Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Wiliam Terpojok


__ADS_3

Wiliam mengeraskan rahangnya tangannya mencengkram kerah baju Beni, nafasnya tersenggal senggal menahan amarah yang memuncak akibat provokasi Beni terhadap nya.


"Apa mau lu, bangsat !?" geramnya sambil sesekali matanya melirik ke arah pintu rumahnya, dia tak ingin tiba tiba ayah nya memergoki dia sedang gontok gontokan dengan Beni, itu pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan dan masalah yang panjang, belum lagi kesehatan ayah nya tentu saja akan menjadi taruhannya, bagaimana pun hanya tinggal ayahnya yang dia miliki, rasa sakit kehilangan di tinggal pergi oleh ibunya bahkan masih terasa perih di dadanya, dia tak ingin rasa itu terulang karena kepergian Andi sang ayah, apa lagi kalau itu di sebabkan oleh ulahnya, dia pasti akan menyesal seumur hidupnya.


"Bukan kah sudah ku utarakan penawaran ku tadi ?" jawab Beni tenang, seraya menyingkirkan tangan Wiliam yang masih menremas kerah bajunya.


"Hanya karena saham ku di Teja yang tak seberapa itu ? Oh shiiittt ! Apa sebegitu inginnya lu menguasai Teja ? Buat apa ? Perusahaan mu bahkan seratus kali lebih besar di banding Teja grup !" kesal Wiliam.


"Terserah ! Kau hanya tinggal memilih, ku bongkar rahasia mu atau jual saham kecil mu padaku?" ujar Beni tak peduli.


"Baik ! Aku akan menjual saham ku pada mu, lagi pula aku juga sudah punya perusahaan sendiri yang lebih maju dan lebih besar dari pada Teja grup !" putus Wiliam, lagi pula uang hasil penjualan saham itu bisa dia tambahkan untuk modal proyek besar nya.


"Okay, sip ! Tunggu sebentar !" sambil tersenyum Beni mengacungkan jempol tangannya dan membalikkan badan menuju mobilnya, mengambil map yang yang berisi kertas perjanjian surat jual beli saham yang sudah dia persiapkan sebelumnya.


"Sial ! Kau bahkan sudah mempersiapkan sejauh ini !?" Wiliam bersungut sungut saat dirinya terpaksa menanda tangani surat itu.


"Aku selalu prepare, soal pembayarannya, besok kau temui aku di kantor !" cengir Beni berlalu pergi menuju pintu utama rumah itu untuk kembali bergabung bersama keluarga besar Wiliam , sambil memegangi map itu dan tersenyum puas.


Beni bergabung kembali di ruang tengah rumah mewah itu, dengan wajah yang sumringah.


"Bahagia banget kayanya !" tegur Tania ketika melihat Beni terus tersenyum dan sangat bersemangat mengobrol dengan orang tuanya.


Namun Beni tak menghiraukan perkataan Tania padanya seperti biasa.


Saat di meja makan, Andi mulai membahas tentang kelanjutan hubungan antara Beni dan Tania, dan itu lumayan mengusik mood Beni yang sedang bagus bagusnya itu.


"Nak Beni, bagaimana persiapan pertunangan kalian yang akan di laksana kan, bulan depan, apa sudah beres segala sesuatunya ?" tanya Andi.


"Begini Om, sebelum kita berbicara masalah pertunangan saya dan Tania, ada yang ingin saya bicarakan, saya berniat ingin membeli saham Om yang sebesar dua puluh lima persen itu di Teja grup," ucap Beni.

__ADS_1


Saham Teja grup memang diam diam sudah Beni beli semua termasuk lima persen milik Wiliam yang terakhir baru saja dia beli meski dengan sedikit paksaan, hanya tinggal 25 persen milik Andi yang belum berhasil dia beli, maka dari itu dia mendekati Tania agar bisa mendapatkan akses masuk ke keluarga Andi dan memiliki Teja grup seutuhnya.


Sontak saja Beni mendapat pelototan tajam dari Wiliam, baru saja dia membeli lima persen saham miliknya, lalu sekarang meminta ayahnya menjual sahamnya juga padanya, Wiliam tak paham dengan tujuan Beni sebenarnya, karena kalau ini hanya masalah bisnis, seharusnya Teja hanya sebuah perusahaan remeh saja baginya, tapi kenapa dia begitu ngotot untuk mendapatkan Teja grup.


"Kenapa harus di beli, bukannya itu akan menjadi milik mu juga kalau kamu menjadi suami Tania, aku sudah tua, aku akan memberikan saham ku itu, dan membaginya untuk Tania dan Wiliam," ucap Andi.


"Saya hanya ingin membesarkan dan mengibarkan kembali bendera Teja grup yang kini sepertinya sedang terpuruk," kilah Beni, memberi alasan pada Andi yang sudah tak tahu menahu lagi masalah perusahaan karena sudah di percayakan pada Wiliam dan Tania.


