Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Kabar pernikahan antara Wiliam dan Tania sudah menyebar di kalangan para pengusaha dan para pelaku bisnis di ibu kota, bukan tanpa alasan hal itu bisa cepat tersebar luas, itu karena ulah Meli yang menggembar gembor berita pernikahan anak perempuannya ke semua teman sosialita nya dan juga para pewarta, bagaimana pun juga ayahnya Wiliam pernah berjaya dan termasuk salah satu pengusaha yang cukup di perhitungkan di kalangan para pebisnis kelas atas pada masanya.


"Liam, kamu benar benar akan menikah dengan si nenek lampir bunting itu ? Lalu, bagai mana dengan nasib ku ?" tanya Lilis merajuk.


Wiliam tersenyum manis pada Lilis yang berada di pangkuannya dengan posisi berhadap hadapan, saat ini mereka sedang berada di kamar kost Lilis yang dulu pernah di tempatinya.


Lilis memang terpaksa kembali ke tempat kost nya, karena Tania meminta Wiliam untuk mengusir wanita itu dari rumah kontrakannya.


Mereka pun tak bisa membohongi Tania, karena calon istri Wiliam itu sering mengadakan sidak ke rumah Wiliam demi membuktikan keseriusan Wiliam dalam ucapan nya yang katanya telah mengusir Lilis pergi dari rumah itu.


Sebetulnya bukan karena dia berniat posesif pada Wiliam, hanya saja dia ingin menyingkirkan Lilis dan membuat wanita itu kelimpungan karena berjauhan dengan laki laki yang hanya menjadikannya pemuas di ranjang saja itu.


Tania cukup puas dan bahagia bila melihat Lilis merasa kalah dari nya di hadapan Wiliam, dan dia bisa menertawakan kemarahan Lilis karena di pecundangi nya.


"Tenang saja, ini semua demi mendapatkan pinjaman modal dari ayah ku !" kata Wiliam sambil menciumi pipi Lilis.


"Tapi, bukan kah rencananya kita tidak seperti ini ? Kau tak harus menikahi Tania, bukan kah rencananya yang akan menikahi si nenek sihir itu Beni, kan ?" rengek Lilis sambil membuka satu persatu kancing kemeja yang di pakai Wiliam dan meraba dada berotot milik Wiliam.


"Tentu saja Beni yang akan menikah dengan Tania nanti, sesuai rencana kita semula, bahkan Beni akan kehilangan harga diri dan reputasinya di seluruh penjuru negeri ini, sampai dia tidak akan berani mengangkat wajahnya di hadapan siapa pun !" kata Wiliam sambil menelusupkan tangannya ke balik kaos yang di pakai Lilis, tangannya berselancar meraba punggung dan berhenti di gundukan kenyal dada Lilis yang tak berbungkus.


"Ah,,, aku senang sekali dan tak sabar menyaksikan wajah si nenek sihir yang sombong itu tertunduk malu dan mendapat cemooh dari semua orang !" ucap Lilis sambil menikmati sentuhan tangan Wiliam di dadanya yang akhir akhir ini jarang dia dapatkan karena kesibukan Wiliam mempersiapkan pesta pernikahan nya, sehingga mereka harus mencuri curi waktu untuk sekedar bertemu dan saling melepas hasratnya.


"Jangan lupakan si Beni yang juga akan hancur hari itu !" cengir Wiliam mengangkat wajahnya sebentar di tengah kesibukannya menikmati benda kenyal yang sejak tadi sudah memenuhi mulutnya.


"Aku kangen banget sama kamu, gara gara nenek sihir itu aku jadi tak bisa sering sering bermesraan dengan mu," tangan Lilis dengan cekatan membuka kancing celana Wiliam dan menurunkan resleting celana kain yang di pakai laki laki yang masih menyantap dengan lahap kedua dadanya itu secara bergantian, sedangkan jari tangan Wiliam pun sudah menari indah di balik rok pendek yang di kenakan Lilis saat itu.


Lilis meliuk liukan badannya di atas pangkuan Wiliam, bak cacing kepanasan, menikmati hunusan senjata Wiliam yang sudah sangat dia rindukan.


***


"Mas, kita di undang makan malam oleh Wiliam dan keluarganya malam ini," ucap Inayah pada Beni.

__ADS_1


"Makan malam ? Buat apa, lagi pula besok kita akan menghadiri pesta pernikahan mereka, jadi buat apa malam ini kita harus bertemu mereka juga ?" tanya Beni curiga.


"Entah lah, Wiliam menghubungi ku tadi siang, katanya ayah dan ibunya ingin membicarakan sesuatu pada kita," terang Inayah.


"Baiklah, kita akan memenuhi undangan mereka, sayang. Kamu berdandan yang cantik, aku ingin dunia tahu kalau calon istri ku ini wanita paling cantik di seluruh dunia !" goda Beni yang menutupi rasa janggalnya atas undangan pertemuan tang mendadak dari keluarga Wiliam itu.


Mengesampingkan rasa curiga yang sebelumnya memenuhi pikirannya, Beni dan Inayah pergi memenuhi undangan makan malam dari Wiliam dan keluarga nya itu.


"Sayang, kamu yakin makan malam ini di adakan di hotel tempat acara resepsi pernikahan mereka besok ?" tanya Beni di tengah perjalanan nya menuju tempat yang telah di tentukan.


"Menurut pesan yang di berikan Wiliam seperti itu," Inayah memperlihatkan pesan yang di kirimkan Wiliam padanya.


