aku jelaskan dulu, semua tidak seperti yang kak Inayah pikirkan, ini semua rencana mendadak, aku bahkan sudah melarangnya mati matian, tapi koko memaksa untuk tetap pergi dan merahasiakan semua ini dari kakak !" akhirnya pilihan David adalah menyelamatkan diri sendiri dari amukan sang kakak ipar dengan menjadikan Beni tamengnya.


"Kalian sama saja ! Masalah sebesar ini bisa bisanya kalian sembunyikan dari ku, kalian anggap aku ini apa ? Kalian anggap aku ini siapa, hah ?!" teriak Inayah, ternyata upaya penyelamatan diri David dengan menjadikan Beni sebagai tamengnya tak membuahkan hasil, dirinya tetap terkena sasaran kemarahan srigala betina yang sedang mengamuk ini.

__ADS_1


__ADS_2