"Aku terserah Wiliam dan Tania saja, itu hak mereka," jawab Andi bijaksana.


"Bagaimana wil ? Tania ?" Beni menaikan satu alisnya dan tersenyum miring saat melirik ke arah Wiliam yang duduk di sebrangnya dan terlihat serba salah.


"Aku akan membicarakannya dengan Tania dulu," ucap Wiliam.


"Kenapa kau harus membeli saham ayah,? Kalau memang niat mu ingin membesarkan Teja grup, kau bisa melakukannya, aku akan menjadi istrimu nantinya, berarti itu milik mu juga, kan ?" tanya Tania pada Beni yang duduk di sampingnya.


"Tania, aku hanya ingin membantu membuat Teja besar, dengan cara ku, jadi aku butuh hak otoritas penuh di sana, bukan kah itu untuk kelangsungan hidup kita juga nantinya ?!" rayu Beni seolah sok perhatian di depan orang tua Tania.


"Tapi bu, !" protes Tania pada ibunya.


"Ikuti saja, atau kau akan kehilangan tambang emas mu, ibu tak mau Beni lepas dari genggaman mu, lihat, dua hari yang lalu dia baru saja membelikan ibu kalung berlian ini," bisik Meli pada Tania sambil menunjukkan kalung pemberian Beni yang di pakainya saat itu.


Tania menghela napasnya yang terasa berat, jujur saja hatinya tidak begitu yakin, tapi atas desakan dan melihat keyakinan ibunya, dia pun akhirnya memutuskan,


"Aku setuju menjual saham pada mu," ucap Tania, yang di sambut oleh senyum manis Beni.


"Lalu bagai mana dengan mu, calon kakak ipar ?" tatap Beni pada laki laki yang duduk di hadapannya itu.


"Baiklah, kalau Tania sudah menyetujuinya, aku ikut saja !" jawabnya terkesan malas.

__ADS_1


"Ah, kau memang kakak ipar paling baik, semoga pernikahan mu langgeng dan bahagia !" ucap Beni sambil tersenyum sinis.


Wiliam terbatuk , dia terkejut dengan ucapan Beni yang justru terkesan meledek nya, mendoakan pernikahan yang langgeng pada hubungan nya dengan Inayah yang sudah berakhir dan justru itu atas campur tangan Beni, sehingga mereka bercerai.


Inayah yang sedari tadi tak banyak bicara hanya menatap sekilas Beni, dia hanya mengikuti apa pun permainan Beni tanpa protes.


"Baiklah karena semua sudah setuju, aku meminta tanda tangan dari Om, sebagai pemilik saham, dan Wiliam dan juga Tania sebagai saksi di sini," lagi lagi Beni mengejutkan semua orang, karena mengeluarkan selembar kertas berisi perjanjian jual beli dari map yang tadi dia bawa.


"Jangan berburuk sangka, saya memang sudah menyiapkan ini dari jauh hari sebelumnya, hanya menunggu saat yang tepat saja," sambung Beni saat melihat tatapan curiga dari Tania.


Selepas acara makan malam, Wiliam menarik tangan Inayah ke taman belakang rumah,


"Nisa, kamu ada hubungan apa sebenarnya dengan Beni,?" tanya Wiliam.


"Dia bos ku," jawab Inayah.


"Tapi kamu tinggal di rumahnya sekarang, kan ? Tak mungkin bila tak ada hubungan apa pun di antara kalian," cecar Wiliam.


"Apa kau tau hal itu dari Lilis ?" tanya Inayah santai.


"Kenapa Lilis ?" heran Wiliam.


"Karena hanya dia yang tau kalau aku tinggal di rumah Beni, selain dia tak ada lagi yang mengetahuinya kecuali satpam penjaga rumah Beni," Inayah tersenyum sinis merasa berhasil memojokkan Wiliam.


"Emh, aku,,kebetulan bertemu dia di Teja dan dia bercerita tentang kamu yang sekarang tinggal di rumah Beni," gugup Wiliam.


"Oh, akrab sekali kalian, bukan kah ketika di kost dulu kalian tak se akrab itu ? Ada hubungan apa di antara kalian ?" kejar Inayah.


"Nisa, bicara mu ngawur, tentu saja aku berteman akrab dengan Lilis, karena dia sahabat mu," kilah Wiliam.

__ADS_1


"Ya, kalian memang akrab dan kompak, aku senang bisa mengenal kalian yang sangat baik pada ku, sahabat dan mantan suami ku, kalian memang luar biasa !" sinis Inayah.


"Apa maksud mu ?" pikiran Wiliam lumayan ketar ketir takut kalau sampai mantan istri palsunya itu mengetahui hubungannya dengan Lilis.


__ADS_2