"Aku hanya merasa aneh saja, biasanya pak Andi selalu mengadakan makan malam di rumahnya," kata Beni menepis pikiran buruknya.


***


Sesampainya di hotel yang di sebutkan di pesan Wiliam pada Inayah, terlihat Tania dan Wiliam menyambut kedatangan pasangan kekasih yang belum lama meresmikan hubungannya itu.


Inayah menengok ke kiri dan ke kanan, juga ke setiap penjuru ruangan besar itu mencari sosok orang tua Wiliam yang tak terlihat berada di sana, hanya ada dirinya, Beni, Wiliam dan Tania yang duduk di meja yang sudah di penuhi hidangan makanan mewah beraneka rupa.


"Maaf, tadinya ayah dan ibu akan hadir di sini, namun mendadak kesehatan ayah agak menurun tadi, jadi aku saran kan untuk beristirahat saja di rumah, karena besok harus menghadiri resepsi pernikahan kami, ayah dan ibu memohon maaf pada kalian berdua tidak dapat ada di sini !" kata Wiliam membuka pembicaraan setelah melihat raut wajah Inayah yang seakan bertanya tanya akan ketidak hadiran Andi dan Meli yang katanya ingin berbicara dengannya juga Beni, namun justru mereka tak terlihat ada di ruangan itu.


"Oh, semoga ayah mu baik baik saja !" ucap Beni menimpali ungkapan Wiliam yang memberi penjelasan atas ketidak hadiran orang tuanya saat ini di tempat itu.


Setelah berbasa basi dan berbincang ringan, tiba tiba Tania mengeluh kalau kepalanya pusing, dan berpamitan pada mereka untuk beristirahat di kamar, namun baru beberapa langkah saja Tania tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, Tania terlihat limbung,


"Ben, tolong aku, aku tak kuat mengangkat tubuh Tania, tangan ku baru keseleo tadi pagi akibat terjatuh,!" panik Wiliam.


Beni malah melirik ke arah Inayah,


"Bantu dia mas, kasihan Tania, ayo aku akan ikut bersama kalian !" ucap Inayah yang merasa iba karena mengingat Tania sedang berbadan dua saat ini.

__ADS_1


Saat akan memasuki lift tiba tiba Wiliam menghentikan langkahnya,


"Nisa, maaf, apa aku bisa minta tolong, ponsel ku tertinggal di meja, aku harus menghubungi dokter, bisa tolong ambilkan, dan segera menyusul kami ? Kami di lantai lima kamar 5110," ucapnya sambil sibuk membantu membopong tubuh tania yang sedang di pangku Beni.


Mereka bertiga sudah sampai di kamar yang akan di jadikan kamar pengantin Wiliam dan Tania besok, namun Inayah tak kunjung datang ke kamar itu.


"Kenapa pacar mu lama sekali, apa dia tersesat ?" keluh Wiliam.


Namun tak lama bel pintu kamar hotel itu berbunyi,


"Itu pasti pacar mu, biar aku saja yang membukanya" ucap Wiliam beranjak dari duduknya dan meninggalkan sapasang manusia yang sebelumnya hampir bertunangan itu di satu kamar yang sama dengan keadaan Tania yang setengah tak sadarkan diri.


Alih alih membukakan pintu untuk Inayah, Wiliam justru malah meninggalkan Beni dan Tania berduaan di kamar itu.


Wiliam kini masuk ke kamar lain yang di sewanya juga yang berada tepat di sebelah kamar pengantin nya.


Setelah melihat keadaan sekitar dan dirasa aman, Wiliam masuk ke kamar itu,


"Bagaimana, semua oke, kan ?" tanya Lilis yang ternyata menunggu di kamar itu.


"Semua berjalan mulus, rencana mu berhasil, Beni dan Tania tak mungkin bisa menahan gairahnya akibat obat yang kamu berikan di minuman mereka, kita tunggu sepuluh menit kemudian, para wartawan dan kedua orang tuaku yang aku undang datang ke kamar itu akan memergoki perbuatan mesum mereka, dan BOOM !!! Berita tentang Beni si pengusaha terkenal yang berbuat mesum dengan calon istri ku akan menjadi topik pembicaraan di mana mana, hancur kau Beni !" ucap Wiliam tertawa puas.


"Tentu saja, aku sudah merencanakan ini dengan matang, bukankah aku hebat ?!" ucap Lilis mengalungkan tangannya di leher Wiliam.


"Ah,,,! Membayangkan betapa bergairahnya dua orang itu di bawah pengaruh obat, aku jadi ikut panas dan menginginkan mu, ayo kita isi waktu luang kita sembari menunggu berita baik meledak, aku juga ingin meledak bersama mu !" ucap Wiliam dengan suara serak dan pandangan berkabut nya menyesap bibir Lilis dan melucuti semua pakaian yang di kenakan mereka berdua tanpa sisa.


Benar saja, tepat sepuluh menit kemudian tetdengar ribut ribut di kamar pengantin yang kini terdapat Beni dan Tania di dalamnya,


Bagkan suara tangis Tania terdengar meraung raung sampai ke telinga Lilis yang sedang asik menikmati ke liaran Wiliam di ranjang bersamanya.


Lilis pun tersenyum iblis dia merasa puas telah membuat Tania menangis meraung raung seperti itu, dan kini dia hanya ingin merayakan kemenangannya dengan menikmati hujaman senjata Wiliam yang selalu membuatnya menjerit dalam nikmat.

__ADS_1


Dia tak ingin terganggu dengan suara ribut orang banyak dan suara jerit tangis Tania yang sangat pilu bagi siapa saja yang mendengarnya.


__ADS